
Di UKS..
β
β
Leon membawa Raisya ke UKS agar sahabatnya itu bisa istirahat dan sedikit rilex, Leon membaringkan tubuh Raisya di ranjang UKS yang tersedia. Kemudian dia duduk disebelahnya untuk menemani Raisya.
Syaa, masalah apasih yang buat Lo sampai kayak gini? Kayaknya masalah Lo berat banget yaa, gak biasanya Lo kayak gini. Semoga nanti kalo Lo bangun Lo mau cerita semuanya ke Gue, kita udah kenal lama Sya, Gue siap berbagi beban sama Lo. Gue sayang Sya sama Lo, walau sampai kapan pun mungkin lo gak akan balas perasaan Gue, Gue akan selalu ada buat Lo, akan selalu jagain Lo, akan selalu ada disamping Lo dalam susah maupun senang, Gue cuma mau Lo bahagia walau bukan sama Gue, Syaa.
Batin Leon dalam hati sambil memandangi Raisya yang tertidur pulas, tangannya menyibakkan anak rambut Raisya yang menghalangi wajah cantiknya. Beberapa menit kemudian Raisya terbangun dari tidurnya, matanya mengerjap melihat keseluruh ruangan. Begitu dia menoleh kesamping kiri tempat tidur dilihatnya wajah Leon yang sedang tersenyum, Raisya pun ingin bangkit dari pembaringannya namun di cegah oleh Leon.
"Udah Lo istirahat aja disini Gue temenin" cegah Leon saat Raisya ingin bangun, namun tidak didengarkan Raisya. Raisya hanya menggelengkan kepalanya dan mengambil posisi duduk.
"Makasih yaa Lee" ucap Raisya dengan suara seraknya.
"Makasih buat apa? Santai aja kali" balas Leon sambil tersenyum. Tiba-tiba Raisya memeluk Leon dan membenamkan wajahnya di dada Leon. Sontak Leon pun kaget dengan perlakuan Raisya.
"Lo kenapa Syaa? Tumben meluk-meluk Gue? Kangen sama pelukan Gue?" Canda Leon dengan nada menggoda membalas pelukan Raisya. Leon yang mengira Raisya akan marah dan memukulnya malah dikejutkan dengan suara isakan tangis dari Raisya yang semakin erat memeluknya. Leon hanya bisa menghembuskan nafasnya, dia mengerti dengan keadaan Raisya sekarang.
"Yaudah Lo nangis aja sepuas Lo, Gue akan selalu disini buat jadi sandaran Lo. Kalo emang ini yang bisa buat Lo nyaman" kata Leon dengan lembut sambil membelai rambur Raisya. Tangisan Raisya menjadi pecah menggema dalam ruangan UKS ini yang hanya ada mereka berdua.
Leon semakin mengeratkan pelukannya, tak lama tangisan Raisya berhenti namun dia masih terisak sedikit, Leon pun menangkup wajah Raisya dengan kedua tangannya dan menghapus bulir airmata yang tersisa disudut mata hazel Raisya dengan ibu jarinya.
"Lo mau kan cerita sama Gue?" Tanya Leon dengan hatu-hati. Raisya hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Yaudah Lo cerita pelan-pelan sama Gue" lanjut Leon lagi, dan Raisya pun mulai menceritakan dengan suara seraknya.
"Lee, Gue mau di jodohin Lee" ujar Raisya, Leon hanya diam. Hatinya sempat terkejut namun Leon berusaha setenang mungkin dan kembali mendengarkan Raisya.
"Gue sepertinya gakbisa nolak Lee permintaan Papi, tapi Gue belum siap Lee ganti status Gue sebagai istri. Gimana sama masa depan Gue ? Cita-cita Gue ? Tapi Papi bilang ini juga yang terbaik buat Gue, Papi cuma ingin Gue bahagia Lee, Gue harus gimana Lee? Kemarin waktu ketemuan Gue sempet nolak mentah-mentah Lee, tanpa sadar Gue ngebantak Papi dan akhirnya buat Papi anfal dan berakhir di rumah sakit" jelas Raisya sambil sesenggukan menangis lagi karena mengingat keadaan Papinya.
Leon menghelakan nafasnya sejenak, dia juga bingung harus mengatakan apa, dia mengerti posisi Raisya sekarang, disisi lain Raisya tidak ingin mengecewakan sang Papi, tapi disisi lain lagi dia belum siap dengan kenyataan yang akan dihadapinya, menjadi seorang istri diusia muda, Leon pun mengerti makna dari pernikahan dan dia juga tau kalau Raisya mengerti akan hal itu.
"Syaa, sekarang Gue pengen nanya sama Lo, Lo pengen kan Papi Lo bahagia" tanya Leon dan diangguki Raisya.
"Gue yakin Sya, dibalik keputusan yang Papi Lo buat pasti ada tujuan yang baik buat Lo, mungkin sekarang Lo belum mengerti tujuan baik itu, tapi ketika nanti Lo ngejalaninnya seiring berjalannya waktu Lo akan paham, Gue yakin Papi Lo pasti sudah memikirkan semuanya dengan matang, percayalah semua akan ada hikmah dibalik sebuah kejadian. Lo harus kuat, Gue yakin Lo bisa ngejalanin ini semua" jelas Leon sambil menenangkan Raisya.
"Jadi menurut Lo Gue bisa gitu jalanin status baru Gue?" Tanya Raisya. Dan Leon menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Gue kenal Lo, Syaa. Apasih yang gak bisa Lo hadapin? Gue percaya Lo bisa! Oh yaa, Lo udah ketemu calon suami Lo ?" Kata Leon memberi semangat.
"Udah Lee, tapi apa bisa yaa Gue hidup menjalani rumah tangga sama orang yang Gue gaktau sama sekali dia itu seperti apa" ucap Raisya penuh keraguan.
"Lo pasti bisa! Udah ah gakusah terlalu ngedrama gini! Bukan Lo banget. Sekarang Lo harus yakin sama keputusan ini, Lo juga mau Papi Lo bahagia kan? Gakpapa Syaa berkorban sedikit demi orang yang kita sayang, apalagi itu kebhagiaan Papi Lo. Gue yakin dibalik ini semua pasti ada hikmahnya" jelas Leon lagi. Dan diangguki Raisya.
"Makasih yaa Lee, Lo bisa bikin Gue tenang, Lo sahabat terbaik Gue, Gue sayang sama Lo, Gue gakmau kehilangan sahabat kayak Lo" ucap Raisya seraya memeluk Leon.
"Udah deeh drama melow nyaa.." balas Leon. Raisya hanya terkekeh.
Andai saja rasa sayang Lo buat Gue lebih dari sahabat Syaa, tapi sudahlah .... bagi Gue ini juga sudah cukup, walau sebentar lagi Lo bakal jadi milik orang lain, Gue akan selalu ada buat jadi sandaran Lo. Mungkin kita emang gak jodoh Sya. Batin Leon.
"Lee, walaupun nanti Gue udah jadi istri orang, Lo bakal tetep jadi sahabat Gue kan?" Tanya Raisya sambil memangdang manik hitam milik Leon.
"Iyalah Syaa, kalaupun laki Lo nanti gak betah punya bini model kayak Lo, trus Lo dicerein, Gue terima status janda Lo" ucap kevin dengan lantang dengan percaya diri.
Mendengar kata-kata Leon membuat Raisya kesal dan mencubit pinggang Leon tanpa ampun sampai yang empunya meringis kesakitan.
"Aawwww.....!!! Sakit Syaa!!"
"Lo doanya jelek banget! Belum nikah udah di doain jadi janda!"
"Becanda Gue..."
"Canda Lo kelewatan Lee!!"
"Yaudah maaf jangan ngambek donkk"
"Bodo ah!"
"Jijik gue dengarnya gak pantes!"
"Yaudah deeh Gue traktir mau gak?"
"Traktir apa dulu nih?"
"Serah Lo deeh apaan"
"Bener yaa apa aja?"
"Iya Princess"
"Yaudah Gue mau Lo traktir Gue jalan ke moll besok"
Leon terbengong mendengar permintaan Raisya, dia tau benar bagaimana Raisya kalau sudah menginjakkan kaki di moll.
Siap-siap kangker nih Gue besok. Batin Leon.
"Gak mau? Yaudah Gue ngambek lagi!" Ancam Raisya dengan membuang pandangan kearah lain. Mau tak mau Leon langsung mengiyakan keinginan sahabat cantiknya ini.
"Iya deh iya"
"Makasih Leon Kuuuu..."
"Tapi ada syaratnya"
"Apa?"
"Kenalin Gue sama calon suami Lo"
"Gak ah! Gak mau Gue. Nanti aja kalau sudah waktunya"
"Diih sekarang donk! Apa jangan-jangan calon Lo om-om lagi"
"LEOONN!!!!"
"Jangan teriak-teriak Syaa!"
"Habisnya Lo sih kalau ngomong main jeplak aja! Calon Gue masih muda beda 2 bulan doank umurnya sama Gue. Dan lagi ganteng bukan om-om!!" Jelas Raisya.
"Ganteng mana sama Gue? Gantengan Gue kan?"
"Pede Lo udah akut banget dah! Jelas ganteng calon Gue laah dari pada Lo!"
"Iya deh iyaa. Semoga aja suami Lo betah punya istri barbar kayak Lo" jawab Leon sambil cekikikan.
"Sialan Lo Lee!"
Raisya pun akhirnya kembali ceria dan tertawa lagi. Hal ini membuat Leon bahagia, ternyata dia masih bisa membuat Raisya tersenyum. Merekapun menghabiskan waktu berdua di UKS sambil bercanda ria.
Tanpa mereka sadari Kevin menyaksiksannya secara diam-diam, Kevin mendengar semua percakapan Raisya dan Leon, tadi setelah berbasa basi di kantin dengan yang lain dan mengetahui fakta hubungan mereka dari Ocha, Kevin pergi dan entah kenapa langkahnya malah menuju ruang UKS. Dalam hati Kevin senang mendengar Raisya memujinya didepan Leon dan juga ada rasa iri dengan kedekatan mereka, melihat Leon yang bisa membuat Raisya kembali bersemangat.
Apakah nanti ketika Lo jadi istri Gue, Gue bisa buat Lo seceria itu disaat Lo lagi sedih? Ahh sudahlaah! Kenapa juga Gue bisa mikir sampe kesitu. Tau ah ! . Batin Kevin lalu meninggalkan ruang UKS.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca β€π
Mohon dukungannya π ada beberapa chapter di awal yang aku revisi jadi satu chapter.