My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Ada Apa Dengan Leon?



Kring kring!!


Bunyi ponsel Raisya terdengar sangat yaring, Raisya yang sedang asyik membaca novel duduk bersantai dibalkon kamarnya, langsung masuk kedalam mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.


“Leon? Tumben?” ucap Raisya bingung sendiri. Namun langsung mengangkat panggilan tersebut.


“Halo, Lee. Ada apa?” tanya Raisya langsung.


“Lagi kosong gak, Sya? Aku mau ngajak Kamu jalan berdua,” ucap Leon. Raisya pun menautkan kedua alisnya. Cara bicara Leon pun terdengar asing ditelinganya.


“Berdua doang?” tanya Raisya memastikan.


“Iya, hanya berdua. Bisa ya? Please,” ucap Leon dengan suuara memohon.


Raisya semakin bingung, kenapa Leon tiba-ba hanya mengajaknya jalan berdua. Biasanya Leon paling antusias bila yang lainnya ikut.


“Kamu ngomong sama Kevin ya, Aku gak mau dia salah paham sama Kamu,” ucap Raisya berbicara formal dengan reflek karena Leon juga berbicara seperti itu.


“Iya, Aku yang akan ngomong sama dia, Aku jemput sekarang ya?” ucap Leon.


“Aku siap-siap dulu,” jawab Raisya.


Raisya pun langsung mematikan sambungan ponselnya secara sepihak. Dan langsung menghampiri Kevin di ruang tengah, yang sedang menonton televisi.


“Leon ngajak Aku jalan berdua, boleh gak?” tanya Raisya saat ia sudah duduk disamping Kevin.


“Cuma berdua? Kenapa?” tanya Kevin memicingkan kedua matanya.


“Gak tau, dia bilang akan datang jemput terus minta ijin sama Kamu,” jelas Raisya.


“Kok berasa kayak mau bawa anak gadis nya orang ya, pake ijin segala?” ucap Kevin terheran-heran.


“Ya mana Aku tau, biasa juga pasti ngajak yang lainnya, tapi ini tumben ngajaknya berdua doang,” ucap Raisya.


“Yasudah, gak apa-apa. Aku percaya sama Leon kok,” ucap Kevin.


“Yaudah, Aku siap-siap dulu. Beneran ya, gak apa-apa?” tanya Raisya memastikan.


“Iya,” jawab Kevin sambil tersenyum.


Raisya pun masuk kembali kekamar untuk bersiap-siap. Namun, pikiranya tiba-tiba tak karuan, entahlah kenapa Raisya pun tak tahu. Jantungnya berdegup kencang, padahal dirinya sedang tidak berdekatan dengan Kevin. Tapi degupan itu terus bergetar menimbulkan perasaan yang kurang nyaman, membuat Raisya menjadi gusar.


Tapi mengingat kembali Leon akan menjemputnya, Raisya menghela nafas pelan dan membuangnya pelan, hal itu ia lakukan beberapa kali, sampai akhirnya dirinya merasa sedikit legah. Raisya berjalan kearah lemari pakaian, lalu mencari baju yang sekiranya cocok untuk hari ini.


Tak perlu waktu lama, Raisya sudah siap dengan pakaian casualnya, nampak begitu cantik dengan balutan celana jeans panjang, kaos putih dengan jaket levis, serta sepatu kets putih menghiasi kakinya. Rambut yang di biarkan tergerai rapi.


**


Ting tong! Suara bell berbunyi, Kevin yang berada diruang tengah itu pun langsung membukakan pintu, karena dia sudah tat siapa yang akan datang. Saat pintu dibuka, dan beenar saja orang yang kini ada didepan apartemantnya adalah Leon.


“Masuk dulu, Raisya lagi siap-siap,” ucap Kevin memperailahkan Leon masuk.


Leon pun masuk dengan permisi, dan duduk diruang tamu. Kevin merasa ada yang berbeda dengan Leon, tapi entah dia juga tidak tahu. Karenna Leon duduk diruang tamu, maka Kevin pun duduk didepan Leon.


“Mau jalan kemana?” tanya Kevin seakan menjadi seorang ayah yang sedang menginterupsi laki-laki yang ingin membawa anak gadisnya.


“Aku mau ngajak Raisya jalan-jalan saja, hanya berdua. Boleh, kan?” tanya Leon. Membuat Kevin sedikit terkejut dengan cara bicara seorang Leon yang suka nyablak.


“Boleh, asal jangan macam-macam,” ucap Kevin.


“Aku hanya merindukan saat berdua dengan Raisya seperti waktu Kami masih kecil,” ucap Leon membuat Kevin tertegu.


Kevin hanya menghela nafasnya,


Tak lama Raisya pun keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Raisya langsung saja menghampiri dua laki-laki yang sangat berharga.


“Eh, sudah lama?” tanya Raisya pada Leon.


“Enggak kok, baru saja,” jawab Leon.


Kevin menatap Leon dengan seksama seakan ada yang aneh dengan diri Leon yang tak terlihat seperti biasanya.


“Yaudah, Kita berangkat ya,” ucap Raisya yang sebenarnya tak enak hati meninggalkan Kevin dan pergi bersama laki-laki lain, walaupun itu adalah sahabatnya sendiri.


Raisya pun mencium tangan Kevin, layaknya seperti istri. Namun Raisya malah merasa seperti anak gadis yang ingin pergi kencan dengan gebetannya.


Raisya dan Leon pun menghilang dari balik pintu apartemant, setelah berpamitan.


“Kenapa perasaanku jadi tidak tenang? Bukan perasaan cemburu, tapi kenapa perasaan cemas lebih mendominasi?” ucap Kevin pada dirinya sendiri.


**


Didalak mobil Leon,


“Tumben gak pakai motor?” sindir Raisya.


“Gak apa-apa, biar Kamu lebih santai aja,” jawab Leon.


“Kamu kenapa sih, Lee? Gak seperti biasanya?” ucap Raisya yang kini menatap Leon yang fokus mengendarai.


“Aku? Memangnya Aku kenapa?” sahut Leon yang malah balik bertanya.


Raisya semakin bingung, dirinya seakan sedang jalan bersama orang asing.


“Sudahlah, lupakan. Mau kemana Kita sekarang?” tanya Raisya mengalihkan topik pembicaraan.


“Kemana saja yang Kamu suka, My Princess,” jawab Leon dengan lembut.


Raisya semakin menyerngit heran dengan perilaku Leon.


“Inikan hari minggu, gimana kalau Kita ketaman bermain?” seru Raisya dengan semangat.


“Baiklah,” ucap Leon dengan semangat juga.


25 menit kemudian, mereka sampai diarena taman bermain. Mata Raisya pun berbinar, melihat banyaknya wahana permainan. Dengan tidak sabarnya Raisya menarik tangan Leon untuk segera masuk. Leon hanya mengikuti kemana arah gadis ini membawanya. Sejujurnya Leon sendiri tidak tahu kenapa rasanya hari ini ingin sekali menghabiskan waktu berdua dengan Raisya, sahabat kecilnya, bahkan cinta pertamanya. Dan jujur saja, perasaan itu masih ada sampai sekarang.


Leon sadar, bahwa Raisya kini sangat mencintai Kevin, suaminya. Leon sangat bahagia akan hal itu, karena keduanya kini saling mencintai. Tapi entah mengapa, Leon sangat sulit membuang perasaannya untuk Raisya. Leon juga pernah belajar untuk membuka hatinya pada Ocha, tapi tetap saja Leon seakan tak bisa melupakan perasaannya pada Raisya. Hati memang begitu sulit dikendalikan.


“Lee, Kita naik itu yuk,” seru Raisya dengan bersemangat menunjuk arah bianglala.


“Ayok,” jawab Leon.


Begitu sampai, mereka langsung masuk kedalam sangkar yang menggantung, bianglala pun berputar, semakin lama-semakin tinggi. Hingga membuat mereka dapat melihat pemandangan Kota yang begitu cantik.


“Cantik, ya,” ucap Raisya.


“Kamu lebih cantik,” ucap Leon.


Raisya menautkan kedua alisnya mentap Leon tidak percaya.


“Sya, berjanjilah. Jika nanti Aku pergi Kamu akan selalu bahagia bersama Kevin,” ucap Leon lagi, membuat Raisya semakin bingung.


“Memangnya Kamu mau kemana? Mau kuliah diluar negeri juga?” tanya Raisya menebak-nebak.


Kini ia tidak akan masalah, jika para sahabatnya memilih untuk melanjutkan kuliah di negeri orang. Seperti yang pernah Leon katakan, sebagai teman dan sahabat Kita seharusnya saaling mendukung.


“Entahlah, Aku juga tidak tau akan pergi kemana. Tapi rasanya Aku akan pergi suatu saat nanti,” tutur Leon dengan suara lembutnya.


Raisya benar-benar melihat Leon seperti sosok orang lain. Mata Raisya menatap dalam mata Leon, seakan ada sesuatu yang mengganjal dihati Raisya. Tiba-tiba bianglala yang mereka naiki berhenti, dan mereka tepat berada di puncak yang paling tinggi.


“Sya, apa boleh Aku menciummu?” tanya Leon yang kini sudah mendekatkan wajahnya.


“Kamu kenapa sih?” ucap Raisya membuang muka karena wajahnya kini memerah merasa malu, bisa-bisa Leon bilang seperti itu.


“Aku hanya ingin menciummu, untuk yang pertama dan terakhir kalinya bagiku,” ucap Leon.


“Lee, Kamu tuh sadar gak sih, sama apa yang Kamu omongin? Aku udah nikah Lee, Kita sebenarnya gak baik kayak gini, ini sama aja Kita seperti selingkuh!” seru Raisya dengan nada yang tidak bersahabat.


“Aku tahu, Aku sadar. Kalau Kamu itu sudah jadi punya orang, Aku juga gak tau, Sya, kenapa Aku seperti ini. Aku hanya ingin menciummu untuk kujadikan sebagai ciuman pertama dan terakhirku, perasaan Aku gak semudah membalikkan telapak tangan untuk membuangnya!” seru Leon.


Raisya menjadi semakin gusar, seakan bukan rasa kecewa yang dia rasakan, justru perasaan cemas dan rasa takut kehilangan. Kata-kata Kevin seperti terdengar kalau itu adalah permintaan terakhirnya, mengingat mereka selalu bersama selama ini bahkan dari kecil.


Leon menatap mata Raisya dengan sendu, mata yang selalu memberinya kebahagiaan, kekuatan, dan semangat. Raisya pun membalas tatapan Leon dengan tatapan yang sulit diartikan. Hatinya gusar, pikirannya entah kemana.


“Boleh, ya?” ucap Leon. Kata itu seakan tak bisa menerima penolakan di pendengaran Raisya.


Raisya dengan susah payah menelan ludahnya sendiri, saat wajah Leon semakin mendekat. Raisya ingin menolak, tapi hatinya seakan menuntunnya untuk tidak menolak.


Akhirnya bibir Leon menyentuh bibir Raisya dengan lembut, Raisya pun memejamkan matanya, tapi tidak membalas ciuman Leon. Hatinya merasa sakit, sakit buka karena kecewa, sakit seakan ini adalah sebuah ciuman perpisahan. Leon terus menyecap bibir Raisya tanpa mendapatkan balasan, hati Leon juga merasakan hal yang sama, merasa ini adalah sebuah pertemuan terakir.


Entahlah, mereka sama-sama tidak tahu kenapa perasaan itu hadir.


Setelah bianglala kembali bergerak akan turun, Leon melepaskan ciuamannya, menjauhkan wajahnya dari hadapan Raisya dan memandang kesegala arah. Raisya pun membuang muka menatap kearah lain, seakan ia merasa sangat sedih atas ciuman ini, tapi tak tahu ia harus sedih atas dasar apa.


Setelah bianglala yang mereka naiki sudah berada dibawah, Raisya dan Leon pun turun. Keadaan mereka menjadi canggung, setelah kejadian beberapa menit yang lalu.


Tapi Raisya sungguh tak suka dengan keadaan seperti ini, baru pertama kalinya Raisya dan Leon secanggung inj selama mereka bersama sejak dulu.


“Mau main yang lain?” tawar Leon mencoba mencairkan suasana.


“Boleh, deh,” jawab Raisya tersenyum kaku.


Mereka mengelilingi arena taman bermain mencari stand permainan yang menarik. Mata Raisya menangkap sebuah stand yang menjual pernak-pernik, Raisya pun melangkahkan kakinya menuju stand tersebut diikuti Leon.


“Ini bagus,” ucap Raisya saat melihat gantungan kunci yang terbuat dari kaca, namun didalamnya terdapat berbagai macam lukisan, ukurannya pas tidak terlalu besar untuk dijadikan gantungan kunci.


“Yang ini bisa diukir nama, Mba,” ucap penjualnya.


“Benarkah?” tanya Raisya.


“Iya, contohnya seperti ini,” kata penjual itu sambil memperlihatkan gantungan kunci yang sudah diukir dengan sebuah nama. Raisya pun tertarik.


“Kalau gitu saya mau ya, Pak,” ucap Raisya.


“Mau dikasih nama apa, Mba? Nama pasangan juga bisa. Kalau kata anak muda couple gitu,” ucap penjual itu dengan terkekeh.


“Raisya Kevin,” “Raisya Leon,” ucap mereka bersamaan membuat si penjual bingung.


Lagi-lagi Raisya merasa sesuty yang tak nyaman menyeruak dihatinya.


“Raisya Leon dan Raisya Kevin ya, Pak. Nama ceweknya sama tapi orangnya beda,” jelas Raisya sedikit berbohong.


Penjual itu pun paham, dan langsung membuatkan pesanan Raisya. Tidak sampai 10 menit pesanan gantungan kunci mereka pun jadi. Penjual itu memberikan empat gantungan kunci pada Raisya.


“Makasih, Pak,” ucap Raisya saat sudah membayarnya.


“Nih, buat Lo satu,” ucap Raisya menyerahkan gantungan kunci yang bertuliskan “Leon Raisya” Leon tersenyum melihat nama yang terukir.


Cukup lama mereka di taman bermain hingga sore, sampai akhirnya Raisya memustuskan untuk pulang, bagaimana pun Raisya tetap memikirkan Kevin yang sendirian di apartemant.


Raisya akui dirinya sangat senang hari ini, tapi entah mengapa Raisya merasa, ia tak akan pernah lagi merasa sesenang ini nantinya bersama Leon.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#tbc


Maaf kalo buat kalian bosen sama cerita Author, hehehe


Yang masih setia sama cerita ini jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTAR nya 😄😄


❤❤ TERIMAKASIH 🙏 ❤❤