
Kini lima bulan telah berlalu, Raisya dan Kevin tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Bangun pagi, membuat sarapan, makan bersama, pergi kesekolah dan belajar bersama. Tapi hal itu tidak sama sekali membuat Raisya dan Kevin bosan, meskipun terkadang Raisya mengeluh. Apa lagi mereka sekarang sudah kelas tiga SMA, semakin mendekati hari Ujian Nasional yang kurang lebihnya sekitar 3 bulan lagi, semakin sering juga sekolah mengadakan Try Out untuk lebih mengasah kemampuan siswa siswinya. Belum lagi pihak sekolah mengadakan kelas tambahan untuk murid kelas tiga. Yang biasanya mereka pulang sekolah jam dua, kini saat diadakan pelajaran tambahan mereka pulang jam lima sore.
Perjuangan memang, tapi bagi Raisya dan Kevin itulah salah satu jalan menuju kesuksesan mereka. Kali ini Raisya semakin giat untuk belajar, mengingat saingannya disekolah bertambah setelah kehadiran Gavin. Bahkan malam sebelum tidur pun Raisya menyempatkan waktu untuk membaca buku.
Seperti sekarang ini, Raisya sedang duduk manis disofa yang ada di kamarnya, ia sedang membaca buku RPUU mengingat kelas Raisya adalah kelas IPS. Tapi ia selalu ingat waktu, tidak terlalu over dalam belajar, karena otak terkadang juga butuh refreshing. Sedangkan Kevin mengerjakan tugas dimeja belajar.
Sekarang Kevin tidak sesibuk seperti sebelumnya, mengingat ia sudah kelas tiga, maka dua bulan yang lalu ia menyerahkan jabatannya pada siswa lain yang terpilih dan menggantikannya sebagai ketua osis, begitupun dengan Leon dan beberapa anggota kelas tiga lainnya. Sebenarnya Kevin tak masalah jika ia masih menjadi ketua osis, tapi itu atas permintaan Raisya, agar Kevin memiliki waktu lebih banyak untuk belajar menghadapi ujian yang semakin dekat. Apa lagi mereka selalu ada kelas tambahan setiap pulang sekolah.
Kevin pun menutup bukunya karena ia sudah selesai mengerjakan tugasnya. Lalu menghampiri Raisya yang sedang bersantai duduk di sofa sambil membaca buku.
“Sayang, tidur yuk,” ajak Kevin yang kini sudah duduk dibsebalah Raisya.
Raisya pun menatap Kevin lalu menutup bukunya. Dan meletakkannya diatas meja.
“Yaudah,” jawab Raisya.
Mereka pun naik keatas tempat tidur, jan sudah menunjukkan angka 10.15 pm. Sebenarnya Raisya belum mengantuk. Mereka pun tidur berhadapan dibawah selimut yang sama.
“Vin,” panggil Raisya dan hanya di jawab dengan deheman.
“Bang Ray bahagia banget ya pastinya,” ucapnya mengingat sang Abang yang akan menjadi calon Papa.
Ya, Vita tengah hamil ditrimester pertama, saat memberi kabar itu pada Raisya, begitu hebohnya Rayes seperti sedang memanangkan sebuah lotre. Ia pun masih ingat Abangnya itu malah mengejek suaminya dengan bercanda.
#FLASHBACK ON ~~
Tadi siang,
Raisya dan Kevin mampir kerumah Rayes, karena setelah acara pernikahan Rayes dan Vita, Raisya dan Kevin tak pernah berunjung lagi dikarenakan sibuk dengan urusan sekolah yang padat dan menguras otak kebetulan hari ini sekolah tidak mengadakan pelajaran tambahan, jadi mereka bisa pulang lebih awal.
Sesampainya di halaman rumah bersamaan dengan mobil Rayes yang juga baru datang. Akhirnya mereka bertemu di halaman rumah.
“Loh, Abang gak kerja? Atau memang sudah pulang?” tanya Raisya bingung.
Dan ternyata Rayes turun bersama Vita dengan wajah yang sangat bahagia. Saat Rayes melihat Adiknya, ia pun langsung memeluk erat adik kesayangannya itu dengan begitu eratnya.
“Abang! Raisya gak bisa nafas!” pekik Raisya didalam pelukan Rayes.
Rayes pun melonggarkan pelukannya lalu tersenyum bahagia.
“Abang sehat kan?” tanya Raisya yang sudah memegang kening Abangnya itu. Baginya, Abang nya itu seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri.
“Kalian dari mana?” tanya Kevin yang juga penasaran.
“Dari rumah sakit,” jawab Vita.
“Rumah sakit? Siapa yang akit? Abang beneran sakit jiwa?” ucap Raisya asal.
“Kamu tuh, Dek. Abang ini lagi bahagia banget tau” saut Rayes.
“Bahagianya apa ? Dapat lotre?” tanya Raisya lagi yang masih bingung.
“Lebih dari lotre!” jawab Rayes.
“Abang Kamu jadi calon Papa” ucap Vita.
“Hah?” kaget Raisya dan Kevin bersamaan, Vita hanya menganguk.
“Beneran? Waahh, Raisya akan jadi Aunty ! Yeayy!” ucap Raisya dengan senang.
“Yaudah yuk masuk, nih Mba bawa makanan Kita makan sama-sama” ajak Vita.
Raisya dan Vita masuk lebih dulu kedalam rumah. Disusul dengan Kevin dan Rayes di belakang.
“Kalian kapan kasih Abang keponakan? Padahal kalian yang deluan nikah, tapi Abang deluan yang jadi,” ucap Rayes.
“Apasih Bang, masih lama, Kita masih sekolah” saut Raisya yang mendengar pertanyaan Rayes. Kevin hanya tersenyum kecil saja.
#FLASHBACK OFF~~
“Pastinya donk, Sayang pasangan mana yang tidak bahagia jika malaikat kecil akan hadir di antara mereka” jawab Kevin.
“Vin, kalau Aku punya anak Kamu bahagia juga gak?” tanya Raisya tiba-tiba. Membuat Kevin sedikit terkejut.
“Ya bahagia lah, asal itu anak Aku, Aku yang bikin sama Kamu” jawab Kevin.
“Dih ngarep!” canda Raisya dengan sedikit tersenyum, ia lakukan agar tidak terlalu gugup mendengar perkataan Kevin.
“Jadi Kamu mau bikinnya sama orang lain, iya?!” ucap Kevin yang malah kesal pada Raisya.
“Ish! Apaan sih! Ya gak lah! Lagian juga bikin apa? Bikin kue?!” jawab Raisya dengan santai.
“Ya bikin anak lah!” jawab Kevin tak kalah santainya.
Raisya hanya berdecak dan wajahnya semakin memerah.
“Dasar mesum!”
“Sama istri sendiri”
“Ngarep?”
“Banget!”
Raisya pun terdiam, dan menatap dalam mata Kevin. Usia pernikahan mereka sudah lebih dari setahun tapi karena masih sekolah itulah mereka menunda untuk melakukannya. Meski Raisya tau sebenarnya bisa saja mereka melakukannya sekarang dengan pengaman untuk mencegah kehamilan, tapi hal itu juga perlu mental yang kuat. Walaupun mereka sudah dewasa, tapi tetap saja terkadang Raisya merasa belum siap.
Namun, akhir-akhir ini Raisya mencoba untuk mempersiapkan diri. Tapi ia tidak akan tau kapan hari itu akan terjadi.
“Aku ngerti kok, yaudah tidur sudah malam, besok kelas Kamu ada ulangan kan?” ucap Kevin mengalihkan obrolan mereka.
Raisya hanya tersenyum manis lalu memeluk erat tubuh Kevin.
**
Keseokan harinya, mereka sekolah seperti biasa, hanya saja waktu belajar mereka lebih padat. Banyak tugas yang di berikan oleh guru mereka.
Dan sekarang mereka semua sedang makan dikantin karena jam istirahat telah tiba.
“Gila! Akhir-akhir ini sering banget guru ngasih tugas tambahan, padahal sudah ada kelas tambahan sepulang sekolah” keluh Bams.
“Kita itu sudah mau lulus, Bams. Ya wajar lah semakin banyak tugas” jawab Reno.
“Seharusnya kita itu dikasih banyak libur biar bisa refresing, bukan dikasih banyak tugas” saut Bams asal.
“Yee, itu mah maunya Lo, Bambang!” sewot Ocha. Membuat yang lainnya tertawa.
Moment seperti ini mungkin hanya akan terjadi beberapa kali kedepan, mengingat jadwal mereka padat, terlebih harus lebih fokus lagi karena ini adalah awal penentuan masa depan mereka.
Raisya berfikir apakah saat mereka nanti semakin dewasa hal seperti ini masih bisa mereka lakukan? Entahlaah.
“Pesen makanan sana, Gue udah laper!” perintah Raisya.
“Inces mau pesan apa?” tanya Leon.
“Biasa bakso setannya Kang Mamang” jawab Raisya.
“Ngapain sih, Sya makan bakso setan. Tuh disini udah ada setannya” saut Ocha asal sambil melirik Bams.
“Sialan, Lo!” Bams yang dilirik pun menggerutu kesal melempar Ocha dengan gumpalan tissue, tapi tetap saja ia tertawa.
“Emh, ada yang pengen Gue omongin,” ucap Risa ragu-ragu. Membuat semua mata menatapnya.
“Tapi sebelumnya Gue mau minta maaf, terutama sama Ocha dan Raisya” lanjut Risa lagi.
“Mau ngomong apasih? Serius banget!” tanya Ocha yang tidak sabaran.
“Gue,..”
“Lo kenapa?” putus Raisya.
“Gue, bakal kuliah diluar negeri” ucap Risa dengan cepat lalu memejamkan matanya.
Ia sengaja mengatakan ini saat Reno sedang memesan makanan. Tapi dia lupa kalau ada Rina kembarannya Reno. Sebenarnya tidak tega untuk mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi ini adalah keputusan orang tuanya.
Ucapan Risa membuat Ocha dan Raisya bungkam, Raisya masih mencerna perkataan Risa barusan. Dengan susah payah ia menelan ludahnya sendiri.
“Kenapa?” itulah yang keluar dari mulut Raisya.
“Permintaan orang tua Gue, kalian tau sendiri Gue anak tunggal, dan Gue satu-satunya harapan mereka, Gue gak tau harus gimana” jawab Risa lirih.
“Berarti Kak Risa bakalan ninggalin Kak Reno donk,” saut Rina dengan nada sedih dan kecewa.
Risa pun menoleh pada Rina dan menatapnya.
“Gak kok, Aku gak akan tinggalin Reno, kan masih ada sosial media buat komunikasi dari jarak jauh,” jawab Risa.
“Tapi Kak Reno itu paling gak bisa jalanin hubungan jarak jauh,” ucap Rina dengan suara semakin pelan lalu merapatkan bibirnya.
Risa tersenyum membuat semuanya menatap nanar kearahnya.
“Owh, gitu” ucap Risa dengan kaku dan berusaha tetap tersenyum. Namun ada rasa takut dan rasa bersalah didalam hatinya. Membuat suasana di meja mereka canggung dan gugup.
Tak lama pesanan mereka datang yang sudah dibawakan oleh Leon dan Reno. Mereka pun membagikan makanan sesuai pesanan sahabat-sahabatnya.
Saat Leon dan Reno duduk, mereka bingung dengan suasana yang terjadi. Kenapa semuanya jadi pendiam dan kaku.
“Kalian kenapa?” tanya Reno. Membuat Risa menoleh cepat kearahnya.
“Kamu kenapa?” tanya Reno pada Risa yang menatapnya gugup.
“Gak apa-apa, kok” jawab Risa berusaha tersenyum.
“Kuy makan! Jangan lupa baca doa, ntar yang ada makanannya di makan setan!” ucap Ocha mencairkkan suasana, menatap Bams saat mengucapkan kata setan. Membuat yang lain menahan tawa.
“Setannya jangan ke Gue juga, Jaenab!” balas Bams tidak terima.
“Nama Gue Rossa. ROSSA. Bukan Jaenab!” saut Ocha dengan sewot. Dang mengejakan namanya dengan penuh tekanan.
“Eh Markonah, Panjul! Buruan makan!” ucap Ocha menengahi saat Bams ingin membalas ucapan Ocha.
“Dasar Maemunah,” balas Ocha dan Bams dengan kompak pada Raisya.
Raisya hanya melengos malas. Tapi setidaknya suasana mencair, tapi tiba-tiba.
“Kak, Aku mau kekelas sudah kenyang, bay!” ucap Rina yang sudah mendorong piring menjauh dari hadapannya lalu berdiri dan meninggalkan mereka tanpa memperdulikan yang lain memanggilnya.
“Rin, ini makanan Kamu belum habis,” ucap Gavin tapi tak mendapatkan respon dari Rina.
“Lah? Tuh bocah kenapa bete gitu, kalian apain Adek Gue?!” tanya Reno dengan curiga.
“Gak diapa-apain. Mungkin lagi PMS kali” saut Bams asal.
Reno pun ingin berdiri dan menyusul Rina, tapi di cegah oleh Gavin.
“Biar Gue aja,” cegah Gavin dan langsung pergi meninggalkan kantin untuk menyusul Rina.
Reno hanya menghela nafasnya lalu kembali duduk disamping Risa.
“Udah, Rina gak apa-apa kok” ucap Risa mencoba menenangkan Reno. Namun ada rasa takut dan bersalah.
Takut Reno meninggalkannya, bersalah karena mungkin akan mengecewakan Reno atas keputusannya.
“Huh! Anak itu memang sih mood nya suka berubah-ubah” keluh Reno dan ia kembali menikmati makanannya.
**
Di taman sekolah..
Rina tidak kekelas, tapi dia pergi ketaman sekolah. Entahlah mengapa rasanya begitu kecewa setelah mendengarkan keputusan Risa, pacar saudara kembarnya.
Ia sangat tahu, Reno itu trauma dengan hubungan jarak jauh yang hanya berhubungan lewat media komunikasi. Karena dulu Reno pernah menjalankan hubungan jarak jauh dengan seseorang, tapi naas hubungannya putus ditengah jalan karena gadis yang dicintai Reno berselingkuh dibelakang, itu juga yang membuat Reno sedikit berubah. Sejak saat itulah Reno tak pernah dan tak mau lagi jika harus LDRan.
Rina sudah menganggap Risa seperti saudaranya, mengingat ia hanya mempunyai Reno saudara kembarnya, tapi Reno laki-laki. Tak jarang selalu ada perbedaan masalah selera.
Bersahabat dengan Raisya dan yang lainnya membuat Rina yang juga mempunyai trauma dimasa lalu, membuat Rina merasa bahagia, merasa diperhatikan, dan merasa dilindungi.
Terlebih kehadiran sosok Gavin yang terlihat begitu sayang kepanya, walau hanya sebagai Adik.
Saat mendengar keputusan Risa, ia hanya tak ingin melihat saudara kembarnya merasa kecewa dan sakit kembali. Oleh sebab itu ia lebih memilih pergi, karena dia yakin cepat atau lambat Risa pasti akan menceritakan semuanya. Dan disaat itulah ia akan kembali melihat wajah kecewa saudara kembarnya. Memang pepatah yang mengatakan “Darah lebih kental daripada Air” itu benar, itulah yang dirasakan Rina, ia akan merasa sakit juga saat Reno merasakan sakit. Terlebih lagi mereka adalah saudara kembar, pasti mempunyai ikatan bathin yang sangat kuat.
Disinilah, ditaman sekolah ini Rina menenangkan pikirannya, sambil duduk bersandar menatap langit biru yang menghampar luas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih Readers kesayangan Aku 😘
Gimana sama chapter ini suka gak ? Hehehe
Maaf ya, kalau bikin kalian jadi bosen, bingung dan gak ngerti . Wkwkw
Jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTAR yaa..
Itu sangat membuat Author semangat untuk Update terus 😄
Ada yang baru loh dari pengguna Noveltoon, Kalian bisa join grup aku ya..
Yuk join!! biar bisa saling sharing sama Author 😄😄
Hehe...
TERIMAKASIH 😙🙏❤❤