One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Tangisan pecah



Air mata itu membasahi kedua pipi Aida. Dia baru saja datang untuk menjenguk orangtuanya, kenyataan pahitnya menimpa hatinya lagi. Setelah sekian lama ia di tinggal oleh Nancy, sekarang dia mendengar bahwa Amira sakit keras. Ia segera berjalan gontay di ikuti oleh Adrian dari belakang.


"Mamah pasti kuat, percayalah ada si buah hati dalam perut Mamah," isak tangis Aida.


"Jangan menangis sayang, percayalah Mamah'mu ini akan baik-baik saja," sahut Amira mengusap air mata yang berjatuhan dari pelupuk mata Putrinya.


Adrian tidak menyangka penyakit parah ini di derita orang yang baik seperti Amira. Pernikahan mereka tinggal satu hari lagi, dekorasi sudah mereka persiapkan di hotel mewah bintang lima. Amira juga sudah ijin kepada Dokter untuk keluar rumah sakit menghadiri acara sakral itu.


Darren menguatkan istrinya, dia yakin pasti Amira akan sembuh. Amira juga akan mempertahankan kandungannya, karena bayi ini sangat berharga untuk mereka berdua.


"Jodoh, maut, rejeki sudah ada yang mengatur. Begitu juga hidupku, tidak ada yang tahu kedepannya apakah aku akan meninggal atau hidup. Sayangi jaga anak kita Aida juga Adrian, mereka sangat aku sayangi, kau adalah orangtua yang paling hebat," seru Amira memeluk suami juga putrinya. Tidak bisa di bayangkan, Adrian hanya bisa menangis melihat kondisi calon mertuanya.


Fiting baju pun sore ini Aida akan mendatangi di butik langganan mereka. Setelah fitting Adrian akan pergi ke rumahnya mempersiapkan segalanya. Karena pernikahan mereka secara mendadak. Orangtua Adrian juga akan segera tiba setelah mengetahui anaknya akan menikah. Setelah dia minggu mereka liburan di Spanyol.


"Kau pasti kuat sayang, aku tahu kamu wanita yang penuh perjuangan. Aku juga sudah ada info mengenai orangtuamu, dia sangat merindukanmu. Lain waktu setelah acara pernikahan anak kita selesai, kau bisa menemuinya karena minggu ini dia ada di luar kota," terang Darren mengusap air mata yang mengalir di pelupuk mata istrinya.


"Benarkah! Setelah bertahun-tahun menanti Ayahku yang telah lama menghilang meninggalkan ibu yang sakit keras. Aku mau memeluknya, walapun aku pernah membencinya tapi aku rasa perasaan itu tidak ada lagi dalam benakku. Aku ingin memberitahu Ayah bahwa Ibu sudah meninggal," isak tangis Amira di dalam pelukkan suaminya. Aida ikut menangis mendengar perjalanan hidup Amira ibu tirinya yang sangat mengenaskan. Tidak ada bendanya dengan dirinya, penderitaan kesusahan yang mereka dapat selama menjalani hidup. Semoga penderitaan mereka cepat berlalu dan cahaya putih kebahagiaan datang.


Setelah acara nangis-menangis selesai, Amira pun di cek oleh Dokter Wiliam untuk mengetahui kondisi pasiennya juga istri temannya itu. Darren setia menunggunya, menggenggam erat kedua tangannya. Amira tersenyum menandakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Adrian Aida sudah berangkat, mengingat ini sudah siang. Amira meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja tidak ada yang di khawatirkan.


"Pergilah sayang, besok hari pernikahanmu, semua pesta dekorasi Ken yang mengurusnya," seru Amira mengusap wajah cantik Aida.


"Terima kasih Mah, Aida pergi dulu," sahut Aida mencium tangan Aida juga Darren termasuk Adrian. Mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit.


****


Aida berada di dalam mobil menuju butik, ia hanya bisa diam memikirkan kondisi Mamahnya. Tidak bisa di bayangkan, bagaimana perasaan kedua orangtuanya. Pasti sangat hancur, Aida berjanji akan selalu ada untuk Amira, dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi.


"Sayang, kau melamun?" Tanya Adrian.


"Aku hanya memikirkan Mamah saja, semoga dia sembuh dan bahagia selamanya," ucap Aida mengusap air matanya. Adrian berhenti sejenak memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ia kemudian menghadap sang kekasih mengusap butir air matanya yang mengalir di wajah cantik Aida.


"Terima kasih, sekarang hatiku sudah mulai tenang. Kau memang terbaik," seru Aida mencubit pipi Adrian. Mereka pun berpelukan setelah itu Adrian segera melajukan kembali mobilnya menuju butik.


***


Waktu istirahat telah tiba.


Dokter Wiliam membereskan jas putihnya, ia segera bergegas keluar ruangannya untuk makan siang di kantin rumah sakit. Tiba-tiba saja seorang perawat datang membawakan kotak makanan berwarna pink muda.


"Dokter, ada seseorang menitipkan ini buat Dokter. Katanya buat makan siang, silahkan Dok saya permisi," ujarnya dan berlalu pergi setelah memberikan rantang makanan.


"Dari siapa ini," ucap Dokter Wiliam mengerutkan keningnya sambil terus menatap rantang berwarna pink.


***


Tama merasa hancur setelah tahu ibunya berbuat sekeji itu kepada Aida. Ia membanting semua barang yang ada di kamarnya, dua hari Mamah Sonya di kurung di jeruji besi membuat Tama frustasi setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Mamih jahat tega menghancurkan kehidupanku," pekik Tama melemparkan barang.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.