
Suasana dikantin sangat ramai,, seperti biasa Raisya dan dua sahabatnya menikmati makanan sambil bercengkrama, namun sepertinya mood Raisya hari ini berubah kurang baik, terlihat jelas dari tingkahnya yang sedari tadi hanya mengaduk-ngaduk makanannya. Ocha dan Risa menyadarinya.
"Syaa, tumben diaduk-aduk aja? Kenapa?" Tanya Risa, namun Raisya hanya diam menatap makanannya.
"Syaa, Lo ada masalah?" Tanya Ocha yang menyadari perubahan sikap sahabatnya, namun sama saja Raisya tak bergeming.
Kedua gadis yang duduk didepannya pun ikut bingung melihat Raisya yang seperti ini, tidak biasanya Raisya menjadi diam tak bergeming begini. Biasa Raisya yang selalu memecah keheningan atau mengajak dua sahabatnya itu bergibah ria tentang apa saja. Raisya yang kini hanya diam dalam pikirannya yang masih beradu dengan kenyataan yang akan dia hadapi nantinya.
●
●
●
》FLASHBACK ON~~~
Kini Papi sudah sampai dirumah dengan didampingi Raisya dan Mami menuju kamar untuk istrahat. Raisya membantu Papinya berbaring ditempat tidur begitu mereka masuk kedalam kamar Papi.
"Papi istirahat yaa... jangan banyak pikiran dulu" kata Raisya yang masih mengkhawatirkan sang Papi.
"Iyaa sayang, Papi baik-baik saja sekarang" balas Papi dengan lembut.
"Oyaa sayang, Mami kedapur dulu yaa mau bikinin Papi kamu makanan biar nanti bisa minum obat, temani Papi kamu sebentar ya sayang" ucap Mami dengan lembut sambil membelai rambut putrinya, dan hanya di angguki oleh Raisya.
Setelah Maminya menghilang dari balik pintu kamar, kini hanya ada Papi dan Raisya, Raisya masih menggenggam tangan Papinya dengan penuh kasih sayang.
"Pi, maafin Raisya yaa Pi" ucap Raisya dengan memelas.
"Kenapa kamu harus minta maaf? Papi baik-baik saja sayang" balas Papi.
"Maafin Raisya Pi, udah buat Papi kayak gini, Raisya nyesel Pi, Raisya takut, maafin Raisya Pi" kata Raisya yang sudah meneteskan air matanya karena sudah tak sanggup menahannya.
"Iya sayang, Papi tau kok kalau Raisya tidak bermaksud untuk seperti itu, Papi juga sayang sama Raisya, Papi cuma hanya ingin yang terbaik untuk kamu sayang" ucap Papi sambil membelai pipi anaknya yang basah oleh airmata.
"Kalau itu yang menurut Papi baik untuk Raisya, Raisya mau kok Pi, Raisya akan melakukan apa saja untuk Papi, termasuk menerima perjodohan ini. Asalkan Papi bahagia Raisya juga akan bahagia" tutur Raisya yang membuat Papinya tersenyum.
"Sayang, dengerin Papi. Papi tau kamu tidak suka dengan Kevin karena dia saingan kamu kan? Tapi Papi yakin kalian berdua bisa bekerjasama membangun rumah tangga kelak, Papi ingin sekali melihat kamu menikah dan habagia. Papi juga yakin kalau Kevin adalah anak yang baik, dan juga penyayang." Jelas Papi pada Raisya.
"Kalau Papi ingin liat Raisya menikah. Memangnya Papi gak ingin lihat Abang nikah ?" Tanya Raisya tiba-tiba teringat dengan Abangnya.
"Yaa Papi juga ingin melihat Abang kamu menikah, tapi masa iya Papi nikahin dia sama Kevin? Lagipula Abang kamu masih diluar negeri." Kata Papi sambil terkekeh geli.
"Lah terus kenapa jadi Raisya yang dijodohin sama Kevin?" Tanya Raisya penasaran. Papi menghembuskan nafasnya sejenak. Dan mulai bercerita.
"Dulu waktu Kevin dan kamu masih dalam kandungan, Papi dan Mami bertemu dengan orangtua Kevin. Saat itu Abang kamu kira-kira masih berusia 5 tahun, dan terjadilah percakapan tentang perjodohan. Kata Abimana kalau dia punya anak perempuan, dia akan menikahkan putrinya dengan Abang kamu, karena Abang kamu sangat dekat dengan Abimana dulu, dia sama sekali tidak tau jenis kelamin apa yang dikandung istrinya, karena baginya tidak penting biar jadi kejutan karena itu anak pertama mereka. Dan mengetahui kalau Mami mengandung anak perempuan Abimana bilang kalau anak nya laki-laki maka akan dinikahkan dengan kamu, beda usia kandungan Mami dan istrinya pada saat itu dua bulan lebih tua dari Mami kamu. Tanpa berpikir pun Papi dan Mami kamu sangat setuju karena kami sudah mengenal satu sama lain sejak lama, akhirnya terjadilah perjanjian diatas kertas itu" jelas Papi panjang lebar menjelaskan pada Raisya.
"Dan kamu tau kan kalau janji itu adalah hutang dan harus dibayar, Abimana sangat bahagia ketika istrinya melahirkan Kevin. Dan dua bulan setelahnya kamu lahir kedunia, bertambhlah kebhagiaan kita semua, dan semakin yakin untuk menjodohkan kalian" sambung Papi lagi.
"Papi yakin sayang kamu akan bahagia sama Kevin" kata Papi mengakhiri ceritanya pada Raisya yang hanya diam membeku sambil mengelus rambut Raisya dengan lembut.
"Baiklah Pi, tapi bagaimana dengan sekolah Raisya nanti? Dengan cita-cita Raisya kalau Raisya menikah?" Tanya Raisya dengan sedikit sedih.
"Masalah sekolah kamu biar Papi nanti yang urus, lagian kan juga Ayah Kevin itu Donatur terbesar disekolah kamu jadi mungkin tidak ada masalah untuk sekolah kamu nanti, yang penting sekarang kamu dan Kevin punya ikatan dulu, soal perasaan akan datang seiring berjalannya waktu. Masalah cita-cita dan impian kalian bisa diskusikan bersama nantinya" jelas Papi lagi.
"Papi yakin Kevin juga mengerti hal ini, karena Papi tau Kevin itu sama ambisius nya denganmu masalah masa depan, tapi untuk kebahagiaan kalian Papi dan Abimana yakin ini juga yang terbaik untuk kalian dengan mempererat suatu hubungan" sambung Papinya lagi. Raisya hanya tersenyum dan mengangguk mendengar penjelasan Papinya, dia sudah pasrah dengan kenyataan yang akan dihadapinya nanti. Mengganti statusnya menjadi seorang istri mau tidak mau, siap tidak siap harus mau dan siap. Karena roda kehidupan itu selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah.
》FLASHBACK OFF~~~
●
●
●
"Woyyyy!!!!" Tegur Leon sambil menyenggol bahu Raisya. Raisya yang sedang melamun diam pun sontak terkejut dan jantung nya serasa ini meloncat keluar karena sangking kagetnya.
"LEOOOOOONNNN !!!!" teriak Raisya yang tak kalah nyaring dari toak masjid.
"Duhhh Syaa nagapain siih teriak-teriak! Kuping Gue masih normal ini bisa budek gara-gara Lo" ucap Kevin sambil menggosok-gosok telinganya.
"Bodo amat! Lagian juga ngapain sih ngagetin Gue!" Jawab Raisya dengan kesal.
"Sialan Lo!" Gerutu Raisya.
Tiba-tiba entah sejak kapan Bams duduk disamping Raisya.
"Yayang Raisya kenapa si bengong sampai gak sadar kita dateng??" ucap Bams dengan manja. Raisya yang mendengar namanya dipanggil seperti itu langsung bergidik ngeri. Dan dia menatap orang-orang yang duduk satu meja dengannya, ada Reno dan juga Kevin. Yang sejak kapan sudah bergabung ia tidak tau.
"Diihh Yayang?? Emang Raisya kuyang apa?!" Bukan Raisya yang membalas tapi Ocha yang mencibir Bams.
"Diihh kenapa? Ocha cemburu?" Balas Bams dengan menggoda sambil memainkan alisnya.
"Iyuuhh... jijik Gue!" Balas Ocha dengan memperlihatkan ekspresi muka jijik nya. Yang lainnya pun tertawa. Bams yang dibalas seperti itupun bukannya berhenti malah semakin gencar menggoda Ocha, yang lain hanya tertawa dan geleng-geleng kepala melihat perdebatan yang unfaedah dari dua manusia itu. Raisya dan Kevin pun sesekali bersitatap pandangan namun hanya sebentar lalu berpaling lagi.
"Lo kenapa sih Sya? Lo ada maslah?" Tanya Leon dengan Lembut sambil merangkul pundak Raisya. Leon yang menyadari perubahan mood Raisya itupun juga penasaran.
"Bukan urusan Lo Lee!" Balas Raisya cuek.
"Syaa, Gue kenal Lo lebih dari siapapun! Lo ada masalah cerita sama Gue, jangan di umpetin sendiri" kata Leon sambil membelai wajah Raisya, Raisya hanya diam saja.
Ocha, Risa, Bams, Reno dan Kevin menyaksikan adegan itu dengan seksama, Leon yang membelai wajah Raisya dengan Lembut dan memegang tangannya seketika membuat Raisya menundukkan kepalanya. Seperti adegan Pasangan yang saling perhatian. Mereka semua diam menunggu adegan selanjutnya. Tiba-tiba Raisya menangis sesunggukkan membuat teman-temannya menjadi bingung terutama Leon.
"Waah Lo apain tuh anak orang Lee?" Tegur Reno.
"Diem dulu napa, bawel banget sih!" Sanggah Leon, dia tau kalau sahabatnya ini pasti ada masalah yang susah untuk diungkapkan. Langsung saja Leon memeluk Raisya dan membiarkannya menagis dalam dekapannya sampai dia merasa puas.
"Lee, mending Lo bawa aja deh Raisya ke UKS, suruh dia istrahat, kayaknya cuma Lo yang paham sama dia" ucap Risa dan hal itu di angguki Leon.
Tanpa aba-aba Leon langsung mengangkat tubuh Raisya dan membawanya keluar dari kantin menuju UKS, mereka berlimapun kaget dengan tindakan Leon. Tapi melihat Raisya yang hanya diam tanpa berontak mereka pun juga diam tanpa ada yang protes, memandang dua orang tersebut yang pergi meninggalkan kantin sampai tidak terlihat lagi.
Setelah Raisya dan Leon hilang dari pandangan mereka melanjutkan obrolan-obrolan yang tak berfaedahnya.
"Raisya kenapa sih emangnya? Gak kayak biasanya." Tanya Reno yang duduk disamping Risa dengan penasaran.
"Gak tau juga Gue, perasaan tadi pagi masih baik-baik aja, ya kan Cha? Cuman tadi aja tuh pas lagi makan tiba-tiba kayak gitu, kayak ada yang lagi dipikirin." Kata Risa dan dan diangguki Ocha.
"Ada hubungan apa Raisya sama Leon?" Tanya Kevin tiba-tiba membuat teman-temannya itu kaget.
"Tumben Lo tanya-tanya tentang Raisya. Lo cemburu?" kata Bams sambil menggoda Kevin.
"Ish apaan sih? Gue cuman nanya!" Sanggah Kevin dengan ketus. Dia sebenarnya tau kalau Raisya dan Leon itu dekat, tapi dia hanya memastikan lagi karena baginya Raisya adalah calon istrinya sekarang, dia tidak mau mempunyai istri yang mempunyai laki-laki lain.
"Ckck gini ya Gue jelasin biar kalian gak salah paham" Ocha mulai bercerita.
"Raisya sama Leon itu gakada hubungan apa-apa, mereka hanya sebatas sahabat dari kecil, Gue paham yang sekarang dibutuhkan Raisya itu cuma Leon, karena cuma dia yang ngerti tentang Raisya" Ocha menjelaskan.
"Terus Lo percaya gitu aja?" Tanya Bams.
"Gue percaya kok, karena mereka berdua pernah jelasin ke Gue secara langsung gimana hubungan mereka. Memang sih katanya Leon itu pernah suka sama Raisya tapi itu dulu, sekarang udah kagak, karena dia tau Raisya itu gakada rasa apa-apa sama dia. Tapi bagaimanpun Leon akan tetap berusaha menjaga Raisya." Jelas Ocha lagi. Yang lain hanya mangut-mangut saja. Sedangkan Kevin menyimak perkataan Ocha.
"Tapi kan kalian juga sahabatan sama Raisya" ucap Bams lagi.
"Iyaa kita emang sahabatan, tapi jujur ajasih Gue belum terlalu paham kalau soal perasaan Raisya, Gue kenal dia juga baru setahun ini. Dan selama Gue berteman sama dia, menurut Gue emang si Leon yang paling paham sama Raisya. Lo liat sendiri kan tadi gimana reaksinya si Leon ke Raisya." jelas Ocha lagi.
"Iya sih, yang Gue tau Raisya itu orangnya baik, ramah, gak neko neko kalau sama temen, yaaaahhhh.... walaupun kalian tau sendiri kan sebarbar apa Raisya." Lanjut Risa menambahkan.
Baik? Ramah? Gak neko neko? Masa sih ? Guman Kevin dalam hati. Jujur saja, semenjak adanya perjodohan ini, dia semkin penasaran dengan Raisya, seperti sekarang ini mencari informasi tentang hubungan Raisya dan Leon, dia sedikit lega mendengar penjelasan Ocha yang memang juga sahabat Raisya. Tapi dia juga memikirkan perasaan yang dimiliki Leon terhadap Raisya, walaupun bertepuk sebelah tangan tapi tetap saja kan namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan apapun bisa terjadi entah itu sekarang atau nanti.
.
.
.
.
.
Terimakasih yang sudah membaca🙏
Mohon saran dan dukungannya yaa 🙏❤