My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Raisya Siuman



Seminggu kepergian Leon, Raisya belum juga sadar. Kevin selalu setia menemani Raisya, begitu pun dengan yang lainnya, mereka silih berganti datang untuk menjenguk.


“Vin, lo gak mau kesekolah? Ujian nasional tinggal menghitung hari bro,” ucap Gavin yang kala itu menjenguk Raisya bersama Rina.


“Gue gak bisa, Raisya lebih butuh gue disini,” jawab Kevin. Dan Gavin hanya menghela nafasnya.


Ini sudah kesekian kalinya Kevin diingatkan untuk kesekolah, namun ia tetap menolak dengan keras. Bahkan, Bunda dan Ayah nya pun sudah tak bisa membujuknya. Tapi, Gavin dengan baiknya memberikan salinan beberapa materi yang dipelajari disekolah selama Kevin tidak masuk sekolah.


“Kak, Kak Kevin harus bangkit, Kak Raisya mungkin akan sedih saat dia bangun nanti lihat keadaan Kakak seperti ini,” ucap Rina.


Kevin hanya terdiam, dirinya hanya fokus memandangi Raisya. “Kakak makan dulu, ya,” sambung Rina lagi sambil memberikan piring yang sudah di isi oleh makanan.


Kevin pun menurut, dan mengambil piring makan itu dari tangan Rina. Rina dan Gavin tersenyum, selama di rumah sakit Kevin terlihat sangat kurus, wajahnya semakin tirus, akibat pola makan yang terkadang ia lupakan.


Kevin pun berdiri, lalu berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan itu. Kevin pun memulai makannya di sana.


Setelah selesai makan, Kevin kembali duduk disamping tempat tidur Raisya. Kembali menggenggam tangannya. Namun tiba-tiba, jemari Raisya bergerak perlahan. Membuat Kevin terkejut dan dan menatap wajah Raisya.


“Sayang,” panggilnya.


Kevin tidak tau apa Raisya benar-benar sadar atau tidak, karena matanya masih dalam keadaan di perban. Tapi jemari Raisya bergerak perlahan.


“Ugh,” keluh Raisya dengan bibir yang sedikit terbuka.


“Sayang, kamu sudah bangun?” ucap Kevin bahagia, membuat Gavin dan Rina menghampirinya.


“Gav, telpon bunda gue dan juga Bang Ray,” pinta Kevin pada Gavin, yang langsung dituruti. Rina pun tanpa di suruh, ia langsung menelpon saudara kembarnya, Reno.


“Kevin,” panggil Raisya lirih, Kevin pun menggenggam erat tangannya. “Iya, sayang,” jawab Kevin.


“Kenapa gelap sekali? aku gak bisa lihat apa-apa,” ucapan Raisya membuat Kevin tertegun.


Dengan berusaha menetralkan nafasnya, Kevin menjawab. “Mata kamu ada yang terluka sayang, jadi harus di perban untuk sementara,” ucap Kevin.


“Auhh,” keluh Raisya lagi memegangi kepalanya.


“Ada apa sayang? Jangan banyak bergerak dulu,” tanya Kevins khawatir.


“Kepalaku sakit, Vin,” keluh Raisya. “Akh! Sakit!” ucapnya lagi yang masih memegangi kepalanya.


Dengan cepat Kevin memencet tombol darurat untuk memanggil dokter, sedangkan Gavin keluar untuk mencari bantuan. Dan tak lama Gavin masuk bersama Dokter Galih dan beberapa perawat.


“Dok, tolong periksa Raisya. Kenapa dia baru sadar langsung mengeluh sakit?” ucao Kevin pani


Dokter Galih pun memeriksa Raisya, dan memberikan suntikan obat, Raisya pun terlihat lebih tenang, tidak meraung kesakitan lagi.


“Mungkin itu adalah efek dari benturan kecelakaan yang terjadi, aku memberinya obat pereda nyeri untuk kepalanya. Berikan dia waktu istirahat, nanti saya akan kembai lagi untuk membuka perbannya,” jelas Dokter Galih.


Dokter Galih dan beberapa perawat keluar dari ruangan Raisya.


“Bagaimana sayang? Apa masih sakit?” tanya Kevin.


“Sudah lumayan,” jawab Raisya. “Berapa hari aku tertidur?” tanya Raisya lagi.


“Sudah seminggu lebih, mungkin sudah sekitar sepuluh harian,” jawab Kevin.


“Leon? Bagaimana dengan Leon? Dimana dia?” tanya Raisya yang teringat tentang Leon.


Kevin dan yang lainnya tertegun, apa yang harus dikatakan.


“Kak Raisya, sebaiknya kakak istirahat dulu saja, kak Leon pasti akan baik-baik saja,” ucap Rina mencoba mengalihkan.


“Bagaimana keadaannya? Vin, aku sangat khawatir,” ucap Raisya merengek.


“Tenanglah dulu, semua akan baik-baik saja,” ucap Kevin lirih, membelai rambut Raisya dengan persaan sedih.


Raisya hanya bisa menghela nafasnya, mengistirahatkan tubuhnya kembali. Jujur saja perasaannya sangat tidak nyaman untuk saat ini.


**


 


 


 


 


Kini Dokter Galih sudah siap membuka perban pada mata Raisya. Semua orang telah hadir untuk menyaksikannya. Mereka berdoa, semoga ada keajaiban untuk mata Risya.


“Apa kamu sudah siap?” tanya Dokter Galih.


Perawat dengan perlahan membuka setiap lembaran perban, Kevin selalu setia menemani Raisya, bahkan kini ia tak lepas menggenggam tangan Raisya. Saat perban terakhir Dokter Galih memberi isyarat agar Raisya membuka matanya dengan perlahan, dan Raisya pun mengangguk paham.


Dengan mengerjapkan mata perlahan, Raisya membuka matanyam. Cahaya sinar langsung menerpa penglihatannya, membuat Raisya kembali menutup matanya.


“Kenapa sayang?” tanya Kevin khawatir.


“Silau sekali,” ucap Raisya.


“Perlahan saja, matamu masih menyesuaikan cahaya di sini,” ucap Dokter Galih.


Raisya kembali perlahan membuka matanya, dan merasa keanehan yang terjadi.


“Dokter, kenapa penglihatan saya jadi buram? Aku tidak bisa melihat dengan jelas,” keluh Raisya. Membuat jantung Kevin berpacu lebih cepat.


“Tunggu!” ucap Raisya.


“Kevin, aku bisa melihat mu dengan jelas,” lanjutnya lagi dengan senang.


“Benarkah?” tanya Kevin memastikan dan Raisya mengangguk senang.


Kevin langsung memeluk tubuh Raisya, dan mencium wajahnya bertubi-tubi. Kevin sudah tak peduli lagi dengan keadaan sekitar, ia tampak begitu bahagia mengetahui mata Raisya masih tertolong. Semua yang ada di sana langsung menghampiri dan memeluk Raisya bergantian. Air mata bahagia terlihat jelas pada mereka semua.


“Di mana ruangan Leon?” tanya Raisya tiba-tiba, membuat suasana hening seketika.


“Sayang, antar aku kesana, aku ingin melihatnya juga,” ucap Raisya lagi, membuat Kevin membungkam mulutnya.


“Sya, mending lo istirahat aja deh dulu, lo kan baru sadar,” ucap Ocha.


“Iya, Sya, lo harus banyak istirahat,” sambung Gavin.


“Baiklah, saya permisi dulu, semoga tidak ada apa-apa lagi kedepannya untuk mata Raisya,” ucap Dokter Galih lalu ia meninggalkan ruangan itu. Alasan utamanya juga ingin menjauh dari Raisya, karena Raisya pasti akan bertanya perihal Leon padanya, melihat semua anggota keluarga masih menutupi hal tersebut.


“Vin,” rengek Raisya manja. Namun tak dapat respon dari Kevin.


“Bun,” rengeknya lagi pada Bunda.


“Sudahlah, ini demi kebaikan kamu sayang, istirahatlah,” ucap Bunda lembut.


Raisya pun pasrah dan kembali berbaring dengan wajah kesalnya. Membuat seisi ruangan itu bingung harus memberitahu yang sebenarnya bagaimana.


Kenapa sepertinya semua orang menutupi sesuatu dariku. Bathin Raisya lalu ia memiringkan tubuhnya membelakangi Kevin dan yang lainnya, menarik selimut hingga menyisakan bagian kepalanya saja.


Kevin hanya bisa menghela nafas, ia sangat tahu jika Raisya saat ini sedang merajuk.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Gimana? Mau lanjut? Hehehe..


Nanti yaa, wkwkw


Klik dulu likenya 😘