
Kini mereka sudah pulang dan berada di apertemen, Raisya mendapat surat peringatan pertama dan pihak sekolah memanggil orang tua Raisya, jujur saja mengingat kejadian Papinya yang anfal membuatnya trauma kalau mengetahui hal ini bisa membuat Papinya kaget. Ini pertama kalinya bagi Raisya semasa SMA mendapatkan maslah seperti ini. Memang dulu semasa SMP Raisya sering bermasalah disekolah, yang tak lain pasti karena berkelahi, tapi itu tidak sama sekali berpengaruh dengan prestasinya yang bisa membanggakan sekolah dan menjadi juara umum disekolah.
Kedua orangtua nya pun saat itu memang sangat marah, kadang sampai menghukum Raisya dengan memotong uang jajannya. Dan pernah saat Raisya diskorsing oleh pihak sekolah, Raisya dikurung selama masa skorsinganya oleh kedua orang tuanya, tidak ada akses internet karena handpone, laptop, dvd, mp3 semua disita, tidak ada shopping, hangout, atau holilyday. Hanya belajar dan belajar di sebuah kamar yang di awasi penjaga, hanya pelayan pengantar makan dan guru privat saja yang bisa masuk.
Sampai pada akhirnya karena kedua orang tua Raisya menyerah dengan tingkah Raisya yang seperti preman itu, membuat sebuah perjanjian yang membuat Raisya takut dan berjanji tidak akan mengulanginya.
Bukan hanya perjanjian itu yang Raisya takutkan, tapi kesehatan Papinya sekarang yang sangat dia takutkan.
Tapi ternyata ketika mereka tadi pulang sekolah mampir kerumah Raisya untuk memberitaukan dan menjelaskan apa yang terjadi, Papi dan Maminya hanya tersenyum simpul. Mereka malah mengasihani Kevin karena mempunyai istri yang bar-bar seperti Raisya. Mami dan Papi tidak akan menghukum Raisya, mendengar penjelasan dari Kevin Mami dan Papi cukup paham, malah menyuruh Kevin saja yang menghukum Raisya. Karena sekarang Raisya adalah tanggung jawab Kevin.
.
.
#FLASHBACK ON ~~
"Mi. Pi maafkan Raisya yaa..." ucap Raisya dengan lirih menundukkan kepalanya karena takut. Kini Kevin dan Raisya sudah ada di rumah orang tua Raisya setelah pulang sekolah tadi mereka mampir.
"Kenapa Kamu begitu takut seperti ini Sayang? Bukan kah ini hal yang dulu sering Kau lakukan?" Ucap Mami Raisya.
"Iyaa Mii, Raisya tau. Raisya hanya tidak ingin Papi benar-benar mengirim Raisya ketempat itu" ucap Raisya semakin memelas.
"Apa yang Kau maksud Sayang? Tempat apa?" Kini Papi nya yang bertanya.
"Papi pernah bilang kan kalau Raisya membuat masalah lagi di sekolah Papi akan mengirim Raisya kepesantren dan tinggal di asrama... hiksss" Raisya yang benar-benar takut sedari tadi akhirnya meneteskan air mata.
"Benarkah?? Bahkan Papi saja lupa kalau pernah mengatakannya. Lagi pula sudah lama sekali Kau tidak membuat masalah hingga mendapatkan surat cinta dari sekolah" ucap Papi sambil terkekeh dan tersenyum.
Apa???!!! Kenapa Papi malah tersenyum? Apa Papi beneran sudah baik-baik saja? Dan lagi apa katanya? Papi sendiri lupa dengan janji itu?! Astagaaaa!! Kalau saja Gue tau gak bakalan Gue bahas janji itu. Bisa-bisa Papi berubah pikiran karena ingat sama janji itu! Aishhh..!! Gumam Raisya dalam hati dengan gelisah.
Apa?! Raisya akan dikirim kepesantren dan tinggal di asrama? Gak bisa gini. Dia kan istri Aku! Gumam Kevin yang mendengar percakapan Papi dan Raisya juga ikut gelisah.
"Pi Mi, jangan kirim Raisya kesana yaa.. Raisya gak salah Pi, semua yang menyaksikan tau itu kok, Kevin juga ada ditempat kejadian, dan Karin pun juga sudah mengakui nya karena banyak saksi yang melihat dia tidak bisa mengelak lagi. Kevin janji hal ini tidak akan terjadi lagi. Kevin akan jagain Raisya Pi, Mi. Raisya tadi hanya lepas kendali saja karena terlalu terpancing dengan emosi dan kata-kata yang dilontarkan Karin, lagi pula memang Karin deluan yang menyerang Raisya, Raisya hanya melakukan pembelaan Mi, Pi." Ucap Kevin membela Raisya.
Kedua orang tua Raisya hanya tersenyum melihat menantunya sangat membela anak mereka. Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah Kevin.
"Raisya tau Pi kalau Raisya salah sudah berkelahi disekolah. Raisya janji gak akan ngulangin ini lagi. Jangan kirim Raisya yaa Pii.." sambung Raisya dengan nada memohon sambil mengatupkan kedua tangann di dadanya.
Papi hanya menghembuskan nafas lalu berkata "Apa Kau takut jauh dari Kevin kalau Papi kirim Kamu kesana?".
"Bukan itu Pii.. Raisya gak mau ketempat itu, Raisya gak mau jauh dari Papi sama Mami" elak Raisya. Kini dia merasa pipinya mulai memanas. Jujur saja dia juga takut jauh dari Kevin karena dia mulai terbiasa dan nyaman dengan Kevin yang cuek, dingin tapi terkadang manis memperlakukan Raisya meskipun dia harus berperang dengan jantungnya sendiri.
"Kau ini bisa saja beralasan" goda Mami.
"Mami justru kasian dengan Kevin, dia harus menghadapi istri yang keras kepala dan tukang buat onar seperti Kamu" lanjut Mami sambil terkekeh.
"Mami kok gitu sih ngomongnya....." tanya Raisya dengan cemberut.
"Sudah sudah jangan cemberut Princess Papi, nanti gak cantik lagi" Ucap Papi sambil menoel pipi anaknya.
"Dengar yaa.. Papi gak akan kirim Kamu kesana, karena Kamu sekarang suda menikah jadi Kamu adalah tanggung jawab suami Kamu, biar Kevin yang memberikan mu hukuman" ucap Papi dengan santai.
Raisya dan Kevin pun kaget namun merasa legah karena Papi tidak akan mengirim Raisya. Semyuman pun perlahan terukir di wajah keduanya.
"Iyaa.. Kevin, yang sabar yaa hadapin Raisya si tukang buat onar ini. Pasti selama kalian tinggal berdua Raisya selalu membuat masalah denganmu. Dia anak yang keras kepala dan susah nurut, Mami harap Kamu bisa membimbing dan mengajari Raisya dengan sabar, percayalah Raisya sebenarnya anak yang baik kok" uapa Mami pada Kevin.
"Iya Mi, Kevin tau kok. Dan Kevin sudah mulai terbiasa dengan sikap Raisya" jawab Kevin dengan tersenyum.
"Tuh dengerin suami Kamu, Kamu mulai sekarang harus bisa nurut sama suami, jangan buat masalah lagi. Besok Mami akan kesekolah Kamu menghadap kepala sekolah dan menjelaskannya. Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Yakan Mii" ucap Papi dan bertanya pada Mami yang hanya diangguki.
"Untuk Kevin, Papi serahkan hukumannya padamu, terserah Kau mau menghukum Raisya bagaimana. Itu hak Kamu" ucap Papi lagi pada Kevin. Dan Kevin hanya mengangguk dan tersenyum.
"Pii kok gituu??" Tanya Raisya.
"Kamu mau Kevin yang hukum Kamu atau Papi kirim Kamu kesana?!" Jawab Papi dengan nada mengancam namun itu hanya dibuat-buat.
Mendengar perkataan Papinya Raisya hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berkata "Baiklah Pi, Raisya akan menerima hukuman dari Kevin saja" ucap Raisya dengan cemberut.
Orang tua Raisya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya seperti itu. Dan kini semuanya tidak lagi membahas masalah Raisya, mereka melanjutkan dengan mengobrol ringan sambil sesekali tertawa.
Raisya dan Kevin cukup lama berada dirumah orang tua Raisya sampai lupa waktu, sampai akhirnya selesai makan malam mereka berpamitan untuk pulang karena besok mereka harus kembali sekolah.
#FLASHBACK OFF ~~
.
.
Kini Raisya dan Kevin sudah membaringkan tubuh mereka diatas tempat tidur. Tapi belum ada yang bisa memejamkan matanya. Kevin memiringkan posisi tidurnya menghadap Raisya yang memandangi langit-langit kamar.
"Pipinya masih sakit?" Tanya Kevin dengan lembut sambil mengelus pipi Raisya yang bekas tamparan.
Yaa Tuhaan tatapan itu??... Gumam Raisya dalam hati.
"Engg? Gak.. su sudah gak sakit lagi" ucap Raisya terbata lalu dengan cepat memalingkan wajahnya.
"Kamu gak lupa kan kalau Aku akan hukum Kamu?"
"Iya Aku gak lupa kok, Aku akan terima hukuman itu. Tapi tolong yang masuk akal Vin"
Jawab Raisya yang masih memalingkan wajahnya akibat melihat tatapan Kevin tadi, dan Kevin hanya tersenyum jahil melihat dan mendengar jawaban dari Raisya.
"Syaa. Hadap sini doonk" ucap Kevin sambil menoel pipi Raisya.
"Kenapa?" Tanya Raisya mencoba setenang mungkin.
"Aku mau kasih Kamu hukuman!"
Raisya yang penasaran pun memiringkan tubuhnya dan mereka kini saling berhadapan.
"Hukuman apa? Jangan yang tidak masuk akal yaa!"
"Memangnya hukuman seperti apa yang tidak masuk akal?"
"Emhhh... apa yaa??" Ucap Raisya berpikir "Yaa pokoknya yang tidak masuk akal" lanjutnya.
Kevin hanya tersenyum lalu memegang pipi Raisya dengan lembut. Raisya menjadi salah tingkah dan ingin memalingkan wajah nya namun di tahan oleh Kevin.
"Jangan buang muka begitu. Lihat dan tatap Aku Raisya"
Raisya pun dengan gugup menatap mata Kevin yang begitu lembut menatapnya. Raisya dengan susah payah menelan ludahnye sendiri akibat melihat tatapan Kevin. Kini pandangan mereka berdua terkunci. Jantung Raisya kembali bernyanyi kian cepat. Seakan dia tidak bisa bernafas ketika wajah Kevin semakin dekat dengan wajahnya. Kevin menyatukan kening mereka, sehingga begitu terasa deru nafas yang saling menyapa wajah mereka.
"Aku akan memberikan mu hukuman Sayang" ucap Kevin dengan lembut.
Raisya yang masih berusaha mengatur nafasnya tersentak kaget dan membelalakkan matanya ketika Kevin tiba-tiba mengecup bibirnya. Raisya yang ingin melepaskan ciuman Kevin namun dengan cepat Kevin menahannya dengan tangannya. Kini ciumannya bukan hanya sekedar ciuman biasa, Kevin melumat mesra bibir Raisya. Karena merasa Raisya tidak membalas ciumannya, Kevin berinisiatif menggigit bibir Raisya sehingga membuat Raisya meringis dan membuka mulutnya. Dan dengan cepat Kevin menyusuri dan mengabsen semua didalamnya.
Raisya yang awalnya masih terdiam membatu kini mulai terbuai dengan pelakuan Kevin dan akhirnya dia memejamkan matanya dan membalas ciuman Kevin. Kevin mencium Raisya dengan begitu lembutnya, baginya kini bibir Raisya bagaikan candu yang selalu membuatnya ingin mencium nya terus menerus, Kevin merasakan begitu manisnya bibir Raisya.
Raisya yang terbuai dengan ciuman Kevin ini membuatnya merasa nyaman dan seakan tidak ingin melepaskan pangutan lembut dari Kevin. Kevin begitu lembut memperlakukannya, membuat jantung Raisya seakan berhenti berdetak dan merasakan desiran yang begitu hangat.
Sampai akhirnya mereka merasa akan kehabisan nafas, Kevin pun melepaskan ciuman mereka dan memberi Raisya Oksigen begitupun dengan dirinya. Kini mereka saling menatap dengan kening yang masih menempel.
"Itu hukuman untuk mu" ucap Kevin sambil menatap Raisya yang hanya diam menatapnya.
"Mari kita tidur, besok-besok jangan membuat masalah lagi, kalau Kau diganggu segera beritahu Aku atau Kau akan tau hukumannya" ucap Kevin sambil mendekap tubuh Raisya dan kini kepala Raisya terbenam di dada bidang milik Kevin. Raisya hanya menjawab dengan anggukan kecil.
Kevin yang merasakan pergerakan kepala Raisya didadanya hanya tersenyum lalu mencium pucuk kepala Raisya dan membelainya dengan dengan lembut.
"Selamat tidur istriku" ucap Kevin sambil mengecup kepala Raisya lagi.
Raisya hanya mengeratkan pelukannya dan semakin menenggelamkan kepalanya didada Kevin. Kevin membelai lembut bahu istrinya sampai akhirnya mereka menuju alam mimpi masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hallo Readers ..
Terimakasih yang sudah selalu setia menunggu updatenya π
Mohon dukungannya untuk memberikan Vote kalian karena novel ini akan saya ikutkan Contest π
Maaf kalau lama updatenya, tapi akan Saya usahakan selalu update cerita ini.
Jangan lupa like yaa biar Saya tambah semangat!
Mohon dukungannya dan Terimakasih banyak! πβ€