
Kini hari sudah menjelang malam, setelah seharian mereka menghabiskan waktu bersenang-senang. Waktu mereka berlibur hanya tinggal empat hari lagi, namun nyatanya sisa waktu mereka hanya dua hari karena sebelum masuk kembali beraktifitas kesekolah mereka ingin istirahat di hari akhir mereka liburan sekaligus menyiapkan keperluan untuk kembali kesekolah.
Dikamar, Raisya sedang berdiri didekat jendela menikmati angin malam yang menerpa wajahnya. Rambutnya pun ikut berterbangan akibat sentuhan angin yang sepoi-sepoi. Menikmati pemandangan pantai dimalam hari suar deburan ombak samar-samar terdengar.
Ceklekk!!
Suara pintu terbuka, Kevin baru saja keluar dari kamar mandi. Raisya tak menyadari keberadaan Kevin yang kini sudah berdiri dibelakangnya. Kevin melingkarkan tangannya di perut Raisya.
“Kenapa masih disini? Ayok tidur” ajak Kevin yang kini sudah menyembunyikan kepalanya di leher Raisya sambil menghirup aroma tubuhnya.
“Aku masih ingin disini” jawab Raisya.
“Vin, Kita kelas tiga gak sampai setahun kan yaa.. setelah lulus Kamu ingin bagaimana?” lanjut Raisya bertanya.
“Mungkin kuliah” jawab Kevin.
“Apa Kamu ingin kuliah di luar negeri?” tanya Raisya lagi.
Kevin terdiam sejenak, memang dia punya keinginan untuk kuliah diluar negeri, tepatnya di Inggris di Universitas Oxford. Namun saat dia telah menikah dengan Raisya rasanya tidak ingin meninggalkan istrinya ini. Apalagi sekarang dia sudah bekerja diperusahaan Ayahnya meski tak sepenuhnya menggantikan beliau.
“Aku ingin, tapi itu harapanku dahulu, sekarang sudah tidak” jawab Kevin lalu dia tersenyum.
Raisya masih memandang kearah pantai, pikirannya berkelana tentang apa yang Kevin katakan barusan.
“Jangan jadikan Aku penghalang cita-cita mu Vin!” ucap Raisya dengan lirih yang masih memandang laut lepas dihadapannya.
“Kamulah cita-cita ku” jawab Kevin lalu mencium leher Raisya.
Raisya menggeliat tak nyaman dengan apa yang Kevin lakukan. Namun ada pula perasaan hangat menghampiri tubuhnya, perasaan nyaman dan membuat darahnya berdesir. Raisya pun membalikkan tubuhnya lalu menatap Kevin sambil tersenyum tipis.
“Gapailah keinginanmu Vin, buat kedua orangtuamu bangga, Aku juga pasti akan bangga padamu.” Ucap Raisya sambil memegang wajah Kevin.
“Sudahlah hal itu juga masih lama nanti saja Kita pikirkan, jalanin aja dulu yang sekarang. Ingat ! Sekarang Kita punya saingan lagi” ucap Kevin dan Raisya hanya manautkan kedua alisnya bingung.
“Gavin, sayaang” lanjutnya lagi saat begitu paham maksud ekspresuli istrinya.
Raisya menganggukkan kepalanya paham. Dia hampir lupa kalau saingannya bertambah satu lagi setelah bertahun-tahun hanya bersaing dengan Kevin dan sekarang malah menjadi istrinya.
**
Di kamar sebelah, tepatnya dikamar ketiga gadis yaitu Risa, Rina dan Ocha. Mereka sekamar karena tak ingin salah satu dari mereka tidur sendirian karena Raisya sekamar dengan Kevin.
“Oh ya Rin, orangtua Kamu udah tau gak kalau Reno punya pacar?” tanya Risa tiba-tiba. Rinabyang sedang asyik membaca komik itu langsung menoleh kearah Risa.
“Eemh.. sepertinya belum tau, mungkin suatu saat nanti Kak Risa akan dikenalkan pada mami dan papi” jawab Rina.
“Kira-kira, apa orangtuamu akan menerimaku?” tanya Risa lagi dengan sedikit rasa khawatir. Rina pun tersenyum manis.
“Tentu saja akan menerima Kak Risa, tenaang mami papi Rina baik kok gak gigit!” ujar Rina sambil cekikikan. Risa dan Ocha pun menyunggingkan senyuman mereka.
“Semoga saja yaa” ucap Risa tersenyum kecil.
“Oh yaa.. Lo suka sama Gavin yaa?” tanya Ocha pada Rina dengan frontal.
Rina yang mendapat pertanyaan itu langsung mengerjapkan tubuhnya, berdehem untuk menetralkan dirinya sendiri. Wajahnya tampak merona karena merasa malu, membuatnya senyum-senyum sendiri tak karuan. Ocha yang melihat tingkahnya pun hanya menahan tawanya, sungguh sangat menggemaskan seperti Raisya sahabatnya jika sedang merona.
“Emhh.. ituu….” Ucap Rina sedikit gugup.
“Gak usah dilanjutin, Gue dah tau jawabannya” ucap Ocha.
“Tapi sepertinya Gavin menyukai Raisya. Upsh!!” ucap Risa tiba-tiba. Rina dan Ocha hanya langsung menatapnya dengan tatapan bingung. Kemudooan Rina tersenyum.
“Kalau itu Rina juga tau kok Kak, kelihatan banget dari cara Kak Gavin natap Kak Raisya” ucap Rina dengan wajah cemberut.
“Udah lupain aja yang barusan, buat dia berpaling ke Lo, lagian juga Raisya gak akan kepincut sama Gavin. Orang sudah punya Kevin” ucap Ocha dengan santai.
“Iyaa Rin, bener tuh apa yang dibilang Ocha. Buat dia berpaling ke Kamu, lagian juga perlakuan dia ke Kamu juga gak cuek banget dan gak pernah kan dia jutekin Kamu” ucap Risa menambahkan. Dan Rina pun menganggukkan kepalanya.
Mereka memang sangat dekat sekarang. Layaknya seperti saudara perempuan, dan Raisya lah yang mempertemukan mereka semua.
“Terus kalo Lo gimana, Cha?” kini Risa bertanya pada Ocha.
“Entahlaah” jawab Ocha dengan mengangkat kedua bahunya.
“Memangnya siapa sih orang disukai Kak Ocha?” tanya Rina.
“Ada deeh! Belum saatnya kalian tau, biar Gue pendem sendiri dulu. Ntar kalau udah gak sanggup Gue bakalan cerita dan ngasihtau kalian siapa dia” ujar Ocha.
“Terus aja mendem sendiri! Ingat Cha, sesuatu hal yang menyakitkan bakalan tambah sakit dipendem sendiri. Gue tau Lo belum ada kemajuan kan sama Doi” ucap Risa.
“Naah tuh tau..” jawab Ocha dengan santai memeperlihatkan senyum terpaksanya.
Risa dan Ocha memang saling menguatkan, terlebih lagi Risa yang selalu paham akan kondisi para sahabatnya itu selalu memberikan nasihat serta dukungan yang pastinya membuat siapa saja yang mendengar akan merasa legah.
**
Waktu pertama kali kulihat dirimu hadir,
Rasa hati ini inginkan dirimu..
Hari tenang mendengar suara indah menyapa,
Geloranya hati ini tak ku sangka..
Rasa ini tak tertahan,
Hati ini selalu untukmu..
Terimalah lagu ini, dari orang biasa..
Tapi cintaku padamu luar biasa..
Aku tak punya bunga, Aku tak punya harta..
Yang kupunya hanyalah hati yang setia, tulus padamu..
Itualah salah satu lirik lagu yang dinyanyikan oleh Gavin dengan suara lirih namun jika didengar akan terdengar sangat sedih, mengingatkannya pada sosok Raisya yang sangat dia sukai saat pertama kali melihatnya. Tak dapat berbohong memang kalau hatinya masih menyimpan rasa pada orang yang pernah dia suaki sekaligus orang yang sempat membencinya. Namun Gavin bersyukur Raisya masih mau menerimanya walau hanya sebatas sahabat.
Tak lama Leon pun bergantian dengan Reno untuk bermain PS. Leon menghampiri Gavin yang sedang duduk santai didekat jendela lalu duduk dihadapan Gavin.
“Move On bro!” ucap Leon menyemangati.
“Lagi usaha..” jawab Gavin sekenanya.
“Gue tau gimana perasaan Lo, Gue juga gitu ke Raisya. Tapi bedanya Gue gak pernah kecewain dia” saut Leon lagi.
“Lo bener, kalo aja Gue gak ngelakuin hal bodoh. Mungkin Gue gak akan merasa sekecewa ini” ucap Gavin dengan lirih.
“Tapi bagaimanapun Raisya, selama Lo mau berubah lebih baik lagi, dia masih bisa nerima Lo. Jadi Gue harap persahabatan Lo sama Incess Gue gak ada kekecewaan lagi setelah ini” ujar Leon.
“Oh yaa.. Gue lupa sesuatu.. Gue mau keluar dulu yaa bentar” lanjut Leon lagi kemudia pergi kearah pintu kamar untuk keluar.
“Mau kemana Lo?” teriak Bams bertanya ketika melihat Leon hendak membuka pintu.
“Ada urusan! Bye!” jawab Leon singkat kemudia keluar dan langsung menutup pintu.
Bams hanya berdecak, kemudian mengomel tak jelas pada Reno karena kalah dalam bermain PS. Gavin yang melihat itu hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah duaborang laki-laki dihadapannya itu.
Ada rasa kebahgiaan tersendiri bagi Gavin bisa mendapatkan sahabat seperti Raisya dan yang lainnya. Mengingat dulu saat masih bersekolah disekolahnya yang lama tidak ada teman seperti mereka, yang berteman dengan tulus serta saling mengsupport satu sama lain.
**
Malam ini mereka semua sibuk dikamar nya masig-masing, tapi tidak dengan Leon. Setelah keluar kamar tadi dia malah berjalan keluar resort seorang diri, kini Leon berjalan sendirian di halaman resort. Menikmati angin malam yang berhembus ditemani suara deburan ombak pantai yang bergantian. Leon memandang langit yang terlihat begitu luas dengan bintang-bintang yang bertaburan.
“Besok Lo ultah yaa Ncess.. My princess Raisya ku tersayang..” ucap Leon pada dirinya sendiri, sambil menengadahkan kepalanya kelangit manatap bintang-bintang itu kemudian tersenyum.
Leon melihat ada tempat duduk yang tersedia disana lalu ia pun mendudukkan tubuhnya dikursi itu sambil hersandar.
“Huuhhff…” suara helaan nafas Leon.
“Semoga Lo selalu bahagia yaa Sya, Gue akan selalu ada buat Lo. Tapi jika nanti Gue pergi, Gue harap Lo selalu ingat Gue.” Ucap Leon bermonolog sendiri.
Entah apa yang ada dipikiran Leon saat ini, ia hanya ingin sahabat kecilnya itu terus bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira Leon kenapa yaa ?? Hehehe
Ikutin terus yaa ceritanyaa..
Semoga suka sama chapter ini, walaupun gakjelas. Wkwkwkw
Jangan lupa Like nya ! ❤
Thanks! 😚