My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Istriku



Raisya mencoba membuka matanya dengan paksa sambil sesekali mengucek matanya. Badan nya terasa gerah dan penuh dengan keringat, bagaimana tidak AC dikamar mereka telah dimatikan dan kini dia tertidur di atas dada Kevin dengan pelukan yang erat dari suaminya, belum lagi suhu tubuh Kevin dalam keadaan panas. Raisya pun menghembuskan nafasnya ketika mengangkat kepalanya dia melihat Kevin yang masih memejamkan mata.


Raisya mencoba melepaskan diri dari tubuh Kevin karena semakin lama tubuhnya semakin gerah, seakan Kevin mentransfer suhu tubuhnya pada Raisya.


Setelah bisa lepas dari dekapan Kevin, Raisya kembali kemeriksa keadaan suaminya itu dengan kenaruh punggung tangannya pada kening Kevin yang terasa hangat. Di ambilnya termometer untuk lebih memastikannya. Angka pada termometer tersebut menunjukkan angka 35 derajat celsius yang artinya suhunya sudah mulai turun, walaupun badan Kevin masih terasa hangat.


Raisya pun sedikit legah, kini dia bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri karena merasa gerah. Setelah mandinya selesai dan sudah berganti pakaian, Raisya menghampiri Kevin yang masih tertidur lelap. Dielusnya wajah Kevin dengan lembut dan sayang, dan digantinya kompresan Kevi


"Cepat sembuh yaa Suamiku... Aku gak mau liat Kamu sakit seperti ini lagi"


Raisya pun meraih ponselnya yang sedari tadi belum ia sentuh karena sibuk mengurusi Kevin yang sakit hingga berakhir ketiduran.


Betapa terkejutnya dia melihat puluhan notif pada layar ponselnya. 32 panggilan tak terjawab dari Ocha, 15 panggilan tak terjawab dari Risa, 20 pesan belum terbaca entah dari siapa Raisya pun tak tau. Di bukan aplikasi pesan yang ada diponselnya, pesan tersebut dari para sahabatnya yang isinya menanyakan keberadaan dan kabar dirinya serta Kevin karena tidak masuk sekolah.


Raisya menepuk jidatnya pelan, ia baru saja teringat kalau belum sempat menelpon dan memberitahukan pihak sekolah untuk meminta ijin. Dilihatnya jam pada ponselnya sudah menunjukkan angka 9.30 am yang artinya disekolah adalah jam israhat pertama. Sedangkan dia sudah terlelap selama kurang lebih 3 jam.


Raisya langsung saja menelpon Risa namun tak diangkat, dan beralih menelpon Ocha yang akhirnya diangkat namun telinga Raisya terasa ingin meledak setelah suara disebrang telpon sana berteriak histeris, bahkan sebelum dia berbicara.


"RAISYAAAAA!!!!!! Kemana aja Lo hah?! Kenapa gak masuk sekolah?! Kenapa gak ada kasih kabar?! Bikin orang khawatir aja! Kalian baik-baik saja kan?!" Pertanyaan beruntun dari Ocha yang membuat Raisya menjauhkan poneselnya sedikit dari telinganya. Bisa-bisa gendang telinganya meledak mendengar teriakkan dari sahabatnya itu.


"Bisa gak sih gak teriak-teriak gitu! Sakit kuping Gue !" Gerutu Raisya dengan kesal.


"Yaa habisnya Lo gak ada kabar dari pagi! Udah ditunghuin gak muncul-muncul"


"Iya sorry, hari ini Kevin lagi sakit. Tadi pagi tiba-tiba dia demam, padahal waktu subuh masih biasa aja, jadinya Gue rawat dia dulu, eh gak lama malah ketiduran. Lupa deeh mau kasih kabar, hehe sorry yaa.."


Ocha hanya berdecak di seberang telpon sana.


"Yaudah Lo jagain Kevin aja, ntar Gue yang bilang sma Guru Piket biar Lo pada gak disangka bolos"


"Makasih Bebeb..."


"Diih dasar! Eh tapi boleh kan nanti pulang sekolah Kita ketempat Lo, jenguk Kevin sekalian"


"Ya gakpapa sih kesini aja. Eh tapi, bawa makanan yang banyak yaa, hehe"


"Seharusnya Lo yang nyiapin kita makanan, kita kan tamu"


"Iya deh iyaa.. kesini aja nanti Gue masakin makanan enak. Puas??"


"Naah gitu donkk..."


"Huh dasar ..!!"


Merekapun asik mengobrol sambil tertawa ringan sampai akhirnya Kevin yang sedang tertidur perlahan membuka matanya, Raisyapun mengakhiri obrolan dengan sahabatnya.


"Beb udah dulu yaa, Kevin bangun nih. Gue tunggu ntar siang yaa diapertemen. Bayy!" Raisya pun mematikan sambungan telponnya setelah menyetujuinya.


"Siapa? Ocha?"


"Iyaa, Gue lupa kasih kabar kesekolah karena tadi ketiduran. Gimana? Udah enakan?"


"Lumayan, kayaknya Gue mau mandi gerah banget"


Raisya pun kembali mengecek keadaan Kevin, tubuhnya memang sudah tidak terlalu panas. Raisya pun menginjinkan Kevin untuk membersihkan dirinya.


"Yaudah Kamu mandi dulu sana, tapi jangan lama-lama ya"


"Iya sayang"


"Oyaa.. Kamu mau makan apa?"


"Emm? Aku mau bubur Kamu yang tadi pagi lagi deeh. Masih ada gak?"


"Gak ada sih, soalnya tadi pagi Aku bikinnya seporsi doank khusus buat Kamu, tapi kalau mau lagi Aku bisa bikinin"


"Boleh deeh.."


"Yaudah mandi dulu sana"


"Iya Sayang..."


Kevin pun bergegas kekamar mandi, Raisya merapikan tempat tidur lalu menyiapkan baju ganti untuk Kevin.


Setelah itu dia bergegas kedapur untuk menyiapkan bubur pesanan suaminya. Dengan hati gembira dia memasak, karena Raisya sangat begitu senang Kevin menyukai masakannya.


Selain memasak bubur untuk suaminya, dia juga memasak makanan lain untuk nanti disajikan pada sahabatnya. Raisya memang sudah terbiasa, dan memang sahabatnya tak sungkan lagi jika keapertemen mereka. Raisya justru merasa senang melihat para sahabatnya menyukai masakannya.


Bubur pesanan Kevin pun sudah jadi, dan Raisya kembali masuk kedalam kamar untuk melihat keadaan Kevin. Begitu Raisya hendak membuka pintu kamar lebih dulu Kevin membukanya.


"Ehh.. udah selesai?" Tanya Raisya yang sempat terkejut.


"Sudah, mau Aku bawakan kekamar atau gimana?"


"Gak usah, Aku makan di meja makan aja"


Raisya hanya mengangguk paham lalu keduanya berjalan menuju ruang makan. Kevin pun sudah duduk di kursi lalu Raisya membawakan semangkok bubur pesanannya.


"Silahkan tuan bubur spesialnya. Selamat menikmati" ucap Raisya ala pelayan restoran.


Kevin hanya tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya.


"Terimakasih istriku sayang.."


Dan kini malah wajah Raisya yang bersemu merah.


Raisya ikut makan bersama Kevin yang memang dari pagi belum makan karena begitu khawatir dengan keadaan Kevin.


Kevin makan begitu lahapnya, bahkan sampai menambah dan untungnya Raisya memasaknya dengan porsi lebih.


"Laper apa doyan Mas?" Tanya Raisya.


"Dua-duanya. Masakan Kamu enak sih. Kayaknya Aku bakalan sembuh cepat. Apalagi kalau dengan cara minum obat seperti tadi pagi" jawab Kevin seraya memainkan alisnya menggoda Raisya.


"Dih dasar!!" Raisya hanya mencibir namun iya juga tersenyum malu.


"Oh iya. Nanti siang anak-anak kesini mau jenguk Kamu katanya."


"Mau jenguk apa mau ngerampok makanan mereka kesini"


Raisya hanya tertawa mendengar cibiran dari suaminya, tentu saja dia sangat hapal dengan tingkah para sahabatnya.


Setelah acara makan bubur selesai, Raisya mengambil mangkok Kevin dan miliknya untuk dibawa kewestafel dan mencucinya.


Saat mencuci piring dan lainnya, Kevin menghampiri Raisya dan memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya pada bahu Raisya.


"Vin. Lepas dulu yaa, Aku lagi cuci piring ini"


"Begini dulu yaa Sya pengen peluk"


Raisya hanya menghembuskan nafas pelan dan membiarkan Kevin memeluknya meski Raisya berjalan kesana kemari. Kevin seperti anak kecil yang takut ditinggal lari ibunya, Kevin semakin memperat pelukannya saat Raisya kini sedang memotong-motong sayuran. Kevin tau kalau istrinya akan memasak untuk parasahabatnya.


Kevin yang masih setia memeluk Raisya merasa begitu sangat nyaman dan enggan melepaskan pelukannya, dia senang mendapat perhatian dari Raisya. Raisya yang merawatnya dengan telaten dan kesabaran saat Kevin sedang sakit. Bahkan menyuapinya dan caranya memaksakan Kevin minum obat tadi pagi membuatnya ingin merasa sakit saja biar diperlakukan seperti itu pikirnya. Namun dia juga tidak tega melihat Raisya yang rela tidak sekolah demi merawatnya.


"Sayang..." ucap Kevin.


"Hem?"


"Gara-gara Aku sakit gini, Kamu gak sekolah deeh"


"Kamu tuh ngomong apa sih? Aku kan istri Kamu, lagi pula Kita tinggal cuman berdua, mana tega Aku ninggalin Kamu sendirian. Dan juga sudah tugas Aku yang harus ngerawat kalau suami sedang sakit"


Kevin sangat senang mendengar jawaban dari Raisya. Dengan cepat dia membalikkan tubuh Raisya untuk menghadapanya. Raisya yang tersentak pun langsung memegangi dada Kevin.


"Kenapa?" Tanya Raisya.


Tanpa menjawab Kevin langsung menyambar bibir Raisya dengan lembut. Raisya yang sempat kaget dengan serangan dadakan dari Kevin pun tersentak namun kembali dia bisa menyimbangi permainan Kevin.


"Makasih istriku.." ucap Kevin dengan senyuman lembut nya setelah melepaskan ciuman mereka. Raisya pun juga membalas dengan anggukan yang diiringi senyuman.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa LIKE nyaa ❤❤