My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Cobalah Saling Memahami



Ditaman sekolah, Rina duduk disalah satu bangku yang disediakan disana. Mata bulatnya menatap langit biru yang terhampar luas tanpa batasan.


“Jangan kecewa dengan Risa” ucap sorang laki-laki dengan suara beratnya.


Rina reflek membalikkan tubuhnya menoleh kearah sumber suara. Laki-laki dengan tubuh tegapnya, mata tajam dengan manik hitam pekatnya, laki-laki itu adalah Gavin.


Gavinpun menghampiri Rina, kemudian ia duduk disebelah Rina yang menatap Gavin dengan lekat.


“Aku tidak kecewa,” kilah Rina lalu kembali menatap kesembarang arah.


“Jangan berbohong, dia pergi pasti akan kembali,” ucap Gavin mencoba untuk menenangkan Rina.


“Apa dia sudah cerita dengan Kak Reno?” tanya Rina.


“Sepertinya belum, tapi cepat atau lambat pasti Reno akan tau” ucap Gavin.


“Dan Kak Reno kembali terluka,” sambungnya Rina dengan suara lirih.


“Semua orang pernah terluka, andai luka itu sebuah pilihan, pasti akan banyak orang lebih memilih untuk tidak, kan?” ucap Gavin.


“Sama seperti ibarat, Kamu menyukai seseorang dan berharap ia juga menyukaimu, tapi hati berkata lain, dan Kamu terluka, kalau Kamu tidak ingin terluka mengapa Kamu berharap?. Sambungnya lagi.


Rina tertegun mendengar ucapan Gavin karena merasa tersindir.


“Tidak semua orang mempunyai jalan hidup yang lurus, pasti ada saja tikungan tanjam yang mereka lewati” ucap Gavin kembali.


“Tapi, Kak Reno pasti akan kecewa lagi,” ucap Rina lirih yang masih yakin akan perasaannya.


“Dia sudah dewasa, dia tau mana yang baik dan mana yang tidak, Risa pergi untuk cita-citanya dan harapan kedua orang tuanya” balas Gavin.


“Tapi Aku tidak ingin Kak Risa pergi,” ucap Rina.


“Sudahlah, belajar mengerti apa yang seharusnya dan tidak seharusnya” jawab Gavin sambil mengusap lembut rambut Rina.


Rina hanya bisa menghela nafasnya saat ini ia tidak bisa berfikir dengan baik. Apakah dia yang egois? Melihat reaksi dari Reno saja belum, tapi kenapa ia lebih dulu merasakan kekecewaan ini. Gavin benar, sekarang Reno sudah dewasa, ia pasti tau mana yang baik atau tidak.


**


Kembali kekantin,


“Ada yang kalian sembunyikan dari Gue?” tanya Reno mengintrupsi.


Sedangkan yang lain hanya bungkam, dan menatap kearah Risa. Reno pun kini juga menatap Risa dengan bingung. Dengan susah payah Risa menelan ludahnya sendiri, ia ingin mengatakan tapi kenapa rasanya seperti hanya bisa tertahan ditenggorokan.


“Maaf..” hanya kata itulah yang keluar dari mulut Risa.


“Kenapa?” tanya Reno.


Risa hanya menghembuskan nafasnya. Lalu menatap kesemua sahabatnya yang menganggukan kepala.


“Kita perlu bicara berdua,” ucap Risa pada Reno.


“Bicara apa? Kenapa tidak disini saja?” jawab Reno yang masih bingung.


“Lebih baik kalian bicara berdua, Kita semua udah tau kok,” saut Raisya.


Reno yang masih bingung akhirnya menuruti kemauan Risa. Kini Risa dan Reno meninggalkan kantin menuju perpustakaan sekolah, karena itu tempat yang lumayan sepi dan jauh dari keramaian. Lagi pula Risa tau kalau Rina pasti akan ketaman sekolah, bukan kekelas.


Sedangkan dikantin, Leon yang juga penasaran akhirnya buka suara setelah ia sedari tadi hanya diam menonton.


“Ada apa sih?” tanya Leon.


“Risa mau kuliah diluar negeri,” ucap Raisya lirih.


“Yaelah, Gue kira apaan, ya bagus donk berarti” ucap Leon.


“Jadi menurut Lo?” tanya Raisya.


“Gini ya, Ncess. Risa pergi itu untuk menuntut ilmu, untuk mencapai cita-citanya dan harapan kedua orang tuanya. Kita sebagai sahabat seharusnya mendukung, lagi pula kalau mereka LDR an tapi salah satu ada yang gak bisa bertahan, bukan berari mereka tidak berjodoh maupun berjodoh,” jelas Leon.


“Memang resikonya pasti kangen berat, tapi selama hati bisa yakin pasti gak akan ada apa-apa diantara keduanya” sambung Leon lagi.


Raisya kembali berfikir, apa selama ini dia egois? Leon benar, seharusnya Kita sebagai seseorang yang paling dekat harusnya mendukung. Apalagi untuk menggapai sebuah impian, Raisya pun juga punya impian. Dan Kevin selalu mendungnya.


“Tumben Lo bijak,” saut Ocha.


“Ck! Makanya jangan ngeremehin Gue!” jawab Leon dengan sombong.


“Ya gak apa-apa sih kalo itu emang keputusan yang terbaik, Kita bisa apa ?” ucap Raisya pasrah.


**


Diperpustakaan,


Risa dan Reno duduk disalah satu bangku perpustakaan, suasana memang lumayan sepi, tapi setidaknya disini lebih tenang.


“Ada apa?” tanya Reno dengan lembut.


Risa hanya diam mencoba menyusun kata apa saja yang akan ia ucapkan, agar tidak saling menyakiti.


“Aku akan kuliah diluar negeri, Ren” ucap Risa lirih.


Reno sempat tersentak, menatap gadis yang ada dihadapannya ini dengan ekspresi yang susah diartikan.


“Aku anak tunggal, dan satu-satunya harapan kedua orang tua ku, mereka ingin bakat yang Aku punya bisa lebih berkembang lagi dengan belajar disana” lanjut Risa lagi.


“Aku tau, Kamu gak bisa kan jalanin hubungan jarak jauh? Aku hanya tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku, karena selama ini mereka selalu menuruti apa yang Aku inginkan,” sambung Risa lagi dengan hati-hati.


“Tapi, Aku juga tidak ingin mengecewakan mu atau bahkan menyaktimu” ucap Risa dengan suara yang terdengar semakin rendah.


Reno masih mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Risa. Ia memang mempunyai rasa trauma pada hubungan jarak jauh, tapi itu dulu. Saat pikiraannya masih labil dan tidak konsisten, membuat ia diselingkuhi oleh mantannya. Memang sekarang tak seberapa lagi sakitnya, tapi seakan rasa dikhianati itu masih melekat dan membuatnya takut untuk menjalani yang namanya LDR.


Apa lagi Risa adalah sosok gadis yang sangat ia cintai, apakah dia harus mencobanya lagi? Tidak! Tetap saja Reno tidak ingin.


“Jalani saja dulu yang sekarang, Aku tidak tau harus bilang apa, toh masih ada beberapa bulan, Aku tidak ingin terganggu dengan masalah ini. Kita harus lebih fokus dulu, masalah itu nanti saja” jawab Reno tak terduga.


Risa yang mendengarnya pun tak menyangka, memang masih ada beberapa bulan lagi, tapi yang namanya waktu terus berputar.


“Baiklah, sebenarnya Aku belum siap mengatakannya. Tapi ada alasan yang membuat ku harus mengatakannya sekarang, mungkin agar tidak terlambat” ucap Risa lalu menghela nafasnya.


“Aku akan memikirkannya nanti, tapi apa Kamu juga akan siap setelah mendengar keputusanku nanti ?” tanya Reno.


“Iya,” jawab Risa dengan yakin.


Sepertinya Risa akan tau jawabannya, tapi itu tak masalah, karena Reno sudah menghargai keputusannya, maka Risa juga harus menghargai keputusannya Reno.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf ya dikit, wkwkw


Nanti Author usahain update lagi kok, hehe


Butuh istirahat karena beberapa hari ini sering begadang, wkwkw


Jangan lupa join grup Author yaa, tersedia di bawah kolom Vote dan di profil Author bagi pengguna Noveltoon..


Jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTAR nya 😄😄


TERIMAKASIH 🙏❤❤😘