My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Teman Masa Kecil



3 Bulan kemudian ~~


KRIING KRIINGG !!!


Suara hape Kevin terdengar sangat nyaring didalam kamar, Raisya yang sedang membersihkan kamar mereka melihat kelayar ponsel milik Kevin yang terletak diatas nakas. Tertera nama Bunda nya di layar tersebut, Raisya pun menggapainya tanpa berniat mengangkatnya.


Bunda


Calling.....


"Vin, ini Bunda nelpon" teriak Raisya didepan pintu kamar mandi, karena sekarang Kevin sedang mandi dan baru beberapa menit lalu dia masuk.


"Angkat aja" teriak Kevin dari dalam.


Raisya yang mendapat jawaban seperti itu tak sungkan langsung menggeser icon warna hijau yang tertera.


"Assalamualaikum Bun? Kevin sedang mandi Bun. Kenapa?"


"Walaikumsalam Sayang, oh Kevin sedang mandi? Malam ini kalian sibuk gak? Atau ada rencana mau malam mingguan gitu?"


"Emmhh.... gak ada sih Bun, palingan Kita dirumah aja malam ini, gak ada rencana kemana-mana. Kenapa Bun?"


"Oh yasudah kalau gitu nanti malam kerumah Bunda yaa sekalian makan malam disini dan nginep, besok kan minggu juga, lagian nanti ada yang mau ketemu sama Kevin"


"Iya Bun, nanti Raisya bilangin ke Kevin. Emmhh... tapi siapa Bun yang mau ketemu sama Kevin?"


"Caroline. Dia dari Australi dan ingin liburan ke Indonesia, teman kecilnya Kevin, lebih muda setahun dengan kalian. Saat kelas 2 SMP dia ikut orang tuanya kembali pulang ke Australia."


"Ohh gitu.. iya nanti Raisya sampaikan sama Kevin. Ada lagi Bun?"


"Udah itu saja, jangan lupa yaa nanti malam, Bunda tutup telponnya, Assalamualaikum Sayang."


"Walaikumsalam Bunda.."


Sambungan telponpun terputus lalu kembali Raisya meletakkan ponsel Kevin keatas nakas dan melanjutkan kegiatannya membersihkan dan merapikan kamar. Tak lama suara pintu kamar mandi terbuka keluarlah Kevin dengan mengenakan handuk sepinggang dan rambut yang masih basah.


Raisya sudah terbiasa melihat pemandangan Kevin seperti itu selama ini. Dan sudah hampir tiga bulan lebih ini mereka kalau dirumah selayaknya pasangan suami istri, walaupun Raisya belum memberikan haknya Kevin, Kevin tak masalah dengan itu, karena mereka masih sekolah. Kevin tak mau melihat Raisya berhenti sekolah hanya karena dia hamil dan menundanya untuk menuntut ilmu. Kevin juga tidak pernah memaksa Raisya untuk memberikan haknya, mereka menjalankan pernikahan ini mengikuti alurnya saja, yang penting mereka tau batasannya, selama seperti ini mereka saling merasa nyaman ya nikmati saja dulu yang sekarang.


Kevin berjalan mengambil baju ganti yang sudah memang disiapkan oleh Raisya di atas tempat tidur dan langsung memakainya. Raisya sedang merapikan meja belajar yang penuh dengan kertas-kertas Kevin. Entah itu kertas tentang sekolah sebagai Ketos, dan beberapa map berserakann, karena kini Kevin mulai bekerja diperusahaan Ayahnya mertua Raisya.


"Bunda bilang apa tadi ditelpon?" Tanya Kevin yang sedang memakai bajunya.


"Hem? Oh itu.. Bunda nyuruh kita nginep malam ini disana" jawab Raisya yang kini sudah menyelesaikan tugasnya di meja belajar. Lalu menghampiri Kevin yang duduk ditepi ranjang mengambil handuk yang tadi diapakai Kevin lalu mengeringkan rambut Kevin yang masih basah.


"Kenapa kita harus nginap disana?"


"Iyaa kata Bunda ada yang mau ketemu sama Kamu."


"Siapa?"


"Teman kecil mu"


"Yaa Siapa?"


"Caroline dari Australi, katanya dia kesini mau liburan dan ketemu sama Kamu" jawab Raisya santai sambil menaruh handuk ketempatnya dan mengambil hairdry untuk mengeringkan rambut Kevin yang masih lembab.


"Oohhh" hanya itu yang Kevin katakan.


"Kok cuman gitu sih responnya? Kamu gak seneng kalau sahabat kecil Kamu dateng?"


"Biasa aja sih.. gak ada yang spesial juga dari dia mau dateng apa enggak"


"Laah? Kok gitu? Emmhh padahal kalian temenan dari kecil, tapi kok Kamu kayak gak akrab sama dia? Padahal dia udah hampir 3 tahun pergi seharusnya Kamu seneng donk kalau dia datang"


"Aku sama dia itu emang temenan dari kecil karena dulu Kami tetanggaan dan Bunda sangat akrab dengan Mamahnya sering bikin acara jadi sering ketemu, dia aja yang selalu ngikutin Aku kemana-mana, makanya dikira Kami akrab. Lagi pula Aku hanya menganggap dia Adik"


"Ohh gituu?? Beda banget yaa sama Aku dan Leon. Aku juga temenan dari kecil bahkan kita pernah saling nginep, berenang bareng meskipun Aku gak bisa berenang cuma bisa ciprat air di pinggir kolam, tidur bareng, nonton bareng, mandi hujan bareng, yaa udah kayak saudara lah. Apalagi Leon sangat akrab dengan Bang Ray dan Mami Papi" cerocos Raisya mengingat persahabatannya dengan Leon.


"Jadi Aku bukan laki-laki yang pertama tidur bareng Kamu?"


"Hah ? Apaan sih Vin?! Yaiyalaah. Laki-laki yang pertama tidur sama Aku yaa Papi Aku lah! Terus Bang Ray, terus Leon, terus Kamu" balas Raisya dengan santai.


Mendengar namanya disebut di akhir ada perasaan tak suka karena ternyata Leon lebih dulu merasakan tidur dengan Raisya yang sekarang jadi istrinya. Kevin seperti tak terima begitu saja.


"Sampai umur berapa Kamu sering tidur bareng Leon?"


"Emmhh berapa yaa?? Mungkin saat SMP kelas 1"


"Saat itu Kamu sudah pubertas apa belum?"


"Apaan sih pertanyaannya?!! Kamu kira Aku tidur bareng Leon itu dia grepe-grepe Aku gitu? Atau cium-cium Aku kayak yang sering Kamu lakukan? Ya gak lah Vin! Lagian juga tidur barengnya sama Bang Ray ditengah!"


Jawab Raisya dengan kesal mendengar pertanyaan Kevin yang terlalu frontal. Sedangkan Kevin merasa sangat legah mendengar jawabannya dari istrinya.


"Yaa setidaknya Aku laki-laki pertama yang tidur bareng Kamu bisa cium-cium gitu" ucap Kevin dengan santai.


"Yaiyalah Vin, Kamu suami Aku sekarang. Jadi gimana? Kamu bisa kan nginep dirumah Bunda? Aku sudah terlanjur bilang kalau kita gak ada rencana kemana-mana" Tanya Raisya mengalihkan obrolan dan kembali ke pembahasan awal.


"Yasudah kita nginep disana selama sama Kamu"


"Baiklaah.... Aku siapkan keperluan yang akan kita bawa"


Raisya mengambil beberapa baju dilemari untuk di bawa kerumah mertuanya. Sedangkan untuk Kevin bajunya di sana masih banyak yang belum sempat terbawa ke apertemen.


"Oya Vin, apa Caroline itu sangat cantik? Secarakan dia blesteran?" Tanya Raisya yang kini duduk di sofa kamar mereka disamping Kevin yang sedang memainkan ponselnya.


Apa?? Kevin bilang Aku Cantik?? Gumam Raisya dalam hatinya.


"Kamu gak ada gitu rasa suka atau apa sama dia? Secara kalian sama-sama dari kecil. Yaa seperti Aku dan Leon" Tanya Raisya lagi.


Kevin yang mendengar pertanyaan itu seketikan menghentikan jemarinya yang sedari tadi asyik di atas layar ponsel lalu menatap Raisya dengan raut wajah yang tidak bisa terbaca. Raisya masih dengan santai menunggu jawaban dari Kevin.


"Jadi Kamu punya perasaan sama Leon?" Bukannya menjawab malah berbalik bertanya pada Raisya.


"Hah? Ya gak lah, yang ada tuh Leon yang punya perasaan sama Aku, tapi itu dulu. Sekarang sih kayaknya sudah enggak. Karena Aku sudah jelasin perasaan Aku kedia dari dulu itu hanya sebagai sahabat, saudara, lagi pula Aku lebih nyaman seperti ini sama Leon. Untungnya sekarang Leon ngerti dan persahabatan kita tetap berjalan. Aku gakmau kehilangan Leon karena masalah cinta." Jelas Raisya panjang lebar.


"Terus kenapa Kamu berpikir Aku dan Caroline sama seperti Kamu dan Leon? Terus apa Kamu yakin kalau sekarang Leon sudah gak ada rasa lagi sama Kamu?" Tanya Kevin beruntun. Membuat Raisya bingung dan sedikit kesal, perasaan awalnya dia yang bertanya kenapa malah jadi dia yang ditanya-tanyain.


"Kok jadi Aku sih yang di introgasi gini?! Kamu belum jawab pertanyaan Aku loh Vin" balas Raisya dengan wajah kesalnya.


Kevin yang melihat wajah kesal Raisya membuatnya merasa gemash dan ingin menciumnya.


"Huh?! Dengerin yaa... Aku sama sekali gakada rasa apa-apa sama Caroline, Aku cuma anggap dia Adik perempuan saja. Aku mah biasa aja sama dia." Jawab Kevin.


"Aku pikir Kamu sama seperti Leon, bersahabat dengan perempuan dari kecil terus disalah artikan sampai punya perasaan lebih" balas Raisya.


"Terus sekarang Aku tanya kenapa Kamu yakin kalau Leon sudah gak ada rasa lagi sama Kamu? Bisa aja kan dia cuman mendam doank selama ini?" Kini Kevin masih menagih jawaban dari Raisya.


Mendengar pertanyaan Kevin membuat Raisya sedikit bingung, karena mungkin benar saja kata Kevin kalau Leon hanya memendam perasaan nya. Meskipun Raisya sudah menolak, mengingat mereka sekarang baik-baik saja.


"Ya ..yaa kan sekarang Aku.... sudah nikah sama Kamu. Lagian juga Leon itu gak bakalan jadi pebinor. Dia laki-laki baik, pasti bakal dapat yang lebih baik dari Aku. Walaupun perasaannya belum hilang buat Aku. Setidaknya Aku yakin suatu saat dia bisa membuka hatinya untuk perempuan lain yang lebih baik dari Aku" jawab Raisya yang awalnya gugup namun dia berusaha meyakinkan pikirannya terhadap Leon.


Kevin merasa sedikit legah meskipun ada juga rasa khawatir namun dia yakin dan percaya dengan Raisya. Kevinpun mendekatkan duduknya pada Raisya hingga kini tak ada jarak lagi diantaranya, lalu memeluk pinggang Raisya dan merebahkan kepala Raisya didadanya. Raisya yang memang terbiasa dengan ini semua hanya menurut tanpa ada rasa gugup. Namun tetap saja jantungnya berdetak kencang saat sedekat ini dengan Kevin.


Cup...


Kevin mengecup kening Raisya dengan lembut. Raisya yang merasakan benda kenyal menempel dikeningnya hanya tersenyum dan memeluk pinggang Kevin. Bersandar di dada Kevin dengan begitu nyamannya.


"Jadi Kamu beneran gak ada rasa sama Caroline?" Tanya Raisya memastikan.


"Kan tadi sudah Aku jawab, lagi pula untuk apa menyukai perempuan lain kalau sekarang sudah ada bidadari disampingku" ucap Kevin sambil mencium puncak kepala Raisya dengan lembut.


Blushhh....


Raisya mendongakan kepalanya melihat Kevin dan menautkan kedua alisnya. Sebenarnya dia merasa deg-degan mendengar gombalan Kevin, entah wajahnya kini sudah memerah atau tidak dia tetap berusaha setenang mungkin.


"Diihh.. gak pentes banget Kamu ngegombal.."


"Pantes laah.. orang gombalin istri sendiri masa gak pantes?"


"Ckckc.. mana sih Kevin yang dingin kayak kulkas, Kevin yang cuek bebek, sama Kevin yang nyebelin ha?!"


"Itu hanya untuk orang tertentu saja, ya bisa dibilang untuk orang asing"


"Itu artinya Aku orang asing donk?"


"Hah? Yang bilang Kamu orang asing siapa? Kamu yaa istri Aku lah"


"Pura-pura lupa? Disekolah Kamu cuek tuh sama Aku. Bahkan masih kayak dulu nyebelin gak mau ngalah, selalu ngajak debat" sambil memainkan jari-jarinya didadabidang Kevin.


"Itukan disekolah, supaya yang lain gak curiga, tapi kalu Kita berdua kayak gini kan beda lagi, ya Kamu ngertiin donk Sayang" sambil membelai rambut Raisya.


"Iya iya .. Aku paham kok. Yaudah siap-siap kerumah Ayah Bunda yukk udah mau sore, Aku mau bantuin Bunda masak makan malem kangen masak bareng Bunda" ucap Raisya yang melonggarkan pelukannya dan ingin berdiri namun di tahan oleh Kevin.


Dengan cepat Kevin mencium bibir Raisya, melumat lembut benda kenyal yang kini menjadi favoritenya. Raisya yang sempat kaget pelan-pelan membalas ciuman Kevin. Sampai keduanya melepaskan ciuman mereka Raisya segera berlari masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Tentu saja kini jantungnya kembali maraton.


"Sudah sering masih saja malu-malu sampai mukanya merah gitu. Haha.. lucu dan bikin gemash saja. Tunggu Aku bisa memastikan isi hatiku Sya, Aku akan mengatakan perasaanku padamu, dan membuatmu benar-benar jatuh cinta kepaku" Kevin bermonolog sendiri menatap pintu kamar mandi yang tertutup sambil tersenyum.


"Kalau kayak gini terus apa Gue bakalan jatuh cinta beneran sama Kevin? Gak gak! Gue gak boleh ambil kesimpulan secepat ini! Lagi pula Gue masih sayang nyawa. Kenapa jantung ini gak bisa dikondisikan saat dekat dengan Kevin seperti tadi?! Gue gak mau mati muda! Haissshhhh....." Raisya yang di dalam kamar mandi pun berbicara sendiri sambil mengusap-ngusap dada nya agar bisa kembali tenang.


Setelah merasa sedikit tenang dia mandi lalu bersiap-siap pergi kerumah mertuanya dengan Kevin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf kalau uploadnya lamaa, karena Aku gakbisa janjiin harus up tiap hari πŸ™


Tapi akan selalu usahakan buat up kok πŸ€—


Mohon dukungannya yaa πŸ™


Terimakasih Readers kuu πŸ™β€β€β€