My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Seperti Bintang



Kini keempat gadis itu sudah berada di Moll terbesar dikota, mereka langsung saja masuk dengan gembira, melewati berbagai macam toko baju dan acsessories. Inilah yang namanya syurga bagi wanita, bersantai dan berbelanja sepuasnya melepaskan beban pikiran. Mereka memasuki salah satu toko baju yang lumayan terkenal, sambil memilah dan mencobai semua baju yang ingin mereka beli.


“Gimana yang ini ? Cocok gak?” tanya Raisya pada Ocha, sedang kan Risa dan Vita masih sibuk memilih-milih ditempat yang berbeda.


“Lo tuh pakai aja yaa tetap cantik, Sya” jawab Ocha.


“Yaudah deh, Gue cobain dulu ya,” ucap Raisya lalu pergi keruang ganti. Sedan Ocha masih sibuk memilih-milih.


Ketika Raisya ingin masuk keruang ganti, tiba-tiba ia bertabrakan dengan seseorang yang tak lain adalah Rina kembaran nya Reno.


“Sorry, gak sengaja,” ucap gadis yang menabrak Raisya. Iya pun membantu Raisya memungut beberapa pakaian yang terjatuh kelantai. Ketika mereka saling menatap Raisya terkejut dengan orang yang sudah menabraknya.


“Rina!” ucap Risa berseru senang.


“Eh, Kak Raisya, hehehe. Maaf ya, Kak semalem gak ikut bantuin dirumah” ucap Rina.


“Iya gak apa-apa, yang penting doa nya ya,” jawab Raisya dan Rina hanya mengangguk.


“Oh ya, sama siapa kesini?” tanya Raisya penasaran.


“Eemmhh.. sama…” Rina ingin menjawab, namun seseorang menghentikan ucapannya.


“Rin, udah selesai?” tanya seseorang yang menghampiri Rina dan belum sadar dengan ada nya Raisya.


“Gavin? Jadi sama Gavin kesini?” tanya Raisya menggoda Rina.


“Eh, Raisya. Tadi dia minta temenin, soalnya Reno lagi futsal” jawab seorang laki-laki yang ternyata adalah Gavin.


“Ooh, kirain kalian lagi kencan,” balas Raisya dengan senyuman menggoda Rina, yang wajahnya sudah merona karena malu.


Raisya mengerti, kalau kembaran dari sahabatnya ini menyukai Gavin. Hanya saja masih perlu perjuangan untuk membuka hati seorang Gavin. Tentu saja alasan Reno futsal itu hanya alasan agar dia bisajalan berdua dengan Gavin.


“Lo baru aja atau sudah dari tadi? Sama siapa kesini?” tanya Gavin dengan antusias mengajak Raisya mengobrol.


Raisya pun sedikit tak nyaman karena Gavin lebih melihat kearah nya dari pada Rina yang jelas-jelas pergi bersama nya. Raisya pun segera mencairkan suasana.


“Baru saja, biasa sama dua manusia planet pluto, kalau gitu Gue masuk dulu ya, mau cobain baju” ucap Raisya.


“Ah iya silahkan,” jawab Gavin.


Raisya pun masuk keruang ganti, Gavin pun ingin mengajak Rina pergi dari tempat ini.


“Yuk!” ajak Gavin menarik tangan Rina pelan. Rina yang mendapat perlakuan seperti itu dari Gavin tersenyum bahagia, terasa bagaikan mimpi Gavin menggenggam tangannya seperti ini.


Rina dan Gavin ingin menuju Kasir, namun sebelum sampai didepan kasir tiba-tiba seorang gadis berteriak histeris memanggil kedua nya. Mereka pun langsung menoleh keasal suara yang sangat familiar di telinga, mereka lupa jika tadi bertemu Raisya, maka dapat dipastikan mereka akan bertemu Risa dan Ocha, dan sekarang saat nya bertemu dengan Ocha.


“Rina, Gavin? Kalian disini juga? Wah, lagi kencan nih, PJ donk PJ!” goda Ocha.


“PJ apa? Jadian aja enggak!” ucap Rina.


“Gav, traktir ya, besok” ucap Ocha dengan antusias. Gavin hanya melengos tak memperdulikan, lagi pula dia hanya menganggap Rina seperti Adiknya.


“Yaudah kalau gitu Kita deluan ya,” ucap Gavin menghindari pertanyaan konyol lainnya dari sahabatnya itu.


“Udah mau balik?” tanya Ocha.


“Kita udah lama, Kak disini” jawab Rina.


“Yaudah, kalau gitu kalian hati-hati. Gav, jagain tuh anak gadis orang” ucap Ocha.


“Iya, Bawel!” saut Gavin dengn santai.


Mereka pun pergi dari hadapan Ocha menuju kasir, membayar belanjaan lalu keluar pergi entah kemana. Sedangkan Ocha menuju ruang ganti untuk mencoba semua pakaian yang dia ambil.


**


Sekitar tiga jam mereka menghabiskan waktu untuk berbelanja pakaian dan lain sebagai nya. Kini, giliran perut mereka butuh asupan karena sudah berdemo. Jika sudah berbelanja, maka makan pun bisa terlupakan. Jangan kan makan, sama Doi aja bisa lupa :v wkwkwk.


Mereka mencari tempat makan yang sesusai selera keempat gadis itu, awalnya mereka berdepat karena berbeda keinginan, namun keputusan beralih pada restoran padang yang ada di dalam Moll tersebut. Mereka menikmati makanan yang sudah tertata rapi di atas meja, sambil sesekali bercanda dan tertawa, Vita yang usia nya lebih tua dari ketiga gadis itu merasa seumuran, karena ternyata sahabat calon adik ipar nya ini sangat konyol dan lucu sama seperti Raisya.


“Oh ya, gimana hadiah nya Bibi? Pas gak?” tanya Vita dengab tatapan menggoda, yang hampir membuat Raisya tersedak.


“Mba Vita tau?” tanya Raisya memastikan.


“Tau lah, orang semalem pas Kamu udah masuk kamar, Bibi sama Bunda Kevin cerita” jelas Vita.


“Astagaa,” ucap Raisya terheran-heran. Sepertinya memang sengaja Bibi nya memberikan hadiah itu.


“Jadi, gimana,?” tanya Vita lagi yang masih penasaran.


“Gak gimana-gimana, Mba. Udah aku simpen lagi” ucap Raisya kembali memasukan makanan kedalam mulutnya.


“Jadi kalian belum pernah malem pertama?” tanya Vita dengan santai, namun yang di tanya sudah terbatuk-batuk, dengan cepat Raisya menetralkannya dengan minuman.


“Apasih, Mba? Kok malah bahas itu” ucap Raisya.


“Mba Vita belum tau aja, mereka mah masih sekolah gini gak akan mau ngelakuin itu” ceplos Ocha dengan santai. Vita pun paham alasan nya dia hanya membulatkan bibirnya sambil menganggukkan kepala.


**


Sekarang jam menunjukkan pukul 04.30 pm mereka baru saja sampai dirumah, Ocha dan Risa sudah kembali pulang kerumah masing-masing, dan rencananya mereka akan ikut kemah penutupan MOS disekolah.


“Assalamualaikum,” ucap Raisya dan Vita ketika memasuki raung tamu, tak ada yang menjawab tampak sepi tak berpenghuni. Hanya ada satpam diluar.


“Jam segini Rayes sepertinya belum pulang,” ucap Vita.


“Baru kerasa ya, capek nya” keluh Raisya.


Dua perempuan itu menghempaskan tubuh mereka di sofa ruang keluarga dan menaruh asal belanjaan nya. Tak lama Kevin pun datang turun dari tangga lantai atas.


“Baru aja?” tanya Kevin ketika melihat Raisya dan Vita sudah pulang.


“Sudah makan?” tanya lagi duduk disebelah Raisya.


“Sudah tadi waktu mau pulang,” jawab Raisya.


Vita yang melihat hanya mengumbarkan senyuman, ia beranjak pergi dan membawa belanjaan nya ke kamar karena tidak ingin mengganggu kedua nya.


“Capek banget ya, Kamu beli apa aja sih? Banyak banget, sayang” ucap Kevin yang melihat begitu banyak tas belanjaan bermerk istrinya.


“Banyak, hehehe” jawab Raisya sambil nyengir.


“Yaudah, kamar yuk. Mandi sana udah sore,” ajak Kevin.


“Capeekk” rengek Raisya manja.


Kevin tau apa yang diingin kan Raisya, tanpa berkata apa-apa Kevin langsung mengangkat tubuh Raisya ala bridal, Raisya pun dengan senang hati mengalungkan tangan pada leher Kevin, ia pun tersenyum senang.


Sesampainya mereka dikamar, Kevin hendak menurunkan tubuh Raisya tapi Raisya malah memperkuat rangkulannya. Dia sengaja ingin menjahili Kevin. Kevin hanya melengos melihat tingkah istrinya.


“Kamu gak mau mandi?” ucap Kevin yang masih setia berdiri menggendong Raisya.


“Mau nya dipeluk sama kamu gimana donk?” ucap Raisya cengengesan.


“Kamu mau godain Aku? Hem?” tanya Kevin yang menatap balik Raisya.


“Memang salah ya, kalau lagi pengen mau sama suami sendiri?” tanya balik Raisya dengan tersenyum manis.


Kalau Kamu manis kayak gini bikin gemash, gimana Aku bisa bertahan Raisya? Aarrgghh!! Keluh Kevin dalam hati.


“Yaudah kalau Kamu gak mau mandi, biar Aku yang mandiin, siapa tau kan bisa…” ucapan Kevin menggantung, ia menatap Raisya dengan senyum menggoda sambil menaik turun kan alisnya.


Raisya pun terkesiap, rencana ingin menjahili Kevin, sekarang dia yang kena batu nya. Kevin pun langsung berjalan kearah kamar mandi, membuat Raisya berontak dalam gendongan nya.


“Kevin, turunin!” ucap Raisya namun tak dihiraukan oleh Kevin.


“Keviin turunin, ia Aku mandi. Tapi sendiri!” pinta Raisya dengan wajah memelas. Kevin pun hanya tertawa renyah melihat ekspresi istri nya.


“Makanya jangan berani godain suami, inget loh Sya, kita belum pernah melakukan kewajiban utama sebagai sepasang suami dan istri” ucap Kevin yang sudah menurun kan Raisya dari gendongan nya.


Ucapan Kevin membuat Raisya kicep.


“Bagaimana pun Aku ini laki-laki normal, dan Kamu udah halal buat Aku” sambung nya lagi.


“Iya, Vin. Gak lagi maaf” ucap Raisya dengan suara merendah.


“Yaudah sana mandi,” perintah Kevin yang langsung dituruti oleh Raisya.


Raisya pun langsung berlari kekamar mandi setelah mengambil baju ganti. Kevin hanya berbaring di tempat tidur sambil bermain game di ponselnya. Akhir-akhir ini Kevin malah senang bermain game dibponsel entah sejak kapan kebiasaan itu menjadi rutinitasnya. Raisya tak masalah, asalkan tidak menggangu waktu belajar nya.


**


Malam hari yang sangat indah, sekarang jam sudah menunjukkan angka 09.30 pm. Selepas makan malam, Raisya duduk santai di sebuah sofa yang ada di balkon kamarnya sambil menikmati teh hijau yang ia seduh sendiri. Angin malam berhembus menerpa wajah cantik nya, mata nya menatap langit yang sangat cerah karena di hiasi bintang-bintang. Bulan pun tak mau kalah dengan cahaya nya yang menderang menerangi malam. Kevin pun datang menghampiri membawakan selimut lalu menutupi tubuh Raisya yang mengenakan piama lengan pendek sambil memluknya dari belakang dan mencium pipi Raisya dengan lembut.


“Kenapa gak masuk kedalam?” tanya Kevin sambil beralih duduk disamping Rasiya dan merangkulnya.


“Aku masih ingin melihat bintang,” jawab Raisya yang kini sudah menyandarkan kepalanya di dada Kevin.


“Vin,” panggilnya lagi, yang di balas dengan suara deheman.


“Waktu kecil, saat Kakek dan Nenek meninggal, Mami selalu bilang, mereka memang pergi tapi masih bisa Kita lihat. Dan lihat lah bintang dilangit, mereka menjadi bintang disana yang selalu memperhatikan Kita disini” ucap Raisya yang mengingat perkataan Maminya dulu.


“Kamu lihat dua bintang yang disana?” lanjutnya lagi menatap langit sambil menunjuk kearah bintang yang ia tuju.


“Pasti itu bintang Mami dan Papi,” sambungnya lagi. Kevin pun hanya tersenyum mendengar penuturan istrinya. Entah itu nyata atau tidak, dia tidak ingin merusak suasana hati istrinya.


“Vin,” panggil nya lagi.


“Nenek dan Kakek ku juga meninggal bersama, sama seperti Mami dan Papi. Apa mereka sebelum nya janjian ya?, untuk pergi meninggalkan ku?” lirih Raisya dengan suara yang mulai memberat.


Kevin pun menatap wajah Raisya dengan intens, ia masih bisa melihat kesedihan yang terpancar dari sorot mata istri nya ini.


“Ingat Raisya, semua itu adalah takdir, rejeki, jodoh, dan kematian ada di tangan Tuhan. Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, berharap dan berdoa lah kelak kita akan seperti Kakek Nenek dan Mami Papi yang selalu hidup bersama bahkan sampai maut memisahkan mereka.” Ucap Kevin lalu mencium kening Raisya. Raisya hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum.


“vin,” panggil Raisya lagi yang kini menatap Kevin dengan sendu. Kevin hanya tersenyum.


Tiba-tiba Raisya memejamkan mata dan mencium bibir Kevin dengan lembut, Kevin yang terkejut akhirnya ikut memejamkan mata dan menikmati ciuman Raisya yang kini berubah menjadi lumatan lembut, membuat kevin seakan-akan ingin waktu berhenti sekarang juga agar terus seperti ini. Mereka menikmati ciuman di bawah sinar rembulan dan disaksikan oleh bintang-bintang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nanggung yhaa? Wkwkw 😂


LIKE VOTE DAN KOMENT nya dulu yaa, hehehe


TERIMA KASIH🙏❤