
Pagi menyapa semua penghuni resort milik keluarga Kevin, tak terkecuali pasutri yang masih setia berpelukan dalam satu selimut. Kevin bangun lebih dulu daripada Raisya, ia melihat istrinya itu masih terlelap kemudian tanganya menyibakan anak rambut yang menutupi wajah cantik Raisya. Kevin pun tersenyum, terasa begitu tenang dan damai saat melihat Raisya terlelap dengan nyenyak. Kevin sangat ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun Raisya yang kedelapan belas.
“Happy Birthday My Wife” ucap Kevin dengan suara serak khas bangun tidur. Kemudian menciumi seluruh wajah Raisya.
Dari mulai kening, mata, pipi, hidung dan kemudian bibir, Kevin sungguh sangat menikmati hal itu. Hingga membuat Raisya menggeliat namun masih memejamkan matanya, Kevin pun hanya tersenyum melihat tingkah Raisya. Namun Kevin terus saja menciumi seluruh wajah Raisya.
“Ugghh….” Keluh Raisya menggeliatkan tubuhnya.
Raisya merasakan ada benda lembab dan kenyal menyentuh seluruh wajahnya, dengan perlahan Raisya membuka matanya dan betapa terkejutnya ia menyadari bahwa benda lembab dan kenyal itu adalah bibir Kevin yang sedang menciumi wajahnya.
“Uhh! Keviin…. Sudah bangun yaa” ucap Raisya dengan suara seraknya terdengar sangat seksi ditelinga Kevin. Kevin hanya membalasnya dengan senyuman.
“Happy birthday sayangku!” ucap Kevin yang membuat Raisya tersenyum senang, hingga membuat matanya seperti bulan sabit.
Ah! Betapa manisnya gadis yang ada di hadapannya ini. Ingin sekali rasanya Kevin mencubit gemash wajah istrinya itu.
“Aku ultah yaa? Haha.. Aku sendiri saja tidak ingat” ucap Raisya terkekeh.
TOK TOK TOK !!!
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Membuat Kevin berdecak kesal karena merasa terganggu. Kevinpun bangkit dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu.
Ceklek !!
Suara pintu terbuka, dan Kevin melihat semua sahabatnya itu sudah berdiri didepan kamarnya dengan Ocha yang sedang membawa kue tart.
“Hap…” teriakan Ocha terhenti karena Leon membungkam mulutnya dengan tangan. Dan menggelengkan kepala dengan cepat.
“Upss! Kirain Raisya” ucap Ocha.
“Ssttt!! Tenang dia baru saja bangun. Ayok masuk.” Kata Kevin sambil melebarkan pintu kamarnya.
Mereka semua pun berdesakkan masuk kedalam kamar Kevin karena tidak sabaran.
“HAPPY BIRTHDAY PRINCESS RAISYA!!!” ucap mereka semua mengagetkan Raisya yang posisinya sedang membelakangi mereka.
Raisya yang terkejut membalikkan tubuhnya, menatap semua sahabatnya dengan perasaan haru dan melebarkan senyumannya. Jarang-jarang kan memberi kejutan di pagi hari setelah baru saja bangun.
“Uuuuwu!! Kalian semuaa…..” ucap Raisya dengan manjanya.
“Selamat ultah yaa beb, semoga sehat selalu dan langgeng sama Kevin!” ucap Risa yang kini berjalan kearah tempat tidur lalu memeluknya.
Mereka semua bergantian menyalami Raisya dan memeberikan ucapan selamat ulang tahun.
“Kalian yaa, Gue baru bangun juga belum dandan cantik!” ucap Raisya dengan memanyunkan bibirnya. Semua sahabtnya hanya tertawa mendengar keluhannya.
“Gak apa-apa, Lo tetep cantik!” ucap Leon.
“Eh! Tiup lilin dulu napa. Pegel ini tangan Gue..” keluh Ocha yang sedari tadi memang sedang memegang kue tart untuk Raisya.
“Dasar lemah!” ejek Bams.
“Gak urus ya!” balas Ocha sinis pada Bams.
“Nih . Harapannya dulu donk jangan lupa” lanjutnya lagi sambil memberikan kue tart itu kehadapan Raisya.
Raisya pun tersenyum senang melihat kue dengan lilin angka delapan belas. Lalu ia pun memejamkan mata dan manyatukan kedua tangannya untuk berdoa dalam hati, hanya satu yang dia ingat disaat ulang tahunnya. Yaitu, perjuangan Maminya delapan belas tahun lalu demi melahirkannya. Mempertaruhkan nyawa agar dirinya yang masih manja ini untuk melihat dan mengenal dunia.
Ya Allah, terimakasih atas usia yang Kau berikan, semakin berkuranglah usiaku sekarang, maka semakin dekat pula aku dengan kematian. Berikan hambamu ini kesempatan untuk bisa membahagiakan kedua orangtua ku. Terima kasih untuk Mami yang sudah melahirkan Raisya, berjuan mempertaruhkan nyawa hanya demi Raisya agar bisa melihat dunia. Semoga Mami dan Papi selalu diberikan kesehatan dan dilindungi Tuhan. Diusia yang sudah delapan belas tahun ini, semoga selalu dalam lindunganmu. Dan terima kasih telah menjadikan Kevin sebagai teman hidupku. Semoga hanya maut yang bisa memisahkan kami. Amiin.
Itulah doa dan harapan Raisya di hari ulang tahunnya. Raisya pun membuka matanya dan meniup lilin yang sudah mulai meleleh itu. Raisya tersenyum senang, dan tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca. Dan hal itu membuat semua sahabatnya terheran-heran.
“Gak usah sok sedih deeh.. Kita tau Lo terharu dapat kejutan kayak gini” canda Ocha.
“Gue kangen Mami..” ucap Raisya dengan lirih.
“Besokkan Kita juga udah pulang” ucap Kevin yang sudah memeluk tubuh Raisya.
Tring tring tring !!
Suara dering ponsel memecahkan suasana yang sedikit haru karena Raisya yang tiba-tiba merindukan sang Mami. Raisya pun langsung mengambil ponselnya yang ada diatas meja nakas disamping tempat tidur.
Abang Ray..
Calling……..
“Bang Ray..” ucap Raisya yang telah melihat sebuah panggilang masuk di layar ponselnya. Langsung saja Raisya menggeser icon berwana hijau disana.
“Haloo Bang..” ucap Raisya.
“Deek, Mami deek sama Papi..!” ucap Rayes diseberang sana terdengar sangat panik.
“Mami sama Papi kenapa Bang? Kok panik gitu?” ucap Raisya yang juga ikut panik.
“Mami sama Papi masuk rumah sakit Dek, kecelekaan ketika dari bandara mau pulang kerumah” ucap Rayes terdengar sangat pilu.
DEGH !!
Jantung Raisya seakan ingin meloncat keluar, nafasnya juga tiba-tiba tersengal, air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya jatuh begitu saja dari sudut matanya, dan tak terasa ponsel yang dia pegang terlepas begitu saja, seakan tulang-tulangnya remuk dan hancur. Dadanya terasa sesak sulit rasanya untuk bernafas. Baru saja dia merindukan kedua orang tuanya disaat hari ulang tahunnya.
Kevin dan yang lainnya terkejut melihat reaksi Raisya yang tiba-tiba menagis. Langsung saja Kevin mengambil ponsel yang terletak di pangkuan Raisya dan memanggil seseorang yang ada di sebrang sana.
“Halo bang! Ini Kevin” ucap Kevin karena panggilannya masih terhubung.
“Mami sama Papi masuk rumah sakit dan sekarang lagi di UGD. Kecelakaan ketika ingin pulang kerumah dari bandara!” jawab Rayes.
Kevin hanya bisa membulatkan kedua matanya karena terkejut. Tapi dia sadar saat ini bukan saatnya untuk panik, ia melihat kearah istrinya yang sedang menangis dan di peluk oleh para sahabatnya.
“Oke Bang, Kita pulang sekarang paling tidak sekitar satu jam baru bisa sampai sana! Abang dimana?!” tanya Kevin dengan buru-buru.
“Rumah sakit Medical City” jawab Rayes.
Kevin mematikan ponselnya secara sepihak setelah tau dimana rumah sakit yang menangani kedua mertuanya. Lalu kemudian dia menghubungi seseorang untuk segera menyiapkan jet pribadi keluarganya sekarang juga dan menelpon petugas resort menyiapkan supir untuk mengantarkannya kebandara.
“Gue sama Raisya pulang hari ini juga! Mertua Gue kecelakaan dan sekarang sedang dirawat!” ucap Kevin sambil mengambil jaket kulitnya dan sweater untuk Raisya.
“Gue mau pulang!!” ucap Raisya sesunggukkan karena sudah menangis sangat pilu.
“Ini pakai sweater! Gakusah ganti baju. Kita akan segera pulang sekarang” ucap Kevin memberikan sweater pada Raisya.
“Yang sabar yaa Sya, berdoa aja semoga orang tua Lo gak kenapa-napa.” Ucap Risa mencoba menenangkan.
Raisya berusaha mengahpus air matanya, merapikan sedikit rambutnya lalu memakai sweater, karena ia hanya mengenakan baju piama tanpa lengan dan untung saja celananya panjang.
“Gue pulang deluan yaa” ucap Kevin yang kini memeluk Raisya dan membawanya keluar dari kamar. Para sahabatnya pun mengangguk kan kepala.
“Hati-hati, kasih kabar kalau sudah sampai sana!” ucap Leon.
“Kita berdoa saja semoga Mami Papi tertolong” ucap Kevin.
“Gue takut Vin! Mamiiii…….” Ucap Raisya yang masih terisak.
Kevin hanya bisa menenangkan Raisya sebisanya, jujur saja Kevin juga sedih dan terpukul mendapatkan kabar buruk ini. Apa lagi Raisya tadi sempat mengeluh kalau dia sangat merindukan Maminya. Tapi jika ia juga terhanyut dalam kesedihan, siapa yang akan menenangkan dan menguatkan Raisya yang sangat jelas lebih terpukul darinya, Raisya kini butuh sandaran agar dia kuat dan bisa menerima semuanya.
Sesampainya di bandara Kevin dan Raisya langsung memasuki jet pribadi keluarga Kevin. Masih terisak, bahkan air mata Raisya terus menetes selama perjalanan pulang.
**
Di resort..
“Kasian Raisya, pasti dia sangat terpukul mendengar kedua orangtua nya kecelakaan” ucap Risa yang sangat terlihat cemas.
“Kita doakan saja semoga Mami dan Papinya Raisya bisa diselamatkan” ucap Reno yang mencoba menenangkan Risa.
“Yaudah kalau gitu gimana kalau Kita pulang sekarang juga nyusul mereka?” ucap Ocha memberi saran pada semuanya.
“Iya, lagi pula Kita kesini karena mereka, masa mereka lagi bersedih Kita disini seneng-seneng” Bams menambahkan.
“Yaudah kalau gitu Kita pulang hari ini juga, Gue pesanin tiketnya, kalian siap-siap aja dulu” ucap Gavin. Mereka semua mengangguk setuju.
“Iya, biar Gue sama Risa yang beresin barangnya Kevin saka Raisya” ucap Reno dan di angguki Risa.
“Yaudah kalau gitu barang Lo biar Gue yang beresin sekalian. Yuuk Rin” ucap Ocha lalu mengajak Rina kembali kekamar mereka.
Begitupun Leon, Bams dan Gavin mereka juga kembali kekamar untuk bersiap-siap pulang kekota mereka menyusul Raisya dan Kevin.
**
Sekitar satu jaman kini Raisya dan Kevin sudah sampai dikota mereka, langsung saja mereka masuk kedalam mobil yang memang sudah disiapkan sebelumnya dan langsung menuju rumah sakit. Kevin menghubungi kedua orangnya untuk memberi kabar kalau mereka sudah ingin menuju rumah sakit. Orangtua Kevin sudah diberitahukan oleh Rayes setelah dia menelpon Raisya, jadi mereka semua sudah berkumpul dirumah sakit sekaligus menunggu kedatangan Raisya dan Kevin.
Mobil yang membawa pasutri itupun sudah sampai di rumah sakit tepat di depan ruang UGD. Tanpa memperdulikan apapun Raisya langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk kedalam menyusul sang Abang dengan terus terisak, sesekali mencoba menghapus air matanya dengan telapak tangan. Ketika sampai didepan ruang UGD dan bertemu dengan Abangnya, Raisya mengahambur kearah Rayes. Memeluk Abangnya dengan erat dan terus saja menangis.
“Tenang ya Dek, Kita doa kan Mami sama Papi” ucap Rayes mengusap punggung Raisya agar tenang.
Kevin yang baru saja datang menyusul di belakang melihat Raisya berpelukan dengan Abangnya, serta kedua orangtuanya yang juga sedang duduk menunggu. Kevin membiarkan Raisya memeluk Abangnya dahulu, sungguh Kevin sangat tidak tega melihat Raisya seperti ini. Kevin pun menghampiri kedua orangtuanya.
“Bun…” panggil Kevin.
Bunda Kevin langsung memeluk anak semata wayangnya ini dengan erat.
“Bagaimana keadaan Mami sama Papi?” tanya Kevin setelah pelukan mereka terlepas.
“Dokter juga belum keluar dari tadi Nak, Kita doakan saja semoga tidak terjadi hal yang buruk” ucap Bunda Kevin.
“Iya Bun, bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi?” tanya Kevin lagi.
“Bunda juga gak tau, katanya mereka di tabrak dari arah berlawanan dengan sebuah truk, dan dibawa kerumah sakit sudah dalam keadaan kritis” jawab Bunda Kevin.
“Astagfirullah….” Ucap Kevin beristighfar mendengar kejadian yang menimpa mertuanya.
Kevin pun kembali melihat Raisya yang masih setia didalam pelukan Sang Abang. Dia pun menghampiri dan mangajak Raisya untuk duduk terlebih dahulu, Raisya hanya menurut saja. Setelah duduk Raisya kembali memeluk Kevin yang duduk disampingnya. Menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Kevin, Kevin terus mengusap lembut pundak Raisya.
**
Ceklek!
Suara pintu ruang UGD terbuka setelah hampir 3 jam lebih mereka menunggu. Rayes langaung berlari menghampiri dokter yang baru saja keluar ruangan diikuti yang lainnya.
“Bagaimana keadaan mereka, Dok?” tanya Rayes dengan khawatir.
“Keadaan mereka masih cukup kritis, karena mereka mendapatkan benturan yang sangat keras hingga tadi sempat kekurangan banyak darah. Tapi Kami sudah mengatasinya, namun untuk sekarang keadaan mereka belum cukup stabil dan mungkin akan membutuhkan waktu untuk sadar kembali. Yang diperlukan sekarang adalah mendoakan mereka, agar cepat pulih kembali” jawab Dokter yang diketahui namanya itu adalah Dokter Galih.
“Saya harus permisi dulu, masih ada pasien yang menunggu” ucap dokter Ggalih lagi.
“Apa boleh Kami melihatnya?” tanya Raisya.
“Boleh, tapi bergantian dan jangan mengganggu ketenangan pasien” jawab dokter Galih. Raisya hanya mengangguk.
“Baiklah, permisi semuanya” ucap dokter Galih dengan sopan berpamitan pada mereka semua.
“Bang, Abang aja deluan kalau mau masuk. Raisya masih belum siap Bang lihat keadaan mereka” ucap Raisya pada Rayes.
“Baikalah, Abang masuk dulu yaa” jawab Rayes lalu masuk kedalam ruangan dimana orangtuanya di rawat.
Ketika Abangnya hilang dibalik pintu yang tertutup, seketika itu juga Raisya langsung berlutut dilantai. Seolah-olah tak ada tulang yang menopang tubuhnya, Raisya kembali terisak, bahunya berguncang sangat hebat.
Bunda pun langsung menghampiri menantunya itu dan menuntun tubuh lemas Raisya kembali untuk duduk sembari menunggu sang Abang keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Halo readers kuuh ..
Gimana chapter ini? Udah sedih belom? Hehehe…
Baru ini kayaknya yaa ada chapter mellow di novel ini, wkwkw…
Maaf kalo fell melow nya kurang dapet 😭🙏😆
Kalian bisa langsung koment yaa ❤
Yang mau berteman sama Author bisa follow instagramnyaa @_riqhamey02
Yang mau aja, gak maksa ! 😂
Ingat!!!
Jangan lupa LIKE nya !! 😚❤