My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Akhirnya Sadar



Hampir dua hari Raisya belum juga sadarkan diri. Kevin semakin cemas, seandainya bisa bertukaran, Kevin rela menggantikan posisi Raisya sekarang. Vita dan Bunda Kevin sedang kekantin rumah rumah sakit untuk membeli makanan, jadi hanya ada Kevin didalam ruangan ini menemani Raisya.


Kevin meraih ponselnya dan ternyata dalam keadaan mati akibat kehabisan daya. Kevin melirik jam dinding yanga ada diruangan itu, dan sekarang sedang jam makan siang, maka pasti disekolah mereka sedang berlangsungnya jam istirahat kedua.


“Pasti mereka pada nyariin,” guman Kevin.


Kevinpun meletakkan kepalanya di atas tangan Raisya yang dia genggam, sejenak menunduk dan memejamkan mata, berharap Raisya segera sadar. Disaat sedang merenung dalam hati, Kevin merasa jemari Raisya bergerak pelan. Awalnya Kevin hanya mengira itu adalah ilusinya. Tapi, ternyata Tuhan mendengar doanya agar Raisya segera sadar. Jemari Raisya bergerak kembali membuat Kevin terkesiap terkejut, namun tak bisa dipungkiri ia sangat bahagia.


“Sayang? Kamu sudah bangun?” ucap Kevin membelai rambut Raisya lembut.


Mata Raisya mengerjap-ngerjap pelan, dan perlahan membuka matanya. Raisya memicingkan mata ketika cahaya membiasi pandangan matanya. Samar-samar ia mendengar suara yang sangat ia kenali, itu adalah suara Kevin, suaminya.


“Kevin,” ucap Raisya pelan namun terdengar oleh Kevin yang menatapnya penuh bahagia.


“Alhamdulillah, Kamu sudah sadar” ucap Kevin lalu mencium seluruh wajah Raisya dengan bahagia.


Raisya hanya menyerngit heran dengan kelakuan Kevin. Dan matanya menyapu seluruh ruangan yang begitu asing.


“Aku dimana, Vin?” tanya Raisya dengan suara seraknya.


“Kamu dirumah sakit, hampir dua hari Kamu gak sadarkan diri. Ah iya, kita harus memanggil dokter” jawab Kevin seraya memencet bel darurat untuk memanggil dokter.


Raisya masih mencerna kata-kata Kevin. Ia ingin bertanya lagi, namun dokter dan beberapa perawat masuk kedalam ruangan.


“Dia sudah sadar, dok” ucap Kevin saat dokter yang tak lain adalah dokter Galih masuk kedalam.


“Baiklah, Saya periksa sebentar,” jawab dokter Galih.


Dokter Galih pun dengan telaten memeriksa Raisya, Raisya hanya tersenyum tipis menatap Kevin yang selalu setia berada disampingnya. Meskipun wajah Raisya masih terlihat sedikit pucat, tapi saat Raisya tersenyum tetaplah cantik.


“Bagaimana dokter?” tanya Kevin antusias.


“Dia baik-baik saja sekarang, kondisinya sudah mulai stabil, tapi harus masih butuh istirahat” jelas dokter Galih.


“Aku mau pulang,” rengek Raisya.


“Nanti ya, sayang. Kamu masih perlu istirahat disini” ucap Kevin.


“Mungkin besok sudah bisa pulang, kalau kondisinya semakin baik” sambung dokter Galih.


Raisya hanya menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya. Dokter Galih pun keluar saat dirasa semuanya sudah selesain. Setelah dokter Galih keluar, tak lama pintu kembali terbuka dan masuklah dua orang wanita yang berbeda usia, Bunda Kevin dan Vita.


“Ada apa, Vin? Tadi Bunda lihat dokter baru saja keluar dari sini,” tanya Bunda sedikit khawatir.


“Bunda,” suara Raisya begitu lirih memanggil Bunda Kevin.


Bunda yang merasa terpanggil oleh suara yang sangat ia kenalpun langsung menoleh kearah Raisya yang masih terbaring namun sudah membuka matanya. Terukir senyuman dibibir Bunda begitupun juga dengan Vita. Dua wanita itu langsung menghampiri Raisya, memeluk dan menciun Raisya bergantian.


“Alhamdulilah, Kamu sudah sadar juga sekarang,” ucap Bunda Kevin, Raisya hanya tersenyum tipis.


Raisya yang masih memerlukan istirahat total setelah sadar, ia hanya berbaring ditempat tidur. Ingin rasanya Raisya bangun, namun memang benar ia merasa tubuhnya masih lemas.


“Kenapa Raisya bisa masuk rumah sakit?” tanya Raisya dengan bingung.


“Kemarin Kamu pingsang, sayang, jadi mau gak mau Aku bawa kamu kesini. Lagi pula saat itu wajahmu sangat pucat” ucap Kevin.


Raisya pun mengingat-ngingat, namun yang dia ingat hanya saat Kevin menyuapinya makan bubur, dan menemaninya tidur. Setelah itu Raisya tak bisa mengingat apa-apa lagi.


“Raisya mau makan?” tanya Bunda lembut.


“Iya, Bun. Raisya laper, pengen donk masakannya Bunda,” jawab Raisya dengan manja.


“Ini tadi Bunda sama Vita beli dikantin rumah sakit, Bunda gak sempat masak, sayang. Nanti deh, kalau Kamu sudah sembuh total, Bunda masakin makanan kesukaan Kamu” ucap Bunda Kevin dengan antusias.


“Iya deh,” jawab Raisya.


“Tapi tunggu, Raisya baru sadar, Bun. Kita belum tahu Raisya boleh makan apa?” ucap Kevin.


“Yasudah kalau gitu, Kamu panggil dokter Galih,” ucap Bunda.


Ternyata tiba-tiba, dokter Galih masuk kedalam ruangan Raisya dirawat. Membuat semuanya bingung terheran-heran.


“Kenapa ya, dok?” tanya Kevin.


“Ah iya, Aku lupa memberitahu, kalau Raisya boleh makan apapun, tapi jangan yang terlalu pedas atau asam dulu ya,” ucap dokter Galih mengingatkan.


“Baiklah, dok” jawab mereka semua yg ada diruangan itu, dokter Galih pun kembali keluar.


Wajah Raisya nampak cemberut saat ia mendengar dokter Galih melarangnya makan makanan pedas, padahalkan itu makanan kesukaannya. Bunda pun menyadari itu.


“Sudah, gak apa-apa. Inikan juga demi kesembuhan Kamu,” ucap Bunda dengan lembut.


Akhirnya mereka semua makan siang bersama didalam ruangan itu, Kevin pun dengan senang hati menyuapi Raisya bergantian menyuapi dirinya sendiri. Tiba-tiba Kevin teringat sesuatu.


“Oh ya, Mba Vita bawa charger?” tanya Kevin pada Vita.


“Bawa deh kayaknya, ntar” ucap Vita lalu merogoh isi tas selempang yang ia bawa, dan mendapatkan apa yang dia cari.


“Nih, pakai saja” sambil menyerahkan chargeran ponsel pada Kevin.


“Makasih, Mba” ucap Kevin saat menerima charger itu.


Kevin pun memakai charger itu untuk mengisi daya ponselnya, saat ponselnya menyala, Kevin melihat beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa chat yang belum terbaca. Kevin sudah tau siapa yang melakukannya, siapa lagi kalau bukan para sahabatnya itu. Kevin pun kembali menaruh ponselnya diatas meja lalu kembali kesisi Raisya.


Setelah makan, Kevin kembali menyuruh Raisya agar beristirahat. Raisya pun menurutinya.


“Oh ya, kenapa Aku bisa pingsang?” tanya Raisya tiba-tiba.


“Emh, itu..” ucapan Kevin menggantung.


“Kenapa?” tanya Raisya yang benar-benar penasaran.


Kevinpun menghela nafasnya, lalu menceritakan semua kecerobohannya kepada Raisya, Raisya hanya fokus mendengar cerita dari Kevin.


“Maaf, sayang” ucap Kevin lirih.


“Maaf kenapa?” tanya Raisya lembut.


“Maaf sudah membuatmu sampai sakit seperti ini” jawab Kevin.


Sedangkan dua wanita yang berbeda usia hanya melihat interaksi pasangan muda di depannya itu sambil duduk mengobrol di sofa yang ada diruangan rawat Raisya.


“Aku sudah tidak apa-apa Kevin,” ucap Raisya.


“Tapi Aku hampir saja membunuhmu,” lirih Kevin.


“Apa yang Kamu bicarakan? Itu ketidak sengajaan, kan? Lagi pula sekarang Aku sudah sadar” ucap Raisya sambil tersenyum menatap Kevin yang matanya begitu sendu.


“Tetap saja Aku salah, seharusnya Aku lebih memperhatikan lagi semua makanan atau obat yang ada dirumah Kita,” jawab Kevin.


“Sudahlah, tidak apa-apa” saut Raisya dengan tersenyum dan meraih tangan Kevin.


Kevin pun juga ikut tersenyum karena melihat senyum manis yang hampir dua hari ini tidak terlihat. Kevin akui ia sangat merindukan senyuman Raisya.


**


Di sekolah,


Karena Leon dan yang lainnya ada pelajaran tambahan hari ini dan mengharuskan mereka pulang sore hari. Seperti sekarang, jam sudah menunjukkan angka 05.10 pm, mereka baru saja keluar dari kelas masing-masing.


“Gue lupa kalau Kita punya kelas tambahan,” ucap Gavin.


“Jadi, gimana? Udah sore banget, Gue capek” keluh Ocha.


“Gue sih, bisa aja. Yang lain gimana?” ucap Leon.


Semuanya pun menganggukan kepala bertanda setuju. Mereka lupa kalau sekarang mereka mempunyai kelas tambahan, rencana awal yang ingin pergi keapartement Raisya dan Kevin diundur menjadi nanti malam.


Mereka pun menaiki kendaraan masing-masing lalu pergi meninggalkan gedung sekolah.


**


Malam harinya Leon dan yang lain janjian akan bertemu didepan gedung apartement Raisya, merekapun kini sudah berkumpul dilobbi dan langsung saja menuju tempat Raisya dan Kevin.


Ketika sudah sampai didepan pintu, Leon dan Bams yang memang sangat usil memencet beberapa kali bell apartement Raisya, namun pintu tidak kunjung terbuka.


“Kemana mereka?!” ucap Leon yang mulai kesal.


“Santai bro!” saut Gavin.


“Sebentar, Gue coba hubungin Kevin lagi,” ucap Reno yang sudah meletakkan ponsel ditelinga. Dan telponpun tersambung.


“Halo, Vin! Lo dimana? Kita semua nyariin Lo tau! Lo sama Raisya kan?” ucap Reno dengan antusias, yang lainnya pun menatap Reno.


“…”


“Apa? Lo ngapain disana?”


“…”


“Yaudah, dimana Lo sekarang?”


“…”


“Oke, kita semua kesana, bay!”


Reno mengakhiri sambungan telponnya, dan yang lainnya pun langsung mengerumuni Reno.


“Kenapa mereka?” tanya Risa lebih dulu.


“Ayok, Kita kerumah sakit Medical City” jawab Reno.


“Rumah sakit?! Kenapa? Siapa yang sakit? Raisya?” tanya Risa bertubi-tubi.


“Sudahlah, tenang dulu. Nanti sampai sana Kevin akan jelaskan, sekarang Kita kesana sebelum semakin larut” jelas Reno mengajak yang lainnya.


“Tuh kan, ini perasaan gak enak Gue tadi siang, semoga Raisya gak apa-apa” ucap Risa.


“Yasudah yuk,” ajak Ocha merangkul Risa dan Rina berjalan mengikuti yang lainnya.


Mereka semua meninggalkan apartement Raisya dan Kevin, menuju rumah sakit.


**


Kevin baru saja menerima telpon dari Reno. Ia pun kembali menghampiri Raisya di dalam, karena tadi ia mengangkat telpon diluar ruangan.


Ceklek!


Kevin pun masuk kedalam lalu menutupnya. Sudah ada tiga wanita yang sedang asyik mengobrol sembari tertawa, kini Raisya semakin membaik, dirinya pun sudah bisa duduk bersandar ditempat tidur. Ketiga wanita itu menoleh kearah Kevin yang baru saja memasuki ruangan.


“Kalau gitu, Bunda pamit ya, besok Bunda kesini lagi sekalian jemput Kamu pulang,” ucap Bunda yang kini sudah berdiri.


“Iya, Bun” jawab Raisya.


“Mba juga pamit, ya. Abangmu lembur tapi Mba mau menunggunya dirumah saja” ucap Vita.


“Yaudah, Kalau gitu mau Kevin antar?” tawar Kevin.


“Gak usah, Bunda udah minta jemput supir. Sekalian Vita pulang sama Bunda” jawab Bunda. Kevin hanya menganggukkan kepala.


“Bunda pamit ya, sayang” ucap Bunda lalu mencium kening Raisya.


“Mba juga ya,” ucap Vita juga lalu mencium kening Raisya.


“Babay Aunty” saut Vita lagi dengan menirukan suara anak kecil dan mengelus permukaan perutnya yang tertutupi oleh kain.


Raisya pun hanya tersenyum, dan melambaikan tangannya saat dua wanita yang kini sangat ia sayangi berjalan kearah pintu dan menghilang setelahnya.


Kevinpun menghampiri Raisya dan ikut duduk diranjang.


“Anak-anak mau kesini,” ucap Kevin yang kini memeluk Raisya dan menyandarkan kepala Raisya didadanya.


“Kapan?” tanya Raisya.


“Mungkin sebentar lagi,” jawab Kevin.


“Mereka pasti khawatir banget deh, apa lagi Risa. Pasti panik banget” ucap Raisya.


“Itu tandanya mereka sayang sama Kamu,” jawab Kevin.


“Iya, Akupun sayang sama mereka semua” ucap Raisya dengan senang dan memeluk pinggang Kevin.


“Aku disayang gak?” tanya Kevin dengan jail.


“Enggak!” jawab Raisya dengan menahan senyumannya.


Raut wajah Kevin pun berubah mulai cemberut, dan itu membuat Raisya sangat gemas, seakan dirinya sangat rindu melihat ekspresi Kevin yang cemberut seperti sekarang ini.


“Dududuh... jangan ngambek donk, iya iya Aku sayang, sini cium” bujuk Raisya dengan menangkup wajah Kevin dengan gemas lalu mencium kedua pipi Kevin.


“Yang ini enggak?” goda Kevin dengan mendekatkan wajahnya ke Raisya.


Tek!


Raisya mengetek pelan bibir Kevin dan menahan senyumannya. Kevin memang paling bisa membuatnya malu hingga membuat kedua pipi Raisya merona.


“Oh, jadi sudah berani, hem?” ucap Kevin melebarkan senyuman jailnya.


Dengan cepat Kevin menangkup wajah Raisya dan langsung mencium bibir Raisya. Raisya tak memberontak, ia malah menahan tawa ditengah ciuman mereka. Raisya pun membalas ciuman Kevin dengan lembut dan Kevin benar-benar merindukan ciuman ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca 🙏❤❤


Jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTAR yaa ❤❤❤