
Acara kirim doa pun sudah selesai, orang-orang yang tadi nya berdatangan memenuhi kediaman Raisya, kini sudah pulang kerumah masing-masing. Didalam rumah hanya ada Bunda, Vita, Bibi, dan Ayah yang masih asyik mengobrol. Sedangkan Raisya dan para sahabatnya membereskan sisa-sisa acara tadi.
“Udah, kalian pulang saja. Ini sudah malam” ucap Raisya pada semua sahabatnya yang masih sibuk.
“Gue nginep sini ya, Sya? Boleh?” ucap Ocha.
“Iya, Gue juga mau ikutan nginep,” saut Risa juga.
“Iya deh,” jawab Raisya.
“Kalian udah pada makan belom? Makan dulu yuk, itu biarin aja. Besok aja” perintah Raisya agar sahabat-sabatnya itu berhenti dari kegiatan nya.
Mereka semua masuk kedalam rumah, lalu memulai makan malam yang sempat tertunda bersama. Lagi-lagi, Raisya harus bersyukur karena masih dikelilingi orang-orang yang menyayangi nya.
Jam sudah menunjukkan angka sebelas, Leon dan sahabat laki-laki lainnya bepamitan untuk pulang, Risa dan Ocha diperintahkan oleh Raisya untuk langsung beristirahat. Begitupun dengan Kevin, karena dia besok akan kesekolah.
“Aku tunggu di kamar, ya” ucap Kevin, dan Raisya hanya mengangguk.
Kevin pun naik keatas menuju kamar mereka, sedangkan Raisya keruang keluarga sekedar ingin nimbrung saja. Diruang keluarga Ayah, Bunda, Bibi dan juga Vita masih asyik mengobrol entah apa yang mereka bahas, Raisya pun duduk disebelah Bunda. Kalau Rayes jangan ditanya, dia sudah lebih dulu masuk kedalam kamar tanpa berniat untuk basa-basi sekedar mengobrol dengan yang lainnya. Yah, Rayes berubah menjadi sangat dingin seakan susah dijangkau, namun yang lainnya memahami dan memberikan waktu untuk Rayes entah kapan akan kembali seperti Rayes yang dulu.
“Sayang, Kamu gak tidur?” tanya Bibi Raisya.
“Masih belum ngantuk sih, Bi” jawab Raisya nyengir.
“Kamu masuk kamar gih sana, Kevin pasti nungguin” saut Bunda.
“Hem, baiklah” Jawab Raisya pasrah.
Raisya pun beranjak dari ruang keluarga dan berpamitan kepada mereka semua untuk masuk kekamar, tak lupa juga ia mengambil kotak hadiah pemberian dari Bibi nya tadi siang.
**
Ceklek!
Suara pintu kamar terbuka, Raisya masuk kedalam lalu menutup kembali pintu dan menguncinya. Ia berjalan kearah meja hias menaruh kotak hadiah itu, sedangkan Kevin berbaring di tempat tidur sambil memainkan game di ponselnya. Raisya mengambil piyama dari lemari lalu masuk kekamar mandi, Kevin masih setia memainkan ponsel.
Setelah beberapa menit, Raisya keluar kamar mandi dengan nampak begitu segar. Wangi sabun yang ia pakai menyeruak keseluruh ruangan, Kevin pun mengalihkan pandangannya melihat istrinya yang sudah duduk di meja rias untuk mengeringkan rambut. Sambil bersenandung kecil Raisya menyisir dan mengeringkan rambutnya. Kevin pun menghampiri nya lalu mengambil alih hydryer dan membatu Raisya mengeringkan rambut panjang nya.
“Makasih,” ucap Raisy dengan tersenyum terlihat dari pantulan kaca yang ada di hadapannya.
Kevin pun selesai mengeringkkan rambut Raisya, lalu merapikan nya dengan sisir. Kevin mengerutkan dahi, ketika melihat ada kotak yang terbungkus cantik diatas meja rias istriny.
“Kotak apa ini, sayang?” tanya Kevin yang sudah mengambil kotak hadiah itu.
“Hadiah dari Bibi,” jawab Raisya singkat sambil mengoleskan pelembab di wajahnya.
“Hadiah apa?” tanya Kevin lagi yang masih bingung.
“Hadiah ulang tahun, baru sempet dikasih katanya, Bibi memang gitu, selalu aja ada yang dikasih” jawab Raisya yang masih fokus didepan cermin.
“Aku buka, ya?” tawar Kevin karena penasaran, jujur saja saat ulang tahun Raisya kemarin ia juga lupa memberikan hadiah, karena rencananya hadiah itu adalah makan malam dan berjalan-jalan di Bali menikmati waktu berdua, tapi siapa sangka semua nya tidak sesuai ekpetasi. Padahal kevin sudah menyewa tempat makan yang romantis, tapi yasudah lah.
“Iya, buka aja” jawab Raisya sembari mengoles wajah nya dengan cream masker.
Kevin pun langsung membuka bungkus kado itu dan terlihat lah sebuah kotak, dengan antusias Kevin membuka penutup kotak itu dan betapa terkejutnya ia melihat isi dari dalam kotak itu. Tanpa sadar ia mengangkat hadiah itu keudara, Raisya yang sedang asyik memolesi wajah nya dengan cream masker perawatan menganga karena terkejut ketika melihat pantulan Kevin dari kaca yang ada di hadapan nya. Dengan cepat ia pun berbalik tanpa memperdulikan wajahnya yang sudah setengah dipoles oleh cream masker.
“Kevin, apa-apaan Kamu? Itu dari mana?!” tanya Raisya terkejut sambil menunjuk barang yang masih di pegang Kevin.
“Ini.. ini isi kado dari, Bibi” jawab Kevin yang sudah menelan ludah nya sendiri dengan susah payah.
“Astagaa!” keluh Raisya dengan wajah yang sudah memerah.
“Terus ngapain masih Kamu pegang kayak gitu?! Taruh sana, Kevin!” ucap Raisya sambil mendorong-dorong Kevin agar menaruh kembali barang yang dia pegang dengan santai.
Wajah Raisya kini sangat malu, pasti sudah memerah seperti kepiting rebus. Bagai mana tidak? Hadia dari Bibi nya adalah lingeri berwarna hitam yang tipis, dan ternyata tak hanya satu set, bahkan ada tiga set dengan warna berbeda didalam kado tersebut lengkap dengan pakaian dalamnya. Siapa yang akan memakai pakaian itu? Raisya saja bergidik ngeri melihat nya.
“Kamu gak mau nyoba?” tawar Kevin dengan santai.
“Ke Kevin…” lirih Raisya menggigit bibir bawah nya.
Kevin menhampiri Raisya dengan meletakkan lingeri itu didepan tubuh Raisya yang hanya terdiam gugup.
“Cocok..” ucap Kevin singkat lalu kembali meletakkan pakaian itu kedalam kotak dan menutupnya kembali lalu memberikannya pada Raisya.
“Ini simpan sana,” perintah Kevin dengan suara sesantai mungkin.
Padahal diri nya sudah membayangkan tubuh Raisya dengan mengenakan pakaian itu, tentu saja ada rasa yang tertahan yang benar-benar harus ia tahan sekarang. Raisya pun menyambar dengan cepat kotak itu lalu menyimpannya didalam lemari paling bawah lalu dengan gugup menatap Kevin. Mengapa rasanya jadi canggung setelah melihat barang tadi, Raisya pun melanjutkan acara maskerannya dengan duduk kembali ke meja rias dengan perasaan gugup. Sedangkan Kevin masuk kedalam kamar mandi.
“Huhh… astaga Bibi!” desisnya menghela nafas saat dilihat Kevin sudah hilang di balik pintu kamar mandi.
(Yhaaaa….. gak jadi lagi, wkwkw jangan kecewa yaa, sabaaaar :D )
**
Sedangkan diruang keluarga, tersisa tiga wanita yang masih asyik mengobrol sembari menonton dan sesekali tertawa. Mereka adalah Bibi Raisya, Bunda dan juga Vita. Terlihat sangat akrab, bahkan Vita yang baru saja bertemu sengan Bibi calon suaminya itu terlihat seperti ibu dan anak. Apalagi mengingat Bibi nya yang ini tidak memiliki anak, dan sama sekali belum menikah dengan alasan tertentu. Beliau hidup sendiri, waktunya hanya dihabiskan oleh bekerja. Namun dia sangat sayang dengan Raisya dan Rayes.
“Oh ya, Nak. Pernikahan Kamu dengan Rayes kapan?” tanya Bibi.
“Dua minggu lagi sih, Bi seharusnya” jawab Vita tersenyum.
Bibi Raisya pun paham dengan apa yang dirasakan gadis dihadapannya ini.
“Kamu yang sabar dulu ya sekarang hadapin Rayes, Bibi yakin tidak lama anak itu akan kembali seperti dulu lagi” ucap Bibi dengan lembut.
“Iya, Bi” jawab Vita.
“Oh ya, Din. Kamu kasih hadiah apa sama Raisya?” tanya Bunda penasaran yang memang akrab denga Dinda, nama Bibi nya Raisya.
“Sesuatu yang spesial lah pokoknya” jawab Bibi Raisya dengan tersenyum jahil.
“Kau ini, mereka itu masih sangat muda. Aku yakin mereka tak akan melakukan hal lebih dari sekedar berciuman” ucap Bunda yang memang sudah paham arti senyum wanita yang seumuran dengan nya ini.
“Tapi mau sampai kapan? Memang nya Kamu gak mau punya cucu, Kar?” ucap Bibi Raisya.
“Cucu? Cucu apa maksud Bibi?” tanya Vina yang belum paham dengan pembahasan kedua wanita paruh baya yang ada di hadapan nya ini.
“Bibi Kamu pasti ngasih gaun malam untuk Raisya” jawab Bunda dengan santai.
“Lebih tepat nya Aku memberikan tiga pasang lingeri yang sangat seksi” imbuh Bibi Raisya dengan santai.
Vita hampir tersedak dengan ludah nya sendiri, namu ia kembali berusaha tenang. Dia pun hanya membalas dengan senyum kaku.
“Aku berharap mereka selalu bahagia, setidaknya Aku bisa tenang Raisya sudah menikah. Karena akan ada yang selalu menjaga nya, terimah kasih, Kar. Aku berharap banyak pada mu sekarang” ucap Bibi Raisya dengan lembut memegang tangan Bunda Kevin.
“Pastinya, Raisya menantu ku, Bahkan sudah Aku anggap seperti anak sendiri” jawab Bunda Kevin membalas genggaman ditangannya.
Vita yang memperhatikan interaksi keduanya hanya tersenyum, ia juga berharap sama agar calon adik iparnya itu tetap bahagia.
“Iya, Bi” jawab Vita singkat dan tersenyum.
**
Pagi hari kini Raisya sudah berkutat didapur bersama Bunda dan juga Vita, mereka menyiapkan sarapan pagi bersama.
“Oh ya, sahabat Kamu nginep disini ya semalem ?” tanya Vita.
“Iya, Mba. Paling sebentar lagi bangun” jawab Raisya.
“Ini Kamu potongin sayur nya ya,” suruh Bunda pada Raisya menyodorkan sayuran hijau untuk di racik.
“Iya, Bun” jawab Raisya singkat.
“Apa tidur mu nyenyak semalam?” ucap Bibi Raisya yang datang tiba-tiba.
Raisya tersentak kaget, dan ia hanya tersenyum canggung pada Bibi nya. Sepertinya Bibi nya ini memang sengaja memberikan hadiah seperti itu. Tapi kalau ditanya nyenyak, ya tentu saja sangat nyenyak tidur dalam dekapan suami.
“Nyenyak, Bi” jawab Raisya sedikit kaku, entah kenapa wajah nya malah merona.
Bibi Raisya hanya tersenyum bahagia melihat wajah keponakannya yang merona, padahal sebenarnya mereka tidak melakukan apa-apa selain tidur sambil berpelukan. Bibi pun berjalan menuju meja makan untuk mengelapnya dan menata perlatan makan, karena memang hari ini penghuni rumah lumayan banyak ditambah dengan kehadiran dua sahabat Raisya.
“Pagi, tante” sapa Risa dan Ocha bersamaan ketika mereka menghampiri orang-orang didapur.
“Pagi juga, Nak” jawab Bunda.
“Kalau gitu, Raisya lihat Kevin dulu ya, Bun. Sudah jam segini soalnya” pamit Raisya ingin kekamar melihat Kevin. Namun, langkah nya terhenti karena Kevin sudah lebih dulu turun dengan seragam sekolah lengkap dan rapi.
“Beh! Ketos Kita tambah ganteng aja!” ceplos Ocha dengan santai lalu nyengir tanpa dosa saat ditatap oleh Raisya.
“Pagi, semua” sapa Kevin pada mereka semua , lalu berjalan ke meja makan.
Raisya dan yang lainnya menata makanan di atas meja, lalu mulai lah mereka sarapan bersama.
“Hari ini Kamu gak mau kesekolah lagi? Kita bakal adain kemah loh,” ucap Kevin disela-sela makan mereka.
“Kemah? Tumben?” tanya Raisya balik.
“Iya, jadi proses belajar akan diundur minggu depan saja, karena tanggung. Jadi sekalian senin” jawab Raisya.
“Lagi pula setelah kemah baru sesi promosi berbagai eskul selama dua hari kedepan setelah kemah besok” tambahnya lagi.
“Serius, Vin?” tanya Ocha antusias yang mendengar percakapan kedua sahabatnya itu. Kevin menganggukkan kepala nya.
“Kemahnya besok? Serius? Besok malam jum’at Kevin” tanya Raisya tidak percaya.
“Mau malam ini? Mereka pasti belum ada persiapan lah, sayang” ucap Kevin.
“Kemah kali ini untuk menutup kegiatan MOS mereka, yaa kegiatannya santai aja hitung-hitung biar mereka bisa akrab dengan Kakak kelas dan yang lain nya” tambah Kevin. Raisya, Risa dan Ocha hanya menganggukan kepala.
Merekapun kembali menyantap sarapan masing-masing, sampai akhirnya Ayah dan Bunda berpamitan untuk kembali pulang dan bekerja, Rayes pun juga pamit untuk pergi kekantor Papinya. Dan Kevin pergi kesekolah.
Tinggallah tiga perempuan remaja dan satu perempuan dewasa dirumah Raisya. Siapa lagi kalau bukan Raisya dan kedua sahabatnya serta Vita. Jam masih terlalu pagi, merekapun berkumpul diruang keluarga menyalakan televisi. Karena acara pagi ini membosankan Raisya mengusul kan untuk menonton film dari laptopnya saja. Dan keputusan akhir mereka nonton drama korea dipagi hari melalui film yang sudah Raisya download.
**
Jam 10.30 am
“Aishh bosen Gue,” keluh Ocha menyandarkan tubuhnya disofa.
“Entar lagi selesai, nanggung” ucap Raisya.
“Kita jalan aja yuk, Beb. Negemoll gitu” ucap Ocha memberi saran.
“Boleh tuh, ajak Mba donk jalan-jalan” imbuh Vita.
“Entar! Nanggung” jawab Raisya yang masih setia manatap layar laptop yang sedang memutas drakor kesukaannya.
Yang lainnya hanya melengos menghela nafas.
Tak lama film pun habis, Raisya melihat kedua sahabatnya yang uring-uringan tidak jelas, Vita yang rebahan sambil bermain game di ponselnya. Raisya pun menutup laptop nya, dilihat jam sudah pukul dua belas siang, itu artinya waktu sholat Zuhur dan makan siang akan tiba.
“Mau makan siang dulu, apa Sholat dulu nih?” tanya Raisya.
“Sholat aja dulu, baru kita sekalian jalan makan diluar” saran Risa.
“Yaudah, yuk” ajak Raisya pada semua nya, namun dia antara mereka yang melaksanakan sholat hanya Raisya dan Risa, sedang kan Ocha dan Vita sedang berhalangan.
Setelah beberapa puluh menit kemudian Raisya dan Risa kembali menghampiri dua orang yang berada di ruang keluarga, mereka pun sudah siap lalu pergi ketempat tujuan. Sebelum itu Raisya juga sudah memberi tahu Kevin karena pasti saat Kevin pulang dirinya masih asyik keluyuran.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haloo readers kuh 😘
Memang sengaja Saya menggunakan alur lambat, atau bahkan menceritakan suatu kejadian yang sama dengan di beberapa episode..
Maaf yaa kalo gak bagus dan buat kalian bosen sama cerita ini..
Cerita ini bakalan aku terusin sampai tamat kok, sudah ada gambaran gimana ending nya 😊
Buat yang masih setia sama cerita ini tolong dukungan nya yaa..
Caranya gampang, kalian hanya perlu berikan LIKE VOTE dan KOMENTARNYA 😄😄
Hitung-hitung belajar menghargai karya orang lain, hehehe
TERIMA KASIH 🙏❤