My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 77 - Kurang Asupan



"Kenapa melamun begitu?"


"Fokus, bukan melamun," jawab Syakil tanpa menoleh ke arah Mikhail, mereka tengah dalam perjalanan pulang. Mikhail benar-benar mengundurkan diri jadi asisten membuat Syakil terpaksa mengemudi sendiri. Tidak masalah, daripada Mikhail membawa mobil dengan tenaga dalam bahaya juga.


"Ouh fokus ... bangunkan aku kalau sudah di rumah," tutur Mikhail kemudian bersandar dan menaikkan kaki di dashboard, seperti biasa seorang bos dengan jiwa seenak dengkul memang akan begini.


"Turunkan kakimu, Mikhail."


Pura-pura tuli seperti biasa, Mikhail tidak mengabaikan perintah sang adik. Selagi kakinya tidak di hadapan Syakil, maka tidak masalah. Ya, memang semudah itu Mikhail membuat kesimpulan dalam hidupnya.


"Aaaah leganya, lumayan lelah juga jadi asistenmu ternyata," ucapnya seolah benar-benar tersiksa, padahal kerjaannya hanya tidur.


Untuk masalah yang begini, terserah. Nampaknya Mikhail memang manusia paling batu dan tidak menerima saran apapun dari pihak manapun. Mana peduli dia dengan kondisi hati Syakil yang kini mungkin tengah kacau balau.


"Beruntung saja nasibmu baik dari bayi, Khail."


Syakil berucap sembari menghela napas panjang. Andai saja kehidupan Mikhail tidak seberuntung itu dan dia dilahirkan bukan dari rahim Kanaya, maka bisa dipastikan kehidupan pria gila itu akan sengsara. Terlihat jelas dia teramat pemalas untuk melakukan pekerjaan seperti ini.


"Aku bisa mendengarmu, Syakil ... lebih baik fokus, Papa tidak pernah mengajarkan kita untuk mengumpat diam-diam begitu."


Memang, biasanya seseorang akan pandai bicara dan lupa faktanya. Begitulah Mikhail sekarang, pria itu lupa bagaimana dirinya. Jika dibahas masalah mengumpat di belakang, rasanya Mikhail lebih jago dari Syakil.


Keduanya sama-sama terdiam, Syakil enggan menjawab dan Mikhail sepertinya memilih diam. Baiklah, ini sangat lebih baik daripada terus menerus bicara omong kosong yang pada akhirnya Syakil emosi.


Dengan jarak tempuh yang memang cukup jauh, dalam beberapa menit kini Syakil sudah tiba di mansion. Tentu saja dengan kecepatan tinggi, dia malas berada di mobil yang sama dengan Mikhail terlalu lama. Bukan karena bau keringat, tapi wujud Mikhail sedikit mengganggu di mata Syakil.


PLAK


"Bangun."


Romantis sekali cara Syakil membangunkan sang kakak. Telapak tangan mendarat di wajahnya, bukan tamparan tapi rasanya lumayan.


"Ck, santai kan bisa!!"


Dia yang minta dibangunkan dia juga yang marah. Sudah biasa, seorang Mikhail akan terlihat seperti manusia yang menganggap hal-hal di sekelilingny serba salah.


"Tidak bisa, aku harus cepat ... turun sana," ucap Syakil menepuk pelan pundak Mikhail, khawatir sekali jika interior mobilnya kenapa-kenapa.


Keduanya berjalan beriringan, dengan Mikhail yang memimpin seperti biasa. Mana mau dia berjalan di belakang adiknya, Syakil tidak mempermasalahkan meski kakaknya tetap bersikap sebagai pemimpin.


Perasaan Syakil mulai tidak enak kala Mikhail mempercepat langkahnya. Belum lagi tangan yang kini dia bentangkan, tampak jelas jika sang kakak hendak menghampiri pujaannya.


"Selamat sore, istriku ... cantik sekali, jadi takut ditinggal ke khayangan."


Yaya, seperti dugaan Syakil. Mikhail kini memeluk mesra Zia tepat di hadapannya, tidak jauh berbeda dengan sang suami, Zia juga bersikap sama manisnya. Dia mengalungkan tangan di leher Mikhail seraya merapikan rambut sang suami yang memang sama tidak rapi.


"Mas kok lama hm, aku tidur siang gak dipeluk," rengek Zia yang berhasil membuat Syakil menganga.


"Ututututu istriku, maafkan suamimu yang telah menyia-nyiakan waktu untuk wanita yang sempurna ini." Belum puas dengan Zia, kini Mikhail juga berbuat sama.


"Hoek." Syakil Mual, bahkan matanya memerah menatap isi perut yang terasa hendak naik semua. Akan tetapi, sepertinya kali ini bukan bawaan bayi lagi.


"Kau kenapa?" tanya Mikhail dengan kening berkerut persis seperti didatangi tukang kredit. Dia tersinggung? Sepertinya begitu, Syakil mual bertepatan dengan dia bersikap manja kepada sang istri.


"Mual ... kata Nathan aku mengalami kehamilan simpatik, aaarrgghh ini menyiksa sekali, Khail."


"Dia kenapa mendadak mual begitu?" tanya Zia serius, karena di mata wanita itu Syakil benar-benar ingin muntah dan itu alami.


"Ehm entahlah, kurang dimanja istri ya begitu ... ajarkan Amara, dia haus belaian sepertinya."


Selesai bicara seenteng itu, Mikhail kini tersenyum kemudian membopong sang istri ke kamar. Dia mengeluh lelah pada Syakil, tapi begitu bertemu Zia tenaganya seakan kembali normal seolah tidak melakukan apa-apa hari ini.


.


.


.


Syakil mendengkus kesal ketika tiba di pintu kamar. Dia cemburu sebenarnya, hari demi hari Zia dan Mikhail semakin seenak dengkul memperlihatkan kemesraan, sementara Amara, meski manis tapi tidak begitu.


Hendak meminta, tapi masalahnya hubungan mereka baru saja baik-baik saja. Syakil bingung hendak cari perhatian dengan cara apalagi, setelah kemarin Amara mandikan hingga kulitnya perih Syakil berpikir dua kali.


"Tahan, Syakil ... kata Nathan ada saatnya dia yang butuh belaian, santai."


Syakil menghela napasnya kasar, pria itu mendorong pelan pintu kamar sembari memasang wajah penuh senyuman. Mana berani dia memperlihatkan wajah cemberut untuk Amara.


"Selamat sore, Istriku ... cantik sekali, kamu mau ke khayangan atau gimana." Mencoba, siapa tahu respon yang dia dapat akan seperti yang tadi dia lihat di ruang tamu.


Krik krik krik


Amara menelan salivanya pahit, sejak kapan suaminya bisa bicara hiperbola begitu. Dia baru bangun tidur, bahka wajahnya berminyak dan rambut aut-autan. Bisa-bisanya Syakil samakan dengan bidadari, berlebihan sekali bukan.


"Ka-kamu baru pulang ya? Maaf aku baru kebangun, udah sore ya ternyata."


Jangankan pelukan, Amara bahkan tidak menjawab sapaannya. Sepertinya cara Mikhail tidak begitu baik untuk ditiru oleh pasangan seperti mereka.


"Hm, nggak masalah. Kenapa minta maaf?" Syakil menghempaskan tubuhnya di samping Amara, masih berusaha memancing istrinya bersikap manis sendiri tanpa perlu diminta kali ini.


"Kebiasaan, lepas dulu sepatunya kan bisa."


Bukannya kecupan seperti yang Mikhail dapatkan, Syakil justru meringis kala Amara mencubit perutnya. Pria itu sontak terbangun dan mengacak rambutnya kesal, ingin sekali dia ungkapkan apa yang dia inginkan sekarang.


"Kenapa kamu lihat aku begitu? Ada yang salah?"


Syakil menggeleng, pria itu menyerah dan menenggelamkan wajahnya tepat di dada Amara.


"Sayang, kamu masih marah karena kemarin?" tanya Syakil pelan tapi tidak berani menatap mata sang istri.


"Kamu kenapa lagi? Masalahnya kan sudah selesai, kamu sendiri yang bilang jangan dibahas lagi ... Kenapa kamu yang jadi begini?" Amara merasa dirinya tidak memperlihatkan perubahan yang macam-macam, dia masih bersikap biasa saja sebagai istri.


"Iya memang sih, tapi kamu tu berubah setelah kemarin ... kamu nggak sayang aku lagi ya, Ra?"


Pertanyaan konyol, dari mana dia menyimpulkan hal semacam itu. Jika sudah begini, Amara sedikit malas menjawabnya.


"Masih, sedikit."


"Ck, ya sudahlah ... aku mandi dulu, tadi meeting sama Daniel, dia bawa wanita yang berbeda dari yang dulu ... dasar nakal, koleksi wanitanya banyak sekali," tutur Syakil sembari beranjak dan kini membuka kancing kemejanya, berbicara sendiri padahal Amara sama sekali tidak bertanya.


-Tbc-