
Di hotel, Aida sudah rapih untuk pergi menemui Tama. Adrian sebenarnya merasa kesal, tapi dia juga sangat penasaran kenapa Tama begitu nekad ingin menemui istrinya. Ia bersender di tembok din-ding sambil memeluk d*danya. Melihat begitu sangat cantik sang istri yang kini ada di hadapannya, lipstik tipis berwarna nude, bedak tipis karena kulitnya sudah putih ia hanya menggunakan pelembab juga bedak tabur sedikit. Baju berwarna putih mengsankan natural pada dirinya. Adrian pun berjalan menuju meja hias dan segera memeluk Aida dari belakang.
"Kau sangat cantik, kalau Tama macem-macem aku segera turun dari mobil," bisik Adrian. Aida terkekeh mendengar suaminya yang begitu khawatir.
"Tenang saja, aku juga tidak mau kalau dia macem-macem. Yang penting aku tidak akan bertemu dengannya lagi setelah pertemuan ini," ucap Aida tersenyum.
Ia bangkit dan segera pergi bersama Adrian menuju lift untuk segera menuju tempat lokasi yang dituju.
Sementara Tama baru sampai dan segera duduk termenung menghadap taman yang berseri banyak bunga indah berwarna-warni. semakin sore taman itu semakin banyak pengunjung termasuk ibu-ibu yang mambawa anak-anak untuk bermain.
Ia menghembuskan nafasnya berat, Tama mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia melihat sebuah cin-cin permata di dalam kotak merah, Tama tidak tahu harus memulai bagaimana kepada Aida nantinya. Yang terpenting ia harus mempersiapkan dirinya agar tidak terbawa suasana.
"Cin-cin yang dulu ingin sekali aku lingkarkan di jari manismu Aida. Tapi kita tidak di takdirkan bersama, keluarga banyak salah padamu termasuk Mamih'ku. Aida mudah-mudahan setelah aku pergi aku bisa melupakan dirimu dari hatiku," ucap lirih Tama. Tidak lama Aida sudah tiba di hadapannya, ia berdiri membuyarkan lamunan Tama yang kini sedang menatap ke arah cin-cin yang ada di tangannya.
"Kak, Tama," ujarnya.
"Hei, Aida. Duduklah, maaf mengganggu waktumu," sahut Tama bergeser untuk memberikan tempat duduk pada Aida.
Adrian mengawasi dari mobil sambil terus menatap kepada mereka berdua di taman.
"Ada apa kak?" Tanya Aida.
"Hmm ... Aida, aku ingin kau menerima cin-cin dariku. Kakak tidak bermaksud untuk mengusik rumah tanggamu, tapi Kakak harap ini bisa buat kenangan dari Kakak," seru Tama memberikan cin-cin permata.
"Ta-pi, aku tidak berhak menerima semua ini Kak, Anis bagaimana aku tidak mau salah paham lagi," ujar Aida menolak.
Aida menerima cin-cin itu, dia akan menyimpannya walaupun tidak akan pernah Aida memakainya. Tama sangat senang Aida masih tetap seperti dulu tidak membencinya walaupun minggu lalu ia membuat keributan kepada Adrian.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu, semoga rumah tanggamu awet sampai tua Aida," ucap Tama. Aida pun hanya bisa diam melihat kepergian Tama, rasanya sedih di hatinya melihat Tama akan melangkah tapi Aida ingat dia sudah menikah bahagia bersama adrian.
"Kak Tama orang baik, pasti akan menemukan wanita yang lebih dariku, kita bukan jodoh tidak di takdirkan untuk bersama," ucap lirih Aida.
Tama meneteskan air matanya, rasanya ia ingin memeluk Aida untuk terakhir kalinya. Dirinya akan melupakan cintanya untuk Aida, ia akan mulai menerima cinta Anis. Sebelum pergi ke luar negri Tama ingin bertemu Anis untuk mengajaknya ke luar negri pergi belibur.
"Aku harus segera ke rumah Anis, meminta maaf atas apa yang telah aku ucapkan kepadanya tempo lalu," seru Tama masuk ke dalam mobil.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.