My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Semua Akan Baik-baik Saja



Tak terasa hari berlalu, semua masalah pun bisa diselesaikan. Gavin dan Kevin pun sudah saling memaafkan meski sempat Gavin dibuat babak belur terlebih dahulu oleh Kevin. Gavin hanya pasrah karena dia memang merasa bersalah. Masalah yang terjadi saat itu hanya diketahui oleh Raisya, Kevin, Leon dan Gavin. Kini mereka semua telah berkumpul di kantin selepas melaksanakan ulangan kenaikan kelas. Ada rasa legah, khawatir, takut dan lain sebagainya terlukis di wajah mereka. Mereka akan naik kekelas 3, itupun kalau mereka naik kelas :)


"Gak kerasa udah ulangan kenaikan kelas aja ya gaes, gimana Lo pada tadi ngerjain soalnya?" Ucap Ocha membuka obrolan mereka sembari menunggu Gavin dan Reno memesankan makanan.


"Gue lemes liat soalnya angka semua. Ada rumus yang Gue lupa dan sayangnya itu yang paling banyak dipake tadi" celetuk Bams menjawab pertanyaan Ocha.


"Lo nya aja yang malas belajar!" Saut Leon.


"Emang Lo bisa jawab ?" Tanya Bams pada Leon.


"Lo ngeraguin otak Gue?!" Sergah Leon tak terima.


"Ck! Yaa Lo pada masuk kelas unggulan, apa kabar kita yang kelasnya biasa aja. Otak juga setengah-setengah" ucap Bams.


Masih ingat kan kalau kelas Raisya itu kelas unggulan walaupun kelas IPS. Tapi tetap saja tak ada yang bisa menandingi isi kepala pasutri itu (:


"Semangat gaes masih ada 3 hari lagi, setelah itu kita bisa liburaaaaan !!" Ucap Rina dengan heboh.


"Eh iya juga yaa.. punya rencana gak Lo pada kita liburan kemana?" Tanya Raisya dengan antusias.


"Masih lama juga Sya, sekarang itu kita lebih baik fokus sama ujian kenaikan kelas ini dulu, ini tuh penentuan gaes, karena kelas tiga itu gak nyampe setahun belajarnya. Dan mungkin kita gak bisa main-main lagi" ucap Risa.


"Yaa juga sih" jawab Raisya sambil mangut-mangut.


Taklama Gavin dan Reno datang membawa nampan berisi pesanan mereka semua. Dan merekapun menikmati makanan masing-masing.


"Yakin gak Lo Sya tahun ini juara umum lagi?" Tanya Reno disela-sela makan mereka.


"Yakin donk Gue, kali ini Kevin tetep kalah" jawab Raisya dengan bangga.


"Percaya diri amat sih Bu.." ucap Kevin.


"Kemaren aja Lo kalah sama Gue" balas Raisya dengan santai.


"Itu keberuntunganmu kemarin, inget gak nilai kita itu cuma beda 1 angka" jawab Kevin.


"Jadi Raisya juara umum disekolah ini?" Tanya Gavin.


"Iyaa. Asal Lo tau aja, gak cuma Raisya kok, bahkan Kevin juga." Ucap Ocha.


"Rival?" Tanya Gavin lagi.


"Yaappss!! Kalau urusan gini Gue sama Kevin tetep Rival" jawab Raisya dengan antusias sambil menyunggingkan senyum pada Kevin yang duduk disebelahnya.


Kevin hanya melengos melanjutkan makannya. Mereka sembari bercanda, karena memang mereka membutuhkan hiburan disela-sela ketegangan menghadapi ujian kenaikan kelas ini.


Teetttt !!


Suara bel masuk berbunyi, dan ujian selanjutnya akan dilaksanakan. Memang dalam sehari ada dua mata pelajaran yang di ujikan. Raisya dan teman-temannya pun berjalan bergerombol menuju kelas masing-masing. Karena ujian kali ini mereka duduk sendiri jadilah Raisya dan Kevin tak satu ruangan. Kevin seruangan dengan Gavin dan Leon, sedangkan Raisya bersama kedua sahabatnya karena mengikuti urutan absen. Merekapun saling berpisah ketika melewati ruangan masing-masing. Dan ujian selanjutnya pun dilaksanakan.


____________________________________________


Kini Raisya dan Kevin sudah berada di dalam mobil menuju jalan pulang, lelah memang karena hari ini begitu menguras otak mereka melewati ujian yang diadakan. Namun Raisya teringat satu hal bahwa stok kebutuhan mereka menipis.


"Vin, mampir kesupermarket yaa sekalian, stok udah menipis dirumah" ucap Raisya yang sedang memainkan ponselnya.


"Iya sayang" jawab Kevin yang masih fokuas menyetir.


Beberapa menit kemudian mereka sampai disebuah supermarket besar. Kevin memarkirkan mobilnya lalu turun dengan Raisya.


Didalam supermarket mereka memilih bahan apa saja yang akan dibeli, Kevin dengan sabar mendorong trolly mengekori Raisya yang sedang memilah apa saja yang dia ambil.


"Vin, beli cemilan yaa sekalian" ucap Raisya, dan Kevin hanya mengangguk.


Setelah dirasa semuanya sudah cukup mereka berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Kali ini supermarket yang mereka kunjingi tak begitu ramai, jadi ketika ingin membayar tak perlu antri.


"Semuanya 563.500 Mas" kata Mba Kasir tersebut.


Kevin pun menyerahkan kartu kredit pada Mba Kasir itu.


"Oh ya Mas, karena hari ini supermarket Kami ada promo, jadi Mas bisa dapetin sovenire ini" ucap Mba Kasir dengan menyodorkan dua buah sovenir gantungan ponsel.


Gantungan itu ternyata couple, dengan gambar unik dan bertuliskan "My Boy" dan "My Girl". Kevin menerimanya lalu tersenyum pada dua benda tersebut dan memasukkannya kedalam saku celana. Kevin pun mengambil kartu kredit dan belanjaannya setelah mengucapkan terima kasih pada Mba Kasir.


"Sini Aku bawa sebagian" ucap Raisya mengambil alih kantongan belanjaan yg lebih sedikit.


Merekapun keluar dari supermarket. Raisya menunggu Kevin yang sedang mengambil mobilnya, sedangkan dia berdiri di depan supermarket itu. Setelah mobil Kevin menghampiri, langsung saja pasutri itu pulang menuju apertenen mereka.


____________________________________________


Kini hari semakin malam, setelah makan malam Raisya dan Kevin memutuskan untuk belajar masing-masing agar bisa berkonsentrasi. Raisya belajar di kamar, sedangkan Kevin belajar di ruang TV tanpa menyalakannya. Kevinpun teringat dengan gantungan ponsel sovenir dari supermarket tadi siang. Dia pun kekamar berniat untuk memberikannya pada Raisya.


"Sayang, masih belajar?" Tanya Kevin yang kini berjalan kearah Raisya.


"Iyaa, Aku mau menghafalkan materi ini saja sebentar" jawab Raisya sembari memperlihatkan bukunya lada Kevin.


"Oh ya. Tadi siang Aku dapat ini dari supermarket, katanya sovenir" ucap Kevin sambil memberikan gantungan ponsel pada Raisya.


Raisya pun mengambilnya dan melihatnya.


"Bagus yaa.. apa ini untukku?" Tanya Raisya.


"Yaa.. itu untukmu, dan ini untukku" jawab Kevin yang memperlihatkan gantungan ponsel miliknya.


"Ini couple?" Dan Kevin hanya mengangguk sebagai jawaban.


Raisya pun langsung menggantungkan pada ponselnya dengan antusias.


"Lucuuuu...." ucap Raisya dengan pandangan gemash pada gantungan ponsel miliknya.


"Kayak Kamu" saut Kevin.


"Apaan sih??" Balas Raisya dengan wajah malunya karena kini pipinya tak bisa dikondisikan.


"Yaudah yuk tidur, gak baik tidur terlalu malam, besok masih ujian" ucap Kevin menetralkan suasana.


Raisya pun membereskan buku-bukunya, dan kemudian menyusul Kevin yang sudah berbaring di tempat tidur.


"Yaa sebenernya kesel sih, tapi mungkin dia punya masalah atau alasan sendiri sampai seperti itu." Jawab Kevin.


"Aku juga ngerasa gitu, liat cara dia terobsesi sama Aku, dan terlebih lagi dia iri sama yang lain karena cara Aku memperlakukakan mereka" ucap Raisya.


"Tapi kalau diliat sekarang dia sepertinya sudah baik-baik saja" lanjut Raisya lagi.


"Iya sayang, mungkin dia belum bisa terlalu terbuka dengan Kita. Saat dia minta maaf waktu itu Aku bisa liat ketulusan dia, dan ada rasa bahagia dari auranya saat Aku mau memaafkannya. Mungkin dia pernah punya masa lalu yang buat dia seperti itu." Jawab Kevin.


"Semoga dengan dia berteman sama Kita itu bisa membuatnya senang dan melupakan masa lalu nya" ucap Raisya.


"Iya sayang, semua akan baik-baik saja. Sekarang Kita harus lebih fokus sama ujian ini. Aku mau lihat apa Kamu bisa mengalahkan Aku lagi seperti tahun lalu." Ucap Kevin sambil menoel hidung Raisya.


"Tentu saja Aku bisa, usaha tak akan membohongi hasil kan?" Ucap Raisya dengan bangga. Kevin pun hanya tersenyum.


"Bagaimana kalau Kita taruhan ?" Ucap Kevin tiba-tiba.


"Kau menantangku?" Saut Raisya.


"Bisa dibilang begitu" jawab Kevin santai.


"Apa taruhannya?" Tanya Raisya.


"Apa yang Kamu inginkan ?" Bukannya menjawab Kevin justru balik bertanya.


Raisya pun tampak berpikir apa yang cocok untuk dipertaruhkan. Daan...


"Bagaimana kalau traktir selama liburan?" Ucap Raisya dengan semangat.


"Gampang kalau cuma traktir" jawab Kevin dengan sombong.


"Eitsss.... traktirnya bukan sembarang traktir looh.." sanggah Raisya.


"Jadi?"


"Traktirnya mulai dari tiket pulang pergi, penginapan, jajan dan makanan, transportasi dan yang lainnya selama liburan" ucap Raisya. Dan Kevin hanya menatap istrinya itu dengan tatapan yang sulit dibaca.


"Tiket?" Ucap kevin. Raisya pun mengangguk.


"Aku sudah memutuskan Kita akan liburan kemana nanti." Ucap Raisya dengan bahagia.


Kevin berpikir sejenak, apa Raisya mengajaknya untuk berbulan madu ? Rasa bahagia muncul seketika didalam pikiran dan hatinya.


"Baiklah, Kita hanya berdua apa salahnya membiayai istri sendiri untuk berlibur" ucap Kevin.


"No no no !" Sanggah Raisya dengan menggoyangkan jari telunjuknya tanda tidak mengiakan ucapan Kevin.


"Jadi?" Ucap Kevin penasaran.


Tentu saja Kita akan berlibur dengan semua sahabat Kita. Dan termasuk biaya untuk mereka semua" ucap Raisya dengan senyum bahagianya.


Kevin pun terkejut bukan main. Membiayai Raisya dan semua sahabatnya untuk liburan? Astagaa ... terlalu konyol. Padahal dia berharap hanya akan herdua saja dengan istrinya. Saat itu lah hatinya meringis. Tapi ini kan adalah taruhan, belum tentu Kevin akan kalah. Kalau dia menang tentu saja uangnya masih aman.


"Kamu serius taruhannya itu?" Tanya Kevin memastikan.


"Iyalah serius, lagi pula Kamu pasti kalah, jadi uang ku aman terkendali" jawab Raisya dengan bangga.


"Kalau kali ini Aku yang menang gimana ?" Tanya Kevin lagi.


"Emh... baiklah Aku juga akan menepati janji ku sendiri." Ucap Raisya.


"Oke kalau begitu, siap-siap kering dompet habis liburan" balas Kevin tak mau kalah.


"Oke DEAL!!" Ucapa Raisya dan diangguki oleh Kevin.


Merekapun sama-sama tersenyum. Kevin mengeratkan pelukannya dan mencium kening Raisya dengan lembut.


"Selamat tidur sayang, jangan lupa memimpikan ku" ucap Kevin setelah mencium lembut kening Raisya.


Raisya semakin mempererat pelukannya pada Kevin dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kevin. Kevin tau kini pasti wajah istrinya sudah merona tak karuan. Kevin hanya tersenyum sembari mengusap-ngusap lembut punggung Raisya agar tertidur lebih nyaman. Berharap dan berdoa agar hari esok masih dipertemukan. Kevin yakin semua akan baik-baik saja. Segelintir kejadian yang mereka dapatkan setelah menikah, akan dijadikan pelajaran hidup bagi mereka. Itulah namanya hidup, tak ada yang semulus kain sutera. Tergantung dari diri sendiri bagaimana menyikapi sebuah masalah yang menimpa.


Kevin yakin, inilah yang kedua orangtuanya harapkan dari pernikahan mereka. Belajar sedikit demi sedikit untuk lebih dewasa lagi. Walaupun terbilang masih muda, tapi namanya kedewasaan itu tak dinilai dari berapa usia mereka. Tapi dinilai dari cara berpikir dan tindakan yang mereka lakukan.


Kini Raisya dan Kevin pun sudah menuju alam mimpi masing-masing, yang mungkin juga akan mempertemukan mereka disana :)


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Weekend Readers 😘😘


Semoga suka yaa sama chapter ini 😁😁


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar kalian yaa .. biar author semangat πŸ˜„


Tenaaang ceritanya masih panjang ...


Author gak bisa up tiap hari yaa karena akhir-akhir ini banyak yang dilakukan dikehidupan nyata.


Mohon dimaklumi yaa..


Aku sayang sama kalian 😘😘


Terimakasih sudah membaca πŸ™β€