
“Halo, Vin. Kalian dimana? Masih lama?” kini Rayes yang berbicara dengan Kevin melalui sambungan telpon.
“Anu Bang,” ucap Kevin dengan gugup.
“Anu apa?” tanya Rayes.
“Raisya masuk rumah sakit, Bang” jawab Kevin memberanikan diri dengan perasaan was-was.
“APA!!” teriak Rayes dari seberang telepon membuat Kevin reflek menjauhkan ponselnya dari telinganya.
“Iya, Bang. Raisya masuk rumah sakit,” ucap Kevin lagi.
“Rumah sakit mana?” tanya Rayes tanpa basa-basi yang kini suaranya sudah merendah.
“Rumah sakit biasa Bang, Medical City” jawab Kevin.
“Tunggu disana, Kami akan menyusul!” ucap Rayes lalu mematikan sambungan secara sepihak.
“Huh! Sudahlah,” keluh Kevin saat sambungan telponnya sudah terputus.
Kevin pun berdiri dari kursinya lalu melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Raisya di rawat.
Sedangkan Rayes dan Vita pergi dari apartement Raisya dan Kevin menuju kerumah sakit.
**
Kevin masih setia duduk disebelah tempat tidur Raisya yang masih belum juga sadar, ia terus menggenggam tangan Raisya erat dan memciumnya. Memandangi wajah Raisya yang begitu pucat pasi dan terlelap damai dalam tidurnya.
Ceklek!
Suara pintu terdengar membuat Kevin reflek menoleh kearah sumber suara. Rayes dan Vita datang menghampiri.
“Ya ampun, Raisya kenapa?” ucap Vita yang langsung menghampiri Raisya dan mengelus lembut kepala Raisya.
“Dia hanya kecapean, Mba” jawab Kevin.
“Tapi kenapa harus pakai alat bantu pernafasan?” tanya Rayes penasaran.
“Itu, Raisya keracunan obat Bang,” jawab Kevin.
Rayes dan Vita membelakkan matanya karena terkejut, bagaimana bisa Raisya keracunan obat. Rayes pun menatap Kevin dengan menyelidik.
“Kamu tidak mengkonsumsi obatan terlarang kan?” tanya Rayes yang sudah memicingkan kedua matanya.
“Tentu saja tidak!” jawab Kevin dengan cepat.
“Aku tidak sengaja memberikannya obat yang ternyata sudah kadaluarsa, karena tadi pagi Raisya demam. Dan aku memberikannya obat penurun oanas yang ternyata sudah kadaluarsa, Aku memang bodoh Bang!” sambung Kevin dengan suara lirih.
Rayes yang mendengarkan hanya menghela nafasnya.
“Lalu apa kata dokter?” tanya Rayes.
“Dokter belum tau kapan Raisya akan sadar, karena tubuhnya sangat lemah” jawab Kevin dengan wajah kusutnya.
“Kasian sekali Aunty mu, Nak” ucap Vita sambil mengelus-ngelus perutnya yang terlihat sedikit buncit.
“Bang, maafkan Kevin tidak bisa menjaga Raisya dengan baik,” ucap Kevin lirih.
“Tidak apa-apa. Lain kali Kamu jangan sampai teledor lagi seperti ini, untungnya Raisya masih bisa tertolong” ucap Rayes.
“Kita berdoa saja untuk Raisya” lanjut Rayes mencoba menenangkan Kevin.
Rayes tau kalau Kevin pasti merasa sangat bersalah, terlihat dari raut wajahnya yang begitu suram. Rayes pun memandangi Raisya yang masih setia menutup matanya, Rayes lagi-lagi hanya bisa menghembuskan nafasnya.
Dirinya juga merasa bersalah, karena kurang mengawasi Raisya. Padahal Rayes sudah berjanji akan selalu menjaga Raisya, adik kesayangannya dan satu-satunya.
Krucukk!
Tanpa permisi suara yang berasal dari peurut Kevin berbunyi dan lumanyan terdengar karena ruangan ini begitu hening. Vita menahan tawanya membuat Kevin semakin merasa malu, Kevin hanya menggaruk kepala yang sebennarnya tidak gatal.
“Kau dengar debay? Uncle mu kelaparan” ucap Vita pada perutnya itu sambil terkekeh geli.
“Tunggulah disini, Aku akan membelikan makanan” ucap Rayes yang ingin segera keluar dari ruangan itu.
“Jangan repot-repot Bang, biar Kevin saja yang membelinya sendiri” saut Kevin yang membuat langkah kaki Rayes berhenti.
“Tidak apa-apa, Kau disini saja bersama Vita, sayang Aku tinggal dulu ya, Kamu mau makan apa ?” ucap Rayes seraya bertanya pada istrinya yang duduk disamping tempat tidur.
“Apa saja deh. Ah iya, Aku sepertinya ingin makan rujak buah” jawab Vita dengan semangat.
“Baiklah,” ucap Rayes dan ia pun keluar dari ruangan Raisya.
Setelah kepergian Rayes untuk membeli makanan, masuklah seorang perawat untuk memeriksa keadaan Raisya. Kevin dan Vita pun mempersilahkannya, dengan telaten perawat itu memeriksa sambil mencatat sesuatu pada lembaran kertas yang ia pegang.
“Baiklah terimakasih, kalau pasien sudah sadar segera langsung hubungi dokter lewat bel darurat ini” ucap perawat itu yang sudah selesai memeriksa keadaan Raisya.
“Baiklah suster, terimakasih banyak,” balas Kevin. Perawat itupun keluar dari ruangan Raisya.
**
Keesokkan harinya, Kevin masih setia menunggui Raisya dirumah sakit. Seharusnya hari ini mereka sekolah, tapi karena keadaan Raisya, Kevin tidak ingin meninggalkannya. Semalam ia ditemani Rayes dan juga Vita, namun karena hari semakin larut, merekapun kembali pulang.
Kevin terbangun dari tidurnya, semalaman terbaring diatas sofa yang ada diruangan Raisya membuat tubuhnya terasa pegal. Karena sofa itu terlalu kecil untuk digunakan sebagai tempat tidur. Alhasil badan Kevinlah yang kini merasa sangat pegal. Kevin tak berencana menghubungi para sahabatnya saat ini, ia hanya membiarkannya. Kevin berjalan kekamar mandi yang tersedia didalam ruangan itu, ia hanya berniat mencuci muka karena ia tidak membawa selembar baju apapun. Setelah dirasa cukup merasa segar, Kevin kembali duduk di sebelah ranjang Raisya.
“Selamat pagi, istriku” ucap Kevin lalu mencium kening Raisya.
Dokter jaga pagi pun masuk keruangan Raisya untuk kembali memeriksa keadaan Raisya. Setelah selesai dokter itupun keluar dari ruangan. Tiba-tiba, pintu ruangan kembali terbuka. Dan masuklah dua orang yang tak lain adalah Ayah dan Bunda Kevin, semalam saat Rayes dan Vita pulang, Kevin baru saja teringat untuk menguhubungi orang tuanya.
“Assalamualaikum” ucap Ayah dan Bunda bersamaan.
“Bagaimana keadaannya, nak?” tanya Bunda yang memang sempat mengetahui perihal Raisya keracunan, karena saat Kevin memberi kabar dan menceritakan semuanya lewat sambungan telpon.
“Keadaannya masih sangat lemah, makanya Raisya belum sadarkan diri” jawab Kevin, Ayah dan Bunda hanya menganggukkan kepalanya.
“Kamu tidak kesekolah? Biar Bunda saja yang menemani Raisya hari ini” ucal Bunda.
“Tidak, Bun. Kevin tidak mau keninggalkan Raisya dalam keadaan seperti ini” jawab Kevin.
“Baiklah kalau Kamu mau seperti itu, nanti Ayah akan hubungi pihak sekolah kalian” ucap Ayah Kevin.
“Ini, Bunda bawakan makanan sama baju ganti untuk Kamu” ucap Bunda sambil menaruh beberapa tas bawaan yang mereka bawa.
“Iya, Bun. Terimakasih” jawab Kevin seraya mengambil tas bawaan yang berisikan baju gantinya, karena berniat ingin mandi membersihkan diri.
“Ayah kekantor dulu ya,” ucap Ayah Kevin ingin berpamitan.
“Ayah hati-hati ya,” ucap Bunda Kevin.
Setelah itu Ayah Kevinpun keluar pergi dari ruangan Raisya, tinggallah Kevin dan Bundanya yang menemani Raisya.
“Kevin mandi dulu ya Bun,” ucap Kevin ingin mandi dan diangguki oleh Bunda.
Setelah beberapa menit Kevin pun sudah kembali segar karena sudah mandi dan barganti baju, tidak seperti kemarin penampilannya mungkin sangat kusut akibat sempat frustasy dengan keadaan Raisya.
Kevin hari ini ditemani oleh Bunda, sembari menjaga Raisya, dan tak lama Vitapun juga datang kerumah sakit diantar oleh Rayes, karena Rayes akan kekantor juga untuk bekerja.
**
Disekolah,
Kini jam istirahat pertama sedang berlangsung, semua murid SMA PATRA DHARMA berhamburan menuju kantin sekolah, begitupun semua sahabat Raisya. Dikelas Raisya, Risa merasa sangat cemas kenapa kedua sahabatnya itu tidak hadir kesekolah tanpa kabar hari ini.
“Raisya sama Kevin kemana ya? Kok perasaan Aku jadi gak enak gini,” ucap Risa yang memang mudah cemas apa lagi kepada sahabatnya.
“Jangan cemas, mereka mungkin saja sedang ada urusan” ucap Reno mencoba menenangkan kekasihnya itu.
Risa dan Reno memang sedang baik-baik saja untuk saat ini.
Tak lama Gavin dan yang lainnya menyusul Risa dan Reno dikelas.
“Jadi Raisya juga gak masuk sekolah? Gue pikir hanya Kevin saja makanya Gue kesini mau nanya,” ucap Gavin yang melihat bangku sebelah Risa kosong.
“Iya,” jawab Reno.
“Lee, masa Lo gak tau sih mereka kenapa?” tanya Risa dengan cemas pada Leon.
“Mana Gue tau, emang Gue emaknya” jawab Leon asal. Masih sempat saja anak itu bercanda.
Leon pun malah mendapat jitakan dari Ocha.
“Kebiasaan Lo Lee!” celetuk Ocha.
“Sudah, Kak Risa jangan cemas gini donk, kan nanti yang lain jadi ikut cemas” bujuk Rina.
Masalah Rina dengan Risa memang sudah tidak apa-apa, karena ia melihat Reno dan Risa baik-baik saja.
“Tapi perasaan Gue memang gak enak tentang Raisya,” keluh Risa.
“Yaudah Kita coba hubungin salah satunya dulu” saran Bams.
Leon menghubungi nomer Raisya, sedangkan Bams menghubungi Kevin. Leon tidak mendapatkan jawaban, karena nomer Raisya tidak aktif, begitupun dengan Bams. Semakin bertambah cemaslah Risa.
“Tuh kan nomer mereka aja gak ada yang aktif, pasti ada apa-apa deh,” keluh Risa lagi.
“Duh, Ris. Jangan cemasan gini donk, Gue kan jadi takut” ucap Ocha yang sudah memeluk Risa.
“Yaudah pulang sekolah kita keapartement mereka aja” ucap Gavin memberi usulan, dan semuanya pun hanya mengangguk setuju.
Mereka semua pun berjalan keluar kelas, menuju kantin karena masih ada waktu istirahat untuk mereka mengisi perut yang memang keroncongan cemas karena dua sahabat mereka tidak bisa dihubungi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mau mampir untuk membaca cerita gaje Author, wkwkw
Semoga kalian suka ya ❤
Jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTARNYA 😂
TERIMAKASIH 🙏❤ SALANGEO ❤❤❤