
Dua hari telah berlalu.
Setelah kepergian Amira ke Indonesia, Aida dan Adrian tinggal berdua di apartemen. Aida tidak mau makan sama sekali, karena setiap mencium bau makanan dia mual muntah. Mereka belum periksa ke Dokter hanya minum obat biasa, karena baginya ini hanya masuk angin saja.
Aida hanya bisa makan roti juga susu choklat. Namun, tetap dia selalu memuntahkannya lagi, semakin hari Aida terlihat aneh, mulai dari bau minyak wangi juga pengharum ruangan.
Hari ini, Adrian memaksa Aida untuk segera pergi ke Dokter. Kebetulan juga Aida sudah merasa lelah berbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.
"Hari ini kita ke Dokter, sudah minum obat tapi tidak ada perubahan," ujar Adrian membereskan tempat tidur sedangkan Aida duduk lemah di sofa sambil melihat ke arah suaminya yang cepat siaga melayaninya.
"Hmm ... sungguh ini gak enak banget, semua mual bau minyak wangi pun aku tidak suka," sahut Aida sambil memakai masker.
"Kalau kau sudah baikan, kita bisa jalan-jalan atau kita pulang saja," saran Adrian sambil berjalan ke arah Aida yang sudah berdiri dan siap untuk pergi.
"Kau ini, aku lebih nyaman di sini, aku bisa jalan-jalan dengan tenang," jawab Aida manja.
Mereka pun akhirnya pergi ke Dokter untuk mengetahui penyakit apa yang di derita istrinya. Dua hari ini Aida belum makan apapun, dia bisa makan buah-buahan, tapi makanan tidak masuk sama sekali.
Sesampainya di rumah sakit, Aida segera di priksa, Adrian heran ia hanya bisa mengerutkan keningnya karena Aida di beri tespek untuk di tes.
Di kamar mandi, Aida kaget melihat garis dua begitu jelas di matanya. Ia bergetar sambil membuka pintu kamar mandi dan menyerahkan'nya ke Dokter.
"Selamat istri Anda hamil, jaga kesehatan, agar bayi Anda sehat. Saya akan periksa dia habis itu di sarankan minum obat untuk penghilang rasa mual," seru Dokter.
Aida dan Adrian hanya bisa tercengang setelah Dokter menjelaskan semuanya. Mereka tidak tahu yang di alami mual muntah itu ternyata ciri-ciri kehamilan terjadi. Sungguh ini kabar yang sangat bahagia untuk keduanya.
"Baik, Dok. Terima kasih," sahut Adrian senang.
Beberapa waktu telah berlalu.
"Setelah kau melahirkan kita bisa ke sini lagi," ujar Adrian memeluk hangat.
"Hmm .... baiklah, tapi aneh banget Papah terdengar sangat khawatir dan cemas," ucap Aida sambil memikirkan sesuatu.
"Tidak, itu hanya perasaanmu saja," ujar Adrian.
Mereka pun berniat untuk istirahat tiga hari lagi mereka pulang ke Indonesia. Karena memang kalau tinggal agak lama di luar negeri perusaan Adrian tidak ada yang mengurusnya.
"Pokoknya aku akan selalu menjagamu, kau harus banyak istirahat," ujar Adrian membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur.
"Sayang, aku mau teh manis buatanmu," pinta Aida. Adrian terkekeh dan segera menodongkan wajahnya. Pandangan mereka beradu pandang, Adrian segera mengec*p kening istrinya.
"Aku akan buatkan kau teh manis yang sangat nikmat," bisik Adrian.
Aida hanya bisa terkekeh, karena mana bisa Adrian bikin teh manis. Ya walaupun cuma teh manis tapi Adrian belum pernah bikin dan ini untuk pertama kalinya.
"Jangan banyak gulanya sayang," pekik Aida memberitahu.
Adrian mengacungkan jempolnya tanda oke untuk istrinya dari arah dapur.
Di Indonesia.
Keributan terjadi di rumah Amira, Rachel anak dari Ayu mengamuk tidak terima karena Ayu meninggal dunia. Sudah Hendra jelaskan tapi tetap anak itu tidak mengerti sampai-sampai dia membawa senjata untuk membunuh Amira atas kematian orangtuanya.
"Setidaknya kau harus mengerti, berita di tv juga sosial media sudah ramai dan banyak bukti kenapa kau tidak percaya," ujar Clara melindungi Amira.
Tapi Rachel tidak terima dengan semuanya. Dia membabi buta Amira takut terjadi sesuatu karena Surya juga Darren sedang pergi keluar untuk bertemu clien mereka kebetulan perusahaan mereka bekerja sama. Di rumah hanya ada Amira dan Clara. Para asisten mereka pun ikut ketakutan melihat kemarahan Rachel.