My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Mati Lampu



Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pm tapi mereka masih asyik bermain kartu UNO di ruang tengah. Dengan duduk membuat lingkaran dan dengan wajah yang penuh dengan polesan bedak tabur, karena bagi siapa yang kalah maka akan mendapat polesan bedak dari pemain lainnya. Jadilah wajah mereka cemong seperti badut, terlebih lagi Ocha yang wajahnya sudah berdempul dengan bedak yang tebal akibat sering kalah, membuatnya nyaris seperti hantu difilm-film hanya tinggal menggamabar lingkaran hitam saja disekitar matanya.


"Gilaakk!!!! Gue kalah mulu!" Teriak Ocha ketika dia melihat kartunya tersisa banyak.


"Yang tadi ngajak main ini siapa??!" Cibir Leon.


"Yakan Gue cuman penasaran gimana mainnya" jawab Ocha dengan cemberut.


Memang dia yang mengajak semua untuk bermain kartu UNO karena sangat penasaran cara bermainnya, setelah dijelaskan oleh Leon dia mengangguk paham dan dengan bangganya dia menantang sahabatnya itu dengan syarat siapa yang kalah akan dipoles dengan bedak. Namun siapa sangka senjata makan tuan.


Dan sekarang dengan pasrah dia akan menerima polesan bedak lagi dari sahabatnya. Mereka tak sungkan-sungkan memoleskan seluruh telapak tangan yang penuh dengan bedak tabur pada wajah cantik Ocha.


"Udah ah Gue nyerah!" Ucap Ocha dengan kesal.


Terlihat sekali penampilannya kini sangat berantakn. Wajah yang sudah sangat tebal dengan bedak, bahkan bedaknya mengenai sebagian rambutnya yang tergerai panjang, sehingga terlihat seperti Ocha memiliki banyak uban.


"Yadeeh Kita udahan, kalian bersih-bersih gih ganti pakai baju Gue aja" saran Raisya pada sahabatnya yang terlihat berantakan.


Semuanya pun mengiyakan untuk mengakhiri permainan mereka, karena juga hari semakin malam. Merekapun bersama membersihkan kekacauan yang dibuat, sebelum membersihkan diri. Namun ketika mereka semua berdiri ingin merapikannya tiba-tiba lampu padam.


"Aaaaaaa!!!!" Teriakan dari para gadis karena kaget membuat suasana menjadi semakin panik.


"Keviiin! Keviinn!! Leoon! Leoon !!" Raisya berteriak histeris ditengah kegelapan.


Raisya tak mampu menggerakkan kakinya karena merasa takut, dia tidak bisa melihat apa-apa. Akhirnya dia terduduk di lantai dengan memeluk kedua lulutnya. Terasa ada sesuatu yang menggenang di sudut matanya, Raisya mulai terisak pelan.


Kevin dan Leon yang mendengar teriakkan Raisya mencoba meraba kesegala arah untuk menemukan Raisya. Karena dari mereka semua tak ada yang memegang ponsel, Risa dan Ocha yang saling berpelukan berjalan bersama untuk mencari ponsel mereka didalam tas yang di taruh di atas sofa.


Kevin dan Leon tersentak karena ada sesuatu yang menghalangi langkah mereka, dan menyadari itu adalah Raisya yang sedang terduduk di kegelapan.


"Raisyaa..." ucap keduanya bersamaan dengan lembut.


Kevin berdiri disebelah kanan Raisya dan Leon disebelah kiri Raisya. Kevin yang hendak meraih tubuh Raisya namun dengan cepat Raisya berdiri dan malah langsung memeluk Leon dalam kegelapan.


"Aku takuut!! Hiks..." jerit Raisya sambil memeluk Leon tanpa dia sadari.


Kevin yang sadar kalau Raisya memeluk Leon pun hanya bisa menghela nafas. Ada rasa kecewa karena bukan dia yang diraih oleh Raisya. Namun ini bukan saatnya untuk membahas itu, dia tau kalau sekarang Raisya sangat ketakutan.


Kevin pun mengurungkan niatnya mengambil alih Raisya dari dekapan Leon untuk mencari penerangan. Sedangkan Leon yang dipeluk oleh Raisya hanya bisa menenangkanya dengan mengelus-ngelus pundak Raisya sambil memeluknya.


Brukk!!


"Aaaww!!!" Pekik Risa dan Ocha bersamaan.


"Kalian kenapa?" Tanya Kevin.


"Siapa sih ini yang nabrak, udah tau gelap gini!" Celoteh Ocha.


"Eh sorry sorry... Gue gak liat! Namanya lagi gelap gini, Gue mau cari hape Gue" jawab Bams.


Mereka masih ditengah kegelapan, dengan berusaha meraba-raba sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa menerangi.


Kevin yang perlahan berjalan mencari arah menuju lemari tv dan mereba-raba sekitar mencari senter yang dia simpan disana.


"Keviin" ucap Raisya dengan lirih yang sudah sadar kalau orang yang dia dekap bukan suaminya.


"Kamu tetap diam disitu Aku lagi cari senter" jawab Kevin dalam kegelapan.


Raisya yang mendengar hanya menurut saja, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Leon. Raisya memang takut dengan kegelapan dan Leon tau itu. Jadi Leon terus berusaha menenangkan sahabatnya.


"Kok gak ada ya senternya?" Tanya Kevin yang masih meraba-raba sekitar lemari.


"Mungkin dikamar Vin" jawab Raisya.


"Yaudah Gue cari kekamar dulu" saut Kevin sambil melangkah pelan menuju arah kamar.


"Ren, Lo tolong cek keluar donk" pinta Kevin.


"Ya sudah Gue yang ngecek keluar, Ris Lo gakpapa kan? Diem aja disitu yaa.." saut Reno dalam kegelapan yang tidak tau dimana Risa berada.


"Iyaa.." jawab Risa yang sebenarnya tak jauh dari Reno berdiri.


Renopun meraba dinding dan berjalan pelan menuju ruang tamu.


Sedangkan Ocha yang entah sedang merogoh tas siapa dia tidak peduli, yang dia pikirkan hanya ingin mendapatkan benda yang mengeluarkan cahaya.


"Cha Lo udah dapet senter atau hape gak?" Tanya Bams yang sebenarnya berdiri di samping Ocha.


"Gue gaktau tas Gue yang mana, ini isinya malah ada baju kaos. Mana bau keringet lagi" jawab Ocha.


"Tuh kayaknya tas Gue tuh " saut Bams.


"Cha Lo dimana sih? Cepetan donk Gue udah gak tahan gelap-gelapan gini. Gak bisa liat apa-apa" ucap Risa yang sebenarnya berdiri diam di belakang Ocha.


Risa sebenarnya juga takut dan terkejut ketika lampu padam, namun dia berusaha menenangkan diri dan membuang pikiran anehnya. Setelah tadi jatuh dengan Ocha, Risa memilih diam ditempat menunggu Ocha mendapatkan sesuatu yang bisa menerangi. Dengan *** tangannya sendiri yang mulai dingin dan berkeringat.


"Kayaknya ada senter kecil tuh Cha di tas Gue, hape Gue lowbat soalnya" saut Bams.


"Ini gimana nyalainnya woy?!" Tanya Ocha yang juga sudah mulai frustasi didalam kegelapan, karena sudah mendapatkan penerangan namun tidak tau cara menyalakannya. Karena dia tidak menemukan tombol apapun.


"Diputer Cha" perintah si Bams.


"Dijilat terus dicelupin yaa, antik bener nih senter" Ocha terkekeh sendiri mendengar apa yang diucapkannya.


"Lo tuh yaa kondisi kayak gini masih aja bisa becanda" saut Risa yang tak jauh berdiri di belakang Ocha.


Klikk!!


"Nah nyala juga nih senter" ucap Ocha dengan senang. Dia pun berbalik. Namun tanpa sadar cahaya lampu senter itu tepat mengarah pada wajahnya sendiri.


"Aaaaaa!!!!!!" Risa berteriak histeris sangking kagetnya.


Pasalnya dia tepat berdiri di belakang Ocha, dan melihat penampilan Ocha yang menyeramkan baginya di tengah kegelapan. Bagaimana tidak? Dengan wajah yang masih penuh dengan bedak tebal dan rambut panjang yang tergerai berantakan, ditambah cahaya putih dari senter yang mengenai wajahnya yang sedikit tertutup oleh rambut menatapnya.


Brrukk !!


Risa yang memang sebenarnya dalam keadaan panik di tengah kegelapan ditambah dia melihat Ocha seperti melihat hantu pingsan tergeletak dilantai.


"Risaa!!" Teriak Ocha yang melihat Risa jatuh pingsan dilantai.


Tiba-tiba lampu menyala bersamaan dengan Kevin yang keluar dari kamar dengan senter ditangannya dan juga Reno yang sudah kembali dari luar.


"Alhamdulillah" ucap mereka bersamaan.


"Laah? Risa kenapa?" Tanya Reno yang sudah bisa melihat keadaan sekitar.


Raisya yang sudah tenang melepas pelukannya dari Leon dan mereka semua menghampiri Risa yang tergeletak dilantai.


"Ris.. bangun Ris.." ucap Ocha dan Raisya berusaha membangunkan sahabatnya.


"Vin. Tolong cariin minyak angin dikotak obat dikamar" ucap Raisya pada Kevin.


Kevin pun bergegas kekamar dan mengambilkan minyak angin lalu kembali memberikannya pada Raisya. Dengan telaten Raisya mengarahkan minyak angin tersebut kearah hidung Risa. Tak lama mata Risa pun mulai mengerjap perlahan membuka matanya.


"Syukurlaah" ucap mereka berbarenga ketika Risa mulai membuka matanya sadar.


"Syaa.. Gu Gue tadi.. Gue tadi..." ucap Risa dengan gugup.


"Lo kenapa Ris?" Tanya Reno khawatir.


Risa masih terdiam hanya menatap Reno dan yang lainnya bergantian.


"Dia tadi liat penampakan. Yakan Ris?!" Celetuk Bams dan Risa hanya mengangguk cepat tanpa mengeluarkan suara.


"Hah??" Saut mereka semua.


"Lo pada tenang dulu .. gak ada penampakan disini.. nih biang kerok nya sampai buat Risa jerit ketakutan sampai pingsan" jelas Bams sambil menoyor kepala Ocha.


"Kok Gue sih" kilah Ocha yang tidak terima.


"Ya emang Lo Jaenab! Lo udah kayak kuntilanak tau gak?! Rambut berantakan muka dempul gitu. Belom lagi tadi Lo arahin senternya kewajah Lo sendiri. Gimana gak kayak kunti!" Cerca Bams yang tak mau kalah.


"Masa sih?! Hehe... sorry yaa Ris, Gue gak tau Lo ada dibelakang" sungut Ocha dengan wajah tanpa dosa.


Semua yang ada diruangan itu hanya bisa menghembuskan nafas legah nya. Setidaknya yang Risa lihat bukan penampakan betulan, melainkan sosok Ocha yang tanpa sengaja terlihat seperti Kunti ditambah suasana gelap yang membuat mereka gelabakan.


Saat suasana kembali normal mereka pun membersihkan diri masing-masing. Ocha dan Risa sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian Raisya. Tak jarang mereka memang sering bertukar pakaian.


Hari sudah semakin larut mereka pun berpamitan pulang, seandainya besok hari libur mereka memilih akan menginap di apertemen Raisya dan Kevin meski harus tidur disofa atau berbaring dilantai dengan alas seadanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sory baru bisa up. Kemarin soalnya lagi sibuk banget, hehe..


Terimakasih yang sudah membaca..


Jangan lupa yaa baca Novel aku juga yang judulny "LOVE IS YOU" dijamin ceritanya juga bagus walaupun ada sad story nya . Hehehe


Jangan lupa LIKE nyaa ❤