One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Antara Adrian dan Tama



"Kau," pekik Adrian bangkit mengusap darah segar yang keluar dari batang hidungnya. Tama emosi dia tahu Adrian ada di apartemen Aida. Dia tergesa dan setelah mendapatkan Adrian yang membuka pintunya ia melayangkan pukulan sangat keras pada Adrian.


Tama dengan emosi mencengkram kerah baju Adrian. Memukulnya habis-habisan, tatapan Tama sangat tajam seperti ingin menelan Adrian hidup-hidup.


"Berani sekali kau merebut Aida dari kehidupanku. Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Anis hanya untuk mengambil Aida dari'mu tapi apa yang kamu lakukan menikahinya," pekik Tama dengan rahangnya mengeras matanya merah akibat sulut emosi di hatinya. Adrian hanya terkekeh mendengar penuturan dari Tama teman lamanya.


"Dengar Tam, Aida tidak akan bahagia atas apa yang di lakukan nyokap kamu padanya. Kamu ke sini hanya untuk membuat kericuhan, ini tidak akan membalikan hati Aida padamu lagi. Aku dan dia akan segera menikah, jadi kau tidak berhak memisahkan aku juga Aida," seru Adrian. Langsung saja Tama memukul kembali wajah tampan Adrian. Aida yang sejak tadi mendengar keributan di ruang tengah dengan perlahan ia berjalan kaki ke arah sumber suara.


Terlihat Adrian di pukul habis-habisan oleh Tama. Adrian segera membalas Tama, dia memukul kembali perut juga wajahnya, keduanya terlihat kusut. Aida menjerit melihat tingkah mereka berdua.


"Stop!"


Aida berjalan gontay, Tama yang melihat segera mendekatinya tapi Adrian kalah cepat. Aida hanya bisa menangis melihat wajah keduanya yang berdarah dan lembab akibat baku hantam.


"Kalian seperti anak kecil, aku tahu luka pada wajah kamu akibat berkelahi? Kak Tama, tolong hargai keputusanku saat ini aku tidak mau mengingat cintaku padamu. Kau sudah punya Anis pilihan terbaik kedua orangtuamu, Aku mohon, pergilah," isak tangis Aida. Adrian terus memeluk Aida di hadapan Tama, kepalan tangan Tama semakin kuat, emosi dia melihat mereka berdua berpelukan di hadapannya.


Tidak banyak bicara, Tama segera pergi. Ia mengusap wajahnya kasar dan berlalu masuk ke dalam lift.


"Sudah jangan menangis," ucap Adrian mengusap dan memeluk hangat Aida dalam dekapannya.


"Maafkan aku, semua ini salahku, tolong kalian berdamai. Aku harus bicara sama Kak Tama berdua untuk menyelesaikan masalah ini, aku tidak mau kalian berkelahi begini hanya gara-gara aku. Lihatlah wajahmu luka, biar aku obati lukamu," seru Aida bergegas berdiri, tapi di hadang oleh Adrian.


"Aku saja yang akan membawa kotak obat itu, untuk menemui Tama. Aku tidak mau nanti kau berubah pikiran untuk menikah denganku," cemas Adrian. Aida segera menggenggam tangan kekasihnya itu dengan sangat lembut.


"Sudah aku katakan, aku tidak akan ke lain hati, dulu memang aku sangat mencintai Kak Tama. Tapi sekarang aku sadar, aku harus melupakan cinta di masa lalu. Anis berhak mendapatkan cinta Kak Tama, besok aku akan menemuinya kau harus percaya perasaanku tidak akan goyah. Mungkin dengan berbicara dengan baik pada Kak Tama dia akan mengerti," terang Aida panjang lebar.


"Baiklah, aku percaya padamu sayang, pokoknya jangan pernah hatimu goyah lagi, kau miliku akan tetap milikku sampai akhir hayat nanti," goda Adrian memegang tangan Aida dan meletakan'nya di bidang d*da'nya. Aida hanya bisa terkekeh setelah itu dia mencubit perut kekasihnya.


Tidak lama, ponsel Adrian berdering terlihat nama Darren ia segera mengangkatnya.


"Iya, Om. Ada apa?"


"Jaga Aida, Om sedang di rumah sakit."


"Baiklah Om, tenang saja, memangnya ada apa?"


"Tante mu masuk rumah sakit, dia sedang di rawat. Besok saja kalian ke sini mengingat waktu sudah malam."


"Baik, Om."


Sambungan ponselnya pun di matikan, Adia hanya mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.


"Ada apa?" Tanya Aida penasaran.


"Tidak, besok kau harus ikut denganku Oke," seru Adrian mengacak rambut Aida.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.