My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Tak Terduga



Kevin sedang berada dalam kamarnya yang luas bernuansa klasik tapi terlihat sangat modern, dengan cat berwana putih bersih dengan garis hitam disetiap tiang sudut kamar, disalah satu dinding terdapat banyak figura yang terpajang. Berbagai ukuran figura foto yang terpajang dengan berbagai macam ekspresi, kumpulan foto metamorfosis Kevin dari bayi baru lahir hingga sekarang. Foto bersama kedua orangtuanya, dan juga keluarganya. Disisi lain ada lemari kaca yang begitu besar yang diisi dengan berbagai macam piala dan figura penghargaan bahkan medali emas, juara dalam lomba keterampilan dan olahraga, juara dalam bidang akademis, semuanya terpajang rapi didalam lemari besar itu. Tentu saja itu semua hasil jerihpayah nya selama ini.


Kevin tak pernah sama sekali memikirkan tentang yang namanya cinta, pacaran, atau menikah sekalipun diusianya yang masih muda ini. Dia sangat menikmati masa sekolah yang seperti ini, menimba ilmu dengan sungguh-sungguh, membanggakan orangtua, membantu sesama yang sulit dalam hal menerima pelajaran. Yaa, Kevin kerap kali menjadi guru privat dadakan, entah itu dari kalangan anak SD, SMP, bahkan yang sama-sama SMA seperti dia, kaka kelaspun tak jarang meminta bantuannya. Walaupun Kevin itu orang yang dingin dan cuek, tapi dalam menyampaikan materi dia sangat sabar sampai orang yang dia ajari benar-benar paham.


Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 Kevin baru saja menyelesaikan sholat magribnya, lalu dia bersiap-siap untuk ikut dengan kedua orangtuanya yang katanya akan bertemu dengan calon istrinya.


Calon istri???


Kata itu seketika berputar kembali dikepalanya, membuatnya jadi bertanya-tanya, bagaimanakah calon istrinya itu? Apakah baik? Apakah bisa diandalkan? Apakah bisa menjadi istri yang memenuhi tugasnya?


Namun Kevin dengan menghembuskan nafas kasarnya mengalihkan pikirannya sendiri.


Setelah siap dengan pakaian kemeja lengan panjang berwarna navy kotak-kotak serta celana panjang putihnya dan untuk alas kaki ia memakai snekers berwarna navy. Kevin berdiri di depan cermin besar yang terdapat di kamarnya sambil sesekali merapikan rambutnya dengan pomed agar terkesan klimis, tapi tetep ganteng. Dengan aksesoris jam di tangan kirinya sehingga terlihat cool.


CEKLEKKK!!!


"Sayang kamu udah siap?" Tanya Bunda membuka pintu kamar Kevin yang memang tidak dikunci.


"Sudah Bun" jawab Kevin tersenyum dan berjalan kearah pintu menyusul sang Bunda.


"Aduuhhh.... anak Bunda ganteng banget siiih! pasti nanti calon istri kamu langsung terpesona" goda Bundanya. Dan kevin hanya tersenyum.


Kevin senyum gaisss πŸ˜‚ tentu saja dia hanya senyum pada orang yang dia sayang πŸ˜…βœŒ


Mereka pun turun kebawah menyusul sang Ayah yang sudah menunggu di ruang tengah. Setelah mereka semua siap, mereka pergi menuju mobil untuk berangkat ketempat tujuan.


●●●●●


Sementara dirumah Raisya....


"Sayang cepetan donkk, Lama banget siiihhh" teriak Mami dari balik pintu kamar yang berwarna Lavender itu.


"Iyaa Mi, sabar napa!"jawab Raisya yang sudah siap menggunakan baju dengan leher sabrina berwarna putih dan rok levis diatas lutut. Serta makeup tipis dengan sentuhan lipsglos pink membuatnya terlihat manis, gaya rambut yang dibiarkan tergerai rapi dengan hiasan jepitan rambut disisi kanannya. Menggunakan snekers putih untuk alas kakinya. Simple tapi tetep manis.


Dengan memasukkan dompet dan handpone kedalam sling bag hitamnya, Raisya keluar menyusul Mami dan Papinya.


Mami yang melihat penampilan anaknya yang begitu casual dan santai hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu menarik kembali Raisya ke dalam kamar gadis itu. Tanpa mengucapkan satu katapun, Mami langsung membuka lemari pakaian Raisya dan mengambil salah satu gaun yang bahkan belum pernah dipakai Raisya. Karena Raisya memang kurang suka berpakaian formal menggunakan gaun-gaun itu, jadi hanya menyimpannya saja didalam lemarinya.


"Ganti baju kamu sana, pake ini! Ini lebih cocok!" Perintah Mami.


"Kan cuma acara makan malam Mi, lagi pula ini kan acara Mami sama Papi" kata Raisya dengan kesal.


"Udah kamu nurut saja kenapa sih, susah betul" omel Mami sambil menuntun putrinya ke kamar mandi untuk segera berganti pakaian. Raisya hanya berdecak kesal namun tetap menuruti perintah Maminya.


Tak lama Raisya keluar dari kamar mandi dengan gaun yang dipilihkan oleh Maminya, gaun selutut berwarna Navy dengan leher sabrina lengan pendek. Lalu Mami menyerahkan sepasang weadges yang kira-kira tingginga 7cm kepada Raisya.


"Pakai ini!" Perintah Mami lagi.


Lagi-lagi Raisya hanya terpaksa mengikuti perintah Maminya. Ini sama sekali bukan gaya Raisya, setelah Mami puas melihat penampilan putrinya dari atas sampai bawah, mereka turun kembali menyusul sang Papi.


"Mami sama Papi kenapa sih gak pergi bedua aja! Itu kan acara orangtua, kalau Raisya bosen gimana?" Omel Raisya kepada kedua orangtuanya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gak bakalan bosen kok, temen Papi juga membawa anaknya yang seumuruan dengan mu" jawab Papi sambil mengelus rambut putrinya dengan senyum.


"Yaudah dehh Raisya iya iya aja" pasrah Raisya.


"Yaudah yukk berangkat, ntar teman Papi nunggunya kelamaan" ajak mami sambil merangkul putrinya menuju keluar rumah.


Mereka pun berangkat ketempat tujuan dengan sebuah mobil yang di kemudikan sendiri oleh Papi Raisya. Sepanjang perjalanan Raisya tak memperdulikan lagi alasan apa yang harus membuatnya ikut serta dengan orangtuanya. Sempat terbesit difikiran Raisya, ini acara reunian orangtuanya, membawa semua keluarganya untuk diperkenalkan. Tapi sudahlah, Raisya malas memikirkan banyak hal yang menurutnya tidak penting. Raisya duduk di kursi belakang sambil memainkan ponselnya sepanjang perjalanan.


●●●


Mobil keluarga Raisya berhenti disebuah Restoran yang terbilang mewah, hanya orang-orang tertentu yang bisa memasuki Restoran ini, dan biasanya mereka harus memesan terlebih dahulu. Pantas saja Maminya protes dengan penampilannya, ternyata acaranya di sebuah Restoran bintang lima. Papi Raisya memipin jalan yang diikuti oleh Mami yang menggandeng Raisya dibelakang, seorang pelayan menghampiri mereka ketika memasuki restoran.


"Pemisi Tuan, apakah sudah melakukan reservasi?" Tanya pelayan itu pada Papi.


"Atas nama Abimana Wijaya" jawab Papi.


"Baikalah Tuan mari ikuti Saya" ajak pelayan itu memimpin jalan kesebuah ruangan pribadi.


"Silahkan Tuan" pelayan itu mempersilahkan masuk ketika membuka pintu sebuah ruangan.


Papi, Mami, dan Raisya memasuki ruangan pribadi itu, Raisya yang berjalan dibelakang mengikuti saja sampa ia berdiri sejajar dengan Maminya. Raisya melihat sepasang suami istri yang kira-kira seumuran dengan orangtuanya. Ketika dia menoleh melihat sosok pria yang berdiri tepat dihadapannya, sontak membuatnya terbelalak tidak percaya.


Sama halnya dengan Kevin yang melihat Raisya ketika mereka besitatap pandangan. Kevin yang juga bingung dengan apa yang terjadi hanya diam tanpa ekspresi.


Apa Raisya yang akan dijodohkan denganku? Kenapa harus dia? Tidak adakah perempuan lain selain Raisya? Dia sainganku, apa jadinya kalau kami menikah? Masa aku harus menikah dengan perempuan barbar ini? Yang benar saja? Inikah yang Ayah bilang perempuan yang pantas untukku? Ya Tuhaaan, cobaan apa ini?


Berjuta gumaman pertanyaan Kevin dalam hatinya yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


Seketika mereka berdua jadi terlihat canggung, Papi yang menyadari kecanggungan putrinya langsung memperkenalkannya pada Abimana dan istrinya.


"Oyaa Abi, ini putriku Raisya. Raisya ini Om Abimana Wijaya dan istrinya Sekarsari Wijaya" seraya memperkenalkan Raisya kepada dua orangtua tersebut sambil menyalami dan mencium punggung tangannya dengan sopan.


Merekapun juga memperkenalkan pria yang berdiri dihadapan Raisya kepada Papi dan Mami Raisya dan menyebutkan bahwa Kevin adalah Putranya. Kevinpun juga berkenalan dengan sopan kepada orangtua Raisya.


Setelah sesi perkenalan mereka semua duduk di kursi yang sudah tersedia. Lagi-lagi Raisya dan Kevin duduk berhadapan. Taklama makanan pesanan mereka pun datang, berbagai jenis makanan tersedia, suasana makan malam yang hening takada pembicaraan apapun. Raisya yang hanya mengaduk-mengaduk makanan di hadapannya ditegur oleh Bundanya Kevin.


"Raisya sayang, kenapa tidak dimakan? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Bunda Kevin. Raisya yang tidak enak mendengar perkataan Bundanya Kevin tersadar dari lamunannya.


"Ehh, enggak kok Tante, makanannya enak kok. Ini Raisya makan" jawab Raisya dengan senyuman canggung sambil menyendokkan makanannya.


"Jangan terlalu gugup, anggap saja Saya juga Bundamu, sebentar lagi kan kita akan menjadi keluarga" ucap Bunda Kevin sambil menyinggungkan senyuman yang membuat Raisya tambah bingung tak karuan. Mau tidak mau dia hanya bisa tersenyum kaku, padahal dalam hati Raisya bertanya apa maksudnya dengan menjadi keluarga.


Setelah semua selesai menghabiskan makanan masing-masing. Para orangtua berbasa-basi mengobrol kemudian Ayah Kevin mengeluarkan sebuah kata yang begitu mengejutkan bagi Raisya.


"Jadi bagaimana Ren, kapan kita akan menikahkan anak kita?" Kata Ayah Kevin, sontak membuat Raisya membulatkan matanya kearah Mami dan Papinya.


"Ma.. maksud Om apa yaa?" Tanya Raisya dengan gugup.


"Sayang kamu akan menikah dengan Kevin" ucap Papi yang membuat Raisya semakin kaget dan langsung berdiri dari kursinya.


"Appaaa!!! Papi gak salah kan ?" Tanya raisya berteriak karena kaget.


"Sayang kamu bisa tidak jangan teriak-teriak seperti itu?! Tidak sopan!" Tegur Mami sambil menarik tangan Raisya untuk menyuruhnya duduk kembali. Namu Raisya malah menepis tangan Maminya, Papi yang melihat itu pun langsung menegurnya.


"Apa-apan kamu Raisya?! Ini permintaan Papi, Papi selama ini tidak pernah kan menuntut apapun dari kamu!" Tegas Papi yang juga kaget melihat reaksi Raisya yang tak terduga.


"Papi yang apa-apaan?! Raisya gak suka Pi, dijodoh-jodohkan seperti ini. Raisya masih sekolah, masih ingin mengejar cita-cita Raisya!" Elak Raisya dengan penuh amarah.


"Papi boleh minta atau nyuruh Raisya melakukan apapun, tapi jangan ini Pi!!" Lanjut Raisya yang semakin emosi.


"Kamu berani berteriak didepan Papi!!?" Geram sang Papi.


"Keterlaluan kamu Raisya.. akhh...!!!" Tegas Papi yang tiba-tiba memegang dadanya.


Raisya yang melihat itu kaget membelakkan matanya dan menghampiri sang Papi yang memegang dadanya seperti orang sesak nafas dan kesakitan. Semua yang ada diruangan itu menjadi panik tak karuan, terutama Raisya yang tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Dia mendekap tubuh Papinya sambil menangis sejadi-jadinya.


"Piii!! Papi kenapa?! Mii cepat Mi telpon ambulan?!" Raisya yang begitu panik menyuruh siapa saja untuk memanggil ambulan.


Beberapa staff restoran masuk kedalam ruangan membantu Papi Raisya untuk di bawa kedalam mobil Ayah Kevin. Karena Ayah Kevin menyarankan untuk langsung membawa kerumah sakit tanpa harus menunggu ambulan, Raisya pun hanya menurut saja sangking dia paniknya.


Setelah sampai dirumah sakit Papi Raisya langsung di dorong masuk menuju ruangan ICU. Raisya terus menitikkan air mata tanpa henti tersusuk dilantai sambil menundukkan kepalanya didepan ruang ICU. Dia menyesal bertindak seperti itu pada Papinya, dia juga tidak menyangka kalau Papinya akan anfal secara tiba-tiba seperti ini, yang setau Raisya Papinya itu baik-baik saja tidak punya riwayat penyakit apapun. Entahlah sekarang yang dipikiran Raisya mungkin Papinya menyembunyikan ini semua darinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya ReadersπŸ™ Terimakasih sudah membaca πŸ™β€