My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 97 - Bertemu



"Kita mau apalagi kesini?"


Amara menghentikan langkahnya kala dia melewati koridor rumah sakit. Merasa ada sesuatu yang aneh dan ini seolah bukan tujuannya, Amara hendak mengurungkan niatnya.


"Aku ingin semua tuntas, kamu dan dia berhak dipertemukan, Ra."


Amara memutar bola matanya malas, sudah dia katakan jika tidak memiliki ketertarikan sama sekali dengan wanita masa lalu Syakil itu walau hanya sedikit saja. Akan tetapi, pria itu sepertinya kembali memaksa Amara untuk bersedia bertemu Ganeta.


"Kamu mau peluk dia lagi kan? Nggak lucu tau nggak!!"


Dia sebal, sama sekali tidak bisa menerima dan demi apapun sakitnya masih terasa. Mau bagaimanapun alasannya, Amara tetap tidak menyukai Ganeta setelah hari itu.


"Bukan, Sayang ... aku nggak akan memeluknya walau hanya sebentar, tenang saja."


Ganeta adalah masa lalunya, empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Itu sangatlah lama bahkan mungkin lebih banyak kenangan bersama Ganeta daripada bersamanya saat ini, pikir Amara.


Bukan perihal kedewasaan, namun sebagai seorang wanita secara alami kecemburuan itu tetap ada. Apalagi ketika mereka bertemu pertama kali, Syakil dengan nyata memeluk Ganeta di hadapannya.


"Nggak! Di sini kamu bisa bilang gitu, belum tentu ketika sudah di dalam sana."


Kemarin-kemarin memang dia mengizinkan. Akan tetapi, untuk saat ini dia tidak akan diam dan menerima begitu saja. Amara tengah sedikit manja kali ini, terpaksa harus dibujuk dengan begitu lembutnya.


"Aku janji, di dalam ada Kendrick ... kamu harus lihat Ganeta, Sayang. Dia sudah lebih baik, mau ya." Syakil bicara sebegitu lembutnya, pria itu akan tetap sabar dalam melakukan segala sesuatu jika tentang Amara.


"Ganeta Ganeta dan Ganeta ... nyebelin tau nggak, bisa kan kamu nggak peduli lagi ke dia."


Memang, dalam perawatan Ganeta sama sekali Amara tidak tahu. Syakil benar-benar diam tentang ini lantaran khawatir istrinya berpikir macam-macam.


"Nggak bisa, dia memang harus aku pedulikan, Amara."


"Kenapa? Masih cinta?" tanya Amara serius dan hendak menepis genggaman tangan Syakil.


Padahal baru saja kemarin dia mengucapkan cinta dengan mata yang membasah. Bisa-bisanya kini kembali berulah dan memikirkan wanita lain, pikir Amara.


"Bukan begitu, Ra."


"Terus apa? Dia masa lalu kamu, dan musuh terbesar wanita adalah wanita masa lalu pasangannya," desis Amara, bukan hanya takut kehilangan tapi hatinya seakan perih jika membahas wanita itu.


"Dia saudaramu ... sudah seharusnya aku peduli layaknya pada Eva," tutur Syakil kemudian, walau memang pada Eva dia tidak lagi seperti dahulu tetap saja Syakil tidak lupa akan kakak iparnya itu.


Deg


Saudara? Mata Amara membola usai mendengar ucapan suaminya. Wanita itu terdiam, dia bingung dan bahkan merasa hal ini seperti guraian belaka.


"Becanda ya? Aku lagi nggak suka ... yang lucu di dunia ni cuma kak Mikhail," ucapnya kemudian, terlihat biasa saja tapi hatinya tiba-tiba seolah diremmas hingga hancur tanpa sisa.


"Ini bukan candaan, sejak awal aku menemukanmu aku sudah bertanya dan memastikan berkali-kali apa kamu dan Eva benar sedarah, dan kamu selalu dengan yakinnya menjawab iya. Tapi, kenyataannya kalian tidak sedarah, Ra."


Amara merasa hidupnya kini meraba-raba, seolah tidak memahami apa yang terjadi saat ini. Beberapa kali Syakil kerap memberikan kejutan, dan kejutan kali ini membuat hati Amara tidak karuan dibuatnya.


"Nggak masuk akal."


"Ini kenyataannya, Amara ... beberapa waktu lalu kamu menerima pesan dari seseorang yang mengatasnamakan papamu, dan dia memang orang tuamu."


Mengetahui hal itu, bukannya senang tapi Amara justru merasa risih dan tidak terima. Baginya, di dunia hanya ada satu sosok papa, pahlawan yang selalu menjadi pembelanya saat Eva memaksakan kehendak sejak dia masih kecil.


"Papaku sudah bahagia di tempat yang berbeda, dan aku tidak memiliki rencana untuk memiliki Papa yang lainnya."


Ya, Amara jelas menolak dan dia dengan tegasnya menyatakan tidak butuh seseorang yang tiba-tiba mengaku sebagai sosok pahlawan dalam hidupnya.


"Sayang, untuk hal ini aku serahkan padamu ... mungkin butuh waktu untuk kamu berpikir jernih, sekarang kita masuk dulu. Dia sudah menunggumu sejak kemarin-kemarin."


Keinginan untuk bertemu Amara disampaikan sendiri oleh Ganeta, melalui Kendrick dia mengatakan keinginannya. Walau memang Syakil memiliki rencana untuk mempertemukan mereka, akan tetapi Ganeta sudah lebih dulu meminta satu hal itu padanya.


Berdua, yang Ganeta minta adalah waktu berdua. Dia menginginkan bicara empat mata bersama Amara, meski berat hati Syakil mengizinkan pada akhirnya.


Hambar, tidak ada sedikitpun perasaan hangat dalam diri Amara. Meski tatapan wanita di hadapannya itu tulus luar biasa, akan tetapi demi apapun Amara tidak merasa ada kedekatan di antara mereka.


"Kamu sudah tau?"


Amara menggangguk pelan, dia enggan menjawab dengan gerak bibirnya. Wanita itu tidak bicara sejak tadi Syakil meninggalkan mereka berdua, hanya Ganeta yang berinisiatif memulainya.


Bukan karena tidak peduli, hanya saja Amara merasa bingung dengan semua yang terjadi. Apa dan kenapa, dia jelas merasa manusia paling bodoh di sini.


"Syukurlah ... sejak lama Papa mencarimu, mungkin karena malas punya putri sepertiku. Tapi anehnya, yang menemukanmu justru pria yang menjadi alasanku pura-pura gila begitu. Lucu ya?"


Ganeta menghela napasnya pelan, dia berdiri dan menatap ke luar sana. Langit cerah sekali hari ini, sepertinya di luar akan sangat hangat. Berbeda dengan suasana di dalam kali ini, terasa dingin sekali.


"Apanya yang lucu?"


"Lucu saja Amara, kamu yang diam dan bahkan tidak mengenalnya sama sekali, tiba-tiba Syakil jadikan ratu dengan cinta yang tiada habisnya ... aku iri," ucapnya kemudian tersenyum getir, dia menatap saudara kembarnya sekilas.


"Apa kamu mencintainya?" tanya Ganeta kemudian, dia yang penasaran dengan hal ini jelas saja menjadikan pertanyaan terkait cinta sebagai topik utama.


"Menurutmu? Apa ada istri yang tidak mencintai suaminya? Kamu saja masih cinta, apalagi aku."


Ganeta terhenyak mendengar jawaban Amara. Fakta memang, perasaan untuk Syakil takkan berhenti secepat itu, namun sebagai wanita dia sadar pemilik hati Syakil bukan lagi dirinya.


"Aku hanya bertanya, jangan salah paham ... sekalipun aku mencintainya, tapi saat ini dia milikmu."


Ganeta terlihat begitu tulus pada Amara, di sisi lain Amara sebenarnya masih bingung harus bersikap bagaimana. Mungkin karena terpisah sejak bayi, ditambah lagi seorang Ganeta adalah wanita yang juga pernah Syakil cintai membuat dia merasa tidak punya kedekatan apa-apa.


"Bisakah kamu berhenti? Walau hanya sekadar mencintai, aku tidak rela, Ganeta."


Dia memang pelit soal pasangan, jangankan terbagi secara nyata. Suaminya dicintai orang lain saja Amara enggan. Meski dia tahu bahwa perasaan tidak dapat dipaksakan, hati seorang Amara yang juga tengah serba salah akibat bawaan bayinya membuat dia sedikit sensi dengan pembicaraan semacam ini.


"Akan aku usahakan, kebahagiaan kamu ... kebahagiaanku juga Amara." Dia tidak berbohong, saat ini dia sudah dewasa dan jika perkara cinta itu takkan usai maka akan selama apa hatinya larut dalam kesakitan, pikirnya.


- To Be Continue -


Damai banget, Kakak ngalah ya😘


Jangan lupa mampir ke novel yang satu ini ya, ini karya temen akuu. Hayuu, Beb.


Judul : Agung (Sulitnya Mengikhlaskan)


Author : Mr.A



Blurb :


Ini bukan kisah di mana CEO jadi peran utama, tapi ini hanyalah kisah dari seorang laki-laki sederhana, Dameshta Agung namanya. Seorang pemuda dengan kisah cinta yang begitu pelik bersama, Puspita Putri.


Kisah cinta yang terjalin selama dua belas tahun, terpaksa pupus saat di mana kata-kata tidak direstui keluar dari mulut orang tua Agung lantaran perbedaan sosial, pendidikan, dan agama yang menjadi sebuah alasan.


"Apa semua akan kau biarkan berakhir seperti ini, Dek? Apa kamu tega ninggalin, Abang setelah dua belas tahun kebersamaan, kita?" Agung bertanya dengan nada bergetar pun mata yang sudah memerah.


"Abang orang yang baik, berpendidikan, dan dari keluarga berada. Jadi, akan lebih baik untuk Abang jika menikah dengan wanita yang sederajat. Jadi, kita cukup sampai di sini."


Babay 😘