
Sesampainya Kevin dirumah sakit ia langsung menggendong tubuh Raisya.
“Suster, tolong istri Saya!” teriak Kevin karena panik.
Beberapa perawat pun langsung datang membawa ranjang dorong, Kevin pun meletakkan tubuh Raisya diatas tempat tidur itu dan langsung mendorong menuju UGD.
Terlihat begitu jelas wajah pucat Raisya, yang kini bahkan lebih pucat dari yang sebelumnya. Belum lagi telapak tangan Raisya begitu dingin, padahal sebelumnya tubuh Raisya begitu sangat panas, dan sempat hangat setelah meminum obat penurun panas yang selalu tersedia. Tapi mengapa tiba-tiba sekarang Raisya semakin pucat, sungguh fikiran Kevin sudah tak karuan.
“Masnya tunggu diluar ya, percayakan pada para dokter!” ucap salah satu perawat menghalangi langkah Kevin yang ingin ikut masuk kedalam, lalu menutup pintu ruangan itu.
Kevin pun jatuh tersandar di dinding rumah sakit sambil meremas rambutnya frustasi, kini Kevin merasa sangat kacau.
“Ya Allah, lindungi Raisya, jangan sampai terjadi apa-apa dengannya” lirih Kevin.
Kevin pun berdiri lalu berjalan dengan gontai kearah kursi tunggu yang tersedia dekat ruangan Raisya ditangani. Kevin pun langsung menjatuhkan tubuhnya, lalu bersandar memejamkan matanya. Kevin lupa untuk mengabari Rayes, namun Kevin juga lupa kalau ia sama sekali tidak membawa ponsel maupun dompet sangkin panik dan terburu-buru.
Kevin hanya pasrah, menunggu sendirian di rumah sakit. Sampai pada akhirnya pintu ruangan yang menangani Raisya terbuka, keluarlah seorang dokter yang tak lain adalah dokter Galih.
“Bagaimana, dok?” tanya Kevin dengan panik saat dokter Galih keluar.
“Apa gejala awalnya?” tanya dokter Galih.
“Tadi pagi dia sepertinya demam, tubuhnya menggigil, dan badannya sangat panas” jawab Kevin sesuai dengan ingatannya tadi pagi.
“Setelah itu, apa yang Kamu lakukan pertama kali?” tanya dokter Galih lagi.
“Mengompresnya, lalu dia makan bubur dan minum obat penurun panas?” ucap Kevin.
“Lalu?” ucap Galih yang serius mendengar penjelasan Kevin.
“Dia tertidur selama hampir dua jam lebih, dan ketika bangun panasnya sudah turun meskipun masih sedikit hangat, tapi saat dia ingin bangkit bediri langsung pingsan” jelas Kevin.
Dokter Galih pun menghela nafasnya.
“Raisya keracunan,” ucap dokter Galih.
“APA?! Bagaimana bisa?” ucap Kevin sedikit berteriak karena terkejut.
“Mungkin dia makan sesuatu yang membuatnya alergi,” jelas dokter Galih.
“Dia hanya makan bubur saja, itupun Saya sendiri yang membuatkan buburnya. Raisya tidak punya alergi, lagi pula itu hanya bubur nasi” jawab Kevin. Dirinya mana mungkin meracuni istrinya sendiri.
“Bisa jadi dia alergi obat itu, apa Kamu memperhatikan batas kadaluarsanya?” ucap dokter Galih.
“Hah?” Kevin hanya tercengang, dirinya sama sekali tidak melihat tanggal kadaluarsa obat itu, yang dia tau itu obat yang selalu ada di kotak P3K yang Raisya siapkan.
Kevin pun menjawab dengan gelengan kepala.
“Terakhir kapan obat itu diminum?” tanya dokter Galih.
“Hampir setahun yang lalu saat Aku yang demam,” jawab Kevin sambil mengingat-ingat kembali.
Dokter Galih hanya menghela nafasnya, bisa-bisanya obat yang sudah dikonsumsi setahun yang lalu ia tidak memperhatikan tanggal kadaluarsanya.
“Raisya mengalami keracunan, dia perlu perawatan khusus untuk sementara ini. Jadi mungkin dia belum bisa sadar untuk sekarang, karena kondisinya sangat lemah,” ucap dokter Galih menjelaskan keadaan Raisya.
Kevin hanya pasrah, ia menghela nafas kasar atas kebodohannya itu.
“Baikalah, sementara Saya pulang sebentar bisakah ada yang menemaninya?” tanya Kevin.
Kevin ingin pulang keapartement karena ia penasaran dengan obat itu, sekalian mengambil dompet dan ponselnya.
“Tentu saja, silahkan” ucap dokter Galih.
“Saya permisi, nanti akan ada perawat yang menemaninya selama Kau pergi,” sambung dokter Galih lalu pergi meninggalkan Kevin didepan ruangan dimana Raisya ditangani.
Setelah dokter Galih pergi, Kevin mlangkahkan kakinya kedepan pintu yang sedikit terbuka itu. Kevin melihat ada beberapa perawat yang masih mengecek keadaan Raisya. Kevin juga melihat Raisya memakai selang infus dan alat bantu pernafasan.
“Maaf, sayang” ucap Kevin lirih, lalu ia pun pergi dari sana.
Kevin berjalan cepat keluar dan langsung memasuki mobilnya, menyalakan mmesin dan menancapkan gas pergi meninggalkan rumah sakit.
**
Sesampainya di apartemant Kevin langsung menuju kamar mencari kotak P3K, begitu mendapatkan obat yang ia cari lansung saja matanya mencari tulisan expaired. Dan benar, obat itu sudah kadaluarsa tiga bulan yang lalu.
“Asataga!” pekik Kevin sangat frustasi, bisa-bisanya dirinya memberikan Raisya obat yang seharusnya sudah dibuang karena sudah tidak layak dikonsumsi.
“Maaf, Sayang” hanya kata itu yang terlontar dari mulutnya.
Kevinpun segera melempar obat itu kedalam tong sampah yang ada dikamar mereka. Lalu ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar, dan mencari nomer kontak seseorang.
Namun tiba-tiba jarinya berhenti, ia merasa ragu untuk menghubungi Rayes, Kakak Iparnya. Apa yang harus Kevin jelaskan tentang Raisya kenapa bisa sampai keracunan. Terlebih lagi istrinya Rayes, Vita, pasti ia akan merasa sangat khawatir dan takutnya berpengaruh pada kehamilannya.
Akhirnya Kevin mengurungkan niatnya untuk menghubungi Rayes. Kevin pun kembali memasukkan ponsel dan juga dompet kedalam saku celananya, lalu pergi lagi untuk kembali kerumah sakit.
Sepanjang perjalanan pikirannya tak karuan, dan juga merasa bersalah atas keteledoran yang dirinya lakukan.
“Semoga Kamu gak apa-apa ya, sayang. Please! Kamu harus sehat” ucapnya pada diri sendiri sambil menatap fokus kejalanan.
Sesampainya dirumah sakit, Kevin langsung berlari keruangan Raisya dirawat. Begitu tiba didepan pintu dan ingin membukanya, lebih dulu seseorang membuka pintu ruangan itu.
“Maaf, apa Saya bisa melihat pasien?” tanya Kevin dengan sopan, karena yang membuka pintu itu adalah seorang perawat yang terlihat lebih dewasa dari dirinya.
“Anda siapa?” ucap perawat itu.
“Saya suaminya,” jawab Kevin. Langsung saja perawat itu mempersilahkan Kevin masuk.
Kevinpun masuk kedalam, ia menatap wajah pucat Raisya yang terlelap. Tubuh Raisya yang terbaring lemah, dengan alat bantu pernafasan serta selang infus yang terpasang. Kevin pun duduk dikursi yang ada disebelah tempat tidur. Menggenggam tangan Raisya lembut lalu menciumnya.
“Sayang, maafin Aku ya, Aku benar-benar bodoh” ucap Kevin.
Hanya ada kata maaf yang bisa Kevin ucapkan. Sungguh, dia benar-benar merasa bersalah. Dan jika terjadi sesuatu pada Raisya, Kevin tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Cukup lama Kevin menatap Raisya yang masih memejamkan mata, kata dokter kemungkinan Raisya sadar bisa lama, karena kondisinya sangat lemah disaat tubuh Raisya menerima racun tersebut.
Kevin melirik jam dipergelangan tangannya, menunjukkan angka 04.00 pm. Itu tandanya Kevin telah melewatkan waktu sholat Asharnya. Ia pun berniat untuk pergi sholat sebentar tapi tak begitu tega meninggalkan Raisya. Kevin pun keluar mencari perawat yang bisa menjaga istrinya untuk sementara waktu.
“Sus, bisa jaga istri Saya sebentar?” tanya Kevin pada salah satu perawat yang lewat.
“Oh, bisa Mas. Kebetulan tugas Saya juga lagi kosong” jawab Suster itu dengan ramah dan tersenyum.
“Terimakasih, Saya tinggal sholat dulu.” Ucap Kevin lalu pergi setelah pamit pada suster yang akan menjaga Raisya.
Suster itupun menganggukan kepalanya. Lalu masuk kedalam ruangan Raisya dirawat.
**
Dirumah Rayes,
Semenjak hamil, Vita menjadi sangat manja pada Rayes. Tapi Rayes tidak pernah mempermasalahkannya, toh dia malah merasa sangat senang. Mengingat Vita adalah wanita yang mandiri, lembut, perhatian dan juga penyayang. Jarang sekali dulu Vita bermanja-manja padanya.
“Kamu mau ketemu Raisya?” tanya Rayes.
“Iya, debay nya mau ketemu Auntynya, Daddy” rengek Vita dengan menirukan suara anak kecil. Membuat Rayes semakin gemash.
“Baiklah, ayo bersiap-siap, Kita akan ketempat Aunty Raisya” jawab Rayes dengan semangat.
Vitapun bersorak senang seperti anak balita, namun sama sekali tak melunturkan kecantikannya. Malah membuat Rayes semakin gemas dan tentu saja semakin cinta.
Mereka pun besiap-siap, Vita nampak cantik dengan baju yang sedikit longgar, meskipun belum terlalu nampak perut buncitnya itu. Jujur saja selama dia hamil trimester pertama ini membuatnya lebih nyaman jika memakai baju yang longgar, padahal tubuhnya masih terlihat seperti biasanya.
“Yuk,” ajak Vita bersemangat.
Mereka berdua keluar dari rumah dan memasuki mobil Rayes. Rayespun langsung menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya keluar halaman rumah, menembus jalanan yang untungnya tidak terlalu macet.
Setelah kurang lebih 45 menit perjalanan mereka keapartement Raisya dan kevin, sampailah mereka didepan gedung apartement Raisya. Langsung saja Vita dan juga Rayes keluar dari mobil dan memasuki gedung itu.
Vita nampak bersemangat, ia pun bejalan cepat dan terkadang memarahi Rayes yang berjalan dibelakangnya begitu pelan.
“Sayang, buruan. Lama banget sih!” keluh Vita saat melihat suaminya itu berjalan pelan. Rayes hanya bisa menghela nafasnya.
“Iya iya,” saut Rayes lalu mensejajarkan langkahnya dengan Vita.
Sesampainya mereka dilantai tempat tujuan, mereka langsung melangkahkan kakinya kearah pintu tempat tinggal Raisya dan Kevin. Dengan semangat Vita memencet bel sampai berulang-ulang kali.
Ting Tong!!
Ting Tong!!
Ting Tong!!
Tak ada sautan apapun, bahkan pintunya saja tidak terbuka.
“Apa mereka sedang jalan-jalan ya?” ucap Vita bertanya pada Rayes yang berdiri disampingnya.
“Sebentar, Aku telpon dulu,” ucap Rayes.
Rayespun merogoh saku celananya mengambil benda pipih itu, setelah mendapatkannya, jari Rayes menyentuh benda itu mencari nama yang akan ia hubungi.
Tuuuut…. Tuuut…
Rayes menelpon Raisya namun tidak ada jawaban. Setelah beberapa kali menelpon nomer Raisya, akhirnya Rayes baru kepikiran untuk menghubungi Kevin.
**
Kembali kerumah sakit,
Kring kring !!
Suara nada panggilan terdengar sangat nyaring dari dalam kantong celana Kevin. Kevin baru saja selesai melakukan sholat Ashar, dan kini sedang berada dikoridor rumah sakit.Kevin pun menghentikan langkahnya dan mencari tenpat duduk terdekat, dengan cepat Kevin meraih ponselnya, dan melihat nama siapa yang sedang menelponnya.
“Bang Rayes?” ucap Kevin lalu dengan ragu jarinya menggeser icon berwarna hijau.
“Aarrgh! Aku harus bilang apa kalau Bang Ray tanya soal Raisya!” geramnya sendiri.
Akhirnya suara nada panggilan ponselnya berhenti, namun beberapa detik kemudian kembali berbunyi membuat Kevin berdecak.
“Angkat saja deh, pasti penting. Kalau ditanya yaudahlah jawab aja” ucap Kevin pasrah lalu menggeser icon berwarna hijau.
“Assalamualaikum?” sapa Kevin setelah mengangkat telponnya.
“Walaikumsalam, kalian diamana? Lagi jalan-jalan?” jawab seorang wanita dari seberang telepon.
Vita lah yang kini berbicara pada Kevin. Dan semakin guguplah Kevin.
“Kita lagi diluar, Mba. Kenapa?” tanya Kevin dengan perasaan was-was.
“Debay lagi didepan aparteman Uncle sama Aunty loh, Debay kangen” jawab Vita dengan manja menirukan suara anak kecil.
Membuat Kevin semakin yakin kalau Vita sedang ngidam ingin bertemu dengan Raisya.
“Udah lama Mba disana?” tanya Kevin.
“Baru saja, tapi kalian malah sedang diluar” jawab Vita dengan suara sedih ingin menangis.
Hormon ibu hamil memang suka berubah-ubah ya, keluh Kevin yang tentunya hanya ia ucapkan dalam hati.
“Halo, Vin. Kalian dimana? Masih lama?” kini Rayes yang berbicara dengan Kevin.
“Anu Bang,” ucap Kevin dengan gugup.
“Anu apa?” tanya Rayes.
“Raisya masuk rumah sakit, Bang” jawab Kevin dengan perasaan was-was.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jeng jeng!!
Kira-kira gimana ya reaksi Rayes kalau tau Raisya masuk rumah sakit karena keracunan?
Hehe,
Tunggu episode selanjutnya..
Yuks ramaikan Grup Author yang tersedia di Aplikasi Noveltoon. Ayok join!!
Jangan lupa LIKE VOTE dan KOMENTAR nya yaa 😘😘🙏❤
TERIMAKASIH 🙏❤❤😘