
Makan malam telah tiba, Aida menggantikan Amira untuk menyiapkan segalanya. Ia akan lebih dewasa dari sebelumnya. Walaupun bukan anak kandung Amira tapi Aida banyak kemiripan dengannya. Asisten rumah hanya bisa menuruti apa yang di katakan atasannya, Aida menyuruh mereka istirahat sedangkan dirinya melakukan segalanya.
"Sayang, banyak asisten di sini, biar mereka yang menyiapkan semuanya," ucap Darren duduk diam bersama Adrian di kursi meja makan. Aida sibuk melayani suami juga Papahnya.
"Aida sudah berumah tangga Pah, segala sesuatu harus Aida yang menyiapkannya. Belajar lebih baik dari sebelumnya, mengingat Mamah selalu melayani Papah dengan baik. Apa salahnya Aida meniru semua apa yang di lakukan Mamah," seru Aida ia mengambilkan lauk pauk untuk Papah juga suaminya.
"Syukurlah kalau kau berpikiran dewasa, Papah sangat senang mendengar semuanya. Kau layani suamimu dengan sangat baik, masakanmu tidak beda jauh dari Mamahmu," ucap Darren sambil mengambil satu sendok makan yang dia cicipi.
"Mamah yang mengajariku masak, Pap, Aida sama Adrian akan berkunjung ke sana setelah kita di perbolehkan menjenguk Mamah," ucapnya sambil mengambil air minum untuk Papah juga suaminya.
"Honeymoon kalian bagaimana? Kapan kalian akan pergi ke pulau yang sudah dituju?" Tanya Darren.
"Besok kita akan pergi, selepas kita akan menyusul Mamah," ucap Adrian.
"Baiklah, kalian jangan memikirkan Mamahmu, kalian berhak mengambil liburan di sana. Mamah kalian akan baik-baik saja, dia pasti senang mendengar kalian bisa liburan. Papah besok akan pergi ke sana menemani Mamahmu. Mungkin untuk sementara waktu Papah akan tinggal di apartemen terlebih dahulu," ucapnya dengan nada dingin.
"Papah jaga Mamah di sana, Adrian akan mengurus semua perusahaan terlebih dahulu sebelum brangkat ke sana," sahut Adrian. Aida tersenyum bahagia. Merek pun melanjutkan makan malamnya tanpa ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
Semantara di luar negri.
Amira baru siuman, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia melihat perawat sedang mengganti infusnya di tangannya, Amira memijit kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Kau sudah bangun Nyonya Amira, kalau kau mau ke kamar mandi saya siap siaga untuk Anda. Saya di tugaskan untuk menjagamu selama 24 jam," seru seorang perawat yang bernama Maria.
"Terima kasih sebelumnya, saya merasa sangat sakit di bagian kepala. Berapa lama saya tidur Sus?" Tanya Amira sambil mengambil air yang ada di sebelahnya.
"Cukup lama, istirahatlah dulu Nyonya, kau aman di sini. Tidak ada yang bisa mencelakaimu atau pun berkunjung ke sini, selama satu minggu penuh. Tapi kau bisa menghubungi keluargamu lewat ponselmu Nyonya," ucap perawat sambil duduk disebelah Amira.
Sementara ada seseorang mencari perawat yang bernama Amira kepada admin. Tidak ada yang memberitahu Amira di ruangan mana, mengingat semua keluarga Amira belum bisa berkunjung ke rumah sakit ini.
"Suster, perawat yang bernama Amira di ruangan mana, saya keluarganya?" Tanya Mamah Ayu.
"Maaf Nyonya, semua pasien yang ada di sini bersipat privat. Anda bukan bagian dari keluarganya," sahut suster dengan tersenyum.
"Tidak bisa Nyonya," sahutnya kembali dan segera menerima tlp dari salah satu perawat lain.
Mamah Ayu berdecak kesal, ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan. Amira di jaga ketat oleh pihak rumah sakit, ia kemudian keluar rumah sakit untuk kembali merencanakan sesuatu.
"Sialan, tidak semudah yang aku kira, Wanita sialan itu dilindungi banyak orang di sini. Pokoknya aku harus bertemu Amira secepat mungkin," kesal Mamah Ayu segera masuk ke dalam mobil.
Di ruang rawat.
Salah seorang perawat masuk untuk menanyakan perihal kedatangan Ayu kerumah sakit.
"Permisi Nyonya, tadi ada yang datang ke sini ia memaksa untuk bertemu denganmu. Apa kau punya kenalan di sini?" Tanya perawat lain.
Amira mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti, ia bahkan baru tiba ke sini juga dia belum menghubungi suaminya.
"Tidak, aku belum menghubungi siapapun juga aku tidak punya kenalan lain selain suami juga anakku," sahut Amira.
"Kalau begitu orang itu tidak akan saya biarkan datang lagi ke sini. Terima kasih atas waktunya saya permisi dulu," pamit sang perawat. Amira tampak berpikir siapa yang mengunjunginya mengaku dia adalah keluarganya.
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
RANTING 5.