My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Menyetujui



Sudah hampir 2 jam dokter juga belum keluar dari dalam ruangan ICU. Mami, Abimana dan istrinya serta Kevin pun juga masih berada dirumah sakit.


"Hiksss..huhuhuuu....Mii, Papi gimana Mii? Ini semua salah Raisyaa?.. hikss...." Rengek Raisya yang masih bercucuran air mata sambil memeluk Maminya.


"Sudah Sayang, kamu tenang dulu yaa, Papi kan lagi ditolong sama dokter didalam, Papi pasti akan baik-baik saja" ucap Mami sambil menenangkan putrinya.


"Tapi Raisya takut Mii.. hikss... ini semua gara-gara Raisya Mii... kalau saja tadi Raisya tidak seperti itu .. hikss.. Papi tidak akan seperti ini.. huuuhuuuu" Raisya terus saja menangis dipelukan sang Mami.


Raisya benar-benar menyesal sekarang, bagaimana dirinya bisa sebodoh itu. Membentak Papi nya tanpa sadar karena hanya sebuah permintaan yang menginginkan dirinya menikah dengan Kevin. Tapi memang Raisya belum siap untuk menikah sekarang, diusianya yang masih muda dan juga masih sekolah. Dia hanya ingin fokus dengan belajarnya, dia hanya ingin membuat orangtuanya bangga, selama ini rasa ingin memiliki pacar saja tidak pernah terlintas sedikitpun dipikirannya apalagi soal menikah.


Bagi Raisya menikah itu bukan hal yang sepele, semuanya harus disiapkan dengan matang. Dari segi fisik maupun mental, kesiapan hati lahir dan bathin, jujur sekarang Raisya sama sekali tidak memiliki mental yang kuat untuk masalah pernikahan. Dia yang masih muda ini bagaimana menjalankan peran sebagai seorang istri, lebih lagi dia menikah dengan pria yang sangat dingin, ketus, dan tegas seperti Kevin. Berbanding terbalik sekali dengan dia yang sedikit cerewet, ceria, juga kadang ceroboh. Raisya akui dia dan kevin memiliki sifat yang sangat berbeda, bagaimana bisa mereka harus membina rumah tangga. Apakah dia bisa mempertahankan rumah tangganya jikalau suatu saat ada percekcokkan diantara dirinya dan Kevin. Padahal Raisya juga berharap dia menikah hanya sekali seumur hidup, dia juga tidak mau menyandang status janda diusia muda.


Raisya yang sudah meredakan tangisannya kembali berpikir sambil duduk bersandar pada sandaran kursi yang ada didepan ruangan Papinya dirawat. Apakah dia harus menerima perjodohan ini, agar dia bisa melihat Papinya bahagia dan sehat kembali. Apa dengan menerima perjodohan ini Papinya bisa bangun lagi. Sampai akhirnya Raisya memutuskan untuk menerima perjodohan ini meskipun hatinya terpaksa, tapi dia berusaha mengesampingkan ego nya demi melihat Papinya bahagia dan sehat kembali.


Taklama seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari pintu ruangan yang merawat Papinya, Raisya yang melihat dokter itu keluar langsung menhampiri dan memberi pertanyaan pada dokter itu.


"Bagaimana keadaan Papi saya Dok?" Tanya Raisya dengan cemas.


"Pasien sudah membaik, sudah melewati masa kritisnya, namun belum sadarkan diri karena pengaruh obat" jawab dokter itu degan lembut.


"Boleh kami masuk kedalam Dok untuk melihatnya?" Tanya Raisya lagi penuh harap.


"Boleh, tapi jangan membuat kebisingan agar tidak mengganggu pasien, karena beliau masih perlu istirahat" kata dokter itu, dan dianggunki oleh Raisya.


"Kalau begitu saya permisi yaa, mau memeriksa pasien yang lain" kata dokter itu berpamitan.


"Baik Dok, silahkan. Terimakasih dokter" kata Raisya yang diangguki dokter itu, kemudia pergi. Raisya dan lainnya bergegas masuk kedalam untuk melihat keadaan Papinya.


Ketika masuk kedalam, Raisya melihat seseorang yang sangat dia sayangi sedang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit, dengan tangan yang terdapat selang infusan, serta selang oksigen di bagian hidungnya. Raisya begitu sakit melihat Papinya seperti ini, orang yang paling dia hormati dan sayangi terbaring lemah, rasa penyesalanpun kerap menghampiri pikirannya, yang ada dipikirannya saat ini adalah ingin minta maaf yang sebesar-besarnya pada Papinya, dan berjanji akan mengikuti semua perkataan Papinya, termasuk menerima perjodohan ini.


Raisya duduk di sebelah ranjang Papinya sambil terus menatap Papinya berharap segera membuka matanya, Sambil memegang lembut tangan Papinya.


"Pii, bangun yaa Pii. Maafin Raisya Pii, Raisya janji akan menuruti permintaan Papi, Raisya akan terima Pii perjodohan ini" ucap Raisya dengan lirih.


"Raisya sayang sama Papi, Raisya cuma mau Papi sehat lagi. Raisya terima Pii perjodohan ini asalkan Papi bangun dan sehat lagi" sambung Raisya lagi yang kini terdengar begitu lirih dan menahan isak tangisnya.


Apa yang tadi Raisya ucapkan disaksikan dengan jelas oleh Mami, Kevin dan kedua orangtua Kevin. Seketika senyum kecil terukir dibibir para orangtua, Kevin yang mendengar ucapan Raisya hanya diam saja. Kevin tau Raisya juga pasti menerima perjodohan ini karena terpaksa, melihat kondisi Papinya yang seperti ini, sama halnya dengan Kevin yang juga menerima perjodohan ini demi orangtuanya.


Beberapa menit setelah Raisya mengatakan keptusannya, Papi sadar dan membuka matanya dengan pelan, tangannya yang bergerak perlahan di genggaman Raisya membuat gadis itu langsung menatap wajah sang Papi, betapa bahagianya dia melihat Papinya yang sudah sadar kembali.


"Pii, Raisya sayang sama Papii" kalimat itulah yang pertama kali dia ucapkan ketika melihat Papinya bangun. Papi hanya tersenyum sambil mengarahkan tangannga ke wajah sang anak dan membelainya dengan lembut.


"Papi cepet sehat lagi yaa, Raisya gakmau liat Papi kayak gini lagi" ucap Raisya.


"Raisya bakalan setuju Pii sama perjodohan ini, Raisya akan memenuhi keinginan Papi, Raisya mau menikah dengan Kevin" lanjut Raisya lagi kemudian di balas senyuman oleh Papi.


"Kamu yakin,Sayang??" Tanya Papi memastikan.


Papi yang mnelihat kesungguhan Raisya hanya membalas dengan senyum bahagia. Begitupun yang ada diruangan itu.


●


●


●


Sekarang hari sudah kembali ke hari senin, Raisya pun kembali melakukan aktifitasnya sebagai pelajar SMA, kemarin setelah mendengar keputusan Raisya yang menerima perjodohan itu, keadaan Papi menjadi lebih baik. Raisya sangat senang mendengar Papinya bisa pulang kerumah dengan cepat, kata dokter faktor dari kelelahan dan banyak pikiran makanya Papinya bisa seperti itu. Raisya menjadi merasa bersalah sekali, tapi dia juga merasa sangat bahagia melihat Papinya pulih. Bagi Raisya kalau hal ini bisa membuat orangtuanya bahagia dia ikhlas melakukannya.


Karena hari ini adalah hari Senin Raisya dan Kevin berangkat begitu pagi. Mereka tiba di parikran dengan bersamaan, memarkir mobil berdampingan. Entah kenapa bisa kebetulan seperti ini. Saat mereka sama-sama keluar dari mobil masing tak sengaja pandangan mereka bersitatap, tapi takada satupun dari mereka yang mau menyapa. Karena mereka sekelas otomatis mereka berada di koridor yang sama dengan Kevin didepan dan Raisya di belakang sedang asyikk memainkan ponsel. Tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang melihat Raisya yang masih asyik memainkan ponselnya.


Ni anak bener-bener daah jalan sambil main ponsel. Nabrak terus jatoh baru tau rasa! Gerutu Kevin dalam hati. Kevin tetap diam ditempatnya sampai Raisya menabraknya.


DUKK!!


"Awwhh.." pekik Raisya sambil memegangi jidatnya.


"Sakit tau Vin" omel Raisya lagi.


"Makanya jalan itu liat kedepan bukan liat hape!" Saut Kevin.


"Yaudah entar pulang sekolah ketemuan di Cafe XX ada yang mau Gue omongin sama Loe, Loe gak ada kegiatan kan?" Tanya Kevin lagi.


"Gak ada kok" sambil menggelengkan kepalanya.


"Yaudah Gue tunggu yaa gakpake lama" balas Kevin kemudian dia berbalik badan dan berjalan meninggalkan Raisya.


"Mau ngomong apaan sih? Ahh udahlaah.." tanya Raisya pada dirinya sendiri kemudian dia juga berjalan menuju kelasnya.


.


.


.


.


.


Maaf kalo bosen sama ceritanya, soalnya Saya sambil cari inspirasi 😊 dan maaf kalau ada yang Typo πŸ˜…


Terimakasih yang sudah membacaπŸ™


Mohon dukungannya yaa manteman πŸ™β€