My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Truth Or Dare



Jam pulang sekolah telah tiba, sesuai dengan rencana mereka tadi pagi, hari ini akan mampir ke apertement Raisya dan Kevin. Semua siswa berhamburan keluar kelas, Raisya, Risa dan Reno bersamaan keluar dari kelasnya namun langkah mereka berhenti karena seseorang telah menghalangi mereka. Dan orang itu adalah Jovan, siswa baru yang siang tadi telah membuang waktu istirahat Raisya dan mencium pipinya sembarangan.


“Mau apa lagi?” tanya Raiya sinis.


“Mau minta maaf, Kak” jawab Jovan yang tak berani menatap Raisya karena ia sudah mendengar tentang Raisya dari teman-temannya.


Lihat saja, bahkan laki-laki saja takut dengan Raisya.


“Iya, Gue maafin” alas Raisya malas lalu kendorong pundak Jovan agar menjauh dari hadapannya karena Jovan menghalanginya.


“Tapi bisa kan terima coklat ini, setidaknya sebagai permintaan maaf,” ucap Jovan.


Raisya melirik coklat yang ada dihadapannya, itu bukan coklat yang tadi siang. Raisya pun menimang-nimang menerima atau tidak. Kalau dipikir-pikir enak juga jam segini makan coklat, tapi ia ragu dengan ketulusa Jovan.


“Hanya permintaan maaf? Gak ada yang lain?” tanya Raisya.


“Iya, maaf sudah mencium sembarangan” jawa Jovan.


“Okelah, Gue terima. Makasih,” ucap Raisya dan mengambil coklat itu, lalu pergi dari sana diikuti kedua sahabat cople nya.


Jovan merasa legah, akhirnya ia tidak akan berurusan dengan yang namanya Raisya dan teman-temannya. Untuk urusah cinta nya ditolak, ia tak masalah. Masih banyak yang lain, pikirnya.


Dikoridor dekat parkiran mereka semua kini telah berkumpul.


“Gue aja sama yang cewek-cewek pergi belanja, kalian ikut Kevin aja tunggu di apartement” ucap Raisya.


“Kamu yakin gak mau ditemanin?” tanya Kevin.


“Iya, gak apa-apa. Lagian juga kalian sampai apertement bantuin Kevin bersih-bersih! Awas aja kalau enggak, gak bakalan Gue kasih makan!” ancam Raisya namun setelahnya tertawa.


“Siap Incess,” jawab mereka semua serempak sambil memberikan hormat seperti tentara yang akan diberikan tugas oleh jendralnya.


Raisya pun menumpang dimobil Ocha, bersama Rina dan Risa. Karena biasanya Risa dan Rina satu mobil dengan Reno, karena arah rumah mereka sejalan.


Mereka berempat pun satu mobil, sedangkan kan yang lainnya membawa kendaraan mereka masing-masing. Mereka sama-sama keluar dari gerbang sekolah, dan saat dipersimpangan mereka berbeda arah karena Raisya ingin kesupermarket yang ada didalam Moll, dengan alasan disana lebih lengkap. Mobil Ocha pun mengarah sesuai dengan intruksi Raisya.


**


Sekitar 25 menit mereka sampai di sebuah Moll yang sangat besar, langsung saja mereka masuk dan mencari tempat tujuan. Namun, saat melewati toko aksesoris Rina meminta untuk ditemani sebentar, karena ada barang yang menarik perhatiannya.


Mereka berempat pun masuk kedalam toko yang menjual aksesoris itu, dan mulai melihat-lihat apa saja yang menarik perhatian mereka, sangking asyik nya mereka sempat lupa dengan tujuan utama ke Moll ini.


Ya begitualah kalau Raisya dan sahabat-sahabatnya sudah menginjakkan kaki mereka didalam Moll. Sampai akhirnya bunyi ponsel Raisya berdering sangat nyaring.


“Halo ada apa, Vin?” tanya Raisya.


“Kalian dimana sih? Katanya kesupermarket, emang banyak banget ya belanjaannya? Udah hampir dua jam loh Kita nunggu kalian” jawab seseorang diseberang telpon yang tak lain adalah Kevin.


Raisya pun reflek melirik jam yang terpasang di tangan cantiknya. Dan seketika itu ia menepuk keningnya karena melupakan sesuatu.


“Astaga, Aku lupa, hehehe,” jawab Raosya disertai cengiran kudanya membuat Kevin berdecak dari seberang telpon.


“Gini nih, kalau belanja sendiri apalagi ke Moll Kamu suka lupa diri. Ditambah sama sahabat Kamu yang sehobbi” keluh Kevin, dan bukannya merasa takut Raisya malah nyengir lagi.


“Iya iya, maaf” ucap Raisya.


“Kita kelaparan, Sya disini. Anak-anak maunya makan masakan Kamu,” ucap Kevin.


(Berasa udah kayak seorang Ibu yang nelantari anak dan suaminya, wwkwkw)


“Go food kan bisa, ini udah disupermarketnya kok” kilah Raisya, padahal ia masih memilih-milih beberapa barang yang akan ia beli karena tertarik.


Gak niat bohong kok, hanya supaya Kevin gak terlalu khawatir dan legah. Hehehe,


“Yaudah kalau gitu, nanti pulangnya hati-hati yaa,” saut Kevin.


“Iya, yaudah Aku mau lanjut belanjanya lagi, Bhay!” ucap Raisya lalu mematikan telponnya.


Panggilan pun terputus, Raisya langsung mengampiri ketiga sahabatnya.


“Ayuk buruan, Kita kesupermarket udah di tungguin” ucap Raisya.


“Astaga, iya Gue lupa tujuan Kita kesini apaan” jawab Ocha yang juga menepuk keningnya.


“Yaudah bayar dulu terus kesupermarket” ucap Risa.


Merekapun langsung membayar barang yang dibeli, setelah itu mereka langsung menuju supermarket yang ada dilantai atas. Saat tiba disana pun mereka langsung mengambil trolly.


Dengan semangat Ocha mengambil bahan makanan yang akan dimasak oleh Raisya. Karena bahan makanan dirumah benar-benar kosong, begitu banyak Raisya mengambil bahan makanan yang bisa di stok. Untung saja antrian tidak panjang, jadi setelah mereka selesai belanja selama 30 menit, Raisya langsung kekasir membayar semua belanjaan hari ini. Masing-masing dari mereka membawa sebuah kantong belanjaan, karena bnyaknya belanjaan mereka. Padahal biasanya, Raisya hanya dua kantong besar belanjaan.


Dan kini mereka sudah didalam mobil menembus jalanan yang untungnya tidak macet.


**


20 menit akhirnya mereka sampai di apertement Raisya, langsung menuju lift dan menuju pintu dimana Raisya dan Kevin tinggal.


“Assalamualaikum” ucap Raisya hampir bersamaan dengan yang lain.


“Walaikumsalam” terdengar jawaban dari dalam.


Mereka pun masuk dan menuju kedapur, dan saat melewati ruang tengah betapa berantakannya ruangan itu.


“Kaliaan!!” omel Raisya.


“Kan Aku suruh Kamu bersih-bersih kenapa tambah berantakan!” omel Raisya lagi.


Bungkus makanan berserakan, baju seragam di taruh di sandaran sofa sembarangan, minuman kaleng berantakan, bahkan makanan ringan berupa kacang-kacangan pun berhamburan di lantai. Sedangkan para pelakunya bersantai ria memainkan sebuah game dari playstation milik Kevin.


“Tadi sudah bersih-bersih, tapi kita laper jadi sesuai saran Kamu pake Go Food dulu, hehehe” jawab Kevin dengan wajah tanpa dosa. Sedangkan Leon, Gavin, Reno dan Bams hanya nyengir kuda.


Raisya hanya menghela nafas geram, memang ini bukan untuk pertama kali bagi mereka membuat seisi apertement Raisya bagaikan kapal pecah. Beginilah akibatnya kalau ditinggal oleh para laki-laki ini.


“Gak mau tau! Pokoknya ini harus bersih lagi! Kalau enggak, Kamu tidur aja di sofa ini!” perintah sekaligus ancaman Raisya ucapkan sambil menunjuk sofa yang ada di ruang tengah ini.


Kevin langsung kicep, ia tidak mau jika harus tidur diluar. Mau tidak mau mereka pun membersihkan ruang tengah itu. Sedangkan Raisya dan ketiga sahabat perenpuannya kedapur menaruh belanjaannya lalu membiarkan Raisya berkutat didapur karena Raisya sendiri yang memintanya. Rraisya tidak akan membiarkan dapurnya pecah berantakan, cukup ruang tengah saja. Pernah sekali Ocha membantunya, bukan membantu tapi malah membuat Raisya harus bekerja dua kali karena kue yang ia buat, dibikin gosong oleh Ocha.


Setelah ruang tengah bersih kembali, Risa membawa nampan berisikan jus yang ia buay tanpa mengganggu Raisya memasak. Memang kalau Risa tak masalah bagi Raisya mengutak atik dapurnya, tapi tidak dengan Ocha dan Rina. Mereka kadang membuat onar. Tapi terkadang hal itulah yang membuatnya merasa bahagia juga.


Sekitar kurang dari satu jam masakan Raisya sudah jadi, Raisya memasak berbagai macam makanan. Ada ayam goreng geprek, tempe tahu bacem, sayur asem, kol goreng, lalapan, dan tak lupa sambal terasinya.


(Jadi laper Author, wkwkw 😋😂 )


Raisya pun memanggil semua orang.


“Wiih, masakannya Incess nih, kangen Gue!” ucap Leon.


“Kangen makan gratis kan, Lee” saut Ocha.


“Itu pasti” balas Leon dengan cengiran khasnya.


Mereka semua menikmati makanan seserhana yang Raisya buat. Ada perasaan senang karena semua sahabatnya itu menyukai masakannya.


**


Waktu begitu cepat, karena memang jika mereka ada di apertement Raisya seakan lupa waktu. Kini jam sudah menunjukkan angka 08.15 pm, tapi mereka masih asyik tertawa bersenda gurau.


“Kita main truth or dare gimana? Mau gak?” ajak Gavin.


“Gak! Gue gak mau lagi!” jawab Raisya menolak mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


“Disini kan Cuma ada Kita doank gak ada orang lain, emang Lo gak mau nanya sesutu gitu sama Kevin?” bujuk Gavin.


“Dia itu Cuma anggep ini games, siapa yang tau dia berbohong” bela Raisya tetap menolak.


“Jadi Kamu meragukan kejujuran Aku?” saut Kevin tiba-tiba.


“Ck!! Bukan gitu, habisnya kemarin Kamu gitu, anggep nya cuma games” jawab Raisya.


“Yaudah Kita main, kali ini beneran jujur” ucap Kevin. Yang lainnya pun mengiyakan.


“Yakin?” tanya Raisya tidak percaya.


“Iya!” jawab Kevin.


Mereka pun mulai bermain duduk mengelilingi meja bundar yang baru saja Kevin ambil, dengan sebuah botol yang diletakkan dibtengah untuk diputar.


“Siapa yang mau lebih dulu kasih pertanyaan?” tanya Gavin.


“Gue deeh,” ucap Raisya semangat karena ia berharap botol itu akan berhenti tepat didepan Kevin.


“Oke! Lo sendiri yang muterin” ucap Gavin.


Raisya pun memutar botol itu, awalnya sangat botol itu berputar sangat kencang namun lama-kelamaan semakin pelan, semakin pelan, dan akhirnya berhenti. Namun tak sesuai harapan Raisya boto itu malah berhenti di hadapan Leon sahabatnya.


“Truth” jawab Leon.


Raisya nampak memikirkan seauatu.


“Tunggu dulu” cegah Gavin, semuanya pun menatap Gavin seolah bertanya kenapa.


“Ayam goreng geprek sama boncabe Lo masih ada kan?” tanya Gavin.


“Masih ada, Lo laper?” ucap Raisya.


“Yang gak bisa jawab pertanyaan dalam waktu sepuluh detik dia harus makan sepotong ayam geprek pake boncabe level 50 nya Raisya” jelas Gavin.


“Gue setuju! Ntar Gue ambilin!” jawab Raisya tanpa basa-basi langsung beranjak kedapur mengambil apa yang Gavin suruh.


Dan kini sudah tersedia ayam gepreknya Raisya beserta boncabenya. Membuat Leon, Bams, dan Risa yang memang tidak terlalu suka pedas bergidik ngeri.


“Oke ! Dilanjut kasih Leon pertanyaan” ucap Gavin.


“Lo belum bisa move on dari Gue kan? Jujur!” tanya Raisya.


“Gue udah bisa move on dari Lo” jawab Leon dengan mantap. Ia tidak mau jika harus memakan makanan pedas itu.


“Yakin?” tanya Raisya kerena ragu.


“Yakin!” jawab Leon dengan tegas. Raisya hanya pasrah.


Kini Leon yang memutar botol itu dan berhenti di hadapan Reno.


“Mau nitip pertanyaan gak, Ris. Mumpung baik?” tawar Leon, Risa hanya menggeleng kan kepala. Niat ikut pun tidak ada, ia hanya menonton saja sambil memakan cemilan yang Raisya buat.


“Pernah gerepe Risa kan Lo?” tanya Leon.


Sepuluh..


Sembilan..


Delapan..


Tujuh..


Enam..


“Pernah!” jawab Reno.


Blush!


Pipi Risa langsung memerah padam menahan malu, bisa-bisanya mereka membahas hal seperti ini, untung tidak ada anak dibawah umur.


Leon pun tertawa penuh kemenangan.


“Kak Reno ya, nackal! Aku kasih tau Daddy nanti!” ucap Risa bercanda. Namun malah mendapatkan jitakan dari Kakaknya.


Permainan berlanjut, Reno memutar botol dan berhenti di hadapan Ocha.


“Dare deeh,” ucap Ocha langsung.


“Cium Leon sekarang!” ucap Reno.


“Apa-apaan!” ucap Ocha sedikit berteriak.


Sepuluh..


Sembilan..


Delapan..


Tujuh..


Enam…


Lima…


Cup!


Ocha dengan terpaksa mencium pipi Leon dengan cepat.


“PUAS!!” geram Ocha karena berhasil dijahili.


“Sini Gue lagi yang muter” Ocha pun memutar botol itu dan berhenti di depan Bams.


“Gue dare donk” ucap Bams dengan percaya diri.


“Pake lipstik Gue sampe pulang dari disini” ucap Ocha dengan santai membuat yang lainnya tertawa.


“Leon enak dapat ciuman, lah Gue? Boro-boro dapet, mau nyium malah disuruh pakai lipstik!” keluh Bams dengan wajah pasrah membuat yang lainnya semakin tertawa lepas.


Ocha dengan senang hati memakaikan lipstik di bibir Bams.


Botol kembali berputar dan berehenti di hadapan Gavin.


“Truth!” jawab Gavin.


“Lo punya perasaan gak sama Rina?” tanya Bams penasaran.


Rina yang mendengar itu langsung menajamkan pendengarannya.


“Punya!” jawab Gavin singkat.


“Perasaan seorang Kakak ke Adiknya, Rina mirip banget sifatnya kayak Adik Gue” lanjutnya lagi sambil mengusap rambut Rina dengan lembut.


Perasaan yang awalnya seperti diterbangkan kelangit ketujuh melayang bebas diudara, lalu dihempas kan terjun bebas kembali kebumi, itulah yang Rina rasakan. Namun ia berusaha menyembunyikan rasa kecewanya dengan tersenyum. Sedangkan yang lain hanya meringis.


“Iya donk, kan sekarang Kak Gavin Kakak Aku juga,” ucap Rina mencoba mencairkan suasana, terutama suasana hatinya.


Rina memutar botol nya dan kini tepat berhenti di hadapan Kevin.


"Truth" jawab Kevin.


“Kak Kevin pasti pernah ngabayangin Kak Raisya telanjang?” ucap Rina asal membuat ia mendapatkan pelototan dari semua orang kecuali Leon yang malah tertawa.


Sepuluh..


Sembilan..


Delapan..


“Pernah!” jawab Kevin singkat.


“Keviin !!” teriak Raisya malu, dan yang lain tertawa.


“Rina ya, nackal!” ucap Gavin menirukan suara Rina saat menegur Kakaknya Reno sambil kencubit gemash pipi Rina.


Rina hanya nyengir tanpa dosa, padahal ia hanya sembarang bertanya saja, tapi tidak disangka dengan jawaban Kevin.


**


Permainan pun berakhir dan kunjungan mereka pun berakhir. Semua sahabat Raisya bepamitan untuk pulang dengan sesekali masih mengejek satu sama lain akibat games konyol yang beberapa menit lalu mereka mainkan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kalau kepanjangan maaf yaa, wkwkw


Jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTARNYA ❤😘


TERIMAKASIH 🙏❤😘