My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Ingin Suasana Baru



Hari senin pun tiba, Raisya dengan semangat mempersiapkan diri untuk ke sekolah. Rasanya dia benar-benar rindu dengan sekolahnya, terlebih lagi ia sudah begitu banyak ketinggalan pelajaran.


Kemarin Raisya meminta sebuah catatan pada Kevin, tapi ternyata Kevin sendiri juga tidak bersekolah selama dirinya berada di rumah sakit. Tentu hal itu membuat Raisya mengomeli Kevin habis-habisan. Dan tentu saja Raisya merasa sangat bersalah.


“Vin, ayok cepetan!” ajak Raisya buru-buru.


“Sebentar, pasang dasi dulu.”


“Ih lama! Sini aku pasangin!”


Raisya pun mengambil alih dasi Kevin, dan memasangkannya. Karena jarak yang cukup dekat, membuat Kevin dengan bebas memandangi wajah istrinya. Dan saat ingin mencium Raisya, dengan cepat Raisya menjauhkan wajahnya.


“Sudah!” ucap Raisya ketika sudah memasangkan dasi Kevin dengan Rapi, dan berlalu mendahului Kevin keluar kamar.


Baru juga mau dicium, batin Kevin. Ia hanya bisa menghela nafas lalu segera menyusul Raisya.


Mereka pun pergi kesekolah bersama. Bagi Raisya, hari ini seperti membuka lembaran baru, setelah kecelakaan dan kepergian Leon, sahabat terbaiknya. Sepanjang perjalanan Raisya menikmati alunan musik yang ia putar dari ponselnya menggunakan earphone.


Hanya dalam waktu 20 menit perjalanan, mereka sekarang telah tiba di sekolah. Seperti biasa, Raisya dan Kevin selalu menjadi sorotan. Dan di sekitar parkiran beberapa sahabatnya sudah menunggu.


“Kak Raisya!” teriak Rina dari kejauhan. Gadis berkuncir kuda itu pun menghampiri Raisya yang baru saja turun dari mobil. Ocha dan Risa pun mengikuti.


“Akhirnya, Incess kita sekolah juga,” ucap Ocha dengan senang.


“Welcome back Princess Raisya!” teriak ketiganya dengan heboh.


“Duh, kalian. Masih sepagi ini juga,” ucap Raisya memegangi kedua telinganya karena teriakan membahana dari ketiga sahabatnya.


“Tapi, makasih loh sambutannya,” lanjut Raisya lagi.


Mereka pun berpelukan, sedangkan Kevin dan yang lainnya hanya menggelengan kepala, melihat empat gadis itu seperti telubise.


Kemudian mereka semua pun berjalan beriringan di koridor, menuju kelas masing-masing.


Jam pelajaran pertama berjalan lancar, bersyukur Raisya dibekali otak yang cerdas. Sehingga dirinya bisa menerima pelajaran dan dapat memahaminya hari ini.


**


 


 


Di rumah Rayes,


Kini Vita sedang duduk bersantai di ruang tengah, menikmati cemilan keripik yang selelu tersedia di dalam toples. Vita merasa sangat kesepian, di saat suaminya pergi bekerja. Tetapi untuk hari ini, Vita meminta Rayes untuk berada di rumah menemaninya.


“Sayang,” panggil Vita dengan manja. Rayes yang duduk di sebelahnya sambil menikmati secangkir kopi pun menoleh dengan menunjukkan ekapresi bertanya.


“Kenapa rasanya aku sangat merindukan Raisya. Setelah dia pulang dari rumah sakit, kita belum menemuinya, kan?” ucap Vita bertanya.


“Iya, lalu apa kamu ingin bertemu dengannya?” tanya Rayes. Vita pun mengangguk menyetujui.


“Nanti kita akan kesana, sepertinya hari ini dia sekolah,” jelas Rayes.


**


 


 


Kembali ke sekolah,


“Raisya, bisa ikut ibu ke ruangan?” ucap Ibu Endang.


“Baik, Bu.”


Raisya pun mengikuti langkah kaki Ibu Endang masuk ke dalam ruangan guru. Setelah masuk, Raisya duduk di salah satu sofa yang tersedia. Tak lama Ibu Endang menyusul duduk di sampingnya.


“Begini, ibu tau kamu baru masuk sekolah hari ini. Tapi sebelum kamu masuk rumah sakit, pihak sekolah memberikan kabar bahwa kamu akan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri,” ucap Ibu Endang memulai percakapan.


“Beasiswa?” tanya Raisya. Ibu Endang pun mengangguk.


“Bagaimana pun kalian itu adalah siswa siswi terbaik yang SMA Patra Dharma miliki.”


“Tapi sayangnya Kevin menolak beasiswa ini,” lanjutnya lagi.


“Jadi, Kevin juga mendapatkannya dan dia menolak?” tanya Raisya dan Ibu endang hanya mengangguk.


“Baiklah, Bu. Masalah beasiswa ini saya akan saya pikirkan dulu.”


Setelah beberapa menit Raisya pun keluar dari ruang guru. Sepanjang jalan menuju kelas, Raisya memikirkan perkataan Bu Endang.


“Apa Kevin menolak beasiswa itu karena aku ya?” pikir Raisya.


“Ah! Sudahlah, biar nanti langsung tanya aja.”


Raisya melanjutkan langkah kakinya menuju kelas.


**


 


 


Jam pulang pun tiba, semua murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Raisya langsung bergegas menuju kelas Kevin karena sudah tidak sabar lagi untuk menanyakan perihal beasiswa secara langsung.


“Ada hal yang pengen aku bicarain, ayok buruan kita pulang.”


“Memangnya apaan?”


“Udahlah di rumah aja.”


“Ada apa sih, Sayang? Aku buat salah?”


“Ck! Enggak, aku cuma mau diskusi sama kamu aja, kok.”


“Tentang apa, nih? Anak?” sahut Kevin dengan asal membuat Raisya mendaratkan jitakan cukup keras pada kening suaminya itu.


“Buruan gak? Mau aku ngambek beneran?”


Kevin pun mengembuskan napasnya, ia mengikuti Raisya yang berjalan lebih dulu di hadapannya.


**


 


 


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang, Raisya yang terlihat begitu santai membuat Kevin bingung.


Tumben ini anak kalem, batin Kevin tersenyum misterius.


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka, Raisya memang sengaja berdiam diri tanpa suara. Karena ia hanya ingin membahasnya di rumah. Begitulah Raisya, terkadang ada-ada saja tingkahnya yang membuat Kevin bingung sekaligus juga takut.


Tak lama mobil pun sampai di gedung aparteman mereka tinggal. Raisya dan Kevin pun langsung turun dari mobil dan masuk menuju tempat tinggal mereka. Begitu sampai di dalam aparteman Raisya langsung melempar dirinya ke sofa tanpa melepaskan sepatunya.


“Sayang, katanya ada yang mau dibahas sama aku?”


“Ah iya!”


Raisya pun mengubah posisinya dengan duduk berhhadapan dengan Kevin.


“Jadi gini, kenapa kamu nolak beasiswa yang sekolah kasih?”


Kevin menghela napasnya sebelum menjawab.


“Ini sudah pernah kita bahas ya, Sayang. Lagi pula masih ada yang lebih membutuhkan beasiswa itu dari pada aku.”


“Aku sudah gak masalah kok, lagi pula itu juga demi masa depan kamu, aku udah pikirin semuanya, Vin. Sepertinya masalah kuliah aku juga berubah pikiran.”


Kevin menautkan kedua alisnya bingung dan bertanya-tanya.


“Maksudmu?”


“Maksudku bagaimana kalau kita kuliah di luar negeri aja, aku pengen suasana baru, Vin. Siapa tau aku bisa perlahan melupakan kesedihan ini,” ucapan Raisya berubah menjadi sendu.


Kevin langsung mendekap tubuh Raisya ke dalam pelukannya.


“Kamu yakin? Bisa emang pisah dari Risa dan Ocha?”


“Ya mau gak mau, aku yakin mereka juga ngerti kok, lagi pula sekarang jaman kan canggih. Kita juga bisa pulang kalau ada libur.”


Kevin tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Begitu pun dengan Raisya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Alhamdulillah bisa update lagi, wkwkw


Maapkan Authornya ya 🙏


Sekalian mampir yuk di cerita baru Author yang judulnya "Love For Clarissa" . Cerita ini sudah tamat kalau di WP, hehehe.


Insa Allah Author tetep lanjutin cerita Raisya 💜 Kevin ini, tapi belum tau pasti updatenya kapan, wkwkwkw gak janji ya kapan mau update lagi.


Maaf banget 🙏


Tapi Author ucapkan terima kasih banyak untuk readers setia yang selalu menunggu kisah abal-abal ini ❤