
Pagi ini semua orang termasuk keluarga, kerabat, teman bisnis Papi, dan para tetangga berdatangan kembali di rumah Raisya. Melakukan kegiatan Fardhu Kifayah, dari mulai memandikan hingga mengkhafani. Raisya dan Rayes sebagai anak kandung, mereka ikut serta mengikuti ritual itu dengan telaten dan terus berusaha tegar. Sampai akhirnya waktu untuk menyolatkan jenazah tiba, mereka semua berbondong-bondong membawa kedua jenazah orang tua Raisya ke masjid terdekat untuk disholatkan.
Setelah melakukan sholat jenazah, barulah mereka kepemakaman keluarga Raisya yang memang disediakan untuk keluarga besarnya, dengan mengendarai ambulans karena jaraknya lumayan jauh dari rumah Raisya.
Setibanya di pemakaman Kevin, Leon, Bams, Reno serta Gavin ikut membantu Rayes dan yang lainnya mengangkat tandu, dan membawa nya ke tempat yang sudah disiapkan. Sedangkan Raisya ditemani kedua sahabatnya dan juga Rina. Vita pun juga sudah hadir di acara pemakaman almarhum calon mertua nya itu. Vita tak sanggup membendung air matanya, dia juga merasa sangat kehilangan.
Disinilah dua lubang liang lahat yang sudah disiapkan akan menjadi tempat peristirahatan terakhir kedua orang tua Raisya. Raisya terus mencoba untuk tidak meneteskan air mata walau sesekali air mata nya jatuh tanpa permisi, dengan cepat ia menghapusnya. Beberapa suara isakan tangis terdengar saat tubuh jenazah yang berbalut kain putih itu diletakkan didalam lubang tanah dan ditutup oleh papan. Rayes dengan wajah datarnya menatap nanar kearah papan yang sudah menutupi jenazah Papinya. Setelah makam Papi Raisya tertutup dengan tanah, kini giliran jenazah sang Mami yang akan dikebumikan.
**
Dua gundukan tanah yang saling berdampingan, Raisya dan Rayes serta yang lainnya ikut menaburkan bunga. Setelahnya seorang Ustadz memanjatkkan doa yang diikuti semua orang. Raisya pun dalam hati ikut mendoakan Mami dan Papi nya. Kemudia satu persatu orang-orang pergi dan memberikan rasa belasungkawa pada Raisya dan Rayes.
Tinggallah Raisya yang dikelilingi semua sahabatnya dan juga Kevin yang selalu setia berada disampingnya, bersimpuh didepan makam sang Mami, sedangkan Rayes ditemani orang tua Kevin dan juga Vita yang tak hentinya mengusap pemuda itu untuk menyalurkan kekuatan.
“Mams, Mami yang tenang yaa disana sama Papi. Bahagia selalu ya Mams, kalian tetap bersama sampai akhir hayat. Semoga pernikahan Raisya seperti Mami dan Papi, hanya maut yang memisahkan. Doa kan Raisya dari sana ya, Mams” ucap Raisya lirih yang hanya bisa didengar oleh Kevin yang berada disampingnya.
“Papi bahagia ya disana, Rayes akan jaga Raisya sepenuh hati Rayes. Doakan Raisya dan Rayes dari sana ya, Pi.” Ucap Rayes dalam hati, ia hanya diam selama pemakaman berlangsung, namun hatinya sangat bergejolak.
Setelah itu mereka semua pergi dari tempat pamakaman, di dalam hati Raisya masih tak menyangka kalau kedua orang tuanya pergi meninggalkan nya secepat ini, tepat dihari ulang tahun nya yang ke delapan belas tahun. Mungkin di tahun-tahun berikutnya ia akan selalu mengingat moment memilukan ini, dan sekarang dia hanya bisa belajar untuk ikhlas agar Mami dan Papi merasa bahagia.
Sepanjang perjalanan pulang kerumah, Raisya hanya berdiam diri dan menatap keluar jendela mobil. Sesekali kenangan bersama kedua orang tua nya melintas di kepalanya. Apalagi saat ia menentang masalah perjodohannya dengan Kevin dulu, yang juga sempat membuatnya hampir kehilangan sang Papi. Meskipun sebenarnya itu sama sekali tidak benar, karena Raisya memang tak tau yang sebenarnya.
**
Sehari setelah pemakaman orang tua Raisya, ini adalah hari dimana mereka harus kembali kesekolah. Raisya dan Kevin sengaja menginap di rumah Raisya, karena keinginan Raisya sendiri.
Pagi yang cerah membangun Kevin terlebih dahulu kemudian Raisya pun juga ikut terbangun.
“Vin, bisa gak kalo hari ini Aku gak mau sekolah” ucap Raisya ketika nyawanya sudah terkumpul.
“Bisa aja sih. Lagian juga hari ini adalah hari MOS untuk siswa baru” ucap Raisya.
“Oh iya yaa.” Ucap Raisya mengingat kembali.
“Tapi kalau mau datang gak apa-apa. Kita kemarin gak sempat lihat list pembagian kelas kan?” ucap Kevin.
“Iya juga sih. Yaudah lah Aku ikut Kamu kesekolah. Nah sekalian jagain Kamu, kali aja ada anak baru yang berani godain Kamu. Awas aja!!” ucap Raisya dengan mengancam menunjuk wajah Kevin.
Bukannya takut, justru Kevin tertawa kecil melihat tingkah istrinya saat cemburu. Ini pertama kalinya lagi bagi Kevin bisa melihat wajah menggemaskan Raisya setelah pemakaman kedua orang tua nya kemarin, yang membuat Raisya seperti tak ada nyawa, namun Kevin dengan sabar selalu memberikan nasehat dan mengingatkan Raisya.
Mereka pun mandi secara bergantian, setelah itu siap-siap untuk berangkat kesekolah. Ketika mereka turun dari kamar Raisya menuju meja makan, disana sudah ada Vita sedang menyiapkan sarapan. Rayes yang masih saja bersikap dingin hanya duduk tenang di salah satu kursi sambil menyuapkan sebuah sandwich kedalam mulutnya.
“Pagi Mba Vita” ucap Kevin dan Raisya hampir bersamaan.
“Pagi… sini yuk sarapan, maaf ya Mba cuma bikinin sanwich doank” ucap Vita.
“Gak apa-apa kok Mba,” balas Raisya dengan tersenyum.
“Oh ya, Mba Vita masih tinggal disini kan? Belum mau pulang ke London kan?” tanya Kevin.
“Iya lah, Vin. Paling tidak seminggu mengingat kepergian Mami sama Papi kalian” jawab Vita dengan lembut.
Kevin dan Raisya hanya menganggukkan kepalanya, lalu memasukkan sandwich kedalam mulut masing-masing. Ketika Raisya menggigit pertama kali nya, ada rasa yang sangat familiar pada sandwich buatan Vita. Raisya tertegun, mata mulai berkaca-kaca lagi. Vita yang sadar akan perubahan wajah adik calon suaminya itu pun langsung menghampiri.
“Kenapa, Sya? Gak enak ya?” tanya Vita merasa tidak nyaman. Raisya hanya menggelengkan kepala lalu menatap sang Abang yang masih setia dengan diamnya memakan sandwich itu.
Vita terkesiap mendengan perkataan Raisya, ia pun hanya tersenyum kecil. Kevin menatap Raisya yang sedang menikmati sandwich nya, lalu tangannya terulur mengusap puncuk kepala Raisya dengan lembuy dan di balas senyuman manis oleh Raisya.
Suasana di meja makan sedikit haru setelah mendengar perkataan Raisya. Rayes pun berdiri dan berpamitan untuk kembali kekamar setelah sarapan, Vita hanya bisa menghela nafas. Dia tau kalau Rayes masih perlu waktu untuk menerima semua yang terjadi, jadi walau bagaimana pun Vita akan selalu setia menemaninya.
Raisya dan Kevin pun juga akan pamit untuk pergi kesekolah. Namun tiba-tiba Raisya mencium tangan Vita, seperti saat dia berpamitan pada Mami. Raisya yang baru sadar dengan tindakannya hanya tersenyum kecut lalu pergi keluar menunggu Kevin. Sedang kan Vita hanya bisa menghela nafas lagi. Memang sangat berat masih jika kita ditinggalkan oleh orang yang sangat Kita sayangi dalam hidup.
**
Di dalam perjalanan kesekolah hanya ada kesunyian diantara mereka. Hari memang mmasih terlalu pagi sedangkan kegiatan MOS baru berlangsung pukul delapan nanti dan sekarang masih jam setengah tujuh.
“Vin, mampir dulu yuk kemakam Mami Papi” ucap Raisya tiba-tiba.
“Aku Cuma mau pamit pergi sekolah,” sambungnya lagi.
Karena memang masih pagi, Kevin pun mengiyakan ajakan Raisya. Kebetulan arah makam keluarga Raisya dan sekolah masih sejalan, jadi tidak apa-apa kalau akan mampir terlebih dahulu.
Tak lama mereka pun sampai di pemakaman. Sunyi, itulah keadaan saat ini. Raisya menghampiri makam keduanya dan meletakkan masing-masing bunga lily yang sempat ia beli disekitar pemakaman tadi. Raisya beraimpuh diantara makam itu dan berkata,
“Mams, Papi. Raisya berangkat sekolah dulu yaa. Mami tau gak? Tadi Mba Vita buat kan Raisya sandwich, rasanya sama banget kayak buatan Mami” ucap Raisya dengan tersenyum.
“Abang jadi pendiam, tadi pagi aja cuekin Raisya. Tapi gak apa-apa, Raisya ngerti kok. Doain Raisya sama Abang ya, Mams, Pi. Dan semoga Mba Vita orang tepat untuk mendampingi Bang Ray” lanjut nya lagi lalu berdiri mengahampiri Kevin yang menunggu nya disisi makan sang Papi
“Kami berangkat sekolah dulu, Mams, Pi. Assalamualaikum” ucap Raisya kemudian menggandeng lengan Kevin mengajaknya pergi dari pemakaman.
Kevin pun menggalihkan tangannya yang di gandeng Raisya menjadi merangkul bahu Raisya ketika dekat dengan mobil mereka.
Kevin kembali melajukan mobilnya menuju sekolah, dan sesekali tersenyum kearah istrinya yang sedang asyik bermain ponsel di kursi penumpang. Dia merasa Raisya saat ini sudah sedikit membaik, sudah mau tersenyum kembali walau sebenarnya masih ada rasa kehilangan didalam hatinya. Kevin dapat mengerti itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like Vote dan Koment nya yaa😙❤
Yang mau berteman sama Author bisa follow ig saya @_riqhamey02
Sorry kalau kurang puas sama chapter ini, hanya mampu segini saya bisa apa?!
Terima kasih yang sudah mampir 🙏❤