
Diperjalanan pulang, Raisya dan Leon kembali seperti biasanya. Raisya cukup nyaman saat ini, karena perasaan anehnya sudah tidak mendominasi. Tapi tetap saja Raisya masih khawatir.
Saat ini mereka terjebak macet, entah kenapa jalanan yang biasanya jauh dari kata macet tiba-tiba jadi macet.
“Tuben banget disini macet, mana tanjakan gini lagi,” keluh Raisya.
“Entahlah,” sahut Leon pasrah.
Mata Raisya terfokus pada tulisan yang ada di belakang truk yang kini tepat di depan mobil mereka.
“Truk ini jelek, supirnya juga jelek, yang baca malah tambah jelek! Anjay!” ucap Raisya terkesiap ketika membaca tulisan itu tapi akhirnya ia terkekeh.
“Sopirnya ngajak gelut bilangin Gue jelek!” seru Raisya.
“Ya lagian yang nyuruh Kamu baca itu tulisan siapa?” ucap Leon.
“Iya juga ya, dasar si tukang truknya, ada-ada aja” ucap Raisya tak habis pikir.
“Tapi memang Kamu itu jelek kok,” canda Leon.
“Jadi Kamu juga ngatain Aku jelek?!” sinis Raisya memicingkan matanya menatap Leon. Leon hanya tersenyum lebar menanggapi.
“Yaudah,” sahut Raisya ngambek.
“Gitu aja ngambek,”
“Gak,”
Setelah lumayan cukup dengan kemacatan, akhirnya mereka bisa bernafas dengan legah, karena sudah tidak lagi menunggu. Mobil pun berjalan lancar.
“Ck! Jangan ngambek napa,” ucap Leon sambil sesekali menatap Raisya.
“Gak!” sergah Raisya, memang sebenarnya dia hanya pura-pura ngambek saja.
“Makanya jangan dibaca kalau gak mau dibilang jelek,” canda Leon.
“Apasih gak jelas,” sinis Raisya.
Leon yang gemas dengan tingkah Raisya langsung menjulurkan tangan kirinya menggelitik pinggang Raisya , membuat Raisya terlonjak kaget dan terkekeh. Sedangkan tangan kanannya memegang setiran mobil.
“Apasih sih, Lee. Kamu lagi nyetir!” ucap Raisya berusaha menjauhkan tangan Leon dari tubuhnya yang menggelitiki, namun Leon seakan tidak peduli, Leon justru tertawa geli.
“Lee awas!!” teriak Raisya ketika melihat seseorang menyebrang, membuat Leon reflek membanting setirnya dan,
Ckiiiiit !!
Brraaakkk !!
Mobil yang mereka kendarai lepas kendali dan menghantam pembatas jalan, mobil itu terus berguling hingga terjun bebas kedalam jurang yang begitu terjal.
Bum..
Bum..
“Aaaaa!!” teriak Raisya dan Leon ketika mobil mereka menggilinding hingga akhirnya menabrak pohon besar.
Brakkkk!!
Mobil dalam keadaan terbalik, menjepit tubuh mereka. Wajah Raisya penuh dengan darah dan tidak sadarkan diri. Sedangkan Leon nafasnya terengah-terengah, tubuhnya juga tidak bisa bergerak, pandangannya sedikit buram. Tapi ia masih bisa melihat Raisya yang penuh dengan darah, ingin rasanya Leon menggapainya tapi kesadarannya habis dan mata Leon pun ikut terpejam.
**
Di apartemant,
Kevin duduk di ruang tamu, entah kenapa perasaannya menjadi gusar dan tidak nyaman. Kevin pun menghibungi Raisya, namun tidak ada jawaban begitupun dengan nomer Leon juga susah untung dihubungi.
“Kenapa perasaanku tidak senyaman ini?” keluh Kevin pada dirinya sendiri, saambil memijit pelipisnya.
Tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan itu panggilan dari Raisya. Kevin pun bisa bernafas dengan legah lalu menjawab panggilannya.
“Halo sayang, Kamu masih lama?” tanya Kevin langsung.
“Maaf, pak. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan, dan hanya nomer ini yang terakir dihubungi, apa bapak keluarganya? Korban sedang dibawa kerumah sakit dengan ambulans” jawab seseorang dari seberang telepon.
Seketika jantung Kevin berdetak lebih keras seakan ingin keluar dari tempatnya.
“Bapak jangan bohong, ya! Dimana istri Saya!?” sanggah Kevin seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Barang-barangnya ada sama Kami, kalau bapak mau memastikan silahkan datang kerumah sakit Medical City” jawab orang tersebut.
“Baiklah,” ucap Kevin pada akhirnya.
Langsung saja Kevin menyambar jaket, dompet dan juga kunci mobil. Bergegas keluar apartemant dan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.
Perasaan khawatir menyelimuti pikirannya, baru saja beberapa bulan yang lalu dirinya melihat Raisya terbaring dirumah sakit, apa sekarang ia akan kembali melihatnya? Sungguh membuat Kevin merasa sangat bersalah karena telah gagal menjaga Raisya.
**
Sesampainya dirumah sakit, Kevin langsung masuk kedalam dan bertanya pada salah satu perawat yang ia lewati.
“Dimana pasien korban kecelakaan lalulintas barusan?” tanya Kevin pada seorang perawat.
“Oh, ada di ruang UGD, Pak,” jawab perawat tersebut.
Langsung saja Kevin berlari keruang UGD. Sesampainya disana, sudah ada beberapa polisi dan juga kedua orang tua Leon. Kevin merasa dunianya sudah runtuh, jika kedua orang tua Leon berada disini, berarti bisa jadi orang yang didalam benar-benar Leon dan juga istrinya. Dengan langkah gemetar, Kevin menghampiri orang disana.
“Apa Raisya didalam?” tanya Kevin dengan gemetar. Dan seorang polisi menghampiri Kevin.
“Ini ada beberapa barang dari korban wanitanya,” ucap polisi itu sambil memberikan sebuah tas selempang berwarna hitam.
Kevin mengambil tas itu tangan bergetar, dilihatnya tas itu sama persis dengan yang Raisya pakai beberapa jam yang lalu, saat pergi bersama Leon. Dengan susah payah Kevin menelan ludahnya sendiri, mencoba membuka tas tersebut.
Didalam tas, terdapat ponsel Raisya, parfum, lipglos dan tiga gantungan kunci. Kevin kengambil salah satu gantungan kunci itu lalu menelitinya dengan seksama. Ketika ia membalikkan gantungan kunci itu, terukir sebuah nama yang membuat jantung Kevin seakan bergejolak, sakit, seperti ribuan belati menyerang dibagian hatinya.
“Raisya ❤ Kevin”
Itulah tulisan yang terukir pada gantungan kunci tersebut. Tengan Kevin menggenggam erat gantungan itu, hatinya benar-benar sakit. Lalu Mama Leon menghampiri Kevin yang diam berdiri menundukkan kepalanya. Mama Leon tahu kalau Kevin adalah suami dari Raisya, gadis yang merupakan sahabat kecil putranya.
“Nak, yang sabar ya. Maafkan Leon, karena sudah membuat Raisya ikut dalam kecelakaan ini,” ucal Mama Leon lirih.
Leon pun mengangkat kepalanya dan menatap sendu wanita paruh baya yang ada dihadapannya ini.
“Kenapa Tante ngomong gitu? Ini semua bukan salah Leon, ini sudah takdir, Tan,” ucap Kevin menenangkan Mama Leon.
“Andai saja tadi siang Tante tidak mengijinkan Leon keluar rumah, mungkin tidak akan seperti ini. Dia mengatakan kalau dia merindukan Raisya, padahal kalian hampir setiap hari bertemu. Tante takut sesuatu terjadi pada Leon,” lirih Mama Leon dan ia pun terisak mengingat keadaannya anaknya didalam yang sedang kritis.
“Sudahlah, Tan, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kevin tau perasaan Tante,” jawab Kevin.
Disaat seperti ini Kevin masih bisa menghibur orang lain. Padahal dirinya sendiri juga merasa sangat khawatir dan takut.
Kevin menuntun Mama Leon kekursi tunggu yangbada didepan ruang UGD. Bergabung dengan Papa Leon.
Kevin kembali menatap gantungan kunci yang terukir namanya dan juga nama Raisya. Ia pun teringat saat tadi membuka tas Raisya ada tiga gantungan kunci. Karena penasaran, Kevin pun kembali merogoh tas Raisya dan mengambil dua gantungan kunci tersebut.
Yang satu persis sama tulisannya seperti yang Kevin liat, dan yang kedua tulisan itu adalah “LeoRa”. Kevin berpikir pasti Leon memiliki satu gantungan kunci yang sama.
“Leora, Leon dan Raisya,” ucap Kevin tersenyum membaca dan mengartikan tulisan tersebut.
**
Sudah hampir tiga jam Kevin dan yang lainnya menunggu diluar ruangan, kini semua orang berada disana. Termasuk Vita yang kini sedang mengandung tujuh bulan. Vita tidak bisa hanya berdiam diri dirumah menunggu kabar, untung saja Rayes mengijinkannya ikut datang kerumah sakit.
Risa, Ocha dan Rina mereka terisak sambil menguatkan satu sama lain, berdoa yang terbaik untuk kedua sahabat mereka.
Gavin pun tak henti-hentinya memberi kekuatan pada Kevin yang kini nampak frustasi dan lebih parah dari beberapa bulan lalu saat Raisya keracunan.
“Lo harus kuat, mereka didalam lagi berjuang,” ucap Reno.
Kevin hanya menatap diam dengan pandangan kosong.
“Berdoa yang terbaik untuk mereka, semoga tidak terjadi apa-apa,” sambung Gavin.
“Iya, Vin. Lo gak boleh kayak gini. Raisya pasti sedih kalau liat Lo seperti ini,” tambah Bams yang memang sedikit kalem sekarang. Karena dia tau bukan saatnya untuk bercanda.
Lagi-lagi Kevin hanya diam.
Ceklek!
Suara pintu ruangan terbuka, keluarlah seorang dokter dan beberapa perawat. Kalian pasti tahu kan siapa dokter itu? Ya, dia adalah dokter Galih.
Kevin pun langsung berlari menghampiri dokter Galih.
“Bagaimana keadaan istri Saya?” tanya Kevin langsung.
“Bagaimana keadaan anak Saya?” tanya Mama Leon.
Dokter Galih menghela nafas beratnya sebelum memberikan kabar yang kemungkin akan mengecewakan keluarga pasiennya.
“Mereka masih sama-sama kritis, belum sadarkan diri, Leon mendapat benturan yang begitu keras dibagian kepalanya. Sehingga pendarahan terjadi, tapi Kami sudah mengatasinya, hanya saja kesadarannya belum kembali. Sedangkan Raisya…” ucap dokter Galih menggantung.
“Raisya kenapa?!” seru Kevin yang sudah tidak sabaran.
Dengan susah payah dokter Galih menelan ludahnya sendiri.
“Raisya, juga mendapatkan benturan tapi..” lagi-lagi ucpannya menggantung.
“Tapi apa lagi?!” teriak Kevin yang mulai emosi sehingga menarik kerah jas putih yang dokter Gavin kenakan.
“Terdapat begitu banyak pecahan kaca yang masuk kedalam matanya, sehingga terdapat robekan dibagian kornea mata. Dan itu bisa menyebabkan pasien buta,” ucap dokter Gavin.
“Tapi Kami sudah mengeluarkan pecahan kaca itu dan membersihkannya, untuk saat ini mata Raisya ditutup dengan perban dulu,” jelas dokter Galih.
Kevin tersentak melepaskan pegangannya pada jas dokter Galih, ia mundur selangkah, nafasnya seakan berhenti, tapi berharap semua ini salah.
“Dokter bercanda kan?” ucap Kevin meringis. Dokter Galih hanya terdiam.
“Ya Allah, kenapa Engaku berikan cobaan terberat seperti ini?” keluh Kevin yang kini sudah tersungkur kelantai.
Gavin dan Reno langsung menopang tubuh Kevin dan membawanya duduk kembali di kursi tunggu.
“Sabar, Vin, Raisya pasti akan baik-baik saja,” ucap Gavin.
“Aku takut kalau disaat dia sadar menyadari bahwa dia buta, dia pasti sangat terpukul” ucap Kevin lirih.
Sedangkan Rayes hanya bisa menghela nafas, menopang tubuh istrinya yang bersandar terisak, begitu tau dengan kondisi Raisya.
Risa, Rina dan Ocha kembali terisak saat mereka tahu bahwa keduanya masih kritis, dan lagi mengetahui Raisya akan buta.
.
.
.
.
.
.
Halo semua,
Gimana sama episode hari ini? Semoga suka yaa..
Pasti kalian sudah menebak-nebak bagaimana episode selanjutnya, wkwkw
Tebaklah sesuka hati kalian 😂😂
Maaf kalau kalian bosen sama ceritanya kayak gitu-gitu aja hehe,
Author juga terkadang butuh inspirasi, butuh istirahat, karena memang untuk beberapa hari kemarin Author begadang ngerjain naskah ini, tapi tenang, Author sudah biasa 😂
Nah, sekedar mau kasih tau aja untuk semua pembaca setia “My Rival is My Love” ini, bulan depan mungkin akan Slow Update, karena Author banyak jadwal, hehehe
Belum lagi mau revisi cerita novel yang satunya “Love is You” , hehehe..
Disana setelah direvisi akan Author Update, dengan naskah yang sudah siap beberapa episode. Jangan lupa untuk mampir juga yaa 😁
Jadi mohon pengertiannya yaa, Author akan tetep Update disini kok sampe Ending. Tapi mungkin gak bisa rutin seperti kemarin-kemarin.
Jangan lupa tetep dukung Author ya, dengan LIKE VOTE dan KOMENTAR kalian..
Sekali lagi MAAF, dan TERIMAKASIH 🙏🙏❤❤
Muah 😘😂