
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu tentang Risa, hubungan Reno dan Risa masih berjalan seperti biasanya. Begitupun dengan yang lain.
Mereka tidak tau apa keputusan dari masing-masing Risa dan Reno, tapi melihat dari keadaan sekarang, sepertinya baik-baik saja.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 06.00 am , hari ini adalah hari minggu. Hari dimana Raisya dan Kevin biasanya bermalas-malasan, tapi tidak untuk kali ini. Pagi ini Kevin lebih dulu bangun dan sudah siap dengan celana trainning dan kaos polos yang ia kenakan. Kevin berencana untuk jogging pagi disekitar taman apartement yang tersedia. Sedangkan Raisya, ia masih bergelut dibawah selimut tebal. Bahkan kini seluruh selimut menutupi tubuhnya hingga keleher seperti orang yang sedang kedinginan. Kevin tak berencana membangunkan Raisya, ia pun langsung keluar dari apartement menuju taman untuk berlari dan menghirup udara segar.
Taman ini cukup luas, banyak orang yang melakukan jogging pagi seperti dirinya. Sambil memasang earphone ditelinga, Kevin berlari beberapa putaran di sekitar taman. Sampai akhirnya dia cukup lelah dan beristirahat sejenak di kursi taman yang tersedia.
Cukup lama Kevin berada ditaman itu melakukan jogging, di lihat jam yang melingkar ditangannya menunjukkan angka 07.15 am, yang artinya dia sudah sejam lebih disini.
Sembari beristirahat bersandar di kursi taman, matanya menelusuri setiap inchi pemandangan yang ada disekitar. Cukup ramai, namun matanya tertuju pada sepasang suami istri yang berjalan bersisian.
Terlihat sang istri sedang mengandung karena dengan jelas Kevin melihat perutnya yang besar, berjalan tanpa alas kaki. Didampingi suami yang berada disampingnya, dan terkadang mereka mengelus-ngelus perut besar itu dengan tatapan sayang. Entah kenapa pikirannya merasa kalau sepasang suami itu adalah dirinya dan Raisya. Kevin membayangkan jika Raisya hamil dengan perut besarnya, pasti Raisya semakin menggemaskan. Bayangan itu membuat kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.
“Ck, mikir apa sih, Gue? Huh..” keluh Kevin yang tersenyum sendiri.
Setelah memandangi sepasang suami istri yang begitu terlihat bahagia, matanya kembali menatap ke arah lain. Dan lagi, Kevin melihat pasangan suami istri namun kini dengan seorang gadis kecil ditengah-tengah mereka berjalan tertatih. Kevin kembali fokus dengan pemandangan itu.
Terlihat, sang Ibu memegangi tangan putrinya dan sang Ayah berjongkok sedikit jauh dari hadapan sepasang ibu dan anak itu. Kemudian sang Ibu melepaskan genggaman tangannya dan seperti memberi aba-aba untuk berjalan kearah Ayahnya. Sang Ayah pun memanggil dan bertepuk tangan dengan wajah bahagia menatap putri kecilnya.
“Sepertinya baru belajar jalan, ya” komentar Kevin pada pemandangan yang ia lihat dengan tersenyum.
Terlihat sang Ayah memeluk putrinya saat putri kecilnya itu berhasil meraihnya walau hanya berjarak satu meter.
“Bahagianya..” ucap Kevin lagi.
Kevin pun melihat kembali jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan angka 08.00 am, dan matahari pun mulai menampakkan cahayanya. Ia pun berencana kembali ke apartemen, karena yakin pasti Raisya sudah bangun untuk memasak dan menyiapkan sarapan.
**
Ceklek!
Suara pintu apartement terbuka, Kevin pun masuk lalu menutupnya kembali.
“Assalamualaikum,” sapanya ketika masuk, namun tak ada jawaban masih tampak sunyi dan sepi.
Kevinpun melangkahkan kakinya menuju dapur dan membuka kulkas untuk mengambil minum. Namun, Kevin sama sekali ia tidak melihat Raisya disana, mungkin sedang mandi pikirnya.
Karena merasa tubuhnya lengket akibat berkeringat, Kevin pun melangkah lagi kekamar untuk mandi. Ketika masuk kedalam, Kevin masih melihat Raisya bergelut dengan selimutnya, namun tubuhnya seperti bergetar menggigil.
“Apa dia kedinginan, ya?” ucap Kevin lalu mengambil remote Ac di atas nakas dan menurunkan suhunya. Tapi suhu Ac itu masih normal seperti biasanya.
Kevinpun mendekat lalu duduk disisi tempat tidur, niatnya ingin membangunkan. Kevin pun menyenggol tubuh Raisya yang terbalut selimut tebal, tapi yang ada Kevin malah mendengar suara rintisan dari bibir Raisya. Reflek tangannya menyentuh kening Raisya, dan Kevin merasakan panas yang amat menyengat.
“Astaga, ternyata badannya panas sekali,” ucap Kevin.
“Sayang, apa kamu mau sesuatu?” tanya Kevin pada Raisya yang tubuhnya sedang bergetar seperti menggigil itu.
Raisya hanya merespon dengan gelengan kepala.
Kevin pun berinisiatif mengompres Raisya dengan air hangat. Dengan cepat Kevin bergegas keluar kamar menuju dapur untuk mempersiapkan yang ia butuhkan.
Kevin sudah kembali kekamar dan dengan telatennya ia menaruh kompres itu dikening Raisya. Mengingat tubuhnya yang terasa lengket, ia pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian Kevin pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terasa lebih segar. Ia pun mengenakan pakaiannya dan setelah itu ia kembali menghampiri Raisya di tempat tidur. Wajah Raisya terlihat sangat pucat, Kevin pun kembali mencelupkan saputangan dan memerasnya lalu manaruh kembali benda itu pada kening Raisya yang sedang tertidur.
Kevin pun berinisiatif membuat sarapan untuk Raisya dan juga dirinya sendiri. Sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kevin menciumi seluruh wajah Raisya.
**
Sekitar 30 menit Kevin kembali kekamar dengan membawa sebuah nampan yang berisikan bubur dan segelas air putih, kemudian Kevin meletakkannya diatas nakas.
“Sayang, bangun dulu yuk makan,” ucap Kevin dengan menggoyangkan tubuh Raisya dengan pelan.
“Ughh..” keluh Raisya saat ia terbangun dan matanya pun terbuka.
“Makan dulu ya,” pinta Kevin dengan lembut.
“Kamu yang masak?” tanya Raisya dengan suara seraknya.
“Iya, Aku buatin bubur untuk Kamu,” jawab Kevin sambil membantu Raisya bangun dan duduk bersandar ditempat tidur.
“Aku gak mau makan,” ucap Raisya.
“Kamu harus makan, Sayang” paksa Kevin yang sudah menyodorkan sendok yang berisikan bubur didepan Raisya.
Raisya semakin merapatkan bibirnya, dan menggeleng cepat.
“Ayolah, sayang” bujuk Kevin yang mulai gemas melihat tingkah manja Raisya.
“Itu gak enak,” jawab Raisya.
“Tapi Kamu harus makan, Kamu mau sakit terus gini? Yaudah kalau gitu Kita kerumah sakit sekarang” tawar Kevin.
“Gak!” tolak Raisya dengan keras.
Tempat yang tidak ingin Raisya kunjungi selepas kepergian kedua orang tuanya. Karena, jika kesana maka Raisya akan kembali mengingat rasa sakit kehilangan dan terpukul itu lagi.
“Makanya Kamu makan, setelah itu minum obat” pinta Kevin.
Akhirnya Raisya pun menurut dan mau memakan buburnya asal Kevin menyuapinya, manja memang, tapi Kevin tak masalah dengan itu, Kevin justru senang.
“Ia, mau ngajak Kamu, tapi tidurmu nyenyak banget. Gak tega banguninnya” jawab Kevin.
“Nih, aa lagi,” ucap Kevi kembali menyuapi Raisya. Raisya dengan senang hati menerima suapan itu.
Kevin dengan telaten menyuapi Raisya makan, sampai bubur yang dipiring pun tandas tiada tersisa. Setelah itu Kevin memberikan obat pada Raisya, dan kembali menyuruhnya untuk beristirahat.
“Vin, temanin,” cegah Raisya saat Kevin ingin kembali kedapur membawa nampan berisikan piring kotor.
Kevin pun mengurungkan niatnya, ditaruh kembali nampan tadi diatas nakas.
“Yasudah, Aku temanin,” jawab Kevin.
“Temenin bobo, Aku ngantuk lagi,” keluh Raisya yang sudan menarik tangana Kevin seperti anak kecil.
Kevin hanya tersenyum lalu ia naik keatas tempat tidur dan menemani Raisya yang kini sudah memeluk tubuh Kevin dengan erat.
“Badan Kamu masih hangat,” ucap Kevin ketika memeriksa kening Raisya dengan menyentuh kening Raisya.
Raisya hanya membenamkan kepalanya didada bidang Kevin, mencari tempat ternyaman. Rasanya begitu hangat dan nyaman.
Kevin pun membalas pelukan Raisya sambil mengusap lembut kepala dan punggung Raisya, seperti sedang menidurkan anak balita, pikirnya.
**
Hari semakin siang, kini jam sudah menunjukkan angka 11.15 am. Itu artinya Raisya dan Kevin terlelap cukup lama. Kevin bangun lebih dulu, ia merasa tubuhnya sangat lengket karena berkeringat. Seakan Raisya mentransfer suhu tubuhnya yang panas ke tubuh Kevin, belum lagi suhu Ac di kmar mereka di turunkan, membuat Kevin semakin bertambah gerah.
Kevin memandang wajah Raisya yang masih terlelap, dicek suhu tubuh Raisya tidak sepanas sebelumnya, namun tetap saja masih rerasa hangat. Setelah itu, Kevin berniat untuk mandi lagi karena merasa gerah, namun baru sedikit saja Kevin bergerak akan menurunkan kakinya dari tempat tidur, Raisya bangun dan memanggil nama Kevin.
“Vin, mau kemana?” tanya Raisya.
“Aku mau mandi,” jawab Kevin.
“Aku juga ingin mandi,” saut Raisya membuat Kevin bingung.
“Mau mandi bareng?” tawar Kevin asal.
“Gak lah, ngarep banget!” jawab Raisya kesal namun ia menahan malunya hingga membuat kedua pipinya merona.
Kevin hanya tersenyum melihat tingkah Raisya.
“Tapi kan badan Kamu masih hangat,” ucap Kevin.
“Aku gerah, Vin. Aku Cuma mau membilas badanku saja kok,” jawab Raisya.
“Yasudah kalu gitu,” ucap Kevin.
Raisya pun bangun dari tidurnya, namun saat ingin turun dari tempat tidur Raisya merasa sangat pusing dan membuat pandangannya berbayang-bayang. Raisya pun reflek memegangi kepalanya, dan membuat Kevin menghampirinya dengan khawatir.
“Kenapa?” tanya Kevin.
“Masih pusing ya,” ucap Kevin lagi.
Raisya hanya mengangguk sambil memegangi kepalanya dan memejamkan mata. Namun tiba-tiba, tubuh Raisya ambruk dan untung saja Kevin dengan sigap menahan tubuh Raisya agar tidak terbentur lantai.
“Raisya!” teriak Kevin yang langsung panik.
“Sayang, bangun sayang,” ucapnya lagi smabil menepuk-nepuk wajah Raisya.
“Sudahlah, Kita kerumah sakit saja” ucap Kevin pada akhirnya.
Kevin pun menggendong tubuh Raisya, setelah mendapatkan kunci mobil. Dengan langkah cepat ia keluar dari apartement miliknya menuju parkiran yang ada dibawah.
Sedikit berlari ketika Kevin melihat mobilnya didepan mata. Kevin membuka pintu penumpang yang berada didepan dan meletakkan tubuh Raisya, ia pun berlari kecil menuju pintu pengemudi dan bergegas masuk.
Kevinpun menancap kan gas dan melaju menembus jalanan yang untung nya tidak macet, tujuannya sudah bulat akan membawa Raisya kerumah sakit.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Holaa, Author Up lagi, hehehe..
Kasih LIKE VOTE dan KOMENTAR nya donkk biar Author semangat 😄😄
TERIMAKASIH 🙏❤❤😙