
Pagi hari menyapa sepasang suami istri muda yang masih bergelut dibawah selimut, saling mencari kenyamanan dan kehangatan. Namun, suara alarm dari ponsel berdering sangat nyaring memekakkan telinga mereka yang masih malas untuk membuka mata. Dengan mata yang masih tertutup rapat, Raisya meraba sekitar tempat tidur mencari benda persegi yang sangat berisik itu.
“Ughh!!” keluh nya sambil menggosok matanya menetralkan cahaya yang menyapa hari pagi nya.
Setelah suara alarm berisik itu mati, Raisya kembali menguap seakan dirinya masih sangat ingin melanjutkan mimpi indah nya. Namun, Raisya kembali mengingat satu hal bahwa hari ini Kevin harus kesekolah.
“Viiin..” panggil Raisya. Kevin masih nyenyak dalam tidur nya dan bahkan mengeratkan pelukannya.
“Kevin, banguun!” ucap Raisya dengan suara sedikit lebih nyaring lagi. Masih tak ada balasan.
“KEVIN!” teriak Raisya dengan lantang, membuat laki-laki yang tengah memeluknya erat terkesiap bangun membuka matanya dan langsung terduduk.
“Kenapa, sayang?” tanya Kevin dengan panik.
“Gak kenapa-napa” jawab Raisya dengan santai.
“Astaghfirullah! Jadi Kamu teriak senyaring itu Cuma mau bangunin Aku? Gak bisa apa lembut sedikit?!” keluh Kevin yang sangat heran dengan perilaku Raisya yang kerap kali meneriaki nya ketika ingin membangunkan nya.
“Ngarep!” jawab Raisya cuek kemudian ia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan kekamar mandi, namun sebelum masuk Kevin mengajukan pertanyaan.
“Mau ngapain?” tanya Kevin.
“Mau shopping! Ya mau mandi lah! Bangun! Awas kalau tidur lagi!” ancam Raisya.
Kevin hanya bisa menghela nafas, sudah biasa ia mendengar teriakan atau menghadapi sikap jutek Raisya, dan bahkan bagi nya teriakan Raisya adalah suara alarm termerdu ditelinganya.
Taklama Raisya keluar dengan pakaian santai dengan handuk yang melingkar di kepalanya.
“Gak sekolah?” tanya Kevin yang sudah berdiri melewati Raisya hendak kekamar mandi.
“Gak, mau bantuin Bunda sama yang lainnya untuk acara nanti malem. Lagian juga masih pada MOS” jawab Raisya sekanya. Kevin pun hanya mengangguk lalu hilang di balik pintu kamar mandi.
Seperti biasa Raisya menyiapkan seragam Kevin, lalu keluar menuju meja makan untuk membantu menyiapkan sarapan. Di sana sudah ada Bunda, Ayah, Rayes dan juga Vita.
“Selamat pagi semuanya” sapa Raisya dengan sangat ceria.
“Selamat pagi, sayang. Kamu gak sekolah?” tanya Bunda Kevin.
“Gak, Bun. Masih kegiatan MOS” jawab Raisya lalu mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi.
Raisya kembali menatap Abangnya yang sedang menikmati nasi gorengnya. Biasa, Abangnya itu selalu menyapa nya dengan senang, atau bahkan mengajak bercanda. Tapi tidak dengan beberapa hari ini, Raisya sediri akhir-akhir ini tidak pernah ada waktu yang pas untuk bicara pada Abang kesayangannya yang kini berubah dingin, sedingin es di kutub utara.
“Apa Kevin sudah bangun?” tanya ayah pada Raisya.
“Sudah, mungkin lagi siap-siap” jawab Raisya yang mulai menyidukkan nasi kepiringnya dan juga piring Kevin.
“Pagi, Yah, Bun, Mba Vita, Bang Ray” sapa Kevin pada semua orang yang ada di meja makan.
“Pagi, Nak” jawab Ayah dan Bunda berbarengan.
“Pagi, Vin” jawab Vita. Sedangkan Rayes hanya menatap Kevin lalu menganggukkan kepala.
“Aku gak disebutin?” tanya Raisya dengan nada kesal.
Kevin langsung menghampiri istrinya dan duduk tepat disebelah Raisya, Raisya pun menyodorkan piring yang sudah berisikan nasi goreng dan juga telur ceplok. Kevin menerimanya dengan tersenyum.
“Makasih, sayang” ucap Kevin lalu dengan santai mencium pipi Raisya yang kini sudah merona merah.
Raisya hanya mencibik kesal atas tingkah laku Kevin barusan, namun jangan salah kalau hatinya kini sangat berbunga-bunga. Kevin hanya memberikan senyuman terbaik nya. Mereka semua melanjutkan sarapan masing-masing, sampai akhirnya Ayah Kevin beranjak pamit karena ingin kekantor, begitupun Rayes dan Kevin yang juga sudah menghabiskan sarapan mereka.
“Kamu yakin gak mau ikut kesekolah lagi?” tanya Kevin ketika Raisya mengantarkannya sampai didepan pintu rumah.
“Gak ah! Lagian juga belum sesi promosi eskul kan? Jadi mending bantuin Bunda dan yang lainnya, Ocha sama anak-anak lainnya mau dateng juga nanti siang” jawab Raisya beralasan.
“Baiklah, Aku berangkat dulu ya,” ucap Kevin sembari mencium kening Raisya, Raisya pun menyalami dan mencium tangan Kevin.
“Assalamualaikum!” ucap kevin berlalu pergi menaiki motor sport nya.
“Walaikumsalam!” jawab Raisya tersenyum dan melambaikan tangannya.
Setelah Kevin pergi dan hilang dari pandangannya, barulah Raisya masuk kembali kedalam rumah. Dia berfikir tentang kejadian barusan dengan tersenyum, seakan dia merasa seperti istri yang mengantarkan suaminya ketika ingin bekerja lalu dirinya seorang istri yang hanya mengurus rumah saja.
**
Kini Raisya baru saja selesai melaksanakan sholat Zuhur, setelah sholat Raisya berdoa untuk dirinya, kedua orang tuanya, Suaminya dan seluruh keluarganya. Masih mengenakan mukena, Raisya mengambil bingkai foto yang terdapat foto kedua orang tua nya yang ada di atas nakas. Raisya tersenyum getir dan membelai permukaan foto itu. Ada rasa rindu yang tersirat didalam hatinya, Raisya akui dia sangat rindu dengan kedua orang tuanya. Lewat doa lah Raisya mencurahkan segala kerinduan itu dan berharap semoga Tuhan menyampaikan rasa rindu nya kepada kedua orang tua nya.
Setelah puas memandangi foto kedua orang tua nya, Raisya meletakkan kembali pada tempatnya lalu membuka mukena dan melipatnya dengan rapi. Dia harus membantu Bunda dan yang lainnya untuk mempersiapkan acara kirim doa nanti malam.
“Raisyan Rindu Mami and Papi” ucap nya ketika melihat kembali foto yang terpajang di atas nakas lalu tersenyum, setelah itu Raisya pun keluar dari kamarnya.
Saat Raisya turun dari tangga sudah banya orang-orang yang berdatangan untuk membantu menyiapkan acara nanti malam, para sahabat Raisya pun juga sudah datang. Ada yang berkumpul di ruang keluarga, ada yang membantu memasak, meracik bumbu, merapikan kursi-kursi, bahkan menggelar tikar untuk para tamu yang akan datang nanti. Raisya sangat bersyukur orang-orang ternyata masih ada yang mau membantu.
“Iya, Bi. Ada apa?” jawab Raisya dengan sopan.
“Sini duduk disamping Bibi” ucap wanita paruh baya itu menepuk sofa disampingnya. Raisya pun permisi mengahampiri Bibi nya dan ikut duduk disebelah nya.
“Maaf ya, kalau kemarin Bibi tidak sempat datang saat pemakaman kedua orang tua mu,” ucap Bibi nya.
“Tidak apa-apa, Bi” jawab Raisya sungkan, ia memang tidak terlalu akrab dengan Bibi nya ini, namun jika mereka bertemu Bibi nya selalu menanyakan keadaan nya dengab penuh perhatian. Namun, tetap saja Raisya masih merasa sungkan.
“Oh ya, sebenar nya Bibi masih ingat dengan ulang tahun mu beberapa hari lalu, Bibi hanya ingin memberikan ini padamu. Maaf ya, Nak. Bibi tau hari itu adalah hari yang sangat menyakitkanmu” Ucap Bibi nya sambil memberikan Raisya sebuah kotak persegi yang dibungkus dengan kertas kado berwarna ungu polos.
Bibi nya pun sebenarnya sudah mempersiapkan jauh-jauh hari hadiah itu, mengingat keponakan nya ini sudah menikah juga. Namun, justru kejadian yang terduga yang Bibinya dapatkan tepat dihari ulang tahun Raisya. Raisya hanya tersenyum menerima hadiah itu.
“Tidak apa-apa, Bi. Raisya juga sudah belajar mengikhlaskan mereka, karena dengan mengihklaskan mereka itu akan membuat Mami dan Papi bahagia. Terima kasih hadiahnya, Raisya buka ya, Bi” ucap Raisya dengan sedikit bersemangat.
“Eh, jangan!” pekik Bibi Raisya dan menahan tangan Raisya agar tidak membuaknya di depan orang banyak seperti sekarang.
“Kenapa, Bi?” tanya Raisya dengan heran.
“Nanti malam saja setelah selesai acara, itu.. ituu.. sebenarnya kado spesial yang sudah Bibi siapkan dari jauh-jauh hari” kilah Bibi Raisya sambil nyengir mempelihatkan deratan gigi nya.
Raisya hanya menautkan kedua alisnya dengan ekspresi bingung melihat tingkah Bibi nya yang berubah tiba-tiba. Raisya tak ambil pusing ia pun menuruti perintah Bibinya, lalu meletakkan kembali hadiah itu disebelah tempat duduk nya.
“Baiklah, Bi” Raisya hanya menjawab singkat sambil tersenyum.
Raisya pun menemani Bibi nya mengobrol dengan keluarga yang lain, menceritakan berbagai macam kejadian, atau mengingat-ngingat hal yang lalu. Bahkan mereka juga menceritakan pada Raisya, bagaimana masa muda Mami dan Papi nya dulu. Raisya hanya tersenyum bahagia, karena setidak nya keluarga Mami dan Papi nya berkumpul bersama untuk memberikan doa. Sambil sesekali Raisya membantu yang lainnya, mengurus persiapan untuk nanti malam.
**
Hari sudah menjelang malam, acara kirim doa akan dimulai selepas magrib. Kini rumah Raisya telah dipenuhi oleh orang-orang yang berdatangan untuk mendoakan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Raisya memang sangat dikenal dermawan, ramah dan juga rendah hati. Tak pernah membedakan siapapun, bahkan kini anak yatim piatu dari panti asuhan pun juga diperkenan kan hadir, itu juga karena permintaan Raisya.
Acara doa pun berjalan dengan khusuk dan tenang, Raisya yang tak henti-hentinya meneteskan air mata saat membacakan doa, padahal ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi, sesekali mengusap air matanya yang jatuh. Rayes, dia membacakan doa dengan khusyuk dan tenang didampingi Vita yang duduk disebelahnya juga membacakan doa.
Setelah itu Rayes dan Raisya menyantuni para anak yatim yang mereka undang, memberikan beberapa makanan dan juga amplop yang sekira nya cukup. Usia mereka beragam, Raisya tak hentinya memberikan senyuman pada anak-anak itu yang terlihat sangat bahagia. Setidaknya Raisya berfikir bahwa dirinya masih beruntung hidup dengan berkecukupan, mempnyai orang tua yang sayang kepada nya. Bagaimana dengan anak-anak yang kini bergantian menyalami tangan nya? Mereka bahkan ada yang masih berusia lima tahun, sedari kecil entah mengapa orang tua mereka malah meninggalkan nya dipanti asuhan.
“Assalamualaikum Kakak cantik” ucap seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian muslim berwana pink, ketika hendak menghampiri Raisya.
“Walaikumsalam gadis cantik, siapa sih namanya?” tanya Raisya yang sudah berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka, lalu memberikan bingkisan makanan dan juga amplop putih. Gadis kecil itupun menerima dengan senang hati lalu menyalami dan mencium tangan Raisya.
“Nama Aku Raisya, Kak. Terima kasih ya, semoga Kakak cantik selalu bahagia, jangan bersedih, Raisya yakin orang tua Kakak pasti sudah bahagia sama Allah” ucap gadis kecil itu dengan polos sambil tersenyum yang memperlihatkan gigi nya yang ompong dua didepan.
Raisya tertegun mendengarkannya, begitupun dengan Kevin dan para sahabatnya yang berdiri dekat dengan Raisya. Raisya kembali melebarkan senyuman dihadapan gadis kecil yang memiliki nama yang sama dengannya.
“Sama-sama, Sayang. Kakak tidak akan bersedih lagi” ucap Raisya dengan lembut lalu mengecup kening Raisya kecil.
Raisya kecilpun tersenyum dan berlalu dari hadapan Raisya karena masih banyak anak yang lainnya menunggu dibelakang. Sedangkan Raisya hanya tersenyum lebar lalu melanjutkan kegiatannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Halo readers kesayangan kuuh, Author kembali Update 😘😘
Maaf yaa kalau menurut kalian alurnya ngebosenin 🙏
Mau Author rajin Up lagi?
Jangan lupa Like Vote dan Komentar makanya! 😄😄
Biar Author makin semangat!!
Yang nunggu malam pertama Raisya dan Kevin sabar yaa, hehehe
Pasti Author buatkan chapter khusus untuk mereka , ehem!! 😁
TERIMAKASIH 🙏❤😘