
Sekarang Raisya dan Kevin sudah tinggal di sebuah apertemen milik Kevin, mereka baru saja tiba dari pulang sekolah yang sebelumnya mampir kesupermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Kevin dan Raisya sama-sama membawa belanjaan setelah masuk kedalam apertemen, Raisya langsung meletakkan bungkusannya di meja dapur yang tersedia. Apertemen Kevin minimalis dan sangat rapi serta bersih, perabotannya sangat lengkap. Karena Kevin sebelumnya tinggal sendiri, jadi dia memilih apertemen 1 kamar tidur. Apertemen ini juga memiliki ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur, dan dua kamar mandi yang ada didapur dan dikamar tidur.
"Vin, Lo mandi deluan aja. Gue mau masukin bahan-bahan kekulkas dulu" Mendengar itu Kevin langsung ke kamar dan mandi.
Setelah Raisya sudah menyimpan semua belanjaannya, dia pergi kekamar dan tidak melihat Kevin. Ternyata Kevin masih di kamar mandi, kemudian dia berjalan kearah lemari untuk menyiapkan baju ganti Kevin dan mengambil baju gantinya serta handuk untuk mandi di kamar mandi yang ada didapur.
Selesai rutinitas mandinya Raisya kembali kekamar untuk mengeringkan rambutnya. Ketika membuka pintu kamar dia sedang melihat Kevin yang sedang fokus menatap layar di laptop. Ntah apa yang dikerjakan Raisya tidak mau mengganggunya. Di terus berjalan ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdry.
"Gimana kesiapan Kemah Lo besok?" Kevin membuka suara tanpa menoleh ke Raisya, matanya masih fokus pada layar yang ada didepannya.
"Udah diatur kok semuanya sama Ocha"
"Siapin keperluan Gue buat kemah juga yaa"
"Hmm.. iyaa"
Setelah dirasa rambutnya sudah kering Raisya beranjak dari tempatnya dan berjalan kepintu kamar. Namun lagi-lagi suara Kevin menahannya.
"Mau kemana?"
"Ya kedapur laah mau masak buat makan malam"
"Buatin Gue kopi sekalian yaa"
"Baiklah"
Raisya pun keluar kamar menuju dapur untuk memasak, soal masak Raisya bisa mengatasinya, karena Maminya selalu menyuruh kalau sedang tidak sibuk untuk membantu memasak, jadi ada sedikit ilmu dari Mami yang dia pelajari. Syukurlah masakannya bisa diterima oleh kevin.
Sambil memasak sambil membuatkan Kevin segelas kopi, setelah dia merasa masakannya bisa ditinggal sebentar ia mengantarkan kopi kekamar untuk Kevin.
"Vin ini kopi Lo" sambil meletakkan secangkir kopi di samping meja Kevin.
"Hmmm"
"Yaudah gak ada lagi kan? Gue mau lanjut masak"
Ketikat Raisya membalikkan badan hendak pergi tangannya di tarik secara tiba-tiba dan membuatnya kaget Kevin sudah berdiri dihadapannya sambil memegangi tangan Raisya.
Cup..
"Makasih" kata Kevin yang kemudian mengecup pipi Raisya.
Raisya yang mendapat perlakuan dadakan itu langsung membulatkan matanya. Kini pipi nya sudah mulai meronah merah, dia masih terdiam terpaku di hadapan Kevin.
"Kenapa muka Lo merah gitu? Baper yaa?!" Ledek Kevin sambil tersenyum.
"Pede banget Lo siapa juga yang baper sama Lo, tau ah! Mau balik kedapur ntar ayam Gue gosong!" Raisya langsung lari keluar kamar tanpa memperdulikan Kevin lagi.
Sekarang tak hanya wajahnya yang merah padam, hatinya pun ikut bergemuruh. Karena dia baru saja melihat Kevin tersenyum kepadanya, walaupun sedang dalam keadaan meledeknya. Hal yang langka bagi Raisya tentunya, sambil berjalan meninggalkan Kevin di kamar dengan terburu-buru dia membayangkan senyuman Kevin.
Astagaa ternyata itu anak bisa senyum juga yaa. Gak sapah liat kan Gue tadi? Halusinasi Gie aja kali yaa? Ah! Sudahlah!. Gumam Raisya dalam hati.
Kevin yang melihat tingakah Raisya hanya terkekeh geli menahan tawanya.
"Ternyata Lo kalo di godain ekspresinya lucu yaa. Gemesin tau" Kevin bermonolog sendiri setelah Raisya hilang dari balik pintu kamar, kemudian dia menyesap kopi buatan Raisya sambil melanjutkan kegiatannya.
Berbeda dengan sesorang yang berada didapur sedang membalik gorengannya. Jantungnya masih berpacu dengan kencang, nafasnya masih belum stabil, sesekali memukul pipinya agar sadar dan berharap kejadian tadi adapah sebuah mimpi. Tapi tentu saja yang tadi itu bukan mimpi.
"Main nyosor-nyosor ajasih kayak bebek, jantung Gue Ya Ampuuuun!!!!" Raisya berusaha menetralkan jantungnya dan kemudian melanjutkan kegiatan masaknya.
●
"Assalamualaikum warahmatullah..."
"Assalamualaikum warahmatullah.."
Mereka baru saja menyelesaikan sholat Isya berjamaah dengan Kevin menjadi Imam dan Raisya sebagai Makmum. Setelah menikah dengan Kevin dan tinggal berdua baru beberapa hari ini, Raisya mulai rajin mengerjakan sholat, tentu saja itu karena Kevin yang selalu menyuruhnya.
Setelah menyelesaikan ibadah, mereka makan malam bersama, suasana makan malam yang hening tak ada satupun dari mereka yang membuka percakapan. Setelah selesai dengan makan malam, Raisya mencuci piring seperti biasa lalu kembali kekamar untuk memeriksa jadwal buat esok hari. Dirasa jadwal besok sudah di siapkan, Raisya menyiapkan beberapa keperluannya dan Kevin untuk Kemah.
Raisya berjalan kelemari pakaian untuk mengambil beberapa stel baju yang wajib dibawa nanti, tak lupa untuk buju Kevin juga. Kevin masih berkutat dengan leptopnya di meja belajar. Setelah semua sudah beres, Raisya kekamar mandi untuk membasuh muka dan gosok gigi, lalu dia duduk didepan meja rias melakukan ritual malamnya sebelum tidur. Sedang asyik dengan ritualnya, tiba-tiba Kevin membuka suara.
"Syaa, ada yang mau Gue omongin lagi"
"Lo tuh kalo mau ngomong ya ngomong aja"
"Bisa gak kita pake Aku-Kamu aja?"
"Hah?"
"Iyaa, kita kan udah suami istri, gak enak gitu kalo masih Gue-Lo an"
"Ck! Gue mah udah biasa kayak gini, udah nyaman juga,Vin"
"Iyaa Aku juga sih, tapi kan sekarang beda Syaa"
"Gue usahain deh... ehh.. Maksudnya iya Aku biasain"
"Udah selesai? Yaudah yukk, kita tidur udah malem"
"Lo.. ehh.. Kamu deluan aja, bentar lagi Aku selesai kok"
Kevin berjalan menuju tempat tidur kemudian disusul dengan Raisya, seperti biasa Kevin akan memeluk Raisya. Raisya yang belum terbiasa dengan tindakan Kevin tak bisa berbuat apa-apa, mau protes juga percuma, dia terlalu malas berdebat dengan Kevin, tapi jantungnya ituloh yang gakbisa terkontrol kalau Kevin sudah sepertu ini.
"Vin, kamu tumben bisa baik sama Aku. Biasanya kamu jutekin Aku" kata Raisya yang berada dalam dekapan Kevin.
"Aku cuma mau ngejalanin pernikahan ini dengan normal Syaa, jadi Aku berusaha sebaik mungkin ke Kamu"
"Tapi gak cocok. Sumpah kayak bukan Kamu yang biasanya"
"Ya emang kenapa? Sekarang kan kita sudah menikah"
Raisya hanya terdiam mendengar jawaban dari Kevin.
Seserius ini Lo sama pernikahan kita? Batin Raisya.
Tak lama Kevin membelai rambut Raisya dan meyelipkan ke belakang telinga, Kevin memandangi wajah Raisya, yang dipandangi pun menatap balik namun penuh dengan kegugupan. Tiba-tiba mata Raisya terkunci ketika melihat sepasang manik milik Kevin, begitu teduh dan lembut, Raisya semakin gugup ketika Kevin menangkup pipi Raisya dengan kedua tangannya, lalu menciumi seluruh wajah Raisya, kening, hidung, dagu dan kedua pipi Raisya.
Dan saat itu juga jantung Raisya seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Dia masih memandang manik Kevin dengan wajah yang bersemu merah dan gugup.
"Vin, Kamu bisa gak sih gak kayak gini?"
"Emang kenapa?"
"Kamu gak kasian sama jantung Aku? Aku degdegan Vin!"
"Mulai baper yaa?"
"KEVIIIIIIN !!!!!!!"
Raisya yang di goda seperti itu spontan berteriak dan memukul dada Kevin berkali-kali, namun tidak ada efeknya sama sekali bagi Kevin.
"Sya udah malem! Gak malu apa teriak-teriak!"
"Habisnya Kamu sih gakbisa kondisikan!"
"Udah dinikmatin aja, Kamu harus terbiasa sama hal itu"
"Mau dibiasain kayak apa? Aku tuh malu jadinya"
Suara Raisya makin menciut dan dia sudah menundukkan kepalanya dalam dekapan Kevin. Kevin pun langsung membenamkan kepala Raisya dalam pelukannya.
"Udah udah ngapain juga malu sama Aku, Aku kan suami Kamu, Kamu istri Aku"
"KEVIIIIN!!!"
Suara rengekan Raisya dalam dekapan Kevin. Kevin yang mendengar suara manjanya Raisya jadi semakin gemas lalu mencium puncak kepala Raisya.
"KEVIIIIIIN...!!"
Lagi-lagi Raisya merengek dan itu membuat Kevin menahan tawanya lalu teraenyum simpul.
"Yaudah yaudah, tidur gih. Selamat tidur istriku" ucap Kevin dengan lembut.
Raisya hanya diam dalam dekapan Kevin sambil bedoa agar dia tidak cepat mati muda. Karena berada dekat dengan Kevin dan melihat perlakuan Kevin selama mereka menikah membuatnya seperti melakukan olahraga jantung, seakan habis lari maraton, membuat sekujur tubuhnya panas dingin tak karuan. Kadang seperti jantungnya akan meloncat keluar dari tempatnya.
Namun tak beberapa lama Raisya bisa mengendalian dirinya, ternyata usapan-usapan Kevin dipunggungnya mampu membuatnya tenang dan merasa nyaman. Dan akhirnya membawanya kealam mimpi dengan damai.
.
.
.
.
.
.
Haloo semua, terima kasih yang sudah mau membaca novel pertama aku 🙏
Jujur saja saya bukan penulis handal, saya hanya penulis amatiran yang sedang menyalurkan hobi.
**Oh yaa .. dari episode awal sampai episode 8 udah aku revisi yaa .. jadi mohon maap yang sebesar-besarnya bagi yang sudah baca novel aku kemarin. Dan ketika baca episode ini alurnya berasa amburadul.
Tapi semua episode sudah saya perbaiki .
Mohon dukungan dan saran nya yaa ..
Untuk jadwal up gak nentu, karena terkadang saya juga punya kesibukan**.
Sekali lagi terimakasih🙏 dan jangan lupa like koment follow dan jadikan favorite .