My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Tinggal Kenangan



Pulang sekolah, seperti yang sudah di sepakati. Mereka langsung ke rumah sakit karena Kevin mengabarkan kini Raisya sedang bersiap-siap untuk pulang. Ketika sampai di rumah sakit, mereka semua langsung menuju ruangan Raisya. Dengan pelan Ocha membuka pintu hendak memberi kejutan pada sahabatnya itu.


“Raisya!” seru sahabat-sahabat Raisya dengan heboh ketika memasuki ruangan Raisya.


“Kalian,” ucap Raisya merasa senang melihat kedatangan para sahabatnya.


“Sudah pulang sekolah?” tanya Raisya lagi seraya berpelukan dengan Risa, Ocha dan juga Rina.


“Sudah, kita dapat kabar katanya lo pulang hari ini. Makanya kita semua kesini,” ucap Risa.


“Kak Raisya udah sehat?” tanya Rina.


“Sudah, kalau belum mana boleh aku pulang,” jawab Raisya sembari mengacak rambut Rina gemas. Rina sudah seperti adik bagi Raisya.


“Oh ya, pulang dari sini gue mau mampir ke makam Leon dulu,” ucap Raisya dengan senyuman yang terlihat menahan perih.


“Kebetulan, kita rencananya juga mau ngajak lo bareng ke sana,” sahut Ocha.


Raisya hanya mengangguk lalu tersenyum. Ia pun kembali mengemasi barang-barangnya dibantu oleh Bunda dan juga Kevin. Sebenarnya Vita dan Rayes ingin menjemput, tapi Rayes ada tugas di luar kota dan membawa Vita pergi bersamanya.


Tak lama Dokter Galih pun masuk ke ruangan Raisya.


“Ingat ya, kamu gak boleh setres atau terlalu banyak pikiran. Sering chek-up kemari untuk melihat perkembangan penyembuhan matamu. Paling tidak dua minggu sekali,” tutur Dokter Galih memperingati Raisya.


“Iya, Dok. Terimakasih, Raisya akan mengingatnya,” balas Raisya dengan tersenyum.


“Baiklah kalau begitu, selamat atas kepulanganmu dari rumah sakit ini. Jaga kesehatan, saya permisi,” ucap Dokter Galih seraya berpamitan pada semuanya lalu keluar dari ruangan Raisya.


**


 


 


Raisya dan Kevin kini sedang berada dalam perjalanan, hanya keheningan yang menemani mereka, karena Bunda pulang bersama sopir. Sedangkan sahabatnya masing-masing membawa kendaraan sendiri. Tujuan mereka adalah pemakaman Leon, seperti yang sudah mereka rencanakan.


Tak lama, sampailah mobil mereka di sebuah pemakaman. Tak lupa Raisya dan yang lainnya membeli bunga terlebih dahulu di toko yang dekat dengan pemakaman tersebut.


Dan kini mereka memasuki area pemakaman, Raisya mengikuti Kevin di belakang. Sampai akhirnya mereka tiba di depan gundukan tanah, dengan batu nisan yang menuliskan nama Leon, nama yang sangat Raisya kenali. Seketika air matanya jatuh membasahi pipi tembamnya. Raisya pun tersungkur di samping pemakaman Leon sambil mengusap batu nisan. Dalam hati ia sangat tidak menyangka, pertemuan terakhir mereka adalah saat di mana mereka berdua menghabiskan waktu di taman bermain.


“Leon,” ucap Raisya lirih.


Sekilas bayangan dirinya saat bersama Leon mernari-nari dalam pikirannya. Senyum, tawa, canda dan pelukan yang pernah Leon berikan. Di tambah sebuah ciuman yang mereka lakukan saat berada di arena bianglala. Ya, mungkin itu adalah salam perpisahan mereka.


Raisya meletakkan sebuket bunga aster di atas gundukan tanah tersebut, dalam hati Raisya berkata,


Lee, kamu adalah sahabat terbaikku dari kecil, kamu yang paling memahamiku. Aku menyayangimu, Leon. Maaf, jika aku tidak pernah bisa membalas perasaanmu. Tapi percayalah, kamu mempunyai tempat khusus di hatiku. Berbahagialah di sana bersama bidadari-bidadari syurga. Aku menyayangimu, Leonku. Batin Raisya seraya menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Kevin yang berada di sampingnya memeluk erat tubuh Raisya.


Ocha dan yang lain pun juga kembali terhanyut dengan suasana. Tapi mereka semua sadar, dengan merelakan kepergian Leon, itu akan lebih baik. Karena mereka yakin, Leon akan sedih dan tidak bahagia jika mereka semua terus larut dalam kesedihan atas kepergian Leon.


Setelah selesai dari pemakan, mereka pun pulang. Tapi, Raisya mengajak para sahabatnya itu untuk berkumpul sementara waktu di apartemannya. Mereka pun menyetujui.


**


 


 


Kini mereka pun telah sampai di gedung aparteman Raisya dan Kevin. Ketika sampai di depan pintu dengan cepat Raisya menekan pin pintu apartemannya karena Rraisya sangat merindukannya.


“Sya, gak apa-apa kita kesini? Takut ganggu istirahat lo, lo kan baru pulang,” ucap Risa tak enak hati.


“Gak apa-apa donk, gue kangen ngumpul bareng kalian. Udah lama banget rasanya,” balas Raisya.


“Iya bawel! Yuk, masuk,” ajak Raisya pada semua sahabatnya.


Mereka pun masuk dan menuju ruang tengah di mana mereka memang sering mengahabiskan waktu bersama. Kevin membawa masuk barang bawaannya ke dalam kamar, tiba-tiba ia teringat sesuatu.


“Sayang, ini gantungan kuncimu,” ucap Kevin sambil memberikan sebuah gantungan kunci pada Raisya yang sedang duduk di tempat tidur.


“Ah, iya. Ini aku beli saat berada di taman bermain,” ucap Raisya heboh.


“Tapi seingatku, aku juga membelikanmu,” lanjutnya lagi.


“Nih,” sahut Kevin seraya memperlihatkan gantungan kunci yang ia pegang. Raisya pun tersenyum.


“Vin, kamu gak marah kan? Aku juga punya gantungan seperti ini?” tanya Raisya hati-hati. Sambil memegang gantungan kunci yang bertuliskan Leora. Kevin pun tersenyum.


“Untuk apa aku marah? Dia sahabat terbaikmu, aku tahu hubungan kalian seperti apa, aku mengerti, Sayang,” ucap Kevin menghampiri Raisya dan duduk di sebelahnya.


“Tapi, secara tidak sengaja aku menghianatimu,” ucap Raisya lirih.


Kevin menautkan kedua alisnya bingung dengan apa yang Raisya katakan.


“Menghianati apa? Itu hanya gantungan kunci yang akan menjadi kenang-kenangan untukmu, Sayang,” kata Kevin dengan lembut


“Bukan! Bukan ini, Vin!” ucap Raisya. Kevin pun semakin bingung.


“Maaf, Vin. Saat aku dan Leon berada di taman bermain, kami berciuman di arena bianglala,” ucap Raisya memelankan suaranya.


“Saat itu, aku gak tau apa maksud Leon ingin menciumku, katanya dia ingin menjadikan aku sebagai ciuman pertamanya, tak ku sangka itu juga yang terakhir untuknya, maafkan aku, Vin,” lanjut Raisya lagi dengan sedikit terisak.


Air matanya ingin keluar lagi, namun dengan kuat Raisya menahannya. Jujur, ia sangat takut kalau Kevih akan kecewa. Tapi, Kevin justru memeluk tubuh Raisya dengan erat. Kevin paham maksud dari itu semua, Leon ingin mengucapkan salam perpisahan, yang tanpa mereka sadari. Karena Kevin tahu, seberapa sayangnya Leon kepada Raisya.


“Aku gak marah, Sayang. Aku ngerti kok. Jangan sedih lagi, ya. Aku gak mau kamu sakit lagi. Dan kalau kamu seperti ini terus, apa kamu ingin Leon juga bersedih di sana ?” tanya Kevin. Raisya menggelengkan kepala dengan cepat.


“Aku gak mau Leon sedih, aku mau dia bahagia,” ucap Raisya.


“Makanya sekarang kamu gak boleh sedih lagi, ya,” bujuk Kevin.


Setelah itu mereka kembali keluar, menemui sahabat-sahabatnya yang sedang asyik menonton televisi dan rebahan. Raisya pun menawari mereka ingin makan apa, karena Raisya siap untuk memasakkannya. Tapi, sahabat-sahabat Raisya menolak karena sudah memesan makanan melalui go food, mereka tahu karena Raisya masih perlu istirahat, tidak mungkin membiarkannya untuk memasak.


Tak lama bel aparteman pun berbunyi, menandakan seseorang datang, dan di yakini itu adalah go food yang mengantar pesanan makanan mereka. Gavin pun beranjak dari sofa ingin ke depan membukakan pintu. Setelah membayar dan membawa masuk makanannya, mereka pun menikmatinya bersama. Moment ini sangat di rindukan Raisya, meski masih terbesit ada yang kurang dari biasanya.


Mereka pun menikmati kebersamaan seperti biasa, mengisi waktu luang dengan bercanda dan bermain kartu, sampai hari menjelang sore, mereka semua pun pamit untuk pulang.


 


 


 


 


 


 


 


 


Terimakasih sudah membaca 🙏🙏❤❤


Mohon dukungan Like Vote dan Komentar 🙏❤❤