My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Nyaman



Tak terasa jam pulang sekolah pun tiba, semua murid berhamburan keluar dari kelas setelah mendengar bel dan mengucapkan salam pada guru.


Seperti biasa Raisya dan suami beserta sahabatnya beriringan jalan dikoridor menuju parkiran sekolah.


"Syaa.. ngemoll yok" ajak Ocha.


"Duh sorry yaa.. hari ini Gue gak bisa, udah janji mau nemenin Kevin kekantor, habis tuh mau belanja keperluan rumah" jawab Raisya.


"Yaudah deeh lain kali aja" ucap Ocha.


"Enak yaa kalau udah nikah belanja kebutuhan ada yang nemenin, dorongin trolly belanjaan, bawain bungkusan belanjaan" ucap Risa sambil berangan-angan.


"Makanya nikah juga sana sama Reno" celetuk Raisya.


"Apaan sih? Kita kan masih sekolah. Lagian belum tentu Reno jodoh Gue" jawab Risa.


"Jodoh mah emang gak ada yang tau. Tapi gak salah juga kan kalau Kita mau usaha" -Raisya.


Risa hanya membalas dengan senyuman. Tiba diparkiran mereka berpisah dengan masuk ke mobil masing-masing.


_________________________________________


Kini mobil Kevin sudah melaju membelah jalan yang tidak terlalu ramai. Sepanjang jalan Raisya masih kepikiran tentang perkataan Leon. Memang awalnya Raisya belum siap untuk melakukan hal itu dengan Kevin, terlebih dulu dia belum membuka hatinya untuk Kevin.


Tapi kini dia dan Kevin sama-sama saling mencintai dan sudah saling membuka hati. Teringat saat Kevin hampir pernah kelepasan, namun dengan cepat mereka sadar dengan keadaan. Dan Raisya pernah berjanji pada dirinya sendiri, saat dia sudah bisa menerima Kevin dihatinya dia akan mencoba melakukan dan memberikan apapun yang Kevin inginkan dari dirinya, termasuk haknya.


Tapi selama ini Kevin tidak pernah memintanya, memaksanya ataupun membahasnya. Dipikirnya mungkin Kevin selama ini berjuang menahan segala nafsunya, dia laki-laki normal, terlebih hubungan mereka sudah sah dimata agama dan hukum.


"Sayang.. ada yang Kamu pikirin yaa??" Kevin bertanya memcah keheningan diantara mereka.


"Ehh.. apa?" Ucap Raisya yang bingung karena kurang fokus.


"Tuh kan.. ada yang Kamu pikirin emh?" Tanya Kevin dengan suara lembut.


"Gak.. gak ada kok" jawab Raisya seraya tersenyum kikuk.


"Kalau ada yang ganggu pikiran Kamu, ceritain ke Aku. Kita cari solusinya sama-sama" ucap Kevin sambil membelai rambut istrinya.


Raisya hanya membalas dengan anggukan dan senyumannya. Mendengar ucapan Kevin dia berniat nanti akan membahasnya dengan Kevin ketika mereka tidak sedang sibuk.


Sepanjang jalan menuju kantor, Raisya terus mandangi wajah Kevin yang serius mengemudi. Dia berfikir, inikah takdirnya yang harus menikah dengan Kevin. Padahal mereka menikah karena dijodohkan oleh orang tua mereka. Dan sebelum mereka menikah, Kevin dan Raisya tak pernah akur karena sifat mereka yang jauh berbeda.


Tak disangka kan kalau ternyata mereka yang dulu selalu bersaing dan selalu beda pendapat kini malah saling melengkapi. Sebelum mereka menikah, mereka hanya melihat sifat masing-masing dari luar saja. Berbeda sekarang mereka tau sifat masing-masing dari luar maupun dalam.


Sifat Kevin yang Raisya tau yaitu Dingin, yaa sifat Kevin memang dingin terhadap orang-orang tertentu. Jarang senyum karena selalu menatap datar orang yang menyapanya dan bicaranya pun seadanya. Tapi selama menikah dengan Raisya, perlahan Raisya tau sisi lain dari Kevin. Orangnya hangat dan sabar. Kevin begitu sabar menghadapi sifat Raisya yang terkadang keras kepala dan bar-bar, padahal dulu Kevin selalu ketus dengan Raisya. Terlebih sekarang semenjak menikah Kevin menjadi orang lebih asyik diajak ngobrol dan bercanda, tak jarang juga wajah bahagianya terpancar saat mereka disekolah. Mungkin karena sering bersama Raisya jadi ketularan bar-barnya.


"Suamimu ini memang ganteng sayang..." ucap Kevin karena dia sadar semenjak tadi Raisya memperhatikannya.


"Ehh.. apaan sih kepedean!" Kilah Raisya dan langsung membuang pandangan keluar jendela. Kevin hanya tersenyum melihat Raisya salah tingkah.


Taklama mobil yang mereka kendarai berhenti didepan gedung yang sangat tinggi dan besar. Kevin dan Raisyapun turun dari mobil dan disambut oleh penjaga disana. Kevin memberikan kunci mobil pada penjaga itu untuk memarkirkan mobilnya.


Mereka pun masuk kedalam gedung dengan masih mengenakan pakaian seragam sekolah. Ketika masuk Raisya merasakan perbedaan hawa dalam gedung itu. Bukan karena merasa angker atau gimana, saat mereka memasuki gedung itu semua orang menundukkan pandangannya memberi hormat pada Kevin. Tak ada suara apapun yang keluar dari mulut karyawan yang bekerja disana.


Raisya menjadi bingung dengan keadaan. Pasalnya ini baru pertama kali Raisya datang kekantor mertuanya yang nanti juga akan menjadi kantor suaminya. Dilihat wajah suaminya kembali memperlihatkan ekspresi datar tak ada senyum yang menghiasi. Berbeda dengan Raisya yang selalu melempar senyuman pada siapapun yang menyapanya.


Mereka pun memasuku lift khusus, didalam lift mereka hanya berdua saja.


"Gak pantes banget sih gayanya ala-ala big bos dinovel-novel" tegur Raisya pada suaminya.


Kevin menautkan alisnya menatap Raisya dengan bingung.


"Apanya yang salah?" Tanya Kevin yang bingung.


"Gak.. gakpapa.." jawab Raisya dengan cuek.


Kalau dipikir lagi Kevin memang seperti itu. Selalu memperlihatkan wajah datar tanpa ekspresi bahkan tatapan tajam. Disekolahpun Kevin masih sering seperti itu.


Pintu lift pun terbuka dan mereka telah sampai dilantai teratas bangunan ini. Lantai ini dikhususkan untuk ruangan pemimpin perusahaan. Raisya dan Kevin pun menuju ruangan yang mereka tuju yaitu ruang khusus CEO. Sebelum masuk mereka disambut oleh seseorang yang sudah siap berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Tuan, ada yang bisa Saya bantu" ucap seorang perempuan yang mengenakan pakaian kemeja dan rok yang tidak terlalu ketat.


"Tidak, Aku hanya akan memeriksa beberapa dokumen atas perintah Ayah." Jawab Kevin dengan datar.


"Baiklah, silahkan Tuan." Ucap wanita itu yang tak lain adalah sekertaris Ayahnya.


Kevin dan Raisya pun masuk kedalam ruangan itu.


"Sayang Kamu tunggu disofa itu dulu yaa. Atau kalau mau baring-baring bisa keruangan itu" ucap Kevin sambil menunjuk kearah pintu yang ada diruangan itu.


Raisya hanya mengangguk paham dan dia mendudukkan dirinya di sofa yang ada, lalu mengambil ponselnya. Kevin menuju meja kerjanya dan mengeluarkan beberapa kertas yang mungkin itu adalah dokumen.


"Oyah Vin, memang Ayah sedang kemana?" Tanya Raisya disela-sela kegiatan mereka.


"Ayah lagi keluar Kota ada proyek yang harus diurus secara langsung disana" jawab Kevin tanpa menatap Raisya karena dia masih fokus dengan dokumen yang ada dihadapannya. Raisya hanya menjawab dengan oh saja.


Sudah hampir satu jam Kevin berkutat dimeja kerjanya. Raisya mulai merasa bosan karena hanya keheningan yang menemani.


"Vin, setelah lulus sekolah nanti apa Kamu langsung ambil alih perusahaan atau gimana?" Tanya Raisya memecah keheningan.


"Yaa Aku maunya kuliah dulu, biar lebih mempelajarinya lagi. Kalau langsung ambil alih sepertinya terlalu cepat, meskipun Aku paham gimana dunia bisnis itu, tapi Aku masih mau belajar lebih dalam lagi agar semuanya lebih sempurna dan matang" jawab Kevin.


"Ya mau gimana lagi namanya juga pekerjaan, tapi Kamu tenang aja, Aku bakal selalu ajak Kamu kok.. itung-itung Aku kerja Kamu liburan. Ayah kan juga gitu kalau ada perjalanan bisnis Bunda selalu dibawa" ucap Kevin.


"Ya terserah Kamu aja deeh.." balas Raisya.


Kevin memang suka dengan dunia bisnis karena pengaruh juga dari Ayahnya. Kevin itu anak yang cerdas, makanya dia cepat paham dengan apa yang dijelaskan oleh Ayahnya. Usianya memang masih muda tapi Kevin tidak pernah terbebani dengan apa yang dia jalani dengan mempelajari tentang bisnis diusia dini. Bahkan sekarang pun dia memiliki saham yang lumayan diperushaan Ayahnya. Dan statusnya sebagai calon penerus perusahaan, karena Kevin anak tunggal.


Akhirnya kerjaan Kevin selesai juga. Dia pun merapikan kembali meja kerja Ayahnya.


"Dah selesai, yukk" ajak Kevin seraya merangkul bahu istrinya.


"Kita makan dulu yaa Vin, Aku laper" rengek Raisya.


"Baiklah princess.."


Merekapun keluar dari gedung itu dan mobil Kevin sudah disiapkan. Raisya dan Kevin masuk kedalam mobil dan menuju restoran yang Raisya mau untuk mengisi perut mereka.


_____________________________________________


Setelah mereka makan, mereka menuju supermarket untuk membeli keperluan dirumah karena bahan makanan dikulkas mulai menipis.


Kevin dengan senang hati mendorong trolly mengikuti sang istri yang sibuk mengambil apa saja yang mereka butuhkan. Setelah dirasa cukup, mereka pun menuju kasir dan membayarnya. Kevin membawa belanjaan mereka menuju parkiran dan meletakkannya di kursi belakang.


Kini mereka kembali menyusuri jalanan menuju apertemen mereka. Tak ada pembicaraan, Kevin yang fokus mengemudi dan Raisya yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Vin Aku boleh tanya gak?" Tanya Raisya membuka obrolan.


"Tanya aja sayang..." jawab Kevin yang masih fokus menyetir.


"Kamu pernah gak sih selama Kita nikah ini mikirin tentang anak?" Tanya Raisya.


Kevin yang mendengarnya sempat terkejut namun sebisanya dia kembali fokus karena sedang menyetir. Kevinpun menarik nafas dan menghembuskan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


"Yaa kalau mikirin sih pernah, namanya Kita sudah menikah, apalagi kalau bukan anak yang Kita inginkan untuk melengkapinya. Tapi kondisi Kita berbeda Sayang, Kita masih sekolah perjalanan Kita masih panjang. Kita masih sama-sama berjuang melewati semuanya. Dan juga Aku tau Kamu belum siap, Aku gak pernah maksa kok, kita nikah bukan hanya untuk menyalurkan nafsu, tapi untuk membangun rumah tangga yang Sakinah. Kita masih sama-sama belajar, belajar bagaimana menjadi peran seorang suami dan istri yang baik. Aku yakin suatu saat, moment itu akan terjadi juga, karna walau bagaimanapun kita sudah Sah dimata hukum dan agama. Aku masih sanggup kok menahannya sampai waktunya tiba, karena bagi Aku yang terpenting adalah Kamu nyaman hidup sama Aku. Aku gak mau ngebebanin Kamu tentang masalah ini, yang bikin pikiran Kamu terganggu. Karena tugas seorang istri bukan hanya itu saja. Aku ngerti sayang perasaan Kamu, Aku cuma mau Kamu bisa nyaman hidup sama Aku sekarang" Jelas Kevin panjang lebar.


Raisya tertegun sekaligus terharu mendengar jawaban dari Kevin. Kevin yang dulu dan sekarang sungguh berbeda dimatanya. Yang dulu selalu ketus dan cuek, kini bagi Raisya adalah sosok yang hangat dan pengertian. Sungguh sangat bersyukur bagi Raisya dijodohkan oleh Kevin. Kevin yang bisa mengimbangi sikap Raisya, selalu memanjakannya, mengerti keadaannya, membuat hati Raisya mengahangat.


Raisya hanya memandang Kevin dengan senyuman tanpa berkata apa-apa. Ketika lampu merah, Kevin menatap istrinya dan memegang sebelah tangannya Raisya.


"Udah yaa, jangan dipikirin lagi. Aku gak mau hal ini ngebebanin pikiran Kamu, Aku mau Kamu nyaman sama Aku itu sudah cukup. Aku percaya sama Kamu kok. Sekarang Kita fokus sama apa yang udah Kita jalanin selama ini." Ucap Kevin lalu mencium punggun tangan istrinya dengan lembut.


Raisya hanya tersenyum haru melihat tindakan Kevin dan apa yang diucapkan Kevin. Dia sungguh merasa beruntung hidup bersama Kevin yang begitu pengertian dan memahami apa yang dipikirkan Raisya.


Lampu kembali hijau dan Kevin melanjutkan perjalanannya menuju apertemen dengan masih menggenggam tangan Raisya dan tangan lainnya mengemudi. Kevin seraya melemparkan senyuman terbaiknya pada Raisya agar istrinya itu merasa lebih tenang.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya yaa Readers πŸ™β€


Jangan Lupa LIKE dan VOTE nya πŸ˜‰


Ohyaa Author mau promosiin novel kedua donk yang judulnya "LOVE IS YOU"


Deskripsi :


Cinta adalah Kamu..


Yaa cintaku adalah Kamu..


Kisah sepasang kekasih yang dipertemukan saling menyayangi namun juga saling menyakiti.


Kekecewaan, penghianatan, dendam, penyesalan, kesabaran, kebahagiaan dan rasa traumasemua menjadi satu. Takdir kehidupan yang tak bisa ditebak, karena Sang Penciptalah yang mampu membolak-balikkan hati manusia.


Hubungan yang berlika liku, barbagai masalah datang silih berganti sampai pada titik dimana kata 'Menyerah' itu hadir.


Namun tetap saling menguatkan satu sama lain ditengah rasa sakit yang menerpa keduanya. Dengan keyakinan hati yang dimiliki, mereka yakin bahwa inilah takdir mereka jika ingin bersama.


Bagaimana kah kisah mereka ?


Yuks simak ceritanyaa..


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE KOMEN DAN VOTE nya..


Jadikan FAVORITE biar gak ketinggalan update terbaru !!


TERIMA KASIH πŸ™ SEMOGA READER MENYUKAI ❀