One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
Rumah sakit



Semua orang berlari walau pun hujan begitu deras, melihat gadis kecil tergeletak penuh darah. Mobil penabrak itu melarikan diri setelah dirinya puas telah mencelaki Aida. Ken melihat semua orang kerumunan di depan restoran, kebetulan dirinya habis pulang dari arah kantor dan juga lewat sana. Seseorang mengetuk-ngetuk pintu meminta bantuan agar Aida cepat di selamatkan karena untuk memanggil ambulance tidak memungkinkan.


"Tolong gadis itu Tuan," pekik seseorang mengetuk kaca mobil. Karena tidak tega, akhirnya Ken turun, hujan juga udah mulai reda. Aida tergeletak penuh darah, rambutnya pun menghalangi wajahnya. Di saat Ken mau mengangkat tubuhnya, rambut yang tadi menghalanginya kini sudah terlihat jelas wajahnya. Betapa kagetnya Ken bahwa itu adalah Aida, ia segera membawanya ke dalam mobil untuk di larikan ke rumah sakit.


"Aida, bertahanlah," pekik Ken sambil membuka pintu dan menidurkannya. Satu orang Pria paruh baya ikut bersama Ken untuk menolongnya, Ken segera menjalankan mesin mobil menuju rumah sakit terdekat. Untung rumah sakit yang sama dengan Lusiana di rawat di sana.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai. Ken membuka pintu, ia segera mengambil tubuh Aida bersama Pria paruh baya yang ikut ke rumah sakit untuk membantu.


"Tolong gadis ini," pekik kembali Ken kepada semua perawat. Suster segera membawa brangkar pasien, tubuhnya di baringkan darah masih mengalir sampe menempel di baju Ken.


Setelah itu, Aida di bawa ke ruangan IGD untuk di tangani lebih lanjut. Ken mengusap wajahnya kasar setelah itu dia berterima kasih kepada Pria itu.


"Terima kasih Pak, sudah ikut menolong sampai rumah sakit," ucap Ken.


"Sama-sama, semoga gadis itu cepat sembuh, kalau begitu saya permisi," sahut Pak Wisnu.


Ken menawarkan diri untuk Pak Wisnu agar dirinya bisa mengantar ke restoran. Akan tetapi Pak Wisnu menolak, dia sudah menghubungi anaknya untuk menjemput dirinya di rumah sakit.


"Sekali lagi terima kasih Pak," ujar Ken tersenyum.


"Saya pamit pulang dulu," pamit Pak Wisnu.


Di restoran.


Adrian sudah selesai acara makan siang dengan Siska. Mendengar semua yang ada di ruangan ini kasa-kusu membicarakan Aida, Siska hanya melewati mereka dengan perasaan anehnya.


"Mereka membicarakan gadis sekolah tertabrak," ucap Adrian. Setelah dia mengingat Aida lari dari ruangan makan, membuat Adrian kaget tapi kecurigaannya dia tepis.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Adrian pada Siska. Siska pun bergelayut manja di tangan Adrian, mereka segera pergi karena hujan juga sudah reda. Banyak orang di tempat kejadian masih berkerumun dan sebagian juga ada yang menabur tanah untuk mengubur sisa darah yang ada di lokasi kejadian.


Adrian menghampirinya karena merasa penasaran. Ia masuk ke dalam mobil bersama Siska menjalankan mobil ke arah warga yang berkerumun.


Ia keluar, dengan langkah santai, tapi darah itu udah tertutup tanah sehingga Adrian tidak melihat darah segar Aida.


Di rumah.


Amira merasa lemas, seharian ini tidak ada nasi yang masuk ke dalam perutnya. Di saat ia makan perutnya mual kembali membuat dirinya tersiksa.


Ponselnya berdering, terlihat nama Ken yang menghubunginya. Amira mengangkat dan tidak lama ia berdiam diri setelah mendengar Aida kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit. Sungguh ini kabar yang sangat mengejutkan baginya, air mata mulai jatuh dan segeralah ia menutup ponselnya. Amira langsung turun dan mencari Kang Supir untuk mengantarnya ke rumah sakit.


"Pak, memangnya tidak menjemput Aida dari sekolah?" Tanya Amira.


"Nona Aida sudah pulang duluan dia menghubungi saya Nyonya," sahut Kang Supir. Tidak mau bertanya lagi Amira segera menuju duduk membawa hati cemas.


"Apa yang terjadi padamu sayang," ujar Amira di dalam mobil sambil memakai masker menutupi mulutnya agar tidak mual menghirup bau Stella mobil.


Sampai di rumah sakit, Ken juga sudah memberitahu di mana Aida sekarang. Amira menghampiri ruang IGD, terlihat Ken masih mondar-mandir di depan pintu. Amira segera menghampirinya, melihat darah di baju Ken, Amira menangis lesu. Tidak dapat di bayangkan Aida sedang berjuang di dalam sana antara hidup dan mati.


"Aku sudah menghubungi Tuan Darren, dia akan segera tiba," ujar Ken menghampiri Amira yang sedang menangis. Tubuhnya lunglai ke bawah lantai tidak kuasa betapa kagetnya Amira mendengar Putrinya kecelakaan.


****


"Bagus, kalian memang pintar, untuk hal ini jangan sampai polisi tahu," ujar wanita paruh itu tersenyum senang setelah mengetahui Aida berhasil di tabrak.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING.