My Rival Is My Love

My Rival Is My Love
Harus Tetap Bahagia



Tiba lah kini Raisya dan Kevin diparkiran sekolah, hari ini hanya siswa baru yang hadir karena mereka akan mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) atau masa pengenalan pada ruang lingkup sekolah baru mereka. Sedangkan kelas dua maupun kelas tiga mereka masih bebas mau kesekolah atau tidak karena memang hari ini dikhususkan untu menjalani MOS saja.


Ketika Raisya dan Kevin bersamaan keluar dari mobil, semua mata tertuju melihatnya. Bagaikan ada magnet yang memaksa semua orang harus melihat Raisya dan Kevin, banyak juga yang dari mereka bersorak histeris. Seperti kedatangan seorang artis saja, karena memang pada dasarnya Raisya dan Kevin sangat tampan dan juga cantik.


Omo! Mereka sangat cocok sekali!


Astaga bakal betah ini mah sekolah disini!


Bidadari dari mana tuh?!


Sumpah! Gue minder liat kecantikan dia!


Apa mereka pasangan yaa??


Apalah Gue yang hanya remahan biskuit Kong guan yang cuma sisa kalengnya doank, tapi isinya rengginang..


Cantik banget sumpah! Apa dia salah satu Kakak Osis ya?


Bagaikan Pangeran dan Putri turun dari kereta kuda..


Fiks! Gue jatuh cinta sama Dia!


Itulah beberapa ucapan dari adik kelas yang melihat mereka, apa lagi saat Kevin tersenyum manis ke arah Raisya lalu merangkul bahu Raisya berjalan melewati koridor sekolah. Semakin hebohlah para penonton melihatnya.


“Aku mau urus anak osis dulu ya,” ucap Ketika mereka berada di simpangan koridor.


“Iya, Ocha sama Risa udah nunggu di kantin” jawab Raisya tersenyum.


“Baiklah” saut Kevin sambil mengacak gemash rambut istrinya.


Mereka pun terpisah arah karena ruang osis dan kantin berlawanan arah. Raisya dengan senang melangkahkan kakinya menuju kantin, dimana sudah ada Risa dan Ocha menunggunya. Namu ketika sudah didepan Kantin, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak tubuhnya dengan keras membuat Raisya terduduk di lantai.


Brrukk!!


“Awwkhh!!” pekik Raisya nyaring.


“Maaf Kak,” ucap seorang laki-laki yang masih memakai baju putih biru.


Raisya pun mencoba berdiri sendiri mengabaikan tangan lelaki itu saat ingin membantunya berdiri.


“Yasudah lah gak apa-apa. Lain kali hati-hati” ucap Raisya lalu pergi meninggalkan laki-laki itu.


“Maaf, Kak sekali lagi” ucapnya namun Raisya keburu menjauh dari hadapan.


Laki-laki berseragam biru pilutih yang tak lain adalah soswa baru disekolah Raisya hanya memandangi punggung Raisya yang semakin jauh dari jangkauan matanya.


“Cantik sekali dia” ucap laki-laki itu tanpa sadar, lalu pergi meninggalkan kantin.


Di kantin Raisya baru saja duduk dimeja yang sudah di tempati oleh Risa dan Ocha dengan muka sedikit kusut.


“Kenapa, Lo?” tanya Ocha.


“Sakit pinggang Gue gara-gara tadi ditabrak sama adek kelas!” jawab Raisya masih mengusap pinggangnya yang masih terasa sakit. Ocha dan Risa hanya menggelengkan kepala mereka.


“Rina mana? Gak ikutan?” tanya Raisya.


“Rina sama Reno gak kesekolah hari ini. Ada urusan keluarga katanya” jawab Risa, Raisya membulatkan bibirnya saja sambil mangut-mangut.


“Terus kalo si Bambang sama Gavin?” tanya Ocha lagi.


“Kayak gak tau Bams aja! Dia mah lebih milih molor ketimbang kesekolah. Gavin gak tau Gue!” kali ini Ocha yang menjawab.


“Tau aja Lo kebiasaannya si Bambang! Ciee..” goda Raisya.


“Jangan asal mikir yang enggak-enggak ya!” balas Ocha sambil melemparkan tissu kearah Raisya.


“Gue mau beli makan dulu laper!” ucap Raisya lalu beranjak pergi menuju stand makanan.


Sedangkan Risa dan Ocha hanya mengangguk paham lalu saling menatap.


“Dia udah kembali ceria seperti biasanya” ucap Risa.


“Iyaa, Gue berharap dia gak begitu terpuruk atas kepergian Mami dan Papinya” saut Ocha.


“Gue harap juga gitu, masih banyak yang sayang sama dia, seperti Kita contohnya” ucap Risa tersenyum.


“Iyaa, Gue bahagia liat dia kembali ceria seperti ini” jawab Ocha.


Risa dan Ocha kembali menikmati makanan mereka sambil menunggu Raisya.


**


Sedangkan diruang Osis..


“Pagi semua!” sapa Leon yang baru saja datang.


“Pagi,” jawab anggota Osis yang lainnya hampir bersamaan.


“Vin, udah mau jam delapan. Yuk buruan langsung aja!” ucap Leon.


“Baiklah, tadi sudah Saya jelaskan pembagian nya seperti apa kan? Ingat! Masalah hukuman tolong berikan yang manusiawi. Mereka disini untuk belajar menuntut ilmu, bukan untuk dijadikan militer. Dan hari ini adalah kegiatan mereka mengenal sekolah baru yang akan mereka tempati nanti sebagai tempat menuntut ilmu. Tapi tetap tegas dan harus disiplin! Saya tidak ingin kejadian di berita-berita yang mengatakan kalau anggota Osis menyiksa adik kelasnya sampai masuk rumah sakit atau bahkan meninggal dunia! Itu akan sangat berpengaruh bagi sekolah Kita yang temasuk sekolah menengah atas terbaik di Kota ini!” jelas Kevin panjang lebar dengan suara datar dan dingin. Menimbulkan suasana yang mencengkam bagi anggota yang lain.


“Kalian paham kan?! Tujuan kita mengenalkan lingkungan sekolah pada mereka” sambungnya lagi.


“Iya paham” jawab mereka semua.


Kini Kevin keluar dari ruang Osis diikuti semua anggotanya yang sudah berpakaian lengkap dengan almamater kembangaan sekolah mereka. Berjalan menyusuri koridor menuju lapangan sekolah yang luas sambil membawa pengeras suara.


“Selamat pagi semuanya!” teriak Kevin dengan pengeres suara.


“Dimohon bagi siswa siswi baru, harap berkumpul ditengah lapangan menbuat barisan!” perinta Kevin.


Semua adik kelas langsung berlarian ke arah lapangan membuat barisan.


“Sepuluh.. sembilan… delapan….” Ucap Kevin menghitung mundur durasi untuk segera membuat barisan.


Ada sebagian adik kelas yang kalang kabut berlarian ketika mendengar Kevin menghitung mundur.


“Vin, jangan galak-galak!” ucap Leon yang berdiri disampingnya.


“Harus tegas dan disiplin! Bukan galak!” saut Kevin.


Mode dingin, cuek, datar dan tegas Kevin kali ini sedang aktif, wajah tegas nya kini mampu menghipnotis para adik kelas terutama yang perempuan.


“Selamat pagi semuanya!” ucap Kevin dengan lantang.


“Selamat pagi..!!” jawab semua murid baru.


“Oke! Pertama-tama Saya akan memperkenalkan diri pada kalian. Kevin Wijaya, Ketua Osis SMA PATRA DHARMA ini! Kalian bisa panggil Saya Kevin!” ucap Kevin dengan tegas.


Astaga dia Ketos kita!


Dia yang tadi turun sama cewek cantik itu kan yaa?!


Bikin tambah betah mah kalo Ketosnya gini..


Dan masih banyak lagi, mereka hanya tidak menyangka bahwa orang yang memperkenalkan dirinya sebagai ketua osis adalah orang yang mereka lihat tadi pagi, yang mampu menghipnotis mata mereka untuk melihat kearahnya.


Kevin pun melanjutkan kegiatan MOS nya bersama anggota yang lain. Hanya wajah datar dan tegas yang kini menghiasi wajah Kevin, tak lupa tatapan tajam yang selalu dia lontarkan saat menatap beberapa siswi yang menatapnya dengan berlebihan.


Ketika barisan dibubarkan kembali karena Kevin menyuruh siswa baru untuk segera masuk kedalam kelas. Tiba-tiba ada seorang siswi yang masih mengenakan seragam putih biru, memberanikan diri menghampiri Kevin yang sibuk berbicara pada Leon.


“Kak” panggil gadis itu disela-sela pembicaraan Kevin dan Leon. Membuat dua laki-laki itu menghentikan obrolannya dan mengalihkan pandangan pada gadis yang memotong pembicaraan mereka.


“Ada apa?!” saut Kevin dengan datar.


“Eemmhh.. kenalkan, Kak. Aku Amelia” ucap gadis bernama Amelia itu menjulurkan tangannya kearah Kevin, namun Kevin hanya diam menatap tangan itu lalu membuang pandangannya.


Amelia yang merasa diabaikan kembali menarik tangannya, sedikit merasa malu karena tidak mendapat balasan dari Kevin.


“Kita bisa sambil kenalan nanti dengan yang lainnya. Tapi bukan disini, dikelas! Oke” ucap Leon.


“Aku hanya ingin berkenalan dengan Kak Kevin, Aku suka sama Kakak!” jawab Amelia dengan berani pada Kevin.


Kevin dan Leon tersentak, Kevin menatap Amelia dengan wajah datar dan tatapan tajam. Amelia yang ditatap seperti itu mencoba memberanikan diri menatap kembali Kevin.


“Tolong jaga sikap ya, Kamu suka sama Saya itu hak Kamu, tapi tolong jangan berharap lebih! Saya sudah punya tunangan! Dan saya tidak akan memberikan Kamu harapan.” Ucap Kevin dengan datar dan sedikit penekanan pada kata “tunangan”.


Amelia tersentak kaget mendengar jawaban dari Kevin, dia sadar apa yang dilakukannya salah namun laki-laki yang ada dihadapannya ini mampu menghipnotisnya. Amelia pun menjadi sangat gugup, Leon pun menghampiri.


“Pergilah dari sini, jangan lakukan ini lagi.” Ucap Leon dengan lembut pada Amelia, Amelia pun menurutinya dan segera pergi berlari meninggalkan Leon dan Kevin dengan perasaan malu.


Setelah kepergian Amelia, mereka kembali mengobrol sambil berjalan menuju setiap kelas untuk mengecek kembali yang lainnya. Setiap kelas yang dimasuki oleh Leon dan Kevin selalu ramai dengan suara sorakan histeris dari murid baru terutama dari kaum perempuan. Namun, saat Kevin menatap mereka dengan tajam susana seolah sunyi dan terasa mencengkam.


**


Dikantin Raisya menikmati bakso super pedasnya, Risa dan Ocha hanya melihat Raisya dengan melengos. Kebiasaan memang selalu lupa kalau sudah di hadapkan dengan sambel, Kadang Risa dan Ocha bergidik ngeri melihat kuah bakso milik Raisya seperti lava gunung berapi. Tapi anehnya Raisya sama sekali tidak merasa kepedasan, keringatnya pun tak pernah bercucuran seperti kebanyakan orang. Lalu bagaimana dengan isi perutnya? Entahlah.


“Emmh, Sya. Kapan tiga harinya orang tua Lo?” tanya Risa dengan hati-hati.


“Besok malem” jawab Raisya singkat dan tetap menikmati bakso pedasnya. Risa hanya mangut-mangut paham lalu kembali memasukkan cemilan kedalam mulutnya.


“Pihak sekolah sudah tau?” kini Ocha yang bertanya.


“Gak tau Gue kalo soal itu, biarkan sajalah” jawab Raisya.


“Abang Lo gimana ?” tanya Ocha lagi.


“Masih sama, bahkan lebih dingin dari Kevin dulu” ucap Raisya.


“Semoga Abang Lo secepatnya bisa nerima ini semua ya, Sya. Lo harus dukung dia dan nyemangatin dia” ucap Risa.


“Pasti! Walaupun sebenarnya Gue juga masih anggep ini mimpi” ucap Raisya dengan suara bergetar.


“Maaf ya, Sya” ucap Risa.


“Gak apa-apa, Aku bersyukur masih punya Kevin dan kalian yang selalu sayang sama Aku. Memang hati ini sangat sakit dan kehilangan, tapi kalau kalau terus terpuruk, kapan Kita maju nya ? Gue yakin Mami Papi pasti pengen liat Gue bahagia dan sukses disana. Mmakanya Gue belajar untuk ikhlas, dan akan membuktikan kalau Gue gak akan ngecewain mereka” ucap Raisya dengan memberikan senyuman walaupun sangat sulit.


Risa dan Ocha tersenyum tulus dan langsung memeluk Raisya.


“Lo harus bangkit lagi, Sya!” ucap Ocha. Dan Raisya hanya menganggukkan kepala.


Setelah itu, mereka mendengar suara Kevin dari kantin, Raisya pun mengalihkan pandangannya melihat Kevin yang sedang bertugas sebagai Ketua Osis memberikan arahan pada murid baru yang berbaris rapi dilapangan. Raisya pun tersenyum, karena walau bagaimana pun Kevin ya tetap Kevin. Sikap yang acuh tak acuh, cuek, ketus dan dingin kini Raisya kembali melihatnya.


Setelah terlihat semua siswa baru bubar dari barisan. Raisya pun melihat seorang gadis yang menghampiri Leon dan Kevin yang sedang mengobrol. Pemandangan itupun tak lepas pula dari mata Risa dan Ocha.


“Eh! Itu adek kelas ngapain coba datangin Kevin sama Leon?!” ucap Ocha.


“Ya mana Gue tau. Emangnya Gue cenayang?!” saut Raisya asal.


“Eh eh dia ngulurkan tangan tuh! Mau ngajak kenalan Kevin!” sambung Ocha lagi yang serius melihat pemandangan yang terjadi di tengah lapangan.


“Beh! Kevin ngeliatinnya gitu” kini Risa yang menanggapi. Sedangkan Raisya sedari tadi hanya diam memperhatikan.


“Yhaaa… gak dibales uluran tangannya.. kasian … wkwkwk” ceracau Ocha dengan sangat hebohnya.


Ocha pun tertawa lepas saat adegan gadis yang mengajak Kevin berkenalan menarik tangannya kembali tanpa mendapat balasan dari Kevin. Raisya pun tak luput menahan tawanya, apa lagi setelah mendengar candaan sahabatnya ini.


“Eh Kevin ngomong apaan dah?!” ucap Ocha lagi tak kalah hebohnya dari yang sebelum nya.


“Ckck! Berisik banget sih, Cha! Diliatin aja dulu napa sih?!” sergah Risa.


“Gue panasaran, Ris” jawab Ocha.


“Penasaran ya datangin sana” ucap Risa.


“Ck ! Tau ah!” balas Ocha dengan cuek.


“Laah diusir tuh dia pergi.. wkwkwk.. dasar adek kelas ganjen!” lanjutnya lagi ketika melihat gadis tadi berlari meninggalkan Leon dan Kevin dengan wajah malu.


“Mukanya kocak!” ucap Ocha kemudian tertawa lepas. Raisya dan Risa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurt sahabatnya ini.


Yah! Setidaknya Raisya sejenak bisa melupakan kesedihannya. Dia sangat-sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Risa dan Ocha. Ocha yang selalu bisa saja membuatnya tertawa merasa terhibur dengan segala tingkah absurtnya, sosok Risa yang pemikiran nya lebih dewasa yang selalu sabar serta selalu mendukung dan mengingatkannya. Setidaknya Raisya masih bisa merasakan bahagia, bahagia yang orang tua nya harapkan.


Mams, Pi. Kalian tidak perlu khawatir, Raisya bahagia kok disini. Raisya akan membahagiakan kalian lewat sini, Raisya yakin kalian selalu melihat Raisya dimana pun Raisya berada. Seperti keinginan kalian Raisya akan terus bahagia. Ucap Raisya dalam hati dan tersenyum kearah dua sahabatnya yang sedang tertawa lepas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Haloo para readers ..


Baca juga yaa, novel aku yang judulnya “LOVE IS YOU” memang chapternya masih dikit, tapi tolong didukung juga yaa biar aku juga semangat up disana 


Gimana sama episode ini? Suka gak? Bosen gak? Koment yaa!


Jangan lupa Like Vote nya! Karna ini benar-benar mempengaruhi semangat Author buat terus lanjutin cerita Raisya dan Kevin.


Terimakasih 🙏❤