One Night With Cassanova

One Night With Cassanova
3 hari kemudian



Tiga hari telah berlalu.


Amir di jemput oleh pihak rumah sakit, Dokter Wiliam sudah memberitahukan kepada Darren sebentar lagi Amira akan di jemput dari pihak rumah sakit yang ada di luar negeri. Persiapan hati, mental pikiran sudah Amira tata rapih di dalam benaknya. Aida tidak berhenti menangis sejak dari malam mengingat Mamahnya akan berangkat.


"Semoga kamu segera hamil sayang, Mamah pergi cuma sebentar, Papahmu juga akan menjenguk setelah satu minggu. Mudah-mudahan ada keajaiban dan Mamah bisa pulang secepatnya," seru Amira mengusap air mata Putrinya.


"Mamah janji akan sembuh'kan? Aida pasti akan ke sana bersama Adrian. Pokoknya Mamah harus sembuh," isak tangis Aida kembali pecah.


"Sayang, aku yakin kau pasti kuat, seminggu lagi aku akan ke sana mengingat aku tidak bisa mengantarmu. Di larang ketat oleh pihak rumah sakit," ucap Darren memeluk dan menc*um istrinya dalam dekapannya.


"Jaga di sini baik-baik, ada Dokter Wiliam yang akan terus memberi kabar padamu mengenai kondisiku di sana," ucap Amira kembali menatap suaminya.


Darren pun menghambur pelukan, ia menatap wajah istrinya ada kesedihan dari keduanya. Tapi ini cara terbaik untuk mereka berdua, Amira harus di rawat selama seminggu ia tidak boleh bertemu tamu siapapun terlebih dahulu. Setelah masa perawatan tahap pertama berhasil siapapun boleh melihat dan menjaganya.


"Aku harus pergi jaga baik-baik diri kalian," pamit Amira melepaskan pelukan suaminya. Walaupun berat tapi ini demi kebaikan bersama. Ia berjalan menuju mobil yang sudah ada dua perawat luar negeri menunggunya, Aida menangis sambil melambaikan tangannya, begitu juga Darren dia sangat teriris tidak bisa ikut ke luar negri. Rasanya semingu itu cukup lama untuk memendam rasa kangen untuk istrinya.


"Mamah pasti sembuh," pekik Aida. Amira mengangguk sambil melambaikan tangannya dan segera masuk ke dalam mobil.


Amira mencoba selalu tegar di hadapan semua orang, tapi sekarang ia menangis meraung di dalam mobil yang akan ke luar negri. Amira menggunakan pesawat jet pribadi Dokter Wiliam, khusus pasien yang akan berobat ke luar negri.


Banyak kenalan Dokter Wiliam di luar negeri, Amira pasti aman di sana. Tidak sembarang orang menjenguknya kecuali keluarga pasien. Ia memiliki dua rumah sakit di Indonesia yang kini dia tempati, dan yang satu di luar negeri di mana Amira berobat.


Dua perawat itu sangat mengerti kondisi Amira saat ini yang akan jauh dari keluarga tercinta. Sudah banyak pasien seperti Amira jauh dari keluarganha hanya untuk pengobatan yang mereka alami.


"Aku pasti merindukan saat-saat bersamamu," Isak tangis Amira mengusap photo layar ponselnya yaitu Darren.


Kedua perawat itu hanya bisa mengusap punggung Amira, tidak lama Amira merasa pusing. Ia meraba hidungnya mengeluarkan darah, kedua perawat itu segera mengusap darah yang mengalir dari hidungnya.


"Kau pasti sembuh," sahut salah satu perawat.


****


Di tempat lain.


"Aku sudah tahu Amira dirawat, dia tidak bersama keluarganya ini alamat rumah sakit yang akan dia tempati," ucap orang suruhan Mamih Sonya.


"Terima kasih, siang ini kita akan meluncur ke sana," serunya sambil menatap tajam ke arah lain.


***


Aida masih sesegukan menangisi kepergian Mamahnya. Rasanya sangat berat berjauhan seperti ini, Darren hanya bisa duduk diam, ia akan segera menuntaskan semua pekerjaannya dan akan segera menyusul ke luar negri. Dia juga akan menunggu bagaimana perkembangan istrinya di sana. Amira sangat ingin mempertahankan kehamilannya walaupun dirinya sedang sakit keras, memiliki anak memang impiannya dan sekarang sudah tercapai tapi dengan kondisi seperti ini.


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR.


LIKE


KOMEN


VOTE


HADIAH


RANTING 5.