My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Senyum Raisya



Ke esokkan harinya, Raisya ingin sekali bersekolah. Tapi, sekarang adalah hari minggu. Padahal dia sangat ingin kesekolah mengingat selama apa dirinya absen di beberapa pelajaran.


Raisya bangun terlebih dahulu, ia sangat menikmati momen pagi ini. Melihat wajah nyenyak Kevin yang tertidur, rasanya ketampanan suaminya ini tidak pernah bisa hilang. Malah semakin tampan jika sedang tidur pulas seperti sekarang ini.


“Saat aku di rumah sakit, kamu pasti tidak mengurus diri dengan baik. Hanya sibuk dengan diriku yang terbaring lemah. Maafkan aku, Sayang. Dan terima kasih masih ada bersamaku dalam keadaan apa pun,” ucap Raisya yang mengelus wajah Kevin dengan lembut.


“Iya, Sayang. Itu sudah menjadi tugasku sebagai suami,” jawab Kevin tiba-tiba.


“Kamu sudah bangun?” tanya Raisya memastikan. Kevin pun langsung membuka kedua matanya diiringi senyuman yang begitu manis.


“Morning, My Wife,” sapa Kevin lalu mencium bibir Raisya sekilas.


“Kamu ih, morning juga My Hubby,” balas Raisya yang juga mencium bibir Kevin sekilas.


Namun, Kevin justru menahan kepala Raisua dan mencium kembali bibir ranum milik Raisya yang sangat ia rindukan. Berubah menjadi lumatan lembut, seakan tak ingin melepaskannya begitu saja, namun nafas mereka terbatas.


“Udah lama banget ya, gak cicipin bibir kamu ini,” ucap Kevin ketika ciuman mereka terlepas, mengusap lembut bibir Raisya dengan ibu jarinya.


“Apaan sih, masih pagi juga,” ucap Raisya malu-malu, membuat Kevin semakin gemas dan kembali mengecup bibir istrinya itu. Tak ada penolakan dari Raisya, karena dirinya juga sangat merindukan.


“Padahal, aku ingin sekali kesekolah. Tapi hari ini hari minggu,” ucap Raisya ketika mereka menyudahi kegiatan pagi yang sedikit panas.


“Besok kan senin, bisa sekolah,” balas Kevin yang menumpukan kepalanya pada sebelah tangan.


Tiba-tiba Raisya teringat sesuatu. Ia teringat kembali dengan pelajaran yang tertinggal. Raisya pun meminta Kevin untuk meminjamkan buku catatannya, tapu nihil, Kevin pun ternyata selama Raisya di rumah sakit sama sekali tak bersekolah.


“Serius kamu gak sekolah barang sehari aja saat aku di rumah sakit?” tanya Raisya tak percaya. Kevin pun mengangguk santai.


“Astaga, Sayang. Kalau kamu seperti itu, akan membuatku merasa sangat bersalah. Kan masih ada Bunda dan yang lainnya yang bisa menjagaku saat kamu sekolah. Kalau seperti itu, sama saja aku seperti penghalang bagimu,” tutur Raisya menyesal.


Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, mereka pasti masih bisa menikmati masa-masa di sekolah yang begitu menyenaangkan. Dan juga pasti Leon masih ada. Tapi, ini sudah menjadi jalan takdir yang harus di lalui. Banyak alasan mengapa semua ini terjadi, dan itu hanya Tuhan yang tahu.


“Sstt! Kamu ngomong apa sih? Lagi pula semua guru juga sudah tau tentang pernikahan kita. Karena Ayah sudah menjelaskan alasannya. Dan juga, suamimu ini kan pintar,” ucap Kevin dengan percaya diri. Membuat Raisya sedikit mengembangkan senyumnya. Dan bantal tidur pun mendarat tepat di wajah tampan suaminya itu.


“Aku lupa, kalau aku mempunyai suami yang pintar! Tidak sekolah berminggu-minggu pun tidak akan membuatnya bodoh!” ucap Raisya dengan tawa kecilnya.


Kevin memang bisa membuat mood-nya kembali membaik.


“Nah, itu tau,” sahut Kevin dengan candanya.


Raisya dan Kevin pun sama-sama tertawa. Setidaknya, tingakah mereka pagi ini melupakan sejenak kesedihan-kesedihan yang masih sering mampir ke dalam hati. Masih setia berada di balik selimut, sambil berpelukan mencari kehangatan dan kenyamanan. Rasanya sangat tidak ingin beranjak bangun dari tempat ternyaman mereka.


Hingga akhirnya Raisya merasa lapar dan berencana membuat sarapan. Senbenarnya Kevin melarang Raisya untuk beraktifitas, tapi bukan Raisya namanya kalau tidak keras kepala. Kevin pun memilih menyerah untuk berdebat dengan istrinya itu. Setidaknya, membuat Kevin melihat keceriaan lagi dari wajah Raisya.


Raisya menyuruh Kevin untuk mandi terlebih dahulu, sedangkan dirinya akan memcuci muka dan menggosok gigi di kamar mandi dapur lalu menyiapkan sarapan. Kevin pun menurut.


Setelah selesai berkutat di dapur, tak lama Kevin datang menghampiri Raisya yang sibuk menata makanan di atas meja.


“Wangi banget, sih. Lagi masak apa?” tanya Kevin tiba-tiba sedikit mengejutkan Raisya.


“Eh, sudah mandi, Sayang? Aku bikinkan ayam kecap kesukaanmu,” jawab Raisya.


“Waw! Sudah lama sekali rasanya aku tidak makan masakan istriku ini,” sahut Kevin dengan senang.


Mereka pun dengan ceria menikmati sarapan pagi ini. Sesekali saling menyuapi, tawa kecil Raisya terkadang menemani suasana makan mereka.


Aku harap setelah ini kamu bisa melupakan semua kesedihanmu, Sayang. Kembalilah seperti Raisya yang dulu, Princess Raisya yang barbar dan cerewet. Batin Kevin tersenyum memandangi Raisya.


Selesai makan, Raisya ingin mencuci piring, tapi dengan sigap Kevin mengambil alih semua pekerjaan itu. Membuat perdebatan kecil di antara mereka terjadi.


“Sini, biar aku saja yang cuci piringnya,” ucap Kevin mencoba mengambil piring dari tangan Raisya.


“Gak usah, aku bisa kok,” sahut Raisya dengan menahan piring yang dia pegang.


“Sudah sini aku saja,” pinta Kevin.


“Sudah sana duduk manis, biar aku saja!” ucap Kevin tak mau kalah.


“Yasudah kalau gitu! Cuci semuanya sampai bersih dan kinclong!” sahut Raisya melepaskan pegangan tangannya dan menyerahkan piring kotor itu pada Kevin.


“Baiklah tuan putri, silahkan duduk manis,” ucap Kevin ala-ala pelayan kerajaan, dengan senyum yang mengembang.


Raisya pun duduk kembali ke kursi meja makan, sedangkan Kevin dengan telaten mencuci piring sambil sesekali bersiul, membuat Raisya menggelengkan kepalanya. Dia sangat bersyukur, memiliki Kevin yang sangat pengertian, bahkan seorang Kevin mau mencuci piring. Seketika ide jahil pun melintas di kepala Raisya. Dirinya tersenyum jahil menatap Kevin yang membelakanginya. Raisya pun berdiri menghampiri Kevin yang sedang menyabuni piring.


“Sayang,” panggil Raisya dengan suara yang sengaja di buat manja.


“Ya?” Kevin pun menoleh.


Dengan cepat Raisya mengoles wajah Kevin dengan busa, Raisya pun tertawa lepas melihat Kevin yang diam karena sedikit terkejut.


“Nakal, ya!” pekik Kevin, ia pun tak mau kalah dan juga membalas Raisya dengan hal yang sama.


Akhirnya perang busa pun terjadi, suara tawa Raisya dan Kevin memenuhi seisi ruangan aparteman.


Hari minggu yang menyenangkan, mereka habiskan waktu berdua. Setelah sekian lama merasa moment seperti ini hilang. Kevin hanya berharap, tak ada lagi masalah yang membuat istrinya merasa sedih. Kevin hanya berharap, senyum yang Raisya kini tunjukkan selalu menghiasi wajahnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Sedih rasanya kalau udah semangat ngetik, tapi tiba-tiba apa yang kita ketik itu hilang 😢😢


Author pengen nangis guling-guling, karena sempat lupa untuk lanjutan ceritanya 😢😢


Terimakasih sudah mau membaca karya Author 🙏🙏❤❤


Baru bisa segini Up nya, 🙏🙏😢😢


Mohon dukungannya yaa, biar Author semangat.


Dengan Like Vote dan Komen 😄😄