
Dokter Wiliam turun dari mobil setelah dia melihat Anis sedang termenung sendiri. Terlihat wajah kacau, air mata mengalir dari pelupuk matanya. Membuat Dokter Wiliam merasa iba melihatnya, setelah mendekat lebih dekat mengerutkan keningnya terlihat Anis sedang menghentak-hentakn kakinya.
"Nona!"
Anis menoleh setelah ada yang menyapanya, dia mengusap air matanya supaya tidak ketahuan bahwa dirinya sedang menangis pilu meratapi nasibnya.
"Ya, ada apa?" Jawab Anis cuek setelah itu dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Maaf Nona, sebelumnya saya hanya menyapa Nona waktu tadi pagi di taman. Anda sudah melempar saya dengan batu krikil," sahut Dokter Wiliam.
"Kapan, saya tidak merasa melempar batu kepada Anda," Anis pun cuek menghiraukan ucapan Dokter Wiliam. Ia segera melangkah pergi tapi tangannya berhasil Wiliam tarik, sehingga wajah mereka pun saling menatap satu sama lain.
"Lepaskan Tuan," kesal Anis mengibaskan tangannya.
"Maaf, kalau boleh saya akan mengantar Anda ke rumah. Perkenalkan nama saya Wiliam, saya bekerja di salah satu rumah sakit," ujar Dokter Wiliam mengulurkan tangannya.
"Oh, Dokter. Baiklah salam kenal kembali saya Anis. Tapi sepertinya Anda tidak perlu mengantar'ku pulang," sahut Anis melangkah pergi tapi lagi-lagi Dokter Wiliam menahannya kembali.
"Ini sudah tengah malam, kalau ada yang jahatin kamu bagaimana. Lupakan soal batu itu, aku hanya ingin mengantarmu pulang saja," rayu Dokter Wiliam. Anis tampak berpikir, kebetulan dirinya tidak membawa kendaraan jadi tidak ada salahnya ia menerima tawaran Dokter Wiliam.
"Baiklah, terima kasih sebelumnya," ucap Anis tersenyum.
"Sama-sama Nona," timpal Dokter Wiliam.
"Tunggu dulu, aku tidak mau di bilang pelakor. Apa Anda udah punya anak atau Istri?" Tanya Anis tanpa ragu sambil menyelidik. Dokter Wiliam hanya terkekeh, ia segera menarik nafasnya pelan.
"Apakah wajahku terlihat tua, aku seorang duda jadi tidak ada yang perlu kamu takuti. Saya tidak akan macem-macem juga, jadi Nona tenang saja," sahut Dokter Wiliam berlalu membuka pintu mobilnya. Anis hanya bisa termangu mencerna ucapan Dokter Wiliam.
"Hahh, dia duda. Tapi wajahnya tampan sekali, ahhh Anis kamu berpikir jauh dia duda bukan single," batin Anis. Dia masih berdiri sambil termangu.
"Nona masuklah, ini sudah larut malam," pekik Dokter Wiliam. Anis pun dengan cepat membalikan badannya dan segera masuk ke dalam mobil.
***
Pagi telah tiba.
"Sayang," pekiknya.
Darren segera membantu Amira berjalan ke kamar mandi. Dia mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, tapi di barengi dengan tetesan darah dari hidungnya. Amira kaget, ia segera mengusap darah itu, Darren merasa teriris melihat kondisi Istrinya.
"Sayang, kamu sedang tidak baik-baik saja," ucap Darren sambil menggendong istrinya keluar dari kamar mandi.
"Katakan, aku sakit apa?" Tanya Amira menatap sendu.
Darren tidak menggubris, dia merebahkan tubuh lemah istrinya ke atas tempat tidur. Ia menghela nafasnya panjang sebelum berbicara.
"Kau menderita kanker sayang," ucap lirih Darren.
Duaar.
Bagai di sambar petir siang bolong. Amira tercengang mendengar ucapan Sang Suami yang terlontar dari mulutnya. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan air mata, badannya melemas, bibirnya mencangkup tidak ada yang keluar sekatah-kata pun. Dunianya terasa runtuh, hatinya tercabik, ia senang kabar dia hamil tapi seketika dia down menerima kenyataan pahit ini.
"Apa."
Pekik seseorang setelah mengetahui apa yang terjadi. Darren juga Amira menoleh ke arah sumber suara.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.