My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Tak Ingin Jadi Penghalang



Susana sekola hari ini mendominasi pada siswa baru yang mengenakan seragam putih birunya. Jadi masih bisa membedakan mana kakak kelas dan mana siswa baru. Raisya dan kedua sahabatnya berjalan dikoridor, entah kemana tujuan nya yang pasti hanya melihat-lihat anggota Osis yang sedang menangani beberapa kelas MOS. Siswa baru tak hanya melakukan kegiatan di dalam kelas, namun aja juga yang dilapangan sekolah memainkan sebuah game.


Sering kali langkah mereka berpapasan dengan beberapa guru, dan mungkin ada yang memberikan kabar tentang meninggalnya orang tua Raisya, guru yang berpapasan dengan Raisya mengucapkan rasa belasungkawa. Raisya pun hanya membalas dengan senyuman manisnya, sesekali mengingatkan untuk memberi kabar tentang acara doa yang akan dilakukan besok malam.


Tak lama langkah mereka pun berhenti di sebuah taman sekolah yang berada di belakang gedung. Suasana disana sangat sejuk dan rindang karena banyak pepohonan dan tumbuhan hijau lainnya yang masih asri. Mereka bertiga pun duduk di kursi taman yang sudah siapakan.


“Kita ngapain sih sebenarnya kesekolah? Belajar juga enggak” ucap Ocha yang memang lupa apa tujuan mereka datang kesekolah.


“Astagaaa!!” pekik Raisya menepuk dahinya karena baru mengingat sesuatu yang terlupakan.


“Kita kan datang kesekolah mau liat list nama kelas baru” sambungnya lagi.


“Udah sampai sini baru inget” ucap Risa yang juga lupa.


“Udah PW loh ini” keluh Ocha menghela nafasnya. Karena memang cukup jauh jarak taman menuju mading sekolah.


“Yaudah nanti aja kalo udah mau balik” Raisya memberi saran. Kedua sahabatnya mengangguk.


Raisya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi taman, matanya menatap langit biru yang begitu cerah, cuaca yang tidak begitu terik membuat angin yang berhembus seakan membawa mereka ingin tidur dengan nyaman.


“Gaes pernah LDR an gak?” tanya Raisya.


“Pacar aja gak punya, mau LDR an sama siapa? Sering sih LDR an, sama Mama Papah Gue” ucap Ocha dengan terkikik.


“Gue baru aja ngerasain punya pacar, enggak pernah LDRan orang satu sekolah” ucap Risa menambahkan.


“Hhuuuhhh….” Raisya menghela nafasnya.


“Kevin ternyata punya impian buat lanjutin kuliah di Inggris” sambungnya lagi.


“Terus?” ucap Risa dan Ocha hampir berbarengan.


“Tapi dia rela gak lanjutin keinginannya demi Gue. Berasa egois banget deh, Gue” jawab Raisya lirih.


“Lo gak egois sih, itu impian dia. Kalo dia gak mau lanjutin cita-citanya demi Lo, itu artinya Lo emang lebih berharga dari apapun” ucap Risa.


“Tapi Gue gak mau jadi penghalang cita-cita dia karena Gue istrinya yang harus dipertanggung jawabkan. Itu impian dia dari dulu sebelum nikah sama Gue” ucap Raisya.


“Terus, kalau dia jadi pergi. Emang Lo siap LDRan paling gak empat tahun loh” kata Ocha.


“Ya kalau siap gak siap mah emang harus siap. Tapi, yang Gue takut kalau komunikasi kita nanti gak lancar. Takut disana di buru sama bule-bule Inggris.” Ucap Raisya dengan wajah cemberut. Kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepala tak paham dengan apa yang gadis ini pikirkan.


Jelas-jelas Kevin sangat menyayanginya, bahkan selalu ada buat Raisya. Disekolah pun tidak pernah meladeni para fans cabe-cabeannya, hanya bersikap seperti manusia jika sedang bersama Raisya dan sahabat nya, apa yang harus ditakutkan. Memang semua pemikiran itu terkadang tak sejalan, bahkan ekspetasi tak sama dengan kenyataan.


“Kenapa Lo gak ikut kuliah bareng sama Kevin disana?” ucap Risa memberi saran.


“Terus Gue gak ketemu kalian lagi donk..” jawab Raisya dengan suara manja.


“Ampun dah, Raisyaaaa!!” ucap Ocha menepuk keningnya sendiri.


Memang masih terlalu sulit bagi Raisya untuk jauh dari kedua sahabatnya ini. Apa lagi setelah kedua orang tua nya meninggalkan nya, hanya mereka yang bisa membuat Raisya bangkit kembali. Kebimbangan melanda hati Raisya, disatu sisi dia tak mau jadi penghalang untuk cita-cita Kevin yang sudah sedari dulu diharapakan, tapi dia juga belum terlalu siap jika harus berjauhan dengan Kevin. Dan disisi lainnya, jika dia ikut bersama Kevin Raisya belum siap pula berjauhan dengan kedua sahabatnya ini, apa lagi di Kota tempat kelahiran nya ini begitu banyak kenangan bersama orang-orang yang ia sayangi, seperti kedua orang tua nya.


(Perasaan Author bikin chapter mellow mulu dari kemarin? - Entahlah Author lagi kebawa suasan mungkin - ) Gak kelas abaikan saja.


Back to story~


**


Kini Raisya dan Kevin sudah dijalan pulang menuju rumah Raisya, seperti tujuan awalnya kesekolah adalah untuk melihat list kelas baru yang akan mereka masuki ketika proses belajar mengajar terlaksana setelah MOS ini selesai. Wajah Raisya tampak murung selama perjalanan pulang. Bagaimana tidak? Dia dan Kevin tidak sekelas kali ini, diantara sahabatnya Raisya hanya sekelas dengan Risa dan Reno. Sedangkan Kevin sekelas dengan Gavin, Ocha sekelas dengan Rina, Leon dan juga Bams.


“Muka nya jangan cemberut doonk, Sayang” ucap Kevin yang sedang fokus mengemudi.


“Tau ah! Kenapa kali ini kita pisah kelas sih?! Kan gak asik. Mana sekelas sama Reno dan Risa! Jadi obat nyamuk deh ntar dikelas!” omel Raisya.


Kevin hanya tersenyum melihat tingkah Raisya yang sangat menggemaskan jika saat mengomel seperti sekarang.


“Kan yang penting Kita masih satu sekolah, Kita juga satu rumah. Seharusnya Kamu seneng udah gak ada saingan lagi dikelas nanti” ucap Kevin dengan lembut.


“Tapi kan tetep aja, Vin! Aku tuh maunya sekelas lagi.” Jawab Raisya.


“Yaudah gak apa-apa. Lagian juga Kamu gak bosen sekelas sama Aku terus?” ucap Kevin.


“Ohh, jadi Kamu bosen gitu sekelas sama Aku terus ? Iya ?!” ucap Raisya dengan sewot.


Ck! Salah ngomong lagi kah? Gumam Kevin.


“Bukan, Sayang. Asataga!” kilah Kevin.


“Terus kenapa ngomong nya gitu?! Apa memang Kamu seneng gak sekelas sama Aku? Gak akan ada lagi yang debatin Kamu. Yakaan?!” ucap Raisya dengan kesal.


Astaga salah lagi! Ucap Kevin dalam hati sambil menghembuskan nafasnya kasar. Memang ya, namanya wanita itu gak bisa disalah kan. Inilah yang dirasakan Kevin sekarang, saat mode Raisya sedang buruk dia bingung harus berkata apa. Dan sekarang Kevin akan memilih diam.


“Tuh kan malah diam! Kevin nyebelin!” ucap Raisya dengan kesal, mengerucutka bibirnya dan membuang wajah kearah jendela mobil.


Diam pun juga masih salah, wanita selalu benar, untung sayang! Ceracau Kevin yang hanya bisa dia keluhkan dalam hati.


Sesampainya dirumah Kevin dan Raisya masuk kedalam dan melihat Vita yang sedang memasak didapur. Raisya yang masih berseragam pun menghampirinya.


“Mba Vit, Bang Ray dimana?” tanya Raisya. Vita yang sedang asyik memotong beberapa bawang itu pun menolehkan kepala.


“Eh, Raisya. Abang Kamu masih dikantor Papi, ada hal katanya yang harus di urus” jawab Vita dan kembali dengan aktifitas mmemotong bawang nya.


“Aku bantuin masak ya, Mba?” tawar Raisya.


“Iya, tapi Kamu ganti baju dulu donk” jawab Vita.


“Hehe Iya, Mba. Yaudah Raisya keatas dulu mau ganti baju.” Ucap Raisya, sedangkan Vita hanya mengangguk tersenyum.


Raisya pun beranjak dari dapur menyusul Kevin kekamar mereka, saat Raisya membuka pintu Raisya sangat terkejut melihat pemandangan yang ada di depan nya sekarang, Raisya pun hanya berdehem untuk mencairkan suasana hati nya yang gugup.


“Ekhemmm!!” Raisya berdehem.


Kevin yang sedang bertelanjang dada yang masih mengenakan celana sekolah itu menoleh kearah Raisya, Kevin baru saja melepaskan seragamnya untuk berganti pakaian. Raisya yang sudah terlanjur basah melihat pemandangan langka ini memberanikan diri untuk masuk kekamar lalu meletakkan tas sekolahnya di meja belajar.


Sebenarnya Raisya sangat gugup, tapi entah setan apa yang merasukinya jauh didalam hati Raisya sangan menikmati pemandangan perut sixpack milik Kevin dan kulit putihnya. Padahal Kevin masih anak sekolahan, namun tubuh nya cukup atletis karena dia sangat rajin olah raga dan juga anak basket disekolah. Ingin sekali rasanya Raisya menyentuh tubuh Kevin, namun ia tak berani karena sangat malu.


“Cepet gih sana ganti baju!” perintah Raisya.


Kevin yang sadar dengan kegugupan Raisya pun berpikir untuk menjahili nya terlebih dahulu. Senyum iblis pun terukir dibibir nya, Raisya yang melihat itu hanya manautkan kedua alisnya bingung. Namun saat Kevin yang masih bertelanjang dada itu melangkah menghampiri nya, mata nya membulat sempurna dan otomatis langkah nya berjalan mundur.


“V vin! Jangan macam-macam ya!” ucap Raisya dengan tegas namun tetap gugup.


Kevin menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya ‘Kenapa?’


Saat tubuh Kevin semakin rapat dengan tubuh Raisya, Raisya terus melangkah mundur dan akhirnya ia sampai di pinggir temat tidur. Karena terlalu gugup membuat nya jatuh dengan bebas keatas tempat tidur dengan spontan juga menarik lengan Kevin, dan mereka pun jatuh bersama dengan posisi Kevin yang berada tepat menindih tubuh Raisya.


“Kamu godain Aku?” ucap Kevin sambil menyibakkan anak rambut Raisya.


“S siapa juga yang godain Kamu!” ucap Raisya membela diri.


Tanpa sadar tangan Raisya sudah menyentuh dada Kevin yang tidak memakai baju, membuatnya semakin gugup.


“Vin, bangun donk! Aku mau ganti baju!” ucap Raisya lagi.


Kevin yang menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang berada dikedua sisi tubuh Raisya itu mengangkat sebelah tangannya mengarahkan pada kancing seragam Raisya seakan ingin membukanya. Raisya yang membulatkan matanya melihat tingkah Kevin dengan cepat menahan tangannya yang sudah sempat membuka satu kancing atas seragam nya.


“Gak! Apaan sih?! Sudah sana!” ucap Raisya lalu dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Kevin menjauh dari atas tubuhnya.


Kevin pun terhempas ketempat tidur, Raisya dengan cepat bangun dan berlari kekamar mandi. Kevin menopangkan kepala dengan tangannya dan tersenyum senang karena sudah berhasil menggoda iatrinya, pasti sekarang wajah istrinya merona. Dan membayangkan nya saja membuat nya meresa gemash.


Kevin pun melanjutkan kegiatannya berganti pakaian dengan perasaan senang, lalu merebahkan tubuh nya di tempat tidur sembari menunggu Raisya keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba kepala Raisya muncul dari celah pintu itu.


“Vin, lupa bawa baju ganti. Ambilin donk!” pinta Raisya.


Kevin yang sedang membaringkan tubuh nya pun bangun dan menghampiri lemari pakaian dan mengambil beberapa pakaian milik Raisya.


“Pakaian dalam nya juga ?” tanya Kevin dengan santai.


“Baju sama celana aja Kevin! Cepet buruan!” perintah Raisya.


Kevin pun memberikan baju kaos dan celana pendek pada Raisya. Namun, saat Raisya ingin mengambilnya tangannya tertahan karena Kevin menahannya.


“Keviiiiin!!” pekik Raisya dengan kesal.


“Gak mau sekalian di bantu pakaikan baju?” goda Kevin lagi.


Dengan kesal Raisya menarik pakaiannya dan langsung menutup pintu dengan keras laalu terdengar suara mengunci pintu dari dalam. Kevin lagi-lagi tertawa melihat kekesalan Raisya pada nya.


**


Sekarang mereka sedang makan siang, Raisya sangat menikmati masakan buatan Vita. Karena tadi ia tidak sempat membantu calon kakak iparnya memasak, karena Kevin terus menjahili nya. Bagi Raisya masakan Vita sangat enak dan rasanya seperti buatan Mami, dengan lahap ia memakan masakan yang di masak oleh Vita.


“Oh ya, nanti malem Bunda kesini dan akan menginap, karena akan membantu acara kirim doa untuk besok malam” ucap Kevin di sela makannya. Raisya dan Vita hanya menganggukan kepala.


Setelah makan siang selesai, Raisya membantu Vita membersih kan piring kotor dan membersih kan meja makam. Sedang kan Kevin kembali kekamar, karena ada tugas kontor dari Ayahnya.


“Gimana Mba? Bang Ray ada bicara sama Mba ?” tanya Raisya yang sedang membilas piring yang berbusa.


“Ya bicara seadanya, gak kayak biasa” jawab Vita sekenanya.


“Sabar ya, Mba. Raisya juga baru kali ini lihat Bang Ray kayak gitu” ucap Raisya.


“Iya gak apa-apa. Mba paham kok,” jawab Vita.


“Jadi gimana sama rencana pernikahan kalian dua minggu lagi?” tanya Raisya.


Memang pernikahan Rayes dan Vita akan berlangsung dua minggu lagi dari sekarang.


“Ya mau bagaimana memang nya? Mba sih terserah Abang Kamu,” jawab Vita.


Mereka pun kembali dengan kegiatannya masing-masing. Setelah selesai Raisya kembali kekamar sambil membawakan secangkir kopi seperti biasa, sedang kan Vita keruang tv membawa minuman soda dan beberapa cemilan di toples.


**


Ceklek!


Suara pintu kamar terbuka, Raisya membawa nampan berisikan kopi lalu meletakkan nya di meja belajar. Kevin mengalihkan pandangannya sebentar lalu kembali fokus lagi dengan laptop nya.


“Makasih, Sayang” ucap Kevin lembut yang masih fokus dengan laptopnya.


Entah kenapa hari ini Raisya kembali memikirkan obrolan nya dengan dua sahabatnya ditaman sekolah tadi. Tiba-tiba, Raisya memeluk Kevin dari belakang, mengalungkan tangannya keleher Kevin dan menyandarkan kepala di pundak Kevin. Kevin yang awalnya terkejut, dia hanya nembalas dengan menciumi tangan Raisya.


“Ada apa?” tanya Kevin lembut namun masih fokus dengan layar laptop nya.


“Aku masih kepikiran sama keinginan Kamu buat kuliah diluar negeri. Itu impian Kamu, Vin. Aku gak mau jadi penghalang impian Kamu” ucap Raisya dengan suara serak.


Kevin pun langsung menghentikan kegiatan mengetiknya. Lalu menggenggam tangan Raisya, menuntun gadis itu untuk duduk dipangkuan nya. Terlihat sangat jelas wajah gelisah Raisya, Kevin pun hanya menghela nafasnya pelan.


“Aku kan sudah bilang, Kamu gak usah mikirin itu lagi. Aku sudah ambil keputusan kalau Aku akan tetap disini biar gak jauh dari Kamu.” Jawab Kevin sambil membelai rambut Raisya.


“Aku egois ya,” lirih Raisya menundukkan kepalanya.


“Kamu gak egois, sayang. Kan yang punya impian Aku, yang sudah memutuskan juga Aku” ucap Kevin.


“Tapi kata Risa, Aku bisa ikut dengamu kesana” ucap Raisya dengan suara manjanya.


“Yakin mau kuliah di sana juga?” tanya Kevin memastikan.


“Ya mau bagaimana lagi? Meskipun nanti harus jauh dari mereka, tapi Aku juga gak mau jauh dari Kamu” jawab Raisya.


“Terus mau nya gimana?” tanya Kevin lagi.


Kevin bingung kenapa Raisya jadi seperti ini. Biasanya dia selalu bisa mengambil keputusan atau suatu keinginan dengan yakin. Namun kali ini nampak begitu jelas keraguan yang Raisya rasakan.


“Tau deeh pusing!” jawab Raisya pasrah.


“Yaudah gini, sekarang jangan dulu bahas masalah kuliah. Kita juga baru saja naik kelas tiga, masih ada waktu untuk memikirkan itu semua. Kita gak akan ada yang tau kedepan nya seperti apa, jadi sekarang lebih baik fokus sama apa yang akan kita hadapi esok. Aku gak mau Kamu jadi pusing gak kelas Cuma karena masalah ini, jangan jadikan beban, Sayang” ucap Kevin memberi pengertian pada keraguan yang Raisya rasakan.


Raisya pun tampak berfikir sejenak, yang dikatakan Kevin ada benarnya juga. Tapi tetap saja akan membuat hati Raisya ragu, yang dipikirannya adalah dia tidak ingin jadi penghalang kesuksesan Kevin. Raisya memang tak ada niatan untuk kuliah diluar negeri, karena dia hanya ingin disini, terlebih lagi Raisya dan dua sahabatnya itu pernah berjanji akan mendaftar di Universitas yang sama agar selalu bersama.


Memang bagi Raisya pendidikan itu sangat penting, hanya saja dia memang sama sekali tak ada niatan untuk melanjutkan diluar. Baiklah-baiklah, mari ikuti saran Kevin yang tidak usah dlu memikirkan masalah yang belum pasti terjadinya akan bagaimana dan seperti apa.


Raisya pun menatap Kevin dan menganggukan kepalanya dengan bibir yang mengerucut sedikit. Kevin pun menjadi gemas dan mencium bibir Raisya secepat kilat.


Cup


Blushh…


Merona lah pipi Raisya sekarang. Raisya pun tersenyum malu lalu memberanikan diri mengalungkan tangannya ke leher Kevin dan membalas ciuman Kevin dengan singkat. Dan mereka berdua sama-sama tersenyum bahagia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf gak nyambung. Wkwkwkw


Koment ya episode kali ini, kasih LIKE VOTE nya biar Author makin semangat nulis dan Update!


Makasih untuk readers setia ku😙 tanpa semangat dari kalian aku bukan apa-apa! 😙


Ingat!


LIKE VOTE KOMENTAR nya!!


TERIMA KASIH 🙏❤😙😙