
Kini Raisya telah kembali ke apertemen seorang diri, dia sangat lelah dengan kejadian hari ini karena begitu menguras emosi dan hatinya. Dia berharap Kevin bisa menyelesaikan masalah Carol sesuai apa yang tadi Kevin katakan ketika di moll.
Seketika kata-kata Kevin yang mengatakan kalau Kevin mencintai Raisya istrinya membuat Raisya berpikir keras. Apakah yang dikatakan oleh Kevin itu benar atau tidaknya. Karena bagi Raisya ini terlalu cepat, mereka baru menikah 4 bulanan dan sudah dua kali dalam pernikahan mereka terjadi seperti ini.
Raisya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya. Kata-kata Kevin terus berputar dikepalanya.
"Yang benar saja Kevin bisa mencintaiku. Huhff!" Keluh Raisya.
"Memang sih selama ini Aku sangat nyaman berada didekat Kevin, Aku juga sudah terbiasa dengan perlakuannya, dia begitu perhatian. Tapi juga kadang kembali dingin dan datar. Apa benar rasa Cinta itu bisa datang seiring berjalannya waktu? Akh! Hal inilah yang selalu membuatku frustasi. Makanya sejak dulu Aku sangat malas memikirkan hal seperti ini. Cinta itu tidak bisa ditebak kapan datang dan perginya. Cinta itu ternyata lebih rumit dari rumus phytagoras!" Tutur Raisya pada dirinya sendiri.
Dilihatnya jam dinding di kamar menunjukkan pukul 06.50 pm yang artinya waktu sholat magrib pun sudah dilewatkannya. Raisya bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri lalu menjalankan sholat magrib dan setelah itu masak untuk makan malam.
.
.
●Dirumah Kevin ~~
Setibanya Kevin dan Carol dirumah ternyata Ayah Bundanya sudah pulang, karena memang mereka keluar kota hanya sehari saja. Kevin pun bernafas legah melihat mobil Ayahnya terparkir digarasi. Kevin pun bergegas masuk kedalam rumah disusul Carol, dan bertemu dengan Ayah Bunda nya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Loh? Raisya mana?" Tanya Bunda yang tak melihat menantunya bersama anaknya.
"Raisya sudah pulang deluan keapertemen, Bun" jawab Kevin.
"Kenapa? Apa kalian ada masalah?" Tanya Bunda khawatir karena melihat wajah anaknya yang tak seperti biasanya.
"Kevin mau bicara sama Bunda dan Ayah!" Tegas Kevin yang membuat aktivitas sang Ayah yang sedang membaca majalah bisnis berhenti.
"Pulangkan Carol kerumahnya, dan bilang kepada orang tuanya jangan biarkan dia kembali kesini lagi! Dan jangan lagi mengganggu rumah tanggaku dengan Raisya" jelas Kevin tanpa basa basi.
"Ada apa sebenarnya? Carol? Apa yang terjadi?" Tanya Bunda yang masih bingung. Carol hanya diam ketakutan karena mendapat tatapan tajam dari Kevin.
"Tentu saja dia tidak akan berani menjawabnya. Asal Bunda tau, dia berani merendahkan Raisya didepan Kevin dengan mengatakan kalau Raisya tidak pantas menjadi istri Kevin dan hanya dia yang pantas! Belum lagi dia tadi menampar wajah sahabat Raisya!" Ungkap Kevin dengan tegas. Carol terkesiap mendengar kalimat terakhir dari Kevin.
"Tapi Kak! Aku menampar Ocha karena dia menyebutku seorang pelakor, perempuan tak tau malu! Siapa yang tidak marah dikatakan seperti itu!" Bela Carol.
"Aku sudah tau apa yang Kau katakan sebelumnya sebelum Kau menampar Ocha. Dia tidak akan mengatai mu sperti itu kalau kau tidak memancing dengan kata-kata yang tidak masuk akal! Kau merendahkan pernikahan ku dengan Raisya seolah-olah Kau akan bisa mendapatkan ku dengan cara apapun kan?! Tentu saja apa yang dikatakan Ocha itu akan keluar dari mulut siapa saja yang mendengar kalimat tidak tau malu mu itu!" Jelas Kevin yang membuat Carol semakin menciut.
Ayah Bunda yang mendengarkan pun terkejut karena tidak akan menyangka Carol melakukan hal sejauh ini.
"Pulangkan dia dan jangan biarkan dia kembali kesini lagi! Aku mau pulang, Raisya pasti sudah menunggu ku dirumah. Dia terlihat sangat marah hari ini!" Lanjut Kevin lalu pergi kearah pintu utama setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.
Kini Carol berhadapan dengan orang tua Kevin.
"Tante kecewa sama Kamu Carol, tante sudah menjelaskan dan mengingatkan mu kan? Tante tidak masalah dengan kedekatan kalian karena melihat Raisya biasa saja, yang artinya dia memahami pertemanan kalian. Tapi tante tidak menyangka Kamu bisa merendahkan menantu tante!" Tegas Bunda Kevin.
Carol hanya bisa diam dalam ketakutannya. Dia tidak berani berkutik lagi, karena sudah merasa dipandang buruk oleh orang tua Kevin.
"Tante akan pulangkan Kamu malam ini dan akan menelpon orang tua mu. Tante hanya berharap Kamu jangan mengharapkan Kevin lagi, tante yakin Kamu bisa mendapatkan orang yang lebih baik" ucapan Bunda kini mulai mereda. Karena bagaimana pun gadis dihadapannya ini adalah anak dari sahabatnya dan dia sudah menganggap Carol sebagai putrinya.
"Dan tante ingin Kamu merenungkan semua kelakuanmu hari ini" lanjut Bunda.
.
.
.
Kevin melajukan mobilnya membelah jalanan yang cukup ramai. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah Raisya, perjalan dari rumah orang tuanya ke apertemen memakan waktu setengah jam. Ditengah perjalanan Azan sjolat Isya berkumandang, Kevin pun menyampirkan mobilnya disalah satu masjid yang dia lewati.
Setelah selesai melaksakan ibadah sholat Isya, Kevin kembali menjalankan mobilnya pulang ke apertemen. Dan setibanya disana Kevin langsung menekan kode apertemen mereka dan membuka pintu.
"Assalamualaikum..." ucap Kevin memberi salam pada ketika masuk, namun tak ada jawaban sama sekali.
Kevinpun bergegas memasuki kamar untuk mandi karena dia merasa begitu lelah hari ini. Ketika masuk kedalam kamar dilihatnya sosok Raisya sedang berbaring di atas sofa dengan wajah tertutup oleh buku. Perlahan Kevin menghampiri lalu meraih pelan buku yang menutupi wajah Raisya.
"Anak ini, baca buku saja sampai ketiduran" ucap Kevin ketika menaruh kembali buku itu ke atas meja belajar.
Ia tak berniat membangunkan Raisya, karena baginya wajah Raisya saat tidur begitu tenang, adem, dan lembut.
"Kalau tidur gini lebih cantik yaa, dari pada bangun cerewetnya minta ampun. Hihi... tapi Aku suka sih" sambil tersenyum dan membelai lembut wajah Raisya.
Merasakan sesuatu yang lembut mengelus wajahnya, perlahan Raisya membuka matanya dan menguap sebentar. Lalu menyipitkan matanya memandang sosok yang kini ada dihadapannya.
"Kevin??" Raisya mulai tersadar.
"Sejak kapan Kamu datang? Apa sudah lama?" Tanya Raisya begitu dia benar-benar sadar.
"Enggak juga, barusan aja. Kamu sudah sholat Isya?"
"Ehh..."
Raisya pun melirik jam dinding yg ada dikamarnya sudah menunjukkan pukul 08.30 yang artinya dia sudah melewatkan waktu sholat isya.
"Astaga Aku ketiduran. Apa Kau sudah sholat?"
"Sudah, tadi Aku sholat dimasjid karena sedang perjalanan menuju apertemen"
"Sudah makan?"
"Belum?"
"Baiklah kalau gitu Aku panaskan makanannya dlu, tadi Aku sudah masak"
"Sholat lah dulu, Aku juga ingin mandi dulu"
"Baikalah kalau bgitu"
Mereka pun melakukan kegiatan masing-masing. Seperti biasa Raisya mempersiapkan baju ganti milik Kevin. Lalu dia menuju kamar mandi dapur untuk berwudhu dan menjalankan sholat Isya.
Ketika sudah selesai sholat dan merapikan mukena yang Raisya kenakan, bersamaan dengan Kevin yang keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk dipinggang.
"Sudah selesai?" Tanya Kevin.
"Iyaa, Kau siap-siap lah dulu. Itu bajumu sudah Aku siapkan. Aku akan kedapur memanaskan makanan. Aku tunggu dimeja makan" jawab Raisya.
Kevinpun hanya mengiyakan perkataan Raisya, dan Raisya pun keluar kamar menuju dapur.
"Apa dia tidak marah? Kemarin saja dia begitu sangat kesal. Tapi ini dia terlihat biasa saja, bahkan masih melayaniku dengan baik" ucap Kevin lalu melanjutkan kegiatannya.
Setelah selesai, Kevinpun keluar kamar untuk menyusul Raisya ke dapur. Tibanya disana dia sedang melihat Raisya menata makanan di meja makan.
"Duduk Vin, yukk Kita makan" ajak Raisya sembari menggeser kursi untuk Kevin duduki.
Kevin hanya menurutinya namun agak sedikit bingung karena tak biasa Raisya melayaninya saat makan seperti ini.
"Kamu belum makan?" Tanya Kevin.
"Belum, Aku nungguin Kamu pulang. Ehh malah ketiduran" jawab Raisya dengan tertawa kecil.
Terlihat banyak sekali masakan yang ada atas meja, bermacam-macam menu ada tempe tahu bacem, terong goreng, ayam goreng tepung, sayur tumis kangkung, sayur gori, bahkan lalapan seperti daun selada, kol, kacang panjang dan timun pun ada lengkap dengan sambel terasinya.
"Tumben Sya, menu nya banyak gini. Kita hanya bedua loh padahal" ucap Kevin.
"Udah makan aja yang mana Kamu mau makan. Kamu mau Aku ambilkan apa?" Tanya Kevin seraya mengambilkan nasi dipiring Kevin
"Ayam gorengnya deh sama sayur gori nya"
"Sambelnya ?"
"Boleh.."
Raisya pun mengambilkan semua makanan yang Kevin inginkan.
"Iya" jawab Raisya singkat.
Raisya pun mengambil menu makanan yang dia mau. Hampir semua menu yang ada di ambil oleh Raisya, hal itu membuat Kevin tak percaya.
"Yakin Sya bisa habis semua?"
"Bisalah, Aku laper apalagi tadi habis menguras emosi jiwaku. Jadi butuh tenaga! Belum lagi nunggu Kamu lama pulangnya sampai Aku ketiduran"
Jawab Raisya dengan cuek, dan Kevin hanya diam tak membalas.
Siapa bilang dia tidak marah, memang tidak marah tapi dia masih kesal. Gumam Kevin dalam hati.
"Lagipula Aku juga gak sadar kenapa bisa masak sebanyak ini" lanjut Raisya lagi.
"Apa kamu masih kesal dengan Carol?" Tanya Kevin.
"Mungkin! Makanya tanpa sadar Aku lampiaskan dengan memasak sebanyak ini" jawab Raisya lalu memasukkan makanannya kedalam mulut.
Ternyata sisi lain istriku unik yaa, kalau kesal dia akan masak sebanyak ini. Yaa mungkin karena tak ada Aku yang dijadikannya pelampiasan kekesalannya seperti kemarin. Ucapa Kevin dalam hati sambil tersenyum.
"Jadi Kau memasak ini semua dengan bumbu kekesalan mu yaa?" Tanya Kevin dengan polos.
"Anggap saja seperti itu, Agar Kamu juga merasakan betapa kesal nya Aku hari ini!"
Tuh kan! Tetap saja ternyata Aku menjadi pelampiasan kekesalannya, tapi masakannya memang selalu enak sih. Ada-ada saja sih istriku ini, bikin tambah gemeshh.. kata hati Kevin.
"Baiklah baiklah terserah padamu, tapi walaupun dalam keadaan kesal makanan mu tetap enak yaa"
"Yaiyalaah!" Jawab Raisya dengan tegas. Kevin hanya tersenyum dan melanjutkan suapannya. Begitupun dengan Raisya.
Hanya tinggal beberapa suap lagi makanan yang ada di piring Kevin akan habis, sedangkan dipiring Raisya hanya tinggal sesuap lagi. Namun ternyata Raisya menambah porsi makanannya, dia mengambil kembali nasi, sayur dan lauk yang masih ada dimeja makan. Porsinya pun lebih banyak dari yang sebelumnya. Kevin yang melihatpun terheran-heran dengan apa yang dilakukan Raisya.
"Yakin habis Sayang? Itu lebih banyak dari yang tadi loh?"
"Udah dibilang Aku laper butuh tenaga!"
Raisya pun melanjutkan makannya. Tak lama makanan Kevin pun habis, dia tidak menambah karena Raisya selalu mengambilkan porsi yang pas, tidak membuatnya kekenyangan atau merasakan lapar lagi. Raisya sangat bersemangat menikmati makanannya. Kevin pun berdiri membawa piring bekas ke wetafel.
"Taruh saja disana biar Aku nanti yanh mencucinya sekalian"
Kevin hanya menurut saja, dia kembali duduk di meja makan menemani Raisya. Tak lama makanan dipiring Raisya pun tandas, Kevin terkejut karena makanannya benar-benar habis.
Kalau kesal banyak makannya yaa.. ucap Kevin dalam hati sambil tertawa kecil.
"Makan banyak dimalam hari gak takut gendut?"
"Masa bodo dengan berat badan!"
"Masih kesal?"
"Gak. Soalnya udah kenyang"
Jawabany unik dari Raisya membuat Kevin terkekeh.
"Ternyata Kamu kalau kesel makannya banyak yaa"
"Iyaa, karena kesal pun butuh tenaga, gak cuma bahagia doank yang butuh tenaga" jawab Raisya dengan santai.
Raisya pun berdiri membawa piring bekasnya ke westafel lalu mencucinya, setelah itu membersihkan meja makan. Kevin masih duduk ditempatnya sambil memperhatikan gerak gerik istrinya.
"Carol akan dipulangkan oleh Bunda ke Australia besok"
Raisya pun sejenak menghentikan kegiatannya yang sedang melap meja makan dengan serbet.
"Ya bagus lah!" Jawab Raisya dengan cuek.
Raisya yang sudah selesai dengan kegiatannya pun meninggalkan meja makan, dia berjalan melewati Kevin tanpa menoleh. Kevin yang merasa diabaikan pun dengan cepat menarik tangan Raisya hingga gadis itu terpental masuk kedalam dekapannya.
"Masih marah?"
"Enggak kok. Gak marah"
"Iya, tapi masih kesel kan?"
"Gak! Kan tadi udah bilang, kalau udah kenyang makanya gak kesel"
"Tapi kamu kok cuekin Aku?"
"Siapa yang cuekin Kamu? Gak tuh!"
Ucapan Raisya terdengar sinis ditelinga Kevin. Kevinpun melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Raisya dengan kedua tangannya.
"Jawabnya aja masih sinis gitu. Apa namanya kalau bukan masih kesal?"
"Dikit sih.."
"Tuh kan bener.. udah jangan ngambek jangan kesel, Carolnyakan udah dipulangin" ucap Kevin dengan lembut.
"Bukan itu. Aku sih gak peduli yaa sama dia!"
"Terus?" Tanya Kevin penasaran.
"Janjinya kan hari ini mau shopping sepuasnya, ehh malah gak jadi!" Ucap Raisya kemudian mengerucutkan bibirnya.
Kevin terkejut mendengar jawaban dari Raisya. Dia tak menyangka kalau istrinya ternyata kesal karena tidak jadi shopping.
"Astaga istrikuuu!!" Geram Kevin dengan Gemash sehingga mencubit kedua pipi Raisya dengan lembut.
"Kan udah janji padahal, mau bolehkan Aku shopping sepuasnya. Karena masalah Carol jadi lupa dan gak jadi!"
"Yaudah besok pulang sekolah deeh"
"Beneran yaa...??"
"Iya Sayang"
"Terimakasih" jawab Raisya kembali memeluk Kevin dengan girang.
Astaga salah lagi tebakanku. Memang benar-benar susah di tebak ya istriku ini. Bathin Kevin sambil mengelus kepala Raisya yang masih dalam pelukannya dengan sayang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih yang sudah mau membaca 🙏
Mohon dukungannya yaa biar Author tetap semangat melanjutkan cerita ini.