My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Menuju Hari Bahagia Rayes



Hari demi hari persiapan pernikahan Rayes dan Vita semakin dekat. Tiga hari lagi pernikahan akan digelar, dan hari ini adalah hari bagi Vita untuk mencoba gaun pengantin yang sudah dipesankan sesuai keinginan Rayes. Rayes kini sudah kembali seperti biasa, tidak ada hawa dingin yang menyelimuti wajahnya lagi. Raisya pun sangat senang karena, karena Rayesnya sudah kembali.


Sekarang, dirumah Raisya pun sudah nampak sibuk, banyak orang berlalu lalang mempersiapkan semuanya. Rayes memilih mengadakan acara pernikahannya dirumah saja, karena ini adalah rumah orang tuanya. Rencananya Rayeslah yang akan menempati rumah ini bersama Vita. Rencana Rayes yang akan melanjutkan tinggal di London ia urungkan, karena perusahaan Papinya tidak ada yang menggantikan selain dirinya. Vita hanya mengikuti keinginan Rayes karena dia tau inilah yang terbaik, Vita tak masalah kalau ia kembali tinggal di Indonesia lagi. Raisya juga tak mempermasalahkan masalah rumah dan perusahaan, ia malah bersyukur Abang nya itu mau menggatikan Papi. Karena urusan bisnis bukan keahliannya.


“Mba, Ayok Aku sudah siap” ucap Raisya yang menghampiri Vita di ruang keluarga. Ia turun bersama Kevin.


“Makasih ya, sudah mau temanin” ucap Vita.


“Iya, lagian Bang Ray masih sibuk-sibuknya biar kerjaan selesai tepat waktu sebelum acara” balas Raisya.


“Yaudah yuk,” ajak Vita.


Mereka pun masuk kedalam mobil Kevin, dan melaju menembus jalan yang lumayan ramai menuju butik langganan keluarga Raisya. Sepanjang perjalanan hanya mengobrol seadanya, ditemani alunan musik dari radio yang Raisya setel. Itulah kebiasaan Raisya sekarang.


**


Hanya perlu dua puluh menit, sampailah mereka di sebuah butik, Kevin memarkirkan mobilnya tak jauh dari sana. Mereke turun bersama yan didahului oleh Vita.


Terdengar bunyi lonceng pertanda ada pengunjung yang datang, langsung saja salah satu pegawai butik itu menghampiri.


“Ada yang bisa Kami bantu?” tanya pegawai butik itu dengan sopan.


“Saya mau mengambil gaun pengantin atas nama Rayes Putra” jawab Vita.


Pegawai itu langsung menuntun mereka menuju sebuah ruangan yang terdapat banyak gaun pengantin yang sangat indah, Raisya sesekali menyentuh gaun yang terpasang dimanekin. Ia tersenyum manis, dan mengingat kembali saat dirinya mengenakan baju pengantin di hari pernikahannya dengan kevin setahun yang lalu.


“Yang ini, Mba bajunya” ucap pegawai itu sambil kenunjukkan salah satu gaun berwana putih bersih dengan model sabrina pada kerahnya, dan mekar dibagian rok serta mengekor panjang di bagian belakang.


“Gila! Seleranya Bang Ray boleh juga, ya. Pasti Mba Vita cantik banget pakai ini” puji Raisya dengan senang.


“Kamu bisa aja” balas Vita dengan tersipu.


“Mau di coba, Mba?” tanya pegawai butik.


“Iya, Saya mau coba” jawab Vita.


“Dan ini katanya ada baju untuk diberikan atas nama Raisya Kevin” ucap pegawai itu mengambilkan sebuah kotak yang lumayan besar lalu memberikannya pada Vita.


“Ah iya terima kasih” ucap Vita.


Pegawai itupun kembali membantu Vita untuk mencoba gaun pengantinnya. Vita pun menyerahkan kotak besar itu pada Raisya.


“Ini sepertinya untuk kalian,” ucap Vita.


“Wiih, makasih, Mba” balas Raisya dengan gembira.


“Kalau gitu Mba cobain baju dulu ya,” saut Vita lalu pergi, Raisya hanya mengiyakan dengan anggukkan kepala.


Raisya pun menyusul Kevin yan sedang dudul di sofa ruangan itu sambil membawa kotak.


“Apa ini?” tanya Kevin dengan penasaran.


“Gaun Aku sama baju Kamu, dari Abang” jelas Raisya.


Raisya pun membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya.


“Woaww!!” kagum Raisya saat melihat gaun pesta yang Abangnya pesankan.


“Ini buat Kamu, Vin” ucap Raisya menyerahkan satu stel pakaian jas pada Kevin.


“Simpen saja dulu,” balas Kevin.


“Cobain, Aku mau lihat” pinta Raisya dengan manja.


“Sama aja,” balas Kevin dengan malas.


“Ayolaaaaah” rengek Raisya dengan manja.


“Iya, iya nanti” jawab Kevin pasrah.


Kevin paling tidak sanggup menolak jika Raisya sudah memohon seperti itu.


Tak lama, Vita pun keluar dari tuang ganti dengan pakaian pengantin yang tadi di tujukan.


“Waah? Mba Vita cantik banget!” puji Raisya saat Vita berjalam menuju kaca yang sang sangat besar dan memutar-mutarkan tubuhnya.


“Kamu bisa aja,” balas Vita dengan tersipu.


Walaupun wajah Vita mengenakan makeup yang seadnya, tapi ia sangat terlihat sangat cantik dan lebih dewasa, mungkin faktor dari model gaun pengantinnya juga mendukung.


“Baju kalian gimana? Udah di coba?” tanya Vita.


“Belum, Mba. Ini baru mau nyobain” jawab Raisya.


“Ntar, Mba. Foto dulu yuk,” ajak Raisya yang kini sudah mengeluarkan ponselnya.


Mereka berselfie ria, sesekali Raisya mengambil gambar Vita sendirian agar nnanti ia kirimkan foto itu untuk Abangnya. Kevin pun hanya bisa menghela nafas, menunggu mereka.


“Yaudah sekarang Kamu yang ganti, ya” ucap Vita.


“Kayak nya gak usah deh, Mba. Nanti aja, baju nya bagus kok. Tuh kasian mukanya Kevin udah bete” jawab Raisya yang berbisik pada akhir kalimatnya diingiri cengiran khasnya.


Raisya sadar kalau Kevin sangat bosan menunggu seperti itu, makanya ia memilih lebih baik pulang karena bajunya pun bisa dicoba dirumah, ia yakin dengan pilihan Abangnya itu.


Mereka pun memutuskan untuk segera pulang setelah pesanan mereka sudah didapatkan.


**


Sepanjang jalan hanya suara penyiar radio atau lagu-lagu yang menemani mereka. Raisya yang kini mempunyai kebiasaan baru dimobil yaitu bernyanyi sesuka hatinya. Kevin tak masalah, untung saja suara Raisya merdu dan enak didengar. Raisya pun bersenandung mengikuti lagu yang kini sedang diputar.


Dengarkanlah wanita pujaanku,


Malam ini akan kusampaikan,


Hasrat suci kepadamu dewiku,


Dengarkanlah kesungguhan ini..


Aku ingin, mempersuntingmu..


Tuk yang pertama dan terakhir..


Ku tak akan mengulang tuk meminta,


Satu keyakinan hatiku ini,


Akulah yang terbaik untukmu..


Suara Raisya begitu merdu terdengar ditelinga mereka. Lagu yang dinyanyikan pun sangat pas sekali dengan suasan hati Vita, ia jadi teringat saat Rayes melamarnya di sebuah taman saat mereka sedang menuntut ilmu di London.


“Suara Kamu ternyata bagus banget, ya” puji Vita yang memang baru saja mendengar Raisya bernyanyi. Raisya hanya membalas dengan cengiran yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.


“Kalau gitu, Kamu nanti nyanyi ya dipernikahan nya Mba,” ucap Vita lagi.


“Oke!” balas Raisya singkat dan tersenyum.


Tak lama mobil mereka masuk kearea halaman rumah, terlihat mobil Rayes suddah terpakir dihalaman bertanda dia sudah pulang. Karena hari memang sudah sangat sore.


**


Kini mereka semua sedang makan malam bersama, suasana begitu sangat ramai dengan tawa mereka yang sesekali melemparkan candaan.


“Gimana sama gaunnya? Bagus kan? Itu Abang pilihkan khusus untuk Kamu” kata Rayes pada Raisya.


“Bagus kok, Bang. Raisya suka. Makasih Abang Ku sayaaang….” Jawab Raisya dengan manja dan memberikan ciuman jarak jauh karena mereka makan berhadapan dibatasi oleh meja yang cukup besar.


“Dipakai ya, dijamin Kevin gak akan jelalatan!” seru Rayes tertawa.


“Gak ada hubungannya, Bang” sanggah Kevin.


“Ck! Liat saja nanti, yakan dek?” ucap Rayes.


Merekapun melanjutkan acara makan malam, dan setelah selesai makan Raisya dan Vita membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor. Rayes mengajak Kevin untuk mengobrol diruang keluarga sambil menunggu Raisya dan Vita membawakan kopi kesukaan mereka.


“Vin,” panggil Rayes.


“Ya, Bang” jawab Kevin ketika mereka sudah duduk di sofa.


“Jangan pernah nyakitin Raisya, ya” ucap Rayes.


“Pasti, Bang!” jawab Kevin dengan mantap.


“Abang tau kalau Kamu punya impian buat kuliah di Inggris, bisa gak Kamu bujuk dia untuk kuliah diluar juga? Dia punya keinginan jadi seorang disainer interior. Abang Cuma ingin dia sukses,” ucap Rayes.


“Kevin sudah memutuskan untuk disini saja, Bang, bersama Raisya. Lagi pula Ayah minta bantuan Kevin buat urus perusahaab yang disini kalau mereka pergi keluar negri” jawab Kevin.


Rayes sempat terkejut dengan keputusan Kevin, karena yang ia tahu Kevin mempunyai ambisius yang besar, meskipun ambisiusnya sama dengan Raisya, Raisya tetap memiloh kuliah disini dengan alasan tak bisa jauh dari kedua orang tua dan sahabatnya.


“Apa karena menikah dengan Raisya Kamu membatalkan impianmu?” tanya Rayes.


“Tidak, Bang. Justru Raisya lah impian Kevin sekarang. Kebahagiaannya, senyumnya dan juga hidupnya” jawab Kevin dengan lembut lalu tersenyum.


Kevin yang mmelihat raut wajah bahagia Kevin pun juga ikut tersenyum. Inilah yang dinamakan cinta, cinta bisa mengubah segalanya bahkan sebuah impian. Mengingat mereka adalah dua remaja yang berambius dalam sebuah prestasi, kini saat mereka disatukan dengan cinta membuat mereka saling mengerti satu sama lain.


Obrolan mereka terputus karena Raisya dan Vita datang membawa nampan berisikan kopi dan juga cemilan di dalam toples. Raisya dan Vita pun ikut berkumpul dengan kedua pria itu diruang keluarga. Mereka sangat asyik mengobrol dan bercanda sehingga tawa mereka memenuhi ruangan ini.


“Coba Mami sama Papi masih ada, mereka pasti bahagia lihat Abang menikah” ucap Raisya merendahkan suaranya di tengah tawa mereka namun tetap terdengar, membuat suasana yang tadinya ramai dengan gelak tawa, kini menjadi hening seketika.


“Abang yakin mereka juga bahagia disana” ucap Rayes memluk Raisya.


Rayes sadar dengan perbuatannya yang beberapa hari setelah kepergian kedua orang tuanya dia mendiam kan semua orang termasuk Adiknya sendiri. Bahwa ada hati yang sama sakit dan terpukul selain dirinya. Tapi lihatlah Adiknya ini mampu menutupi kesedihan nya , masih bersikap ceria, dan mengumbar senyumannya. Meski terkadang ia mengeluh merindukan kedua orang tuanya seperti saat ini, namun dirinya berusaha agar tetap tegar.


“Iya, Bang. Semoga acara nya berjalan lancar, sebentar lagi Abang bakalan jadi suami dan punya istri. Abang tetap sayang kan sama Raisya?” ucap Raisya dengan manja.


“Tentu,” jawab Rayes lalu mecium gemash seluruh wajah Adiknya sepert saat Raisya masih bayi.


Vita pun ikut bahagia melihat ikatan saudara yang begitu erat dari keduanya. Mereka saling menyayangi dan mendukung. Vita merasa bersyukur bisa masuk dalam keluarga Rayes dan Raisya yang begitu hangat.


“Gak usah di cium-cium gitu juga kali, Bang!” seru Kevin menjauhkan wajah Rayes dari hadapan Rayes.


“Kenapa sih! Dia kan Abang Aku!” bela Raisya dengan candanya.


“Gak! Pokoknya gak boleh ada laki-laki yang boleh cium kamu setelah ini selain Aku” saut Kevin dengan posesifnya.


“Dasar posesif!” seru Rayes melempar bantal sofa kearah wajah Kevin dan mengenainya.


“Biarin!” balas Kevin juga dengan melakukan hal yang sama.


Mereka berempat pun tertawa kembali hingga larut malam, padahal esok hari mereka akan sangat sibuk kembali, karena sang Abang akan menuju hari bahagianya. Harapan Raisya adalah agar Abangnya selalu bahagia, maka ia juga akan bahagia.


Tak lama rasa kantuk itu pun datang mengahampiri mereka, Vita yang mata nya sudah memerah karena berat berpamitan terlebih dahulu memasuki kamar tamu yang tak jauh dari ruang keluarga. Begitupun Rayes, Raisya dan juga Kevin mereka muju kamar yang berada di atas.


Kamar Rayes berada di paling ujung ruangan dengan jarak dua ruangan dengan Kamar Raisya. Saat Raisya dan Kevin lebih dulu sampai didepan pintu kamar, Rayes pun menggoda mereka.


“Jangan lupa, bikinin Abang ponakan yang lucu-lucu, babay!” ucapnya sambil mengacak rambut sang Adik dan dengan cepat berlari kekamarnya, karna ia tau Adik nya itu pasti akan mengamuk.


“Dasar Abang ih!” teria Raisya yang tak sempat ingin menjambak rambut Rayes.


“Udah malam, ayo masuk!” perintah Kevin.


Raisya hanya menjulurkan lidahnya dengan kesal lalu masuk kedalam dengan wajah yang sudah merah padam karena malu bercampur kesal.


.


.


.


.


.


.


.


Halo readers Author Up lagi nih, baik kaan….


Makanya jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTARANYA yaa 😘😘 biar Author semangat!!


TERIMA KASIH 🙏❤😘