
BRAKK!!
Suara dobrakan pintu mengagetkan Raisya dan Kevin yang tengah berciuman, reflek keduanya melepaskan pangutan mereka. Kevinpun berdecak kesal, sedangkan Raisya menundukkan kepalanya malu.
“Upps!” ucap Leon yang muncul lebih dulu lalu ia terdorong masuk kedalam karena segerombolan orang dibelakangnya. Kevin hanya melengos malas.
“Raisyaaa!!” pekik Risa, Ocha, dan Rina bersamaan setelah berhasil menerobos Leon yang menghalang didepan pintu.
“Ini rumah sakit, mau Gue sumpelin itu mulut pake cabe!” saut Raisya yang heran dengan tingkah sahabatnya ini.
“Sya, Lo gak apa-apa kan? Lo sakit apa? Udah makan? Gue kangen banget,” tanya Risa bertubi-tubi.
“Kak Raisya sakit apasih? Kok mukanya masih pucet? Kak Kevin nakal ya?” sambung Rina.
“Lo kenapa, Beb? Kevin apain Lo sampai kayak gini?” saut Ocha.
Pertanyaan mereka bertiga hanya mendapat helaan nafas dari Raisya.
“Oh ya, ini Gue bawain makanan kesukaan Lo, batagor.” Ucap Risa lagi dengan menyodorkan sebungkus kantong plastik hitam yang dapat Raisya cium aroma batagornya.
“Makasih loh,” ucap Raisya dengan bibir tersenyum.
Sedangkan mereka yang laki-laki hanya menggelengkan kepala heran dengan keempat gadis itu. Kevin mengajak yang lainnya untuk duduk disofa yang ada didalam ruangan tersebut.
“Eh, pertanyaan Kita belum dijawab,” ucap Ocha. Lagi-lagi membuat Raisya menghela nafasnya.
Raisya pun menceritakan semua apa yang sempat Kevin jelaskan sebelumnya, dengan serius ketiga sahabat Raisya mendenggarkan cerita Raisya. Kevin dan yang lainnya pun ikut mendengarkan cerita Raisya karena jaraknya tidak terlalu jauh. Ketika mendengar Raisya keracunan, reflek ketiga gadis itu berteriak.
“APA?! Keracunan?” pekik Risa, Rina dan Ocha hampir bersamaan.
“Ish! Dengarin dulu makanya sampai habis!” ucap Raisya karena ceritanya dipotong.
“Jadi tuh, Gue keracunan obat karena obatnya sudah expaired! Alias kadaluarsa!” jelas Raisya mengakhiri ceritanya.
“Waa, parah Lo! Istri sendiri diracunin, mending buat Gue aja kalau gitu,” ucap Leon dengan menaik turunkan alisnya menjahili Kevin.
“Berani Lo, hem?” ucap Kevin dengan nada meremehkan. Tapi mode bercanda ya, hehehe
“Kevin! Kok bisa sih?” tanya Risa.
“Ya Gue kan gak tau, soalnya itu obat sama kayak yang Gue minum waktu Gue sakit,” bela Kevin.
“Hati-hati Lo, untung Raisya bisa tertolong,” tambah Bams.
“Ck! Iya iya, lain kali Gue hati-hati dan lebih teliti lagi,” jawab Kevin pasrah.
“Sudahlah, mungkin saat itu Kevin juga panik, makanya dia jadi teledor gitu,” ucap Reno.
“Lo teman Gue memang,” ucap Kevin yang senang saat Reno membelanya bukan ikit menyalahkannya.
“Mending kalian pulang sudah malem,” ucap Raisya bercanda seolah-olah mengusir mereka.
“Kita baru datang, udah diusir? Kebangetan Lo, Sya.” Saut Ocha kesal.
“Candaa, yaelah baperan!” balas Raisya menoel dagu Ocha, mereka pun kembali tertawa.
Mereka semua kembali berkumpul, dan hal inilah yang membuat Raisya bahagia. Tertawa dan bercandaria dengan mereka, membuat Raisya merasa lebih nyaman sekarang.
“Jadi, kapan Lo keluar dari rumah sakit?” tanya Gavin disela-sela canda mereka.”
“Besok sih kalau bisa,” jawab Raisya. Gavin hanya mangut-mangut paham begitupun yang lainnya.
“Kalau misalkan besok Lo sudah pulang, Kita gak bisa jemput Lo, tau sendiri sekarang ada pelajaran tambahan,” ucap Ocha.
“Ya gak apa-apa, kan lusa ketemu lagi,” jawab Raisya.
“Iya deh,” balas Ocha.
Malampun semakin larut, para sahabat Raisya pun berpamitan untuk kembali pulang kerunah masing-masing.
“Kita pulang ya,” ucap Risa.
“Iya, kalian hati-hati,” jawab Raisya.
Akhirnya ruangan rawat Raisya kembali sepi dan hanya ada Kevin dan Raisya. Kevin pun mengumpulkan sampah sisa cemilan mereka, lalu membuangnya ke tong sampah yang tersedia.
“Istirahatlah, jika besok Kamu mau pulang,” ucap Kevin seraya membantu Raisya merebahkan tubuhnya.
“Lalu, dimana Kamu akan tidur?” tanya Kevin.
“Disana,” tunjuk Kevin kearah sofa yang ada diruangan itu.
“Mamangnya tubuhmu muat?” tanya Raisya.
“Dimuat-muatin,” jawab Kevin terkekeh.
“Sini, tidur bersamaku diranjang ini,” perintah Raisya yang sudah menggeser sedikit tubuhnya agar cukup untuk Kevin tempati.
“Memangnya cukup, bedua?” tanya Kevin mengulang pertanyaan Raisya.
“Ya dicukup-cukupin,” jawab Raisya yang justru membuat mereka terkekeh bersama.
Kevinpun akhirnya naik keatas tempat tidur, ia membaringkan tubuhnya yang sudah cukup lelah. Lelah meladeni sahabat-sahabatnya bercanda tak karuan. Tapi hal itu juga membuatnya merasa lebih nyaman.
Raisya melingkarkan tangannya ketubuh Kevin yang sedang tidur terlentang.
“Vin, bagaimana jika kemarin Aku tidak tertolong?” tanya Raisya yang membuat Kevin tertegun.
“Jangan katakan itu!” ucap Kevin dengan suara tak bersahabat
“Aku hanya tanya, Vin!” cerca Raisya yang tak terima dengan jawaban Kevin.
Kevin menghela nafasnya kasar.
“Aku akan merasa bersalah seumur hidup, jika sesuatu terjadi padamu,” ucap Kevin.
“Baiklah, jangan menyalahkan diri sendiri,” ucap Raisya.
“Sudahlah, jangan membahas ini lagi. Melihatmu sekarang sudah sadar Aku begitu sangat bersyukur dan bahagia,” ucap Kevin yang kini membelai rambut Raisya.
“Kevin, peluk Aku,” ucap Raisya dengan manja. Dan Kevin pun langsung memeluk erat tubuh Raisya.
“Selamat tidur, suamiku,” ucap Raisya mencium sekilas bibir Kevin.
“Selamat tidur juga, sayang. Jangan lupa untuk baca doa,” balas Kevib mencium seluruh wajah Raisya tanpa celah.
Raisya hanya terkikik geli, menahan rasa geli saat Kevin mencium seluruh wajahnya.
Dua manusia yang ditakdirkan bersama, saling melengkapi satu sama lain. Kini, mereka menikmati alam mimpi yang begitu indah.
**
Paginya, sinar matahari yang menembus dari celah jendela, serta suara decitan burung-burung menyapa dua manusia yang sedang terlelap ditemani alam mimpi. Memaksa salah satu dari mereka membuka mata, mengerjapkan ketika cahaya membiasi indera penglihatannya.
Kevin, ia bangun lebih dulu. Dan pemandangan pertama yang dilihat adalah wajah lelap istrinya, Raisya. Terukir sebuah senyuman dibibir Kevin, menuntun tangannya untuk merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Raisya. Kevin mengecup lembut kening Raisya, lalu bangun dari tempat tidur itu.
Ceklek!
Suara pintu terbuka, dan masuklah dua orang yang tak lain adalah Ayah dan Bunda Kevin.
“Masih terlalu pagi, Bun.” Ucap Kevin pada Bunda.
“Tidak masalah, Bunda hanya ingin menemaninya,” jawab Bunda Kevin.
“Baiklah, terserah Bunda saja. Kevin mau mandi,” ucap Kevin berlalu dan Melangkahkan kaki kearah kamar mandi.
“Ya, mandilah sana,” perintah Bunda.
Kevinpun masuk kedalam kamar mandi, sedaangkan Ayah Kevin seperti biasa hanya mengantar istrinya ini kerumah sakit, lalu pergi lagi untuk kekantor.
“Kevin sedang mandi” saut Bunda yang melihat menantunya itu bangun dan seperti mencari sesuatu.
“Eh, Bunda.” Ucap Raisya merasa malu kepergok oleh Bunda Kevin.
“Gimana keadaan Kamu? Sudah enakan?” tanya Bunda uang kini berdiri sisamping tempat tidur.
“Iya, Bun.” Jawah Raisya.
Ceklek!
“Permisi?,” ucap seseorang yang masuk membawakan nampan berisi makanan untuk Raisya.
Ya, seperti biasanya, selama Raisya sadar dari pingsannya kemarin, pihak rumah sakit selalu mengantarkannya makanan. Seperti pagi ini, perawat membawakannya sarapan pagi berupa roti bakar dan segelas susu.
“Terimakasih, sus.” Ucap Bunda Kevin yang mengambil alih nampan tersebut. Perawat itupun berlalu meninggalkan ruangan.
“Nih, sarapan dari rumah sakit,” ucap Bunda.
“Iya, Bun. Taruh saja dulu,” ucap Raisya.
Tak lama Kevin keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah jauh lebih segar.
“Kamu sudah bangun, sayang,” ucap Kevin.
“Iya, baru saja,” jawab Raisya.
Dokter Galih dan beberapa perawat masuk untuk mengecek keadaan Raisya seperti biasa.
“Bagaimana, Raisya? Apa ada keluhan?” tanya dokter Galih ketika ia mulai memeriksa Raisya.
“Alhamdulilah tidak ada, dok.” Jawab Raisya.
“Baiklah, setelah kantong infus ini habis, kalian panggil lagi perawat. Dan sudah bisa pulang,” ucap dokter Galih membuat Raisya dan yang lainnya merasa senang.
“Baiklah, dokter.” Ucap Raisya dengan tersenyum.
Dokter Galih dan beberapa perawat lainnya pun keluar dari ruangan Raisya.
“Yeay! Akhirnya bisa pulang hari ini,” ucap Raisya bersorak gembira.
“Iya, sayang. Sekarang makanlah sarapanmu, Kevin juga, Bunda sudah bawakan kalian sarapan.” Ucap Bunda.
Mereka bertiga pun kini sedang menikmati sarapan dengan lahap.
**
Jam sudah menunjukkan angka 10.25 am. Raisya yang sudah bisa beraktifitas kembali sedang memainkan ponsel Kevin diatas tempat tidur rumah sakit. Sedangkan Bunda Kevin sedang mengupas apel.
“Sayang udah ya, main ponselnya.” Tegur Kevin ingin mengambil ponselnya dari Raisya.
“Sebentar,” cegah Raisya yang sedang asyik bermain ular-ularan yang sekarang lagi viral.
Tiba-tiba, ponsel Kevin berdering bertanda ada panggilan masuk dari Leon.
“Ck! Nih orang ganggu amet dah,” omel Raisya lalu mengangkat panggilan dari Leon tanpa ragu.
“Halo, Lee.” Sapa Raisya.
“…”
“Iya lah, memangnya Lo kira siapa?”
“…”
“Kenapa?”
“…”
“Ouh, yaudah tunggu.” Ucap Raisya lalu memberikan ponsel itu pada Kevin karena Leon ingin berbicara padanya.
Kevin pun menyambut ponsel yang diberikan Raisya dan mulai berbicara dengan Leon sedikit jauh dari Raisya.
“Ck! Ngomongin apa sih?” ucap Raisya sedikit kesal saat Kevin menjauh.
“Bunda, mau.” Ucap Raisya yang kini beralih melihat Bunda Kevin yang sedang mengupas buah apel.
“Ini, sayang.” Ucapa Bunda seraya memberikan beberapa potong apel yang ada didalam piring kecil.
Raisya pun menerimanya dan tanpa ragu langsung memakannya. Bunda Kevin hanya tersenyum hangat pada Raisya.
**
Disekolah,
“Gimana?” tanya Gavin.
“Aman! Gue sudah dapat kode apartemant mereka, cuss lah!” ucap Leon dengan bangga.
Mereka berencana untuk memberikan kejutan pada Raisya, yang akan pulang dari rumah sakit hari ini. Kebetulan hari ini sekolah memulangkan semua muridnya lebih awal, bahkas sejam setelah istirahat. Karena ada suatu hal yang guru mereka lakukan. Tentu saja semua murid sangat gembira.
Leon dan yang lainnya pun pulang kerumah untuk mengganti pakaian terlebih dahulu, lalu pergi keapartemant Raisya dan Kevin untuk memberi kejutan.
**
Kembali kerumah sakit,
Setelah Kevin selesai berbicara pada Leon malalui sambungan telpon, Kevin kembali menghampiri Raisya yang sedang menikmati buah apel besama Bunda.
“Leon kenapa?” tanya Raisya.
“Bukan apa-apa, hanya menanyakan tentang tugas osis saja,” ucap Kevin berkilah.
“Kenapa harus Kamu? Terus untuk apa Leon menanyakan itu lagi? Kalian kan sudah bukan anggota osis” ucap Raisya.
Kevin menghela nafasnya, memang sedikit sulit kalau ingin mengelabui Raisya.
“Entahlah, mungkin karena anggota yang baru,” ucap Kevin.
“Sudah, gak usah dipikirn, hanya hal kecil.” Sambung Kevin lagi mengalihkan topik pembicaraan.
Raisya hanya melengos malas.
**
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca 🙏❤❤
Jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTAR yaa ❤❤🙏😘😘