
Ceklek !!
Pintu ruangan UGD kembali terbuka setelah beberapa menit. Rayes pun keluar dari ruangan itu dengan wajah sedihnya, ia pun langsung menghampiri adiknya dan memeluk tubuh Raisya. Saat itu juga air mata nya jatuh, meskipun dia seorang laki-laki dia tetaplah seorang anak yang sangat menyayangi kedua orang tuanya yang sudah membesarkannya selama kurang lebih 23 tahun ini.
“Gimana Mami sama Papi, Bang?” tanya Raisya dengan lirih.
“Seperti itulah, Dek. Belum sadar walaupun Abang sudah puluhan kali memanggil” jawab Rayes dengan lesu.
“Raisya mau lihat mereka, Bang” ucap Raisya.
“Iya” jawab Rayes singkat setelah pelukan mereka terlepas.
Orang tua Kevin yang melihat hanya bisa bersimpati pada kakak adik tersebut. Bunda yang juga merasakan kesedihan mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk besannya itu. Sebelum Raisya dan Kevin masuk kedalam, Ayah dan Bunda ingin pamitan terlebih dahulu karena ada hal yang harus di tangani.
“Sayang, Bunda pamit dulu yaa. Nanti bunda sama ayah kesini lagi kok!” ucap Bunda Kevin pada Raisya.
“Iya, Bun. Makasih yaa, Bun” jawab Raisya lalu memeluk mertuanya itu.
Ke dua orang tua Kevin pun pergi dari rumah sakit. Tinggallah disana Rayes, Raisya, dan juga Kevin.
“Vin, mending Kamu temenin Abang gih. Ajak dia makan dulu.” Ucap Raisya.
“Kamu gak mau Aku temenin kedalam?” tanya Kevin pada Raisya.
“Gak usah Vin, Aku sendiri aja kedalem. Aku gak apa-apa, Aku kuat kok” jawab Raisya dengan suara yang sedikit bergetar.
“Yasudah kalau gitu masuk gih sana, kalau ada apa-apa langsung panggil dokter yaa. Aku ajak Abang makan dulu, Kamu mau dibelikan apa? Belum sarapan juga kan?” ucap Kevin dengan penuh perhatian. Raisya hanya membalas dengan anggukan.
“Apa aja deh” jawabnya singkat. Dan Kevin tersenyum tipis menganggukkan kepalanya lalu mengacak gemash rambut Raisya..
Raisya pun membuka pintu ruangan itu dan masuk kedalam. Sedangkan Kevin mengajak Abang iparnya itu untuk makan di kantin rumah sakit.
**
Didalam ruangan Raisya melihat kedua orang tuanya telah terbaring lemah dengan beberapa alat dari rumah sakit terpasang di tubuh mereka. Mata Raisya kembali berkaca-kaca namun dia terus berusaha menahan agar tidak terjatuh. Raisya menghampiri keduanya dengan duduk di antara ranjang mereka. Raisya pun menggenggam tangan Papinya.
“Pi.. cepat sadar yaa, Raisya gak mau Papi tinggalin Raisya. Raisya janji akan menuruti semua keinginan Papi, Raisya gak akan jadi anak bandel lagi. Asalkan Papi bangun yaa..” ucap Raisya sendiri yang tak kendapay respon dari sang Papi yang terbaring tak berdaya.
Kini Raisya beralih kesisi ranjang sang mami.
“Mams… hari ini Raisya ultah, biasa mami selalu bikinin Raisya Cake kan? Raisya pengen makan cake buatan mami. Mami bangun yaa..” ucap Raisya sendiri pada sosok Maminya yang juga terbaring lemah.
Raisya pun bergantian mencium kening kedua orang tuanya lalu tersenyum getir. Kemudian Raisya pun keluar dari ruangan itu. Setelah kembali menutup pintu ruangan tersebut, Raisya menyandarkan tubuhnya pada dinding, mengangkat kepalanya menatap langit-langit rumah sakit untuk menahan air matanya. Raisya pun mengela nafasnya, lalu berjalan menyusul Kevin dan Rayes di kantin rumah sakit ini.
**
Di Bali..
Sekarang sudah pukul dua siang, mereka mendapatkan jadwal penerbangan jam tiga siang yang artinya mereka akan sampai sekitar jam lima sore nanti. Mereka semua sudah berkemas masing-masing, setelah makan siang ini mereka akan langsung berangkat kebandara.
Selama perjalanan mereka hanya mengobrol seperlunya saja. Entah mengapa sedari tadi suasannya menjadi sangat sunyi, seakan mereka semua merasakan apa yang Raisya rasakan.
“Oh yaa, kalian ada yang tau dimana orang tua Raisya dirawat?” tanya Reno.
“Udah, di rumah sakit Medical City” jawab Leon.
Leon memang sempat berkomunikasi dengan Kevin untuk menanyakan bagaimana keadaan disana.
“Gue nanti mampir dulu kerumah Kevin untuk antar koper mereka berdua” ucap Reno.
Sesampainya mereka di bandara, mereka langsung melakukan registrasi sebelum masuk kedalam pesawat.
Satu jam setengah perjalanan, akhirnya sampai lah mereka dikota tujuan, yaitu Kota tempat mereka tinggal. Kini mereka semua sedang dalam perjalanan pulang kerumah masing-masing untuk menaruh barang yang di bawa, kemudian malamnya mereka berencana kerumah sakit selepas magrib.
**
Kembali ke rumah sakit..
Hari sudah berganti malam, Raisya masih tetap setia berada disisi kedua orang tuanya. Raisya bergantian memandangi wajah keduanya yang tampak lemah, menatap mata mereka dan membayangkan jika mata itu tidak akan terbuaka lagi. Membayangkan nya saja membuat nya sesak, apa lagi kalau sampai benar-benar terjadi. Dengan cepat Raisya membuang pikiran negative nya itu.
Kevin juga hanya memandangi kedua mertuanya bergantian dan memandang Raisya penuh dengan simpati. Ia juga sangat menginginkan kedua mertuanya itu pulih kembali. Sedangkan Rayes juga sama, dia hanya terdiam sambil terus memandangi wajah keduanya dengan penuh harap.
Tak lama saat Raisya masih setia menggenggam erat tangan Papi nya, tiba-tiba saja ia merasakan ada pergerakan ditangannya. Jari sang Papi perlahan bergerak.
“Papii….” Ucap Raisya dengan terkejut membuat Rayes dan Kevin menghampirinya.
“Aku merasa tangan Papi tadi bergerak, Bang” ucap Raisya dengan senang memberitahukan pada Rayes.
“Papi…” ucap Rayes dengan sedikit legah.
Perlahan mata Papi terbuka, mengerjap menyesuaikan cahaya ruangan tersebut.
“Papi…” ucap Raisya memanggil Papinya.
Papi Raisya pun mengarahkan pandangan pada suara yang memanggilnya. Dilihatnya Raisya putri kesayangannya itu menatapnya dengan tersenyum, Papi Raisya pun mencoba untuk tersenyum juga meski nampak kesusahan.
“Bagaimana, Pi ? Apa ada yang sakit? Rayes akan panggilkan dokter.” Ucap Rayes yang sudah ingin memencet bel yang ada di sebelah tempat tidur.
Namun gerakan nya terhenti saat Papi memanggil lirih namanya.
“Nak,” ucap Papi dengan suara lemahnya.
“Iya Pi?” jawab Rayes.
“Papi baik-baik saja” kata sang Papi lagi.
“Dimana Mami kalian?” sambung nya kemudian.
Raisya dan Rayes saling berpandangan, lalu tersenyum pada Papi.
“Itu Pi, disebelah Papi” jawab Rayes sambil menunjuk tempat tidur Mami nya.
Renandi, Papi Raisya. Menoleh pelan kesamping dan terlihatlah sang istri yang juga terbaring lemah seperti dirinya, namun tidak membuka mata. Renandi pun kembali mengulas senyuman lalu beralih kembali menatap kedua anaknya yang kini sudah dewasa. Sedangkan Kevin hanya melihat tak jauh dari sana.
“Raisya, selamat ulang tahun, Nak” ucap Papi lirih. Raisya pun tersenyum haru lalu ia memeluk Papi nya.
“Makasih Papi, Papi cepat sembuh yaa” jawab Raisya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Papi boleh minta satu hal sama kalian?” ucap Papi. Rayes dan Raisya pun kompak menganggukkan kepala.
“Papi sama Mami hanya ingin kalian bahagia, Papi yakin kalian sudah bisa mandiri tanpa Kami. Terutama untuk mu, Nak.” Ucap Papi menatap Raisya.
“Ray, jaga adikmu baik-baik, kalian harus selalu akur yaa. Papi sama Mami hanya ingin melihat kalian bahagia” sambung Papi lagi, lalu menoleh pada Kevin yang tak jauh dari tempat tidur. Kevin yang memang sedari tadi memperhatikan ketika mertua nya itu menatap nya, Kevin langsung mendekat menghampiri Papi.
“Kevin, tolong bahagiakan Raisya si Princess Papi yaa. Cubit aja kalo dia nakal lagi disekolah” ucap Papi.
“Papi yakin Kamu bisa menuntun Raisya untuk menjadikan nya istri yang baik. Jaga dia untuk Papi” sambung Papi.
“Iya, Pi. Kevin akan selalu bahagiakan Raisya, Kevin sangat mencintainya. Akan selalu menjaganya dengan segenap hati Kevin. Papi tenang saja” jawab Kevin dengan sangat yakin. Dan Papi tersenyum.
“Sekarang Papi istirahat lagi yaa,” ucap Rayes.
Papi pun menuruti dengan menutup kedua mata nya pelan lalu tersenyum bahagia. Raisya dan Rayes pun bergantian mengecup kening Papi dan kemudian melakukan hal yang sama pada Mami. Raisya pun kembali duduk sedangkan sang Abang ingin keluar sebentar, namun langkah nya berhenti ketika bunyi dari alat rumah sakit itu terdengar sangat nyaring.
Tiiiiiìiiiit !!!
Tiiiiiiit !!!!
Suara bunyi yang bergantian dari alat yang terpasang pada Papi dan Mami Raisya. Tubuh kedua nya seakan kejang-kejang
“Papi!!” seru Rayes dan Raisya bersamaan.
“Mamiii !!!” teriak Raisya.
Kevin segera memencet tombol darurat untuk memanggil dokter. Dengan panik ia terus memencet tombol itu. Dilihatnya Raisya sedang menggenggam tangan Mami nya dan Rayes menggenggem tangan Papi nya.
Tak lama dokter dan beberapa perawat masuk kedalam ruangan dan meminta mereka bertiga untuk keluar terlebih dahulu. Kevin menuntun Raisya keluar dari ruangan itu diikuti oleh Rayes. Kini air mata nya kembali jatuh, dada nya terasa sesak, pikiran-pikiran buruk mulai mengahantuinya.
Ketika mereka keluar berpapasan dengan semua sahabatnya yang baru saja tiba.
“Sorry bro baru datang, Kita dapat penerbangan sore” ucap Leon. Kevin hanya mengangguk.
Risa dan Ocha langsung menghampiri Raisya dan memeluknya. Terlihat sekali kalau sahabat mereka ini sangat terpukul. Leon pun menghampiri Rayes untuk memberi kekuatan.
“Sabar ya, Bang! Kita berdoa saja semoga Papi sama Mami tidak apa-apa” ucap Leon. Rayes hanya mengusap kasar wajah nya lalu mengangguk.
“Kita berdoa saja, Sya!” seru Risa yang kini memeluk Raisya dan mengusap punggung nya.
“Yang kuat ya bro! Raisya butuh kekuatan dari Lo” ucap Reno menepuk pundak sahabatnya yang juga terlihat sangat kalut.
**
Ceklek!!
Suara pintu terbuka mengalihkan semua orang yang sedari tadi menunggu langsung menghampiri. Dokter Galih yang menangani orang tua Raisya keluar dari ruangan itu dengan wajah sulit diartikan.
“Gimana orang tua Saya, Dok?” tanya Rayes dengan panik.
Dokter Galih belum menjawab, ia hanya menghela nafasnya dan ekspresi wajahnya berubah murung lalu menggelengkan kepala sejenak menutup matanya.
“Ap.. apa maksud dokter?” cerca Raisya yang kini semakin menumpahkan air mata nya ketika melihat dokter Galih menggelengkan kepala.
“Huuuhhff…..” helaan nafas dokter Galih kembali terdengar.
“Maafkan Kami, ini sudah diluar kemampuan Kami. Mereka tidak bisa tertolong, Kami sudah melakukan yang terbaik tapi Sang Maha Pencipta berkata lain. Mohon maafkan Saya, Saya turut berbela sungkawa” kata dokter Galih menepuk pundak Rayes.
“Enggak!! Itu gak mungkin, dok!!” ucap Raisya histeris menghampiri dokter Galih dan mengguncangkan tubuh dokter Galih.
“Dokter bohong kan!! Ini hari ulang tahun Saya, dok! Mereka pasti Cuma bercanda! Iya Mami sama Papi mau kasih kejutan!! Mereka gak mungkin…. Dokter bohong kan!! Jawab dok!!” teriak Raisya tak karuan. Dokter Galih tidak menjawab, ia hanya menatap Raisya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kevin langsung memeluk erat tubuh Raisya yang sudah bergetar hebat. Dia juga tidak menyangka akan terjadi seperti ini, jujur saja hatinya juga hancur mendengar kenyataan yang terjadi. Sedangkan Rayes hanya diam membisu tak berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan dokter Galih. Hatinya hancur, bagaimana tidak? Orang yang selama ini membesarkan nya, memanjakan nya, sudah tidak ada lagi. Seakan detak jantung nya tak dapat memompa kembali, pikiran nya begitu kalut.
“Hikss… Mami .. Papi ..” lirih Raisya disela isak tangisnya memeluk tubuh Kevin.
Kevin terus mendekap erat dan menciumi kening Raisya berkali-kali memberi kekuatan. Ocha dan Risa juga ikut menangis seakan hal itu juga terjadi pada mereka. Bams, Reno dan Gavin juga ikut merasakan apa yang Raisya rasakan. Dan Leon yang sedari kecil sangat dekat dengan orang tua Raisya juga tak kalah terpukul. Sosok yang sudah dia anggap seperti orang tua kandung nya sendiri.
Seorang suster menghampiri Rayes untuk mengurus kepulangan keduan pasien. Rayes mencoba untuk tetap kuat ketika melihat adiknya begitu histeris, apalagi dia juga sudah berjanji akan menjaga adik kesayangan nya itu. Rayes pergi bersama suster tersebut.
“Sayang..” panggil Bunda Kevin yang baru saja tiba bersama Ayah nya.
“Bundaaa…..” ucap Raisya langsung memeluk mertua nya.
“Ada apa, Vin?!” tanya Ayah.
“Mami sama Papi udah ninggalin Kita semua, Yah” jawab Kevin lirih.
“Innalillahi wa innaialaihi rojiuun” ucap Ayah dan Bunda bersamaan.
Bunda mengeratkan pelukannya, dia turut bersedih atas kejadian yang menimpa menantu kesayangannya. Ayah pun mencoba memberi kekuatan pada anaknya agar tetap kuat.
**
Kita tidak akan pernah tau kapan seseorang itu akan pergi menghadap Sang Pencipta. Tapi ingatlah ! Belajar untuk ikhlas, dan yakin lah bahwa Tuhan sayang pada semua hambanya. Tak ada yang kekal didunia ini, semua hanyalah titipan-Nya.
Begitupun kepergian kedua orang tua Raisya yang bertepatan pada hari ulang tahunnya. Sedih? Tentu saja, siapa yang merasa tidak akan sedih ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayangi, terlebih mereka yang meninggalkan adalah orang tua yang sudah membesarkan kita.
Kini semuanya telah berkumpul di kediaman Raisya. Suana berkabung menyelimuti tiap sudut ruangan, malam ini para tetangga dan yang lainnya sudah berkumpul di rumah Raisya untuk memberikan doa. Rencananya besok pagi jam sepuluh kedua orang tua Raisya akan diantar ke tempat peristirahatan terakhir.
Raisya tak henti-hentinya menangis sambil membacakan surat Yasiin untuk orang tua nya, Kevin selalu setia mendapingi Raisya. Rayes hanya diam dengan tatapan kosong memandangi tubuh kedua orangtua nya yang sudah di tutupi oleh kain putih, ia terus berusaha tegar.
Kemana calon istrinya? Vita dalam perjalan ke Indonesia dari London setelah ia mendapatkan telpon kalau kedua calon mertuanya kecelakaan dan kritis dirumah sakit, emungkinan besok pagi baru akan sampai. Sedangkan sahabat-sahabat Kevin dan Raisya juga masih setia berada disana, mereka berencana untuk menginap saja sekaligus untuk menemani Raisya dan Kevin karena mereka tahu Raisya butuh sandaran dan kekuatan dari orang-orang sekitarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMENTARNYA !! 😚😚❤🙏