
Disisi lain Reno berlarian dikoridor sekolah menuju taman belakang sekolah. Ketika sampai disana matanya langsung menyusuri sekitar, sekita pandangannya tertuju pada sosok yang sedang duduk dibangku panjang yang ada ditaman dengan tatapan kecewa namun tidak meneteskan air mata.
Reno sedikit legah karena orang yang dia sayangi tidak menangis untuknya meski ada rasa kecewa akibat kesalah pahaman yang terjadi. Reno pun menghampiri Risa.
"Ternyata Kamu disini?"
Risa yang yang tersadar dari lamunannya mendongakkan kepalanya melihat sosok Reno yang kini sudah berdiri dihadapan. Dengan cepat Risa mengalihkan pandangannya.
"Ris, Aku bisa jelasin. Kamu salah paham"
Risa hanya diam tanpa menatapnya.
"Ris, dia saudara kembar Aku yang baru pulang dari London. Dia besar disana, dan pulang kesini kalau hanya liburan saja. Sekarang orang tua ku sudah kembali dan akan menetap disini, oleh sebab itu Rina jadi pindah sekolah denganku disini. Dia memang masih seperti kekanak-kanakan. Dia manja apalagi saat denganku, karena Kami jarang bertemu."
Reno sejenak menghentikan ucapannya. Dan ingin melihat reaksi dari Risa. Sedangkan Risa hanya diam, dia masih mencerna apa yang dikatakan oleh Reno.
"Dia mengaku pacarku itu hanya salah satu kejahilannya, karena dia tau kalau Kamu orang yang Aku inginkan." Sambung Reno yang sangat berharap mendapatkan respon dari Risa.
"Apa buktinya kalau dia kembaranmu?" Tanya Risa dengan wajah datar.
Renopun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pada Risa sebuah foto dimana ada Reno dan Rina beserta kedua orang tuanya. Foto itu diambil pada satu tahun lalu saat liburan tengah semester kelas satu danbbertepatan pada ulang tahun mereka.
Reno dan Rina yang sedang memegang kue ulang tahun yang sama dengan mengenakan baju kaos yang sama juga tersenyum bahagia. Risa pun memperhatikan foto itu dan memang wajah Rina sangat mirip dengan Reno hanya saja Rina versi ceweknya. Risa memang tak sempat melihat secara jelas saat dikantin tadi.
Risa menghela nafas pelan untuk meredakan dirinya yang sempat merasa kecewa. Lalu dia memandang Reno dengan lekat.
"Maaf.." hanya itu yang terucap dari bibir Risa.
"Kenapa Kamu minta maaf? Kamu gak salah kok. Ini gara-gara si curut biang kerok itu buat masalah." Ucap Reno yang masih kesal dengan saudaranya.
Risa terkekeh melihat ekspresi dari Reno yang habis dikerjai oleh saudara kembarnya sendiri.
"Sudahlah..." saut Risa ambigu.
"Sudah apa ini maksudny? Kamu masih marah sama Aku?" Tanya Reno khawatir.
"Gak kok. Cuma gak habis pikir aja kenapa Aku harus marah dan malah pergi gak jelas kayak gini" jawab Risa.
"Itu tandanya Kamu cemburu."
"Hah?! Siapa juga yang cemburu?!"
"Buktinya Kamu marah ada yang ngaku pacar Aku"
"Gak tuh biasa aja! Emang aku siapanya Kamu punya hak untuk cemburu"
Renopun tersenyum melihat Risa yang mulai salah tingkah.
"Kalau gitu Kamu mau kan jadi pacar Aku?" Tanya Reno dengan sungguh-sungguh.
Risa tersentak merasakan sebuah debaran yang tiba-tiba dia rasakan. Kini mata mereka saling beradu pandang.
"Risa Ardianti Mutia mau kah Kau menjadi kekasihku?" Ucap Reno sekali lagi dengan tatapan hangat dan penuh harap.
Risa berpikir sejenak. Ini yang ketiga kalinya Reno mengungkapkannya, dan dia berpikir apakah saat ini harus menjawabnya. Mengingat sudah hampir tiga minggu Reno menunggu jawaban darinya.
Dia juga memiliki perasaan pada Reno. Namun saat itu hatinya bimbang. Tapi saat ini, dia benar-benar merasa yakin dengan hatinya untuk menerima Reno. Dengan pelan Risa menganggukkan kepalanya lalu tersenyum manis pada Reno yang kini menatapnya penuh harap.
Bibir Reno pun melengkung sempurna melihat anggukan dari Risa.
"Risa? Apa Kau mau jadi pacarku?" Tanya Reno sekali lagi.
Renopun menghambur memuk Risa tiba-tiba. Risa yang kaget dengan apa yang dilakukan Reno dengan cepat dia mendorong pelan tubuh Reno.
"Ren, Kita ini disekolah!"
"Upss!! Lupa. Hehehe"
Merekapun akhirnya sama-sama tertawa, untung saja taman belakang ini sedang sepi. Karena memang jarang tempat ini dikunjungi oleh para murid. Risa Ocha dan Raisya sering ketempat ini untuk menenangkan pikiran, tempatnya memang masih asri dan hijau.
"Gue akan bales kelakuan si curut satu itu" ucap Reno yang kembali mengingat tingkah saudara kembarnya.
"Sudahlah, lagian kalian jarang ketemu, seharusnya akur-akur donk."
"Tapi emang itu anak jahil banget sih! Dan berisik, sebelas dua belas sama Raisya"
"Benarkah? Pantes saja tadi Raisya santai begitu."
"Yah. Walaupun begitu Aku tetap menyayanginya" saut Reno dengan tersenyum. Risa pun juga ikut tersenyum melihatnya. Terlihat jelas rasa sayang Reno terhadap saudara kembarnya.
"Iya, Aku tau Kamu pasti sangat menyayangi saudara kembarmu itu"
"Iyaa, karena Aku gakmau dia mengingat kejadian yang lalu" jawab Reno yang kini tampak muram.
Risa yang melihatpun bingung dengan perubahan ekspresi dari Reno.
"Rina pernah trauma dengan suatu kejadian yang buat Gue sangat-sangat merasa bersalah. Karena setelah kejadian itu Rina menjadi orang yang tertutup, hanya ada rasa ketakutan dari raut wajahnya. Tidak pernah keluar rumah dan hanya berinteraksi selain dengan orang tua Gue. Itupun hanya interaksi biasa. Tidak ada keceriaan dari wajah dia, dan terkadang Rina sering mengigau tidak jelas dengan berteriak. Karena orang tua Gue khawatir, akhirnya memutuskan untuk menjalankan terapi hipnotis yang membuat dia melupakan semua kejadian buruk itu. Dan setelah itu Gue dan orang tua Gue selalu memperlakukannya dengan manja agar dia selalu merasa senang dan bahagia. Dan akhirnya memutuskan untuk membawanya keluar negri mencari suasana baru sekaligus mengurus bisnis Bokap Gue disana. Saat itu usia Kami masih 9 tahun." Jelas Reno.
Terlihat jelas ada rasa penyesalan dari raut wajah Reno. Risa yang mendengar sedikit terhenyut dengan apa yang dikatakan Reno tentang saudara kembarnya. Dia juga tidak menyangka kalau Reno menceritakan hal ini padanya. Ada terbesit dalam pikirannya tentang Reno yang mau terbuka dengan nya.
"Yaudah, Kamu yang sabar yaa. Sekarang kan semuanya baik-baik saja. Rina juga sudah kembali ceria lagi kan?"
Hanya kalimat itu yang mampu Risa ucapkan. Renopun hanya mengangguk dan tersenyum memandangi wajah Risa yang kini menjadi kekasinya. Dalam hati dia berjanji akan menyayangi Risa seperti dia menyayangi saudara kembarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Tbc...
Segini dulu yaa Up nya. Author gak bisa janjiin buat Up tiap hari atau mau di Up berapa episode. Karena Author juga punya kegiatan lain didunia nyata, jadi mohon bersabar yaa kalau-kalau nanti Author gak sempat Up.
Jangan khawatir Author akan tetap berusaha supaya Up dan lanjutin ceritanya, makanya mohon dukungannya dari para Readers yaa..
Terimakasih yang sudah membaca cerita Author. Kurang lebihnya mohon dimaafkan π
Jangan lupa LIKE nyaa β€β€