
Kini Raisya dan Kevin telah sampai di halaman rumah
mertua Raisya. Mereka turun dari mobil, dan ketika hendak masuk ke teras rumah Kevin menggandeng tangan Raisya, dan tangan sebelahnya menenteng bawaan mereka, Raisya hanya nurut-nurut saja.
Sampai didepan pintu utama yang tertutup Raisya menekan bell rumah beberapa kali. Daaan......
.
.
.
CEKLEKK !!!
"KEVIIIIN !!! Mmuaaahh.. mmuuaahh..."
Seorang wanita berambut pirang sebahu membukakan pintu dan langsung memeluk Kevin dengan erat serta mencium kedua pipi Kevin dan memeluknya lagi. Raisya yang melihat pemandangan secara live didepan matanya ini terdiam mematung membelakan matanya dan dengan susah payah nya menelan ludahnya sendiri.
Astagaa!! Berani sekali perempuan ini mencium pipi suamiku di hadapan ku seperti ini, apa dia sudah gila?!Aku saja belum pernah hanya membalas ciuman bibirnya saja. Itupun Kevin yang memulai, agresif sekali wanita ini! Kok kesel yaa pengen nampol!! Kevin juga kenapa diam saja !! Masih bilang kalau Kau tidak merindukannya! Huh !! Gumam Raisya dengan kesal dan menatap Kevin dengan tajam.
Kevin yang masih terdiam tidak menyadari tatapan tajam Raisya. Sampai akhirnya Bunda datang menghampiri wanita itu masih bergelayutan manja di lengan Kevin yang sedang menenteng bawaan mereka.
"Kalian sudah datang?? Ayo masuk, Bunda sedang menyiapkan makan malam" kata Bunda di ambang pintu utama.
"Yukss Kak masuk?" Ucap gadis berambut pirang itu yang tak lain adalah Caroline.
Carol masih menggandeng tangan Kevin yang sudah terlepas dari tangan Raisya dan membawa Kevin masuk kedalam rumah, Raisya hanya cuek saja melihat tingkah Carol seperti itu, dan mengekori dibelakang mereka.
"Oyaa Carol kenalkan ini menantu tante Raisya. Raisya, ini teman kecil Kevin Caroline. Dulu kami tetanggaan, jadi mereka sering bermain bersama." Ucap Bunda ketika mereka sampai di ruang keluarga sambil memperkenalkan Raisya dan Carol.
"Ah iya Aku Raisya" ucap Raisya sambil mengulurkan tangannya.
Carol hanya menyentuh sedikit saja lalu kembali menggandeng Kevin. Raisya hanya cuek dan mengalihkan pandangan.
"Tante, kenapa mereka bisa menikah? Kan Kak Kevin masih sekolah" tanya Carol.
"Mereka Kami jodohkan, dan itu sudah diatur" jawab Bunda dengan lembut.
"Apa?! Kak Kevin dijodohkan? Kenapa tante main jodoh-jodohin di jaman modern seperti ini? Kasian Kak Kevin menikah tanpa rasa Cinta" kata Carol yang masih bergelayutan manja dengan Kevin.
"Perasaan itu bisa datang seiring berjalannya waktu, selama tiga bulan lebih ini mereka baik-baik saja. Yakan Raisya" tanya Bunda beralih pada Raisya.
"Hah? Iya Kami baik-baik saja" jawab Raisya sambil senyum terpaksa.
"Kenapa tante tidak menjodohkan Kak Kevin dengan Ku saja?" Ucap Carol yang masih tak terima.
"Kan tante sudah bilang, mereka sudah diatur sejak lama" jawab Bunda lagi. "Sudahlah Bunda mau kedapur dulu menyiapkan makan malam" lanjut Bunda sambil berdiri.
"Raisya bantu yaa Bun, sudah lama gak masak bareng Bunda" ucap Raisya lalu dia berdiri setelah mendapat anggukan dari Bunda.
Daripada Aku disini menjadi obat nyamuk! Gumam Raisya dalam hati melihat Carol yang begitu manja bergelayutan dengan Kevin yang hanya diam saja dengan wajah datarnya.
Kenapa dia malah pergi? Apa dia tidak cemburu? Atau dia cemburu makanya pergi? Ucap Kevin dalam hati ketika mlihat Raisya dengan wajah biasa saja lalu pergi menyusul Bunda kedapur.
"Aku mau kekamar dulu" Kevin berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dahulu sedangkan Carol masih saja mengekori Kevin.
Ketika sampai dikamarnya Kevin melihat sebuah koper yang jelas bukan miliknya.
"Koper siapa ini? Kenapa ada dikamarku?" Tanya Kevin pada dirinya sendiri. Lalu dijawab oleh Carol dengan semyuman.
"Itu koper Aku Kak, Aku akan menginap disini beberapa hari" jawab Carol dengan santai.
"Kenapa Kau menaruh barangmu dikamarku?! Apa tidak bisa Kau taruh di kamar tamu?!" Ucap Kevin dengan dingin.
"Aku ingin tidur dikamarmu Kak. Kita kan sudah lama tidak bertemu" ucap Carol dengan manja.
"Apa Kau lupa Aku sudah menikah? Baiklah! Kalau Kau ingin tidur disini biar Aku dan Raisya tidur dikamar tamu!" Tegas Kevin dan berjalan kearah lemari pakaiannya yang dulu dan mengambil beberapa stel pakaian lalu memasukkannya kedalam tas bawaannya dan pergi keluar kamar.
"Tapi Kak...." belum sempat Carol melanjutkan perkataannya Kevin sudah melengos keluar kamar dan berpapasan dengan Raisya yang baru saja naik.
"Mau kemana?" Tanya Raisya bingung melihat Kevin keluar dari kamar namun masih menenteng tas bawaan mereka.
"Kita tidur dikamar tamu saja. Carol mau tidur dikamarku" ucap Kevin dengan datar.
"Hah?? Kenapa Kam......." belum melanjutkan perkataannya tangannya sudah di tarik oleh Kevin turun kebawah menuju kamar tamu.
Raisya yang masih belum mengerti dengan situasi yang terjadi hanya bisa diam dan menuruti Kevin saja turun kebawah meninggalkan Carol yang masih berdiri di depan kamar Kevin.
"Huh!! Kenapa Kak Kevin masih bersikap dingin seperti itu kepadaku?! Apa bagusnya sih wanita itu! Seharusnya yang menjadi istri Kak Kevin itu kan Aku!" Ucap Carol dengan kesal menghentakkan kakinya lalu masuk kedalam kamar Kevin.
Di kamar tamu Kevin meletakkan bawaannya di atas sofa yang ada dekat tempat tidur. Lalu duduk dipinggir ranjang dan disusul oleh Raisya.
"Apa Carol ingin tidur bersamamu?" Ucap Raisya yang terdengar sarkas ditelinga Kevin.
"Apa Kau mau Aku tidur bersamanya?" Sarkas Kevin bertanya pada Raisya.
"Kenapa memangnya? Aku tak masalah. Kalian sudah lama tidak bertemu, lagi pula dia hanya teman kecilmu kan?" Balas Raisya.
Kenapa dia bisa sesantai ini? Apa dia tidak takut sama sekali? Apa dia tidak cemburu melihat suaminya dengan perempuan lain? Tanya Kevin dalam hati.
"Kenapa Kamu bicara seperti itu? Apa tidak takut kalau Aku digoda oleh Carol kalau tidur dengannya?" Tanya Kevin penasaran.
"Hahaha... Kau ini bicara apa? Aku sudah biasa melihat mu digoda oleh perempuan manapun, terlebih dengan fans alay mu itu. Lagi pula kalau dilihat-lihat sepertinya Carol tertarik padamu." ucap Raisya dengan tertawa sinis.
Kenapa dia bisa bicara seperti itu? Apa dia masih waras ? Kenapa responnya hanya seperti itu? Tanya Kevin dalam hati lagi.
"Sudah ah! Aku tadi mau manggil Kalian makan malam, ayok sudah ditunggu Bunda dan Ayah dimeja makan." Ucap Raisya mengalihkan obrolan berdiri dan meninggalkan Kevin. Kevin pun hanya mengikuti Raisya di belakangnya.
Begitu mereka sampai dimeja makan, bersamaan dengan Carol juga sampai dimeja makan, Ayah sudah terlebih dulu duduk lalu disusul Bunda disebalahnya, dan di sebrang Bunda duduklah Kevin disana. Saat Raisya ingin mendaratkan tubuhnya duduk disamping Kevin tiba-tiba diserobot oleh Carol dengan santainya.
"Hallo Om, Tante.." sapa Carol yang langsung duduk disebelah Kevin.
Ayah dan Bunda sedikit kaget melihat Carol yang langsung duduk disebelah Kevin padahal ada Raisya di sampingnya. Raisya yang tak mau ambil pusing dengan cueknya beralih duduk disebrang meja bersama Bunda, Ayah dan Bunda hanya diam saja melihat respon Raisya.
"Tadi siang Om jam 2, dan Aku langsung mampir kesini karena rindu dengan kalian semua" jawab Carol dengan senyum sumringah.
Selama makan malam Raisya hanya diam saja, dia yang ingin menyiapkan makanan untuk Kevin lagi-lagi diambil alih oleh Carol. Raisya hanya diam saja dengan cuek sambil memperlihatkan senyumnya dengan terpaksa. Lagi pula jaraknya dengan Kevin juga sangat jauh. Ada perasaan kurang nyaman dengan situasi seperti ini, namun dia tetap berusaha menenangkan dirinya sendiri karena dia tak mau membuat masalah dirumah mertuanya.
Makan malam pun berjalan seperti biasanya hanya diam dengan tenang dan hanya suara sendok beradu dengan piring. Setelah selesai makan Raisya mengangkat semua piring kotor yang ada dimeja untuk dicuci. Sedangkan Ayah sudah kembali keruang kerjanya, lalu Kevin berjalan menuju ruang keluarga untuk menonton tv yang diikuti oleh Carol.
Setelah Raisya dan Bunda selesai membersihkan meja makan dan mebcuci piring, Raisya berniat ingin membuatkan kopi untuk Kevin, karena memang biasanya Kevin setelah makan malam ingin kopi untuk menemaninya bersantai atau mengerjakan tugas, dan Raisya sangat tau itu. Raisya beralih membuka lemari dapur mengambil cangkir, kopi dan gula.
"Sayang Kamu minum kopi?" Tanya Bunda yang masih berada didapur dengan Raisya.
"Tidak Bun, ini untuk Kevin" jawab Raisya sambil tersenyum.
"Apakah ini menjadi kebiasaan Kevin selama kalian tinggal berdua?" Tanya Bunda lagi.
"Iya Bun. Selama tinggal berdua Raisya mulai mengerti kebiasaan Kevin, dan lagi katanya dia suka kalau Raisya membuatkannya kopi" jawab Raisya yang menuanagkan bubuk kopi kedalam cangkir.
"Benarkah? Tapi setau Bunda sebelum kalian menikah. Kevin bahkan tidak pernah minum kopi di jam seperti ini. Bagaimana bisa Kau membuat perubahan dalam kebiasaannya?" Tanya Bunda penasaran dan menggoda menantunya itu.
"Masa sih Bun? Tapi saat itu Kevin bilang dia ingin minta kopi dan saat Raisya membuatkannya dia memintanya hampir setiap hari. Jadi Raisya buatkan saja setiap hari tanpa menunggu Kevin memintanya" jawab Raisya seadanya sambil mengaduk-aduk kopi buatannya.
"Permisi dulu yaa Bun, Raisya antarkan kopi untuk Kevin dulu, nanti Raisya akan temani Bunda mengobrol" lanjut Raisya sambil membawa nampan berisi secangkir kopi untuk Kevin.
"Baiklah Nak" jawab Bunda sambil tersenyum.
Bunda hanya tersenyum mendengar jawaban dari Raisya. Kini yang ada dipikiran Bunda Kevin bahwa rumah tangga anaknya benar baik-baik saja, Raisya yang begitu perhatian dengan kebiasaan Kevin yang baru dan Kevin yang bisa menerima Raisya menjadi istrinya. Padahal awalnya para orang tua agak khawatir dengan rumah tangga anak mereka karena hasil dari perjodohan, terlebih keduanya mempunyai sifat yang bertolak belakang.
Apalagi melihat sifat Raisya saat menolak perjodohan ini dengan keras, namun seketika luluh saat Renandi sang Papi membuat sebuah rencana yang memperlihatkan sisi lain dari gadis keras kepala ini. Dan benar saja cara ini sangat ampuh. Bahkan Bunda bisa melihat jelas dibalik sifat keras kepala dan tingkah bar-bar yang dimiliki menantunya itu masih ada sifat baik hati peduli dan perhatian terhadap orang sekitarnya walau bagaimana pun.
.
.
#FLASHBACK ON ~~
Sekitar 4 bulan lalu, sehari sebelum pertemuan makan malam keluarga Kevin dan Raisya.
"Bagaimana Ren, apa putrimu bersedia menerima perjodohan ini?" Tanya Abimana disebrang telfon sana.
Yaa kini Papi Raisya dan Ayah Kevin sedang mengobrol lewat telpon.
"Aku belum mengatakan apapun pada putriku, karena Aku tau benar sifatnya itu. Bagaimana dengan mu Bi?" -Papi
"Tenang saja, putraku sudah menerimanya" -Ayah
"Kalau Aku bicara sekarang, Aku tau pasti Putriku akan menolak langsung dan mungkin akan menghindari pertemuan besok" -Papi
"Jadi bagaimana sekarang?" -Ayah
"Aku berencana mengatakan dia harus ikut ke acara makan malam bersama Kami, nah ketika di restoran saja kita beritau dia. Bagaimana?" -Papi
"Tapi kalau dia menolak dan langsung pergi bagaimana?" -Ayah
"Iya juga yaa" Papi kembali berpikir bagaimana caranya agar putrinya itusetuju.
"Hei!! Sepertinya Aku tau!" Lanjut Papiyang tiba-tiba mendapatkan ide.
"Bagaimana caranya?" Tanya Ayah penasaran.
"Aku tau anakku itu keras kepala, tapi dia juga memiliki hati yang lembut dan mudah luluh. Dia memang sudah pasti akan menolak perjodohan ini. Tapi aku yakin dengancara ini hatinya akan luluh" ucap Papi dengan percaya diri.
"Jadi apa yang akan Kau lakukan pada putrimu?" Tanya Ayah penasaran.
"Aku akan pura-pura kena serangan jantung saat dia menolaknya, Aku tau pasti dia akan berteriak karena kaget, disaat itulah Aku akan berakting, tapi Aku juga butuh bantuan Kau dan istrimu jangan sampai anak kita mengetahuinya. Disaat Aku pingsan Kau akan membawaku kerumah sakit dengan mobil mu jadi jangan sampai Raisya menelpon ambulan, sesampainya dirumah sakit Aku akan bekerjasama dengan dokter dan perawat disana. Aku akan pura-pura tak sadarkan diri selama beberapa jam, karena Aku tau Raisya akan berpikir keras sampai hatinya luluh . Aku yakin itu. Dan di saat waktunya tiba Aku yakin dia sendiri yang akan menerima perjodohan ini." Jelas Papi dengan yakin.
"Apa kau sudah gila membohongi putrimu seperti itu? Kau tak tega melihatnya menderita nanti? Dia pasti akan merasa bersalah Ren" tanya Ayah khawatir karena rencana gila sahabatnya itu.
"Justru disaat dia merasa bersalah dia akan luluh dan menerima perjodohan ini. Percayalah hati putriku itu seperi malaikat, meskipun bar-bar dan keras kepala seperti batu,dia tidak akan tega melihat Papinya seperti itu." -Papi
"Tapi Ren....." ucapan Ayah disela oleh Papi.
"Percayalah, Aku hanya butuh kerjasama kalian, Aku akan atur semuanya. Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku, Aku yakin dia akan bahagia bersama Kevin. Kau percaya padaku kan Bi?"-Papi
"Huhhfff... baiklah.. Aku akan bicarakan ini pada istriku, Aku juga ingin yang terbaik untuk Kevin, yaahhhh walaupun dengan cara seperti ini. Hehe" ucap Ayah sambil terkekeh kecil.
"Serahkan saja semuanya padaku yang penting kalian bekerjasama saat aktingku dimulai. Persiapkan dirimu sobat. Hahaha" -Papi
"Baiklah baiklah.. kami akan mengikuti rencana gila mu ini" -Ayah
"Oke kalau begitu sampai ketemu besok malam. Nanti kita lanjutkan lagi. Assalamualaikum" -Papi
"Walaikumsalam" balas Ayah lalu menutup telponnya.
#FLASHBACK OFF~~~
.
.
.
.
.
.
Tunggu kelanjutannya yaa...
Tapi jangan lupa Like dan Votenya dulu πβ€