My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Kevin Sakit



Pagi yang begitu cerah membangun kan pasutri yang sedang bergelut di bawah selimut. Mereka sama-sama membuka matanya.


"Selamat pagi sayang.. mmuahh" sapa Kevin sembari memberikan ciumannya pada bibir Raisya.


"Pagi juga Suamikuu.. mmuah" balas Raisya melakukan hal yang sama.


"Yaudah Aku mandi deluan habis itu bikin sarapan yaa" ucap Raisya lagi dan berdiri dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Kevin yang masih bermalas-malasan hanya berbaring di kasur tanpa ada niat sedikitpun bangun, rasanya ada yang aneh pada dirinya hari ini. Dia pun kembali menarik selimut hingga ke leher karena merasa sangat dingin menusuk ketulangnya. Dan akhirnya dia terlelap kembali.


Raisya yang sudah selesai dengan ritual mandinya hanya menghela nafas melihat Kevin yang kembali tidur di balik selimut. Dengan berbalut kimono handuk selutut dan rambut yang masih digulung dengan handuk dia menghampiri Kevin dengan niat membangunkan laki-laki yang kini menjadi suaminya.


"Vin bangun ! Mandi gih sana !"


Kevin tak bergeming dan ketika Raisya menyentuh kulit pipi Kevin terasa begitu hangat. Raisya menautkan kedua alisnya bingung, dengan perasaan khawatir tangannya beralih pada kening Kevin yang kini sudah terasa panas.


"Sayang Kamu demam?!" Ucap Raisya dengan nada khawatir. Dilihatnya Kevin seperti orang menggigil dibalik selimutnya.


Raisya bergegas mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuh Kevin, dan meletakkanya pada bagian ketiak. Dilihat angka nya menunjukkan 39 derajat celcius, diraihnya remote AC untuk menurunkan suhu dikamarnya agar Kevin tidak merasa kedinginan.


Dengan sigap dia langsung menuju dapur mengambil air biasa dan handuk kecil lalu kembali kekamar dan duduk di sisi ranjang, kemudian mulai mengompres Kevin dengan telaten.


Kevin yang merasakan ada benda lembab di keningnya perlahan membuka matanya dan melihat Raisya yang memasang wajah khawatirnya.


"Kamu istirahat aja yaa. Hari ini gak usah sekolah, Aku juga gak akan kesekolah." Ucap Raisya ketika melihat Kevin membuka matanya.


"Aku gakpapa Syaa, hanya sedikit pusing. Kamu sekolah aja, biar gak ketinggalan pelajaran gara-gara Aku"


"Gak! Aku bakal temanin dan ngerawat Kamu hari ini" jawab Raisya yang tak mau ada penolakan dari Kevin. Kevinpun hanya menurut saja, lagi pula dia merasa pusing dan tidak bisa berdebat dengan istri bawelnya.


"Kamu istirahat lagi yaa, aku bikinkan makanan dulu setelah itu baru Kamu minum obat" perintah Raisya dengan lembut lalu pergi meninggalkan kamar mereka. Kevin hanya tersenyum melihat kepergian Raisya dan kepalanya yang pusing membuatnya kembali memejamkan mata sejenak.


Raisya yang sudah mengganti pakaiannya dengan mengenakan tanktop putih dan celana hotpant senada berkutat di dapur dengan alat masaknya. Dia akan membuatkan Kevin bubur nasi dengan beberapa campuran sayur untuk sarapan Kevin pagi ini.


Setelah bubur masak dan rasanya pas, Raisya menyajikannya didalam mangkok dan meletakkannya pada nampan beserta segelas air putih. Dan langsung membawanya kekamar. Ketika membuka pintu kamar dilihatnya Kevin terlelap lagi. Dengan perlahan Raisya membangunkannya.


"Viin.. sarapan dulu yuk.." ucap Raisya dengan lembut membangunkan suaminya.


Tak lama Kevin membuka matanya, Raisya mengambil handuk kompresan Kevin dan meletakkan punggung tangannya pada kening Kevin yang dirasa agak sedikit mendingan dari sebelumnya.


"Agak lumayan sih sudah. Yuk makan dulu Aku sudah buatkan bubur" sambil membantu Kevin bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


Raisya mengambil semangkok bubur buatannya lalu menyendoknya untuk menyuapi Kevin. Kevin tentu merasa sangat senang dengan apa yang dilakukan Raisya. Dengan telaten Raisya menyuapinya dengan sabar. Bubur yang Raisya buat sangat lezat di lidah Kevin, sangat berbeda dengan bubur orang sakit biasanya yang terasa hambar.


Setelah bubur di mangkok itu tandas tak tersisa, Raisya memberikan segelas air putih pada Kevin. Lalu membuka lemari nakas yang didalamnya tersimpan kotak obat. Diambilnya kotak obat dan mencari obat penurun panas yang selalu Raisya sediakan. Kemudian memberikannya pada Kevin.


"Apa ini?" Tanya Kevin heran.


"Obat lah! Obat penurun panas, Kamu kan lagi demam, itu juga bisa sekalian meredakan rasa sakit dikepala mu."


Kevin hanya memandangi tablet obat yang ada ditelapak tangannya. Belum ada yang tau kan ternyata si Kevin ini paling anti sama obat yang rasanya pahit. Dia termasuk paling susah kalau disuruh minum obat. Dan selama menikah dengan Raisya baru kali ini Kevin sakit demam entah kenapa.


"Kok ga diminum?" Tanya Raisya saat melihat Kevin yang belum juga meneguk obatnya.


"Aku gak mau Sya pahit!" Tolak Kevin sambil menjulurkan tangan yang memegang obat pada Raisya. Sedangkan tangan yang lain menutup mulutnya.


Raisya paham dengan tingkah Kevin menghembuskan nafas kesalnya dan langsung mengambil alih obat dari tangan Kevin. Kevin hanya tersenyum senang karena mengira Raisya tak akan memaksanya meminum obat pahit itu.


Tapi siapa sangka, dengan gerakan cepat Raisya menahan obat tersebut dengan bibirnya dan langsung menarik wajah Kevin dengan paksa memasukkan obat tersebut kedalam mulut Kevin mengigit bibir Kevin agar memberikannya akses memasukkan obat tersebut dengan menggunakan mulutnya juga, seperti orang yang berciuman paksa.


Kevin yang tersentak kaget tak terasa telah menelan obat pahit tersebut. Namun menyadari tindakan Raisya, dia mengambil kesempatan itu sekaligus membalas kelakuan Raisya yang sudah memaksanya menelan benda pahit tersebut. Dan ketika Raisya ingin melepaskannya, dengan cepat pula Kevin menahan tengkuknya dan malah memperdalam ciuman mereka, terselip senyum kemenangan pada wajah Kevin yang melihat Raisya hanya pasrah menerimanya dan malah membalasnya.


Jadilah sesi meminum obat yang berakhir dengan ciuman mesra mereka. Setelah keduanya merasa membutuhkan oksigen, mereka pun sama-sama melepas ciumannya.


"Dasar ngambil kesempatan dalam kesempitan!" Gerutu Raisya setelah ciumannya terlepas.


"Kamu yang ngasih kesempatan kok"


"Yakan Aku niatnya cuman ngasih obat karena Kamu gakmau minum obatnya"


"Tapi Kamu menikmatinya kan? Buktinya dibales" goda Kevin dan kini Raisya hanya bisa sapah tingkah.


"Dasar!! Kenapa sih susah banget minum obat doank"


"Aku gak suka pahit"


"Ya namanya obat yaa pahit lah"


"Kan ada obat yang ada rasa buahnya"


"Itu mah buat anak-anak doank Vin, astagaa!!"


Raisya tidak menyangka ternyata Kevin sangat susah sekali minum obat hanya karena pahit. Seperti anak kecil saja pikirnya. Dan dia juga tidak habis fikir kenapa tadi dia memaksanya dengan cara seperti itu yang akhirnya malah membuatnya kewalahan melawan ciuman Kevin.


"Yaudah. Nanti Aku kalau mau minum obat, pakai cara yang tadi lagi yaa" ucap Kevin dengan senyum menggoda Raisya.


Raisya hanya memutar bola matanya malas. Dan langsung mengambil nampan yang berisikn mangkok dan gelas yang sudah kosong.


"Terserah" jawab Raisya ketika berlalu menuju pintu kamar untuk keluar, dia tidak tahan melihat Kevin yang suka menggoda dan menjahilinya. Tanpa dipungkiri kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus karena mengingat hal yang dia lakukan tadi.


Raisya pun kembali kekamar setelah menaruh nampan dan mencucinya. Dilihat Kevin berbaring lagi di tempat tidur. Raisyapun mengmpiri dan melihat mata Kevin terpenjam dengan tenang.


"Kalau jahilin Aku kayak tadi aja seger banget. Ditinggal sebentar baru kerasa kan kalau lagi sakit" gerutu Raisya pelan namun masih bisa didengar oleh Kevin yang hanya memejamkan matanya bukan tidur lelap.


Kevin pun dengan cepat menarik tangan Raisya, karena Raisya tak seimbang akhirnya dia ambruk diatas tubuh Kevin.


"Keviiiin !!"


Kevin tak memperdulikan ocehan Raisya. Dia mempererat pelukannya.


"Temani Aku istrahat yaa" ucap Kevin dengan lembut. Raisya pun hanya menurut dan menyandarkan kepalanya didada Kevin, memeluk erat tubuh suaminya yang dirasanya lebih hangat dari biasanya karena memang badan Kevin terasa panas.


●


●


●


Sementara di sekolah ~~


Bel masuk sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu. Namun guru yang mengajar di jam pertama belum datang.


"Tumben ini Raisya sama Kevin telat!" Ucap Ocha yang memang menunggu kedatangan Raisya bersama Risa yang berada disebelahnya. Mereka berdiri didepan pintu kelas.


Bruk!!


"Aww!!" Pekik Ocha yang merasa pundaknya sakit tertabrak seseorang yang tiba-tiba menerobos mereka.


"Ehh sorry Chaa" ucap seseorang yang ternyata adalah Leon.


"Astaga Leon" tegur Risa yang membantu mengelus-ngelus pundak Ocha.


"Lo telat? Kok bisa lolos?" Tanya Ocha melihat Kevin masih menenteng tas di bahunya.


"Iya Gue kesiangan, terus nyelinap deh biar gak ketangkep!" -Leon


"Untung aja guru Kita belum masuk" -Risa


"Keberuntungan Lo Lee kali ini" -Ocha


"Hehe iya nih. Lo pada ngapain berdiri depan pintu?" Tanya Leon yang sadar kalau para sahabatnya ini masih berdiri didepan pintu.


"Nunggu Raisya belum dateng, Kevin juga. Tumben mereka telat" jawab Ocha.


"Hah? Mereka gak masuk?" -Leon


"Lah? Emang didepan tadi Lo gak liat mereka?" -Risa


"Jangankan mereka, mobilnya aja gakada diparkiran pas Gue dateng" -Leon


"Masa sih? Coba deh Cha Lo telpon. Kali aja masih dijalan kejebak macet atau ada halangan" saran Risa dan langsung di angguki Ocha.


Ochapun menggeser layar ponselnya mencari nama Raisya lalu menekan icon panggilan. Panggilan tersebut tersambung namun di tunggu beberapa saat tidak ada yang mengangkat. Dan berulang kali Ocha melakukananya namun tak ada jawaban.


"Gimana nih gak diangkat-angkat sama Raisya" -Ocha


"Gue coba telpon Kevin" -Leon


Leon pun melakukan hal yang sama dengan Ocha, namun sama saja tak mendapatkan jawaban.


"Mereka kemana sih? Bikin khawatir aja" ucap Risa mulai cemas.


"Yaelah Ris, jangan pikirin yang aneh-aneh dulu, siapa tau hape nya lagi mode silent makanya gak tau kita hubungin. Jangan panik gitu deeh, nanti Gue juga ikutan panik" ucap Ocha mencoba menenangkan, karena memang diantara mereka, Risa lah yang tingkat kecemasannya paling tinggi pada sesuatu hal apalagi menyangkut sahabatnya.


"Kita tunggu sampai jam istirahat, kalau masih gakada kabar, pulang sekolah kita samperin ke apertemennya" Leon mencoba menenangkan suasana kedua sahabatnya. Dan di angguki oleh keduanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca πŸ€—πŸ™


Baca juga Novel Aku yang judulnya "LOVE IS YOU" dan jangan lupa tinggalkan jejak disana πŸ˜„πŸ˜„


Semoga Kalian Suka ❀❀