
Raisya masih diselimuti perasaan kesal, karena tidak diperbolehkan untuk melihat Leon. Kevin terus membujuk Raisya, tetapi Raisya tidak menghiraukannya. Dengan perasaan khawatir akhirnya Kevin menceritakan yang sebenarnya.
“Sayang, kamu jangan seperti ini, ada sesuatu yang ingin aku katakan. Ini tentang Leon,” ucap Kevin membujuk Raisya.
Raisya yang awalnya berbaring membelakangi Kevin, seketika mengubah posisinya menghadap Kevin.
“Tentang Leon? Memangnya apa yang terjadi dengannya? Apa dia baik-baik saja?” tanya Raisya bertubi-tubi.
“Tapi aku mohon, kamu harus tenang dulu, ya,” ucap Kevin.
Perkataan Kevin sukses membuat jantung Raisya berdetak kencang, seakan ia akan merasakan sesuatu yang menyakiti hatinya. Tapi entah apa itu, Raisya pun tidak tahu.
“Cepat bilang, Vin. Ada apa?” desak Raisya. Membuat Kevin menghela napas terlebih dahulu.
“Leon sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya, Sayang,” ucap Kevin dengan lirih dan suara yang sudah serak.
Bagai petir di siang bolong, demi apa pun Raisya enggan ingin percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kevin. Mungkin pendengarannya sedang rusak, pikirnya.
“Aku gak salah dengar? Kamu pasti berbohong!” ucap Raisya tertawa miris. Berharap apa yang ia dengar adalah halusinasi.
“Gak, Sayang. Aku gak bohong. Kami semua juga gak nyangka dia pergi secepat ini, Sayang,” balas Kevin lirih.
“Aku gak percaya! Kalian semua pembohong!” teriak Raisya histeris.
“Sayang.”
“Aku gak percaya! Pergi! Kalian semua pembohong!”
Kevin mencoba menenangkan Raisya, namun emosi Raisya sedang tidak stabil, dirinya terlalu syok mendengar kabar kepergian Leon.
Tiba-tiba rasa sakit di kepala Raisya kembali di rasakan, Raisya pun memegang erat kepalanya.
“Akh! Sakit! Vin! Sakit!” keluh Raisya yang memegangi kepalanya.
Dengan cepat Kevin menekan tombol darurat untuk memanggil dokter. Semua yang ada di ruangan itu panik melihat keadaan Raisya. Rina tak hentinya menangis, ia merasa iba dengan Raisya yang sudah dia anggap sebagai kakak perempuannya. Gavin pun memeluk Rina seraya menenangkan gadis itu.
Tak lama Dokter Galih datang dengan beberapa perawat. Tapi, tiba-tiba Raisya mengeluh kalau ia tak bisa melihat apa-apa.
“Vin! Kenapa semuanya jadi gelap!” ucap Raisya memegangi kepalanya.
“Vin! Gelap!” teriaknya lagi lebih histeris.
Kevin dengan cepat langsung memeluk tubuh Raisya dengan erat. Raisya sungguh tak terkendali, Dokter Gavin pun menyuntikkan obat penenang pada Raisya. Raisya pun mulai melemah, dan akhirnya ia terlelap. Kevin pun membaringkan Raisya perlahan dan Dokter Galih memeriksa keadaan Raisya kembali.
“Bagaimana, Dok? Kenapa Raisya tadi kembali tidak bisa melihat?” tanya Kevin tak sabaran.
“Faktor benturan yang ada di kepalanya, karena matanya sedikit terluka, luka itu mempengaruhi syaraf-syarafnya. Jadi, ketika dia meraskan sakit kepala yang berlebihan, maka akan berpengaruh pada penglihatannya untuk saat ini,” jelas Dokter Gavin.
“Saran saya, usahakan pikiran Raisya tidak terganggu untuk saat ini. Saya tahu ini sangat berat untuknya, dia butuh dukungan dari orang terdekatnya,” lanjut Dokter Galih.
“Baiklah, Dok. Terimakasih,” ucap Kevin lirih yang masih menatap Raisya lekat.
Ada perasaan sakit saat mendengar penjelasan Dokter Galih, ia merasa menjadi sosok suami yang tak berguna. Dokter Galih pun pamit untuk keluar ruangan.
“Yang sabar, ya, Sayang,” ucap Bunda mengusap bahu Kevin kenyalurkan kekuatan di sana. Bunda tahu, anaknya kini sangat sedih melihat keadaan Raisya seperti ini.
“Bun, Kevin gak sanggup lihat Raisya seperti ini,” lirih Kevin, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Kak Kevin, kakak harus kuat. Kak Raisya butuh kakak saat ini,” ucap Rina memeberi semangat. Kevin hanya mengangguk.
Dalam hati Kevin membenarkan apa yang Rina ucapkan. Ya, Raisya saat ini paling membutuhkannya. Ia harus kuat agar bisa menyalurkan kekuatan itu untuk Raisya.
Rina dan Gavin pun pamit pulang, karena merasa Raisya memang butuh istirahat. Dan Bunda pun juga pamit pulang sebentar, karena ada urusan. Kini hanya Kevin yang sendirian menjaga Raisya, ia pun dengan setia selalu berada di samping Raisya, menggenggam erat tangan istrinya yang sudah tertidur pulas karena pengaruh obat.
**
Waktu terus berjalan, malam pun tiba. Kini, Raisya mulai sadar kembali. Ia mengerjapkan kedua matanya menyesuaikkan cahaya ruangan.
Dan ketika sudah normal, ia teringat kembali dengan apa yang terjadi hari ini. Cairan bening pun seketika luruh di wajah putihnya. Mengingat kepergian Leon yang membuat hatinya terguncang. Raisya benar-benar sedih, setelah kepergian kedua orang tuanya, kini ia ditinggalkan oleh sahabat terbaiknya sedari kecil.
“Vin, aku ingin melihat Leon,” ucao Raisya lirih.
Kevin terkejut mendengar suara Raisya yang memanggilnya.
“Sayang, kamu sudah bangun,” sahut Kevin dan langsung menghampiri Raisya.
“Leon sudah diantar ke tempat peristirahatannya, Sayang. Sudah seminggu yang lalu, saat kamu belum sadarkan diri,” ucap Kevin semakin memelankan suaranya karena tak kuasa menjelaskan pada Raisya.
“Apa?!” pekik Raisya tak menyangka sambil membekap mulutnya sendiri. Dirinya bahkan tidak tahu sudah tertidur berapa lama. Dan kini, saat dia bangun malah mendapat hal-hal yang terduga. Air matanya mengalir deras membasahi wajah putihnya.
“Leon,” ucap Raisya lirih mengingat Leon sahabatnya.
Kevin yang mengerti segera memeluk tubuh Raisya kembali dengan erat.
“Jika keadaanmu sudah membaik, kita akan menjenguk Leon, Sayang,” ucap Kevin.
“Sekarang istirahatlah lagi, atau kamu mau sesuatu?” tanya Kevin kembali, seraya mengusap pelan wajah Raisya.
Raisya hanya menggelengkan kepala, rasanya ia sangat malas untuk melakukan apa pun saat ini. Raisya pun memilih berbaring kembali, dengan di temani oleh Kevin.
Meraka pun berbaring di satu ranjang dengan Kevin yang memeluk tubuh Raisya dengan erat. Suasana yang sangat mereka rindukan. Meski ada rasa perih ketika Raisya kehilangan sosok sahabat kecilnya, setidaknya ada Kevin yang saat ini memberikan kenyamanan untuknya. Menjadi tempat sandarannya.
**
Beberapa hari kemudian, di sekolah Raisya. Para sahabat Raisya dan Kevin sedang berkumpul di kantin, sembari menikmati makan siang mereka.
“Gais, kata Kevin hari ini Raisya pulang, kita jemput, yuk,” ajak Ocha dengan semangat sembari memakan baksonya.
“Alhamdulillah kalau gitu,” sahut Risa.
Mereka pun setuju dengan usulan Ocha yang menjemput Raisya ke rumah sakit. Mereka sangat tahu, bahwa Raisya masih perlu dukungan dari orang sekitar. Ada perasaan bahagia saat mengetahui Raisya sudah bisa pulang dari rumah sakit
Ocha dapat merasakan apa yang Raisya rasakan, karena ia pun juga merasa sangat kehilangan. Kehilang sosok Leon yang diam-diam ia sukai, belum sempat mengutarakan isi hatinya. Tapi takdir berkata lain. Mungkin mereka tidak berjodoh, pikirnya.
“Gue kangen Leon,” lirih Ocha tiba-tiba, membuat yang lainnya seketika menghentikan aktifitas makannya.
“Gue juga kangen, berasa kehilangan teman debat gombal terbaik,” ucap Bams menambahkan.
“Gue tau kalian sedih, gue juga sedih, juga merasa kehilangan Leon. Tapi, apa dengan bersedih seperti ini membuat Leon bahagia di sana ? Gak gais, gue yakin Leon ingin kita bahagia, gak sedih-sedih seperti ini,” tutur Reno menenangkan teman-temannya. Meski tak dapat di pungkiri ia juga sangat kehillangan.
Ocha dan Bams pun membenarkan apa yang Reno katakan, Risa mengusap pundak Ocha. Karena dia juga tahu apa yang Ocha rasakan. Tidak seharusnya mereka terus berlarut dalam kesedihan.
Lee, maafin gue ya, lo yang tenang di sana. Lo harus bahagia di sana. Gue sayang sama lo, Lee. Lo udah punya tempat khusus di hati gue. Batin Ocha.
Maaf banget yaa readers 🙏, kemarin mau crazy up tapi file teks aku hilang ke format 😢😢 dan itu buat mood Author anjlok ! 😣😣
Jadinya Author ngetik ulang lagi deeh, 😢😢
Maafkan yaa kalau crazy up nya gak jadi 🙏 😣😭😭
Tapi ini Author usahain Up lagi..
Terimakasih untuk yang masih setia dengan novel ini, mohon dukungannya 🙏🙏😢😢